
Budayakan Like Sebelum Baca🍻
Ikuti terus adegan Action dan Romantis di kisah Rama & Sinta.
****
Di bawah langit yang bertebaran bintang. Rama dan Sinta mengadahkan kepalanya ke atas, menatap langit yang tampak benderang.
Tangan Sinta selalu setia berada di genggaman Rama. Sesekali Rama melirik ke arah Sinta. Merasakan hatinya menghangat, menatap gadis yang di cintainya.
“Sinta...?”
“Ya?” Sinta menoleh ke arah Rama
“Kamu tahu apa salah satu kebahagiaanku?”
Sinta menggelengkan kepalanya pelan. “Aku tidak tahu,”
Rama tersenyum, dengan lembut Rama mengusap kepala Sinta. “Salah satu kebahagiaanku saat ini adalah tetap melihat senyum mu, dan kamu tetap bersamaku,”
Sinta tertegun mendengar ucapan, Rama. Sinta pun menyandarkan kepalanya di dada bidang, Rama. “Aku akan tetap bersamamu,” ujarnya pelan.
Meski Sinta berbicara pelan. Namun, Rama tetap bisa mendengarnya. “Lihatlah bintang itu!”
Sinta mengadahkan kepalanya, menatap banyak bintang bertebaran. “Kamu tahu kenapa bintang-bintang itu sangat indah?”
Sinta hanya menggelengkan kepalanya. “Mereka akan terlihat gelap jika kehilangan Bulan. Begitupula aku, Sinta. Aku akan berhenti di titik kegelapan jika kehilangan kamu,”
Sinta langsung berbalik menatap, Rama. “Aku tidak akan membiarkanmu di titik kegelapan,”
Rama tersenyum mendengarnya.
Cup
Dengan lembut, Rama mencium kening Sinta lama. Langit menjadi saksi bagaimana Rama saat ini sangat mencintai, Sinta. Padahal saat ini Rama memiliki beban besar. Jika Sinta masuk ke kehidupannya, Sinta akan dalam bahaya. Mengingat dulunya Rama adalah Tentara bayaran, yang karna sebuah kesalah pahaman membuat Rama menjadi buronan para mafia.
Cup
Rama berlanjut mencium kedua mata, Sinta. Sinta merasa menghangat beserta heran. Tidak biasanya Rama seperti ini, pikir Sinta.
Rama lalu menatap dalam Sinta. “Jangan pernah menyesal, jika kamu sudah masuk di duniaku, Sinta”
Sinta yang mendengar ucapan, Rama langsung menggelengkan kepala. “Apapun yang terjadi. Ayo kita hadapi!” Sinta meraih tangan Rama, menggenggamnya kuat.
Padahal akan ada banyak masalah jika hubungan, Rama dan Sinta berlanjut. Yang pertama adalah Kevin yang tak merestui hubungan keduanya, Pekerjaan Rama yang harus berjauhan, dan para komplotan penjahat yang siap membunuh, Rama.
“A--Aku takut melukaimu,” Rama berbicara dengan bibir bergetar. Dirinya merasa bersalah karna membawa, Sinta masuk ke dunia Rama.
Sinta menangkup kedua pipi, Rama. Menatapnya dalam. “Aku tidak akan terluka, aku adalah gadis yang kuat. Kamu akan selalu ada untuk melindungiku,”
Rama semakin merasa bersalah mendengar jawaban, Sinta. Membawa Sinta masuk ke dunia Rama adalah kesalahan besar!
Padahal, Rama saat ini sedang menjadi incaran Klan mafia Italia. Tentu, mereka adalah Klan yang berbahaya.
__ADS_1
“Aku mencintaimu, Sinta...”
Sinta hanya tersenyum mendengar ucapan, Rama. Sinta merogoh sesuatu di balik kantungnya. Lalu di tunjukanlah kepada, Rama.
Sebuah kalung yang sama seperti milik, Rama. Namun, bedanya inisial kalung tersebut berbentuk S.
“Pakai ini!”
Rama menerima kalung itu, lalu menggunakannya. Entah suatu kebetulan atau apa? Namun, kalung Rama dan Sinta sama persis.
“Simpan kalung itu, jika itu selalu bersama mu. Maka aku akan tetap aman,” ujar Sinta dengan senyun manisnya.
Rama tersenyum, lalu memeluk erat Sinta. Sinta membalas pelukan, Rama. Hati Sinta bertanya-tanya. Memang ada apa dengan dunia Rama? Apa ada bahaya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus terngiang di otak, Sinta.
Yang Sinta tahu, berhubungan dengan Tentara. Ujiannya hanya satu TERPISAHKAN JARAK. Namun, Sinta tidak akan menyerah oleh Jarak!. Mamanya saja bisa bersama dengan Kevin, sampai menghadirkan Sinta.
Sinta pun harus bisa!
“Ji--Jika aku jauh darimu, jangan pernah rindu terhadapku!”
Sinta yang mendengar ucapan Rama mengkerutkan keningnya. “Kenapa aku tidak boleh rindu?”
Rama tersenyum tipis, lalu mengatup kedua pipi Sinta. “Sudah ku katakan, jangan berharap kepada makhluk ciptaan tuhan mer--”
“Mereka tidak abadi, dan kelak akan pergi” potong Sinta dengan menatap nanar Rama.
Rama tertegun melihat tatapan Sinta yang sendu.
Cup
“Aku tidak tahu, Sinta. Dimana ujung perjalanan kita, aku tidak bisa menjanjikan apapun. Namun, selama aku mampu kamu tetaplah prioritasku,”
****
Kediaman Fernandez
Malam ini kediaman, Fernandez sangat ramai. Doni dan Jane sibuk, menyambut sahabat-sahabatnya. Mereka akan melakukan makan malam bersama.
Mobil yang di kendarai, Bima mendarat mulus di parkiran rumahnya. Bima lalu turun, mebukakan pintu untuk Clara.
Lalu kedua pasangan itu masuk ke rumah besar, Keluarga Fernandez. Pelayan-pelayan membungkuk hormat, mendapati Tuan Mudanya yang baru tiba.
Di meja makan, ternyata sudah ada sahabat-sahabat Doni dan Jane. Seperti, Aletha, Yusuf, Kevin, Tari, Arjuna, Chelsea, Dina, dan Cakra. Reni dan Aditlah yang tidak ikut serta.
Bima dan Clara langsung bersalaman dengan sahabat-sahabt, Daddynya. Dan yang terakhir, Bima memeluk Daddynya.
“Woww, Boy. Tubuhmu sekarang lebih berisi, apa Istrimu mengurusmu dengan baik?” goda Doni dengan menaik turunkan alisnya.
Yang lain hanya tertawa, mendengar ujaran Doni. Berbeda dengan Bima yang kesal sekaligus malu. “Dad, jangan meledek ku terus!!”
Doni terkekeh mendengarnya. “Baiklah ayo kita makan,”
“Mom, Jika Daddy masih menggodaku aku tidak akan makan,”
__ADS_1
Jane hanya tersenyum mendengar ancaman, Putranya. “Sudah jangan dengarkan, Daddymu. Ayo Clara duduk dan makan,” ujar Jane
Clara lalu duduk di sebelah, Chelsea Mamanya. Doni pun duduk di kursi paling ujung, kursi kebesarannya.
“Wah, Thank you gusy sudah meluangkan waktu, untuk makan malam sederhana kita” Doni mulai bersuara, dengan gaya bicaranya yang lucu.
“Don, saya kira kamu jatuh miskin. Masak Doni Fernandez makan malam cuma di rumah, enggak ke Restaurant nih?” goda Yusuf dengan senyum jahilnya.
Doni hanya menghela napas. “Bisa di bilang begitu, Pak Yusuf. Jika anda berkenan bisa mengirimkan 50℅ penghasilan anda,”
Yusuf melotot mendengar ucapan, Doni. “50℅ gundulmu, kamu mau aku ratakan nih sahamu,” sahut Aletha dengan menatap tajam Doni.
Yang lain terkekeh mendengar, Aletha yang marah. Doni hanya cengengesan mendapat tatapan tajam dari, Aletha.
“Kalo, Nyonya Zalora yang sudah ngomong. Saya lebih pilih diam,” Doni langsung menciut di buatnya.
Yang lain hanya tertawa dibuatnya. Chelsea sampai terbahak-bahak melihat Doni yang masih takut dengan, Aletha.
“Gakpapa, Don. Kalau saham mu di turunkan, kamu bisa menanam saham di perusahan kami,” canda Chelsea dengan menaik turunkan alisnya.
“Ah. Kamu sama saja membuat aku dalam bahaya, Chelsea. Bisa-bisa aku di cincang dengan, Nyonya Zalora” sindir Doni dengan melirik Aletha.
Aletha berdecak kesal mendengarnya. “Hahaha. Yaudah, Don. Kamu pensiun aja, ngelamar jadi Ajudan ku juga boleh,” kali ini Kevin yang membuka suara.
“Nah, bener itu! Jadi Ajudannya Kevin aja, tak jamin tulang-tulangmu runtuh, Don” imbuh Arjuna dengan senyum jahilnya.
Tawa mereka pecah mendengar ledekan, Arjuna. Doni bersungut kesal, dan lebih memilih melanjutkan makannya.
Setelah puas menggoda, Doni. Lalu mereka melanjutkan makan malamnya, sesekali pun mereka bercanda. Meskipun tak lagi muda, persahabatan pun tetap bersatu.
Setelah lama berada di rumah, Doni. Satu per satu sahabat-sahabat, Doni pun pergi meninggalkan kediaman Fernandez. Tinggalah Bima dan Clara. Orang tua Clara harus pulang, karna harus pergi keluar negeri.
“Kamu mau pulang, Bim?” tanya Jane menatap anaknya, yang saat ini duduk di sofa bersama Clara.
“Nginep disini aja!” celetuk Doni yang tiba-tiba datang.
Bima menghela napas mendengarnya. “Maaf, Dad. Tapi Bima harus pulang, bukannya besok ada rapat?”
“Lalu kenapa? kamu bisa bersiap disini,” jawab Doni dengan santai.
“Berkas-berkas berada di apartemen, aku tidak bisa”
Doni tersenyum miring, mendengar penolakan anaknya. “Bilang saja kamu takut di ganggu,”
“What?” Bima mendelikan mata, mendengar tudingan Daddy.
“Daddy sama mommy tidak akan menganggu kalian berdua, sudah kalian menginap disini ya?” sahut Jane dengan penuh harap.
Clara yang sedari tadi diam pun mengangkat suara. “Emmm Baiklah kami akan tidur disini,”
Bima melotot mendengar ucapan, Clara. Dan akhirnya mau tak mau Bima harus tidur di rumahnya. Bukan karna urusan rapat, jika Bima tidur di rumahnya, maka Bima harus satu ranjang dengan Clara.
Di kamar, Bima tidak terdapat sofa. Mau tak mau Bima dan Clara harus tidur seranjang. Namun, Bima memberikan guling untuk pembatas, dan Bima pun tidur memunggungi Clara.
__ADS_1
“Ternyata kamu masih menolakku, Bim”
TBC🍻