
Budayakan Like Sebelum Baca🍻
Ikuti terus adegan Action dan Romantis di kisah Rama & Sinta.
****
Sudah 1 minggu lebih Rama bertugas. Sinta hanya bisa bosan dan bosan, seperti saat ini Sinta hanya scrol-scrol beranda instagram di ruang medisnya.
Assiten barunya sangat berbeda dengan, Meyga. Rita lebih banyak diam, dan banyak bekerja. Namun, Sinta pun mau tak mau harus menerimanya.
Sudah lebih 4 jam, Sinta hanya memainkan hpnya. "Arghhhh, Rama kapan pulang sih"
"Kamu kangen sama aku?"
Deg!!
Sinta langsung membalikan badannya, matanya melebar mendapati sosok yang dia rindukan. Rama tersenyum melihat Sinta yang terkejut.
Sinta langsung berdiri, berjalan mendekat ke Rama. "R--Rama? ini beneran kamu?"
Rama yang mendengar sontak terkekeh, "Iya ini aku"
Sinta langsung memeluk, Rama. Rama membalas pelukan Sinta. Sinta pun mengadahkan kepalanya, menatap pria tampan di hadapan.
"Kenapa lama sekali?" bibir Sinta sudah mengerucut. Lantaran kesal, di tinggal tanpa kabar.
"Maaf, aku sangat sibuk dan tidak bisa mengecek ponsel"
Sinta pun melepaskan pelukannya. "Kamu jahat!" Sinta memberikan pukulan pelan di bahu Rama.
"Loh, Kok aku jahat?"
Sinta berdecak kesal, dan tambah mengerucutkan bibirnya. "Kamu tiba-tiba pergi gak pamit, aku pagi-pagi udah bikinin sarapan,"
Rama terkekeh, mendengar gerutu kekasihnya tersebut. Rama pun dengan gemas mengacak rambut, Sinta.
"Iya, Maafin aku ya?"
Sinta pun menganggukan kepala. "Ayo keluar, aku ada bawa sesuatu untuk kamu," ajak Rama yang langsung di angguki Sinta.
Rama dan Sinta pun keluar dari ruang medis. Mata Sinta melebar, mendapati seseorang yang menyambutnya.
"Papa!!!" Sinta langsung berhambur memeluk Kevin. "Papa? Kok gak bilang mau kesini?"
Kevin membalas pelukan putrinya. "Papakan mau bikin kejutan,"
Sinta tersenyum mendengarnya, "Sinta kangen sama Papa,"
"Papa juga kangen" Sinta kembali memeluk Papanya. Sudah berbulan-bulan Sinta tidak bertemu dengan, Papanya.
Rama hanya diam, memperhatikan Anak dan Ayah yang melepas Rindu. Pandangan, Kevin kini beralih kepada Rama. Rama pun langsung meraih tangan, Kevin dan menciumnya.
"Apa kabar, Pak?" tanya Rama sopan.
Kevin hanya menatap datar, Rama. "Baik"
"Pa, Tunggu disini! Sinta mau masakin buat kalian,"
Kevin kembali mengalihkan pandangannya kepada putrinya. Dengan lembut, Kevin mengusap kepala Sinta.
"Kamu mau masak apa, Sayang?"
__ADS_1
"Tunggu disini! Sinta pokoknya mau masak," Sinta langsung pergi meninggalkan Kevin dan Rama.
Kevin hanya menatap datar, Rama. Rama sempat bingung karna sikap Kevin. "Enggak biasanya, Om Kevin natap gue kaya gini. Gue bikin salah apa ya? atau jangan-jangan...?"
"Ekhemm"
Lamun, Rama buyar karna suara deheman dari Kevin. "Rama..."
"Iya, Pak?"
"Mau memanah dengan saya?"
Rama langsung berbinar mendengarnya. "Bo--Boleh, Pak"
"Baiklah ayo!"
Kevin dan Rama, langsung pergi ke ruang pelatihan. Tempat itu untuk melatih menembak, memanah, melempar pisau, dan lain-lainnya.
Kevin dan Rama langsung mengambil posisi. Ada 10 papan yang bergelantung. "Ambil 10 busur!"
Rama hanya menuruti perintah, Kevin. Rama pun mengambil 10 busur panahan. Rama dan Kevin lalu kembali kepada posisi.
"Gerakan papan panah itu!" titah Kevin
Rama terkejut mendengarnya. Papan yang bergelantung itu kini bergerak, ke kanan dan ke kiri. Rama harus fokus untuk itu.
"Papan itu ada 10, dan busur kita 10. Pastikan kamu bisa mengenai semua papan," ujar Kevin dingin.
Rama hanya mengangguk pelan, pertandingan Kevin dan Rama pun di mulai. Rama berhasil mengenai satu papan, begitupula Kevin. Dan seterusnya...
Saat ini papan, Rama hanya tinggal 2, sedangkan Kevin masih tersisa 4.
Jep
Jep
Dan sayang sekali, panahan Rama meleset. Sedangkan Kevin berhasil. Rama menghembuskan napas lesu, karna gagal mengalahkan Kevin.
"Saya tahu kedekatan kamu dan, Sinta"
Rama langsung menoleh, mendengar Kevin berbicara. "Maksudnya?"
"Sinta itu gadis yang mudah nyaman, dia juga mudah bergaul tapi juga mudah bosan dan mudah sakit hati. Saya harap kamu tidak berharap lebih kepada putri saya. Melihat cara kamu memanah tadi, kamu masih banyak keraguan. Saya rasa kamu pun masih ragu kepada, Sinta. Lebih baik kalian akhiri saja kedekatan itu"
Deg!!!!
Rama mematung mendengar tuturan, Kevin. Hatinya bergelojak mendengar itu semua.
"Secara halus gue di tolak sama, Om Kevin"
****
Rama hanya menatap kosong api unggun di depannya. Ucapan Kevin siang tadi terus terngiang di pikirannya, Rama bahkan tidak mengantar Kevin tadi sore. Rama masih merenung sendirian.
"Hey!!"
Lamun, Rama buyar karna suara kekasihnya yang baru datang. Sinta pun duduk di sebelah, Rama. Membawakan dua jagung bakar yang tampak menggoda.
"Kamu tadi ngobrol apa sih sama, Papa?" tanya Sinta, sembari memberikan 1 jagung bakar kepada Rama.
Rama menerima jagung bakar tersebut. "Enggak apa-apa kok," Rama hanya bisa tersenyum kecut menatap, Sinta
__ADS_1
"Oh iya kamu bilang mau kasih aku sesuatu,"
Rama pun baru teringat, tadi siang Rama akan memberikan sesuatu untuk, Sinta. Namun, di urungkan karna kedatangan Kevin.
Rama pun mengambil suatu benda di kantungnya. Lalu di perlihatkan kepada Sinta.
"Kalung?" Sinta tersenyum memperhatikan kalung berwarna abu tersebut.
"Ini kalung pemberian kakek aku, kamu simpan ya" Rama pun memberikan kalung beinisial R tersebut.
Sinta menerimanya, dan langsung memakainya. "Ihhh, bagus banget sih. Ini kalung sederhana tapi elegant," Sinta tersenyum menatap kalung yang saat ini terpasang di lehernya.
Rama hanya tersenyum tipis menatap Sinta. "Sinta..."
"Ya?"
"Simpan kalung itu, jika suatu saat kita berpisah aku mau kamu mengingatku dari kalung itu,"
Sontak Sinta yang mendengar mengerkutkan dahinya. "Kamu kenapa sih omong kaya gitu?!" ketus Sinta. "Aku gak suka kalo kita ngomong PERPISAHAN!" imbuh Sinta dengan penuh penekanan.
Rama hanya terdiam, Rama kembali menatap api unggun di depannya. "Setiap pertemuan bukan kah ada perpisahan? aku hanya tidak ingin kamu terlalu berharap dengan makhluk ciptaan Tuhan, Sinta..."
Sinta berdecak kesal mendengar ujaran, Rama. "Kamu jangan bicara seperti itu!" Sinta langsung menghadap, Rama. Sinta memegang kedua pipi Rama, di tatapnya mata Rama dalam-dalam.
"Sampai kapan pun, aku mau kamu yang bersama ku, Rama" ujar Sinta pelan. Saat ini Cinta Sinta ke Rama lebih besar, dari pada saat bersama Bima. Entahlah itu apa. Namun, dengan waktu singkat Sinta sudah jatuh cinta dengan, Rama.
"Tapi, Sinta. Aku bukanlah pria yang selalu ada untukmu, jika aku pergi siapa yang akan melindungimu? siapa yang akan membahagiakanmu?" Sinta langsung berkaca-kaca mendengar penuturan, Rama.
Sinta menggelengkan kepalanya pelan. "Kamu kenapa? Papa pasti ngomong sesuatu sama kamu,"
"Sinta..."
"Apa Rama? katakan?"
"Sepertinya, Papa mu tidak menyukai hubungan kita," ujarnya pelan.
Deg!
Sinta yang mendengar langsung menjatuhkan air matanya. Rama yang melihat air mata, Sinta jatuh itu langsung menghapus.
"Jangan menangis!" Rama dengan lembut mengusap air mata Sinta, yang luruh.
Sinta tersenyum tipis melihat perlakuan, Rama. "Aku itu sudah yakin dengan kamu, Rama. Jika Tuhan merestui kita, meskipun Papa atau samudra yang menghalangi. Kita harus bisa lalui! Aku yakin Papa akan menyetujuhi," Sinta menggengam kuat tangan Rama.
Rama menatap genggeman tangan, Sinta. Rama tersenyum lalu ikut menggenggam kuat tangan Sinta. Rama mengecup punggung tangan, Sinta.
"Tapi, apa kamu yakin dengan ku Sinta? waktumu dan waktu ku akan singkat, kita akan jarang bertemu. Kita akan sering terpisah oleh jarak dan waktu,"
Sinta tersenyum mendengar ujaran Rama.
"Jangan katakan kamu menyerah karna kita jauh, tapi katakan padaku bahwa kita mampu bersama meski kita jauh,"
TBC🍻
Jangan lupa, tekan tombol
Like
Vote
Rat Bintang 5 nya ya...
__ADS_1