
Budayakan Like Sebelum Baca😘
Baca juga\= The Last Mission Love (Kisah Rednan)
****
Tuttt
Tuttt
Tuttt
Sinta langsung mematikan ponselnya, panggilan dari Rednan membuat Sinta kesal. Sinta pun kembali menatap Bima dan Clara.
“Hmmm.... Maaf, Sin. Gue ngerasa badan gue lagi gak enak, kita duluan ya!” tak ingin Sinta kembali bertanya-tanya, Clara cepat-cepat menarik Bima agar ikut pulang.
Padahal pertanyaan Sinta yang sederhana, belum di jawab oleh Clara. Clara dan Bima langsung masuk ke mobil, mobil pun di lajukan oleh Bima.
“Kamu sakit?” tanyanya, sembari menengok ke Clara.
Clara menjadi gugup, karna Bima menanyainya. “I--Iya, aku sedikit pusing tadi,” jawab Clara dengan tergagap.
“Kita ke dokter?”
Deg!
Clara sontak langsung menggeleng cepat. “Eng--Enggak usah, Istirahat aja nanti di rumah. Aku gakpapa kok,” Clara tersenyum tipis, mencoba meyakinkan Bima.
Bima pun hanya bisa mengangguk pelan. Perjalanan kembali hening, sampai Bima dan Clara sampai di basemant.
Setelah memparkirkan mobil, mereka segera masuk untuk ke kamar apartemennya. Apartemen Bima berada di lantai 7
Ting
Pintu lift terbuka. Bima dan Clara segera masuk. Bima memperhatikan Clara, sedari tadi Clara sangat aneh, pikir Bima.
“Sebenarnya apa yang terjadi denganmu?” suara Bima langsung mengejutkan Clara.
“H--Ha? A--Ap? Aku.... aku tak apa! sungguh!” Clara bertambah gugup karna saat ini, Bima menatapnya dengan tajam.
“Katakan pada ku dengan jujur! Kenapa di saat, Sinta menanyakan soal bayi, kamu seperti gugup?”
Deg
Clara langsung pucat, mendapat pertanyaan frontal, Bima. “A---Ak---Aku----”
Ting
Pintu lift terbuka. Bima dan Clara pun keluar dari lift. Bima lalu menekan code untuk masuk ke apartemen, Bima lalu menghidupkan lampu.
“Aku lapar, buatkan makan malam!” Bima langsung naik ke lantai atas, setelah mengatakan hal tersebut.
Clara mengelus dadanya, dia merasa lega, karna Bima tak mengingat pertanyaannya. “Astaga bisa-bisa aku ketahuan!”
Tak ingin di curigai, Bima. Clara segera pergi di dapur, saat di Caffe tadi Bima dan Clara hanya sekedar minum-minum. Mereka tak sempat memesan makanan, karna Clara sudah buru-buru mengajaknya pulang. Bahkan saat ini Bima melupakan, Clara yang beralasan pusing!
Clara langsung berkutat dengan dapur. Clara sangat handal jika memasak makanan barat. Karna tumbuh di Italia, Clara pun memasakan Bima makanan Italia.
Setelah beberapa menit, Bima turun dari tangga. Bima sudah bersih dan wangi.
Bima langsung duduk di meja makan, Clara pun melayani suaminya dengan baik. Clara pun ikut duduk untuk menikmati makanan bersama.
Clara menuangkan, mayones di piringnya.
__ADS_1
“Huwek... huwekkk... huwekkk...” tiba-tiba saja perut Clara terasa mual.
Bima terkejut melihatnya, bau mayones tersebut membuat Clara kembali mual. Clara langsung berlari menuju kamar mandi di dapur.
Merasa khawatir, Bima pun menyusul ke kamar mandi. “Huwekkk.... Huwekkk... Huwekkk” Clara terus muntah-muntah.
Bima dengan lembut membantu dengan memijat tengkuk, Clara. “Apa yang terjadi, Clara? Kamu sakit? ayo kita ke rumah sakit,” ujar Bima merasa khawatir.
Clara menggelengkan kepala, “Tak apa, aku baik-baik saja!”
Bima pun menuntun Clara untuk kembali ke meja makan. Mencium bau mayones tadi, membuat Clara mual kembali.
Clara kembali berlari ke kamar mandi. “Clara are you okey?” Bima terus memijat tengkuk Clara
“Bisa aku minta tolong?”
“Ya katakan?” Bima dengan antusias menjawab.
“Buang semua saus mayones itu!”
****
Pagi ini Sinta merasa tak semangat. Semalaman dia menunggu kabar dari, Rama. Namun, tidak ada sama sekali kabar yang di berikan Rama.
Sinta tentu merasa resah! Dia khawatir dengan pacarnya tersebut. Sinta terus bertanya-tanya. Apa yang terjadi dengan Rama? Apa dia sudah makan? Apa tidurnya cukup? Apa dia baik-baik saja?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui, Sinta. Rita melirik ke samping, majikannya ini, pagi ini nampak tak bersemangat.
“Kamu kenapa, Sin?” tanya Rita memecah keheningan
Sinta menghela napas lesu. “Rama susah banget dihubungi, Mbak. Dia gak ada kabar dari kemarin.”
“Yasudah, kamu sabar aja dulu. Siapa tahu, Rama masih sibuk,” Rita mencoba menghibur majikannya tersebut. Rita pun memakhlumi kekhawatiran Rita
“Saya juga tahu rasanya jadi kamu,” ujar Rita kembali.
“Suami saya dulu juga Tentara. Awalan nikah itu saya sangat kesal dengan suami saya, dia selalu pergi tanpa kabar. Menghilang selama 1 bulan lebih, tanpa memberi kabar. Istri mana yang tidak khawatir? Namun, itu sudah menjadi pekerjaan suami saya, saya harus bisa di nomer duakan oleh negara.”
Sinta mangut-mangut mendengarkan penuturan, Rita. “Terus suami, Mbak Rita kemana?”
Rita tersenyum tipis sebelum menjawab. “Saya tidak tahu, sudah 2 tahun suami saya tidak pulang. Saya tidak tahu, suami saya masih hidup atau sudah mati.”
Sinta terkejut mendengar cerita Rita. “Hah?!! 2 tahun? Mbak Rita gak mencoba mencari?”
Rita hanya tersenyum mendengarnya. “Saya sudah lelah, Sin. Jika suami saya sudah meninggal, saya hanya bisa mengikhlaskan.”
Sinta tertegun mendengarnya, dan saat ini Sinta menjadi takut, karna Rama tak memberinya kabar.
Tanpa sadar mereka telah sampai di rumah sakit. Sinta dan Rita pun turun, Sinta kembali ke ruangannya.
Sinta sama sekali tidak bersemangat. Sudah berulang kali, Sinta mengecek ponselnya. Tidak ada pesan, panggilan atau apapun itu dari Rama.
Sinta kembali melakukan aktivitasnya dengan tidak semangat. Memeriksa pasien sana sini, dan memberikan resep-resep obat.
Sinta kembali ke ruangannya saat jam makan siang. Di sana ada Rita yang membereskan laporan-laporan Sinta.
“Mbak Rita, Tolong belikan makan siang. Kita makan disini saja, saya gak mood ke kantin.” ujar Sinta langsung menghempaskan tubuhnya di sofa.
“Iya sin, bentar”
Sinta memejamkan matanya. Merasakan pening di kepalanya.
Tok...tok...tok
__ADS_1
“Beli makanan cepet banget**.” gumam Sinta yang dirinya pikir itu Rita.
“Masuk!”
Sinta pikir itu Rita, Sinta pun kembali memejamkan mata. Seseorang yang baru masuk itu menatap Sinta sesakma.
Sinta masih saja memejamkan mata. “Makanannya taruh meja aja, Mbak. Aku mau tidur bentar,” ujar Sinta tanpa membuka mata.
“Mau sampai kapan kamu tidur?”
Deg!
Sinta yang mendengar suara itu langsung membuka matanya. Suara yang sangat dia rindukan, mata Sinta melebar mendapati pria yang dia rindukan berdiri di hadapannya.
Sinta masih tak menyangka jika prianya saat ini ada dihadapannya. “Ini bukan mimpikan?” Sinta menepuk-nepuk pipinya, guna membuktikan nyata atau mimpi.
Rama terkekeh melihat tingkah, Sinta. Tanpa kata apapun Rama menarik, Sinta. Membawanya ke dalam pelukannya.
“Ini bukan mimpi, ini nyata.” Rama memeluk Sinta erat.
Sinta sontak mengadahkan kepalanya, “Rama? ini bener kamu kan?”
Rama kembali terkekeh mendengarnya, “Iya sayang! kamu kok bawel banget sih, gak tahu orang lagi kangen apa?!" ujar Rama sedikit kesal.
Sinta tersenyum mengetahui ini bukanlah mimpi atau halusinasi. Sinta kembali membenamkan kepalanya di dada bidang Rama.
“Aku kangen sama kamu, kenapa sih susah banget di hubungin!” Sinta langsung melempari omelan untuk kekasihnya tersebut.
“Maafin aku, beberapa hari kemarin kami tidak bisa mendapat sinyal.”
“Dasar!” Sinta kembali memeluk erat Rama. Menyalurkan rasa rindunya, meski hanya belum bertemu beberapa hari saja.
“Aku tinggal sebentar aja, kamu masak udah kangen sih sama aku.” goda Rama setelah pelukannya terlepas.
Sinta mendengus kesal mendengarnya. “Kepedean banget sih kamu, aku cuma khawatir, dari kemarin aku hubungin kamu gak bisa, kamu juga gak kasih kabar!”
Rama hanya tersenyum mendapat omelan galak dari kekasihnya. Rama kembali memeluk Sinta, mencium pucuk kepalanya lama.
“Aku rindu, Sinta...”
Ceklek
“E--Ehh Maaf menganggu”
*
*
*
*
*
*
“Ini adalah suatu kebahagiaanku, bisa kembali dan menatap senyum manis mu” – Ramadhani Asof
TBC😘
Jangan lupa tinggalkan
Like
__ADS_1
Vote
Rat bintang 5 nya ya....