
Budayakan Like Sebelum Baca😘
.
.
.
.
.
.
****
Tin.... Tin... Tin
Suara klakson mobil mengalihkan perhatian Sinta. Saat kaca mobil diturunkan, terlihat Satria yang masih komplit dengan seragamnya.
“Ayo cepatan!”
Sinta segera masuk kemobil, tanpa memperdulikan ejekan Assiten perancang busana tersebut.
Satria pun melajukan mobilnya, Sinta bertanya-tanya, Hal penting apakah yang sampai membuat Satria seantusias ini?
“Sebenarnya apaansih, Kak? Penting banget kayaknya, sampai Kakak masih pake seragam,” ucap Sinta yang sangat penasaran. Satria hanya melirik sekilas kearah Sinta.
“Nanti kamu juga tahu.”
Sinta pun akhirnya diam, perjalanan sangat panjang. Hal itu membuat Sinta mengantuk, Sinta memilih memejamkan matanya.
Sedangkan, Satria masih fokus menyetir. Saat menoleh ke kiri, Satria mendapati Sinta tertidur.
“Kamu pasti bakal seneng banget, Sin. Rama masih hidup, gue janji akan menyatukan kalian berdua,” ucap Satria dengan bersungguh-sungguh.
Perjalanan berlangsung selama hampir 2 jam. Satria sampai di perumahan kumuh.
“Bangun, Sin. Kita udah nyampe!” Satria menggoyang-goyangkan tubuh, Sinta agar terbangun. Sinta mengerjapkan matanya saat merasakan tidurnya diusik.
“Udah sampai, Kak?”
Satria hanya menganggukan kepala. “Ayo turun!”
Sinta hanya menurut, Sinta turun dari mobilnya. Sinta melihat perumahan kumuh yang di tempati orang-orang asing bagi Sinta.
“Kita mau ngapain kesini, Kak?”
“Udah ikutin Kakak aja!” Satria berjalan terlebih dahulu, dengan disusul Sinta di belakangnya.
Satria terus berjalan, sampai di hutan-hutan. Sinta terus mengikuti langkah Satria, sampai Sinta melihat ada dua orang pria yang sedang beradu pedang. Mereka menggunakan pengaman kepala, yang menutup wajahnya.
“Kita ngapain disini sih, Kak? Kakak gak nyuruh Sinta buat latihan bela dirikan?” tanya Sinta yang merasa bingung. Satria hanya tersenyum mendengarnya.
“Marcus!”
Deg!
Sinta terdiam mendengar Satria memanggil seseorang. Sinta seolah pernah mendengar nama itu, setelah di ingat-ingat, Sinta pernah mendengar nama itu saat pemakaman Kakek Nana.
Dua orang pria yang masih memakai pelindung kepala itu mendekat ke arah Satria dan Sinta. Sinta menatap salah satu pria tersebut, jantung Sinta tiba-tiba berdebar sangat kencang!
Semakin mendekat, dan mendekat. Sudut mata Sinta sudah memerah, Sinta bisa melihat postur tubuh pria itu sama persis dengan Rama.
__ADS_1
Pria bernama Marcus tadi sudah melepas pelindung kepalanya. Namun, fokus Sinta kepada pria yang memiliki postur tubuh sama persis dengan Rama.
Sinta lalu menatap Satria, namun pria itu hanya menganggukan kepala. Sinta pun mengambil napas dalam.
Satu langkah
Dua langkah
Tiga langkah
Sinta sudah berada tepat di depan pria yang masih memakai pelindung kepala. Jantung Sinta berpacu cepat saat menatap mata hitam itu, bulu matanya, dan alisnya yang tebal.
Sinta mengenali siapa pria itu, sudut mata Sinta memerah. Dengan perlahan, Sinta melepaskan pengaman kepala dari pria tersebut. Dan...
Deg!
Air mata Sinta langsung jatuh begitu saja. Sinta mengusap pipi, Rama. Berharap ini semua bukanlah mimpi, atau ilusi. Semua ini terasa nyata untuk Sinta, gadis itu tidak akan sanggup jika ini semua hanyalah mimpi.
Rama mencekal pergelangan tangan Sinta. Sekuat tenaga, Rama menahan air matanya.
Grep
Rama langsung menarik Sinta kedalam pelukannya. Ketakutan-ketakutan itu masih menghantui, Sinta. Sinta takut jika semua ini hanya mimpi, namun mendengar debaran jantung Rama, membuat Sinta yakin jika semua ini nyata.
“Aku rindu kamu, Sinta!”
Sinta semakin terisak mendengar suara yang dia rindukan. Pemilik hatinya, yang dia cintai.
“Jangan menangis, Sinta. Aku sudah kembali, aku nyata bukan hanya sekedar ilusi. Aku nyata, Sinta. Aku nyata!”
****
“Kamu begitu merindukanku?”
Sinta tidak menjawab, dia masih bersandar di dada bidang Rama. Hari sudah gelap, mereka saat ini duduk di depan rumah Jace. Mereka menghidupkan api unggun untuk menghangatkan tubuh.
“Hai, Sinta!” sapanya dengan bahasa Indonesia.
“Hai!”
“Emmmm... Ak...Aku hanya ingin mengucapkan, Maaf!” ucap Marcus sembari menunduk. Sinta mengernyitkan dahi heran mendengarnya.
“Maaf? kita saja baru saja bertemu, memang salah apa yang kau perbuat?”
Marcus hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Ak..aku hampir saja melenyapkan kekasihmu.”
Marcus pikir, Sinta akan marah kepadanya. Namun, kenyataanya gadis itu hanya tersenyum. Hal itu membuat Marcus mengkerutkan dahi heran.
“Kau tak marah? kau bebas menghukumku!”
Sinta menggelengkan kepalanya. “Hampir bukan? dan kau tidak membunuh, Rama. Apapun itu yang terjadi sebelumnya, aku tidak peduli. Yang terpenting aku bisa kembali kepada Rama.”
Ucapan Sinta membuat Rama sangat senang. Rama memberikan kecupan di pucuk kepala Sinta, Marcus meringis melihat adegan romantis di depan matanya.
“Hei, apa kalian tidak ada tempat lain?” tanya Marcus kesal. Di saat seperti ini Marcus merindukan, Nana. Nana yang saat ini berada di Italia.
Rama terkekeh mendengar Marcus tampak kesal. “Kau iri? carilah pacar, tapi siapa yang mau dengan, Bos mafia sepert...”
“BOS MAFIA?!” Sinta langsung berteriak, memotong ucapan Rama. Rama menepuk mulutnya yang kelepasan.
Sedangkan, Marcus hanya bisa menghela napasnya. Sinta langsung menatap Marcus horor.
“Ka..kau bos mafia?” tanya Sinta sedikit ketakutan. Marcus terkekeh melihat Sinta ketakutan.
__ADS_1
“Ya, aku pemilik Cosa Nostra.”
Sinta semakin melotot mendengarnya. Entah keberuntungan atau malapetaka! Ini adalah pertama kalinya, Sinta bertemu dengan pemimpin mafia raksasa itu.
Rama yang menyadari ketakutan di diri Sinta, lalu mengusap kepalanya lembut. “Marcus tidak akan melukaimu, dia pilih-pilih kalau mau bunuh orang.”
Mungkin kata-kata awal membuat Sinta lega, tapi mendengar 'Bunuh orang' membuat Sinta merinding seketika.
Hal itu membuat Rama dan Marcus tertawa. “Hahahaha... Kekasihmu sangat lucu, Rama!”
Sinta memilih diam, dia tidak berani menatap Marcus. Sampai Satria dan Jace datang menghampiri mereka.
“Sinta, ayo kita pulang! Papamu sudah menanyakanmu, ini sudah malam.”
Sinta yang mendengar ucapan Satria menjadi sedih. Dia tidak ingin berpisah lagi dengan Rama. “Ayo pulanglah bersamaku, Rama!”
Rama hanya tersenyum mendengarnya, dengan lembut pria itu mengusap kembali kepala Sinta. “Kamu harus pulang terlebih dahulu, aku akan menyusul! Aku janji aku akan membatalkan pernikahanmu dengan Satria,” ucap Rama mencoba meyakinkan kekasihnya itu. Namun, Sinta hanya menatap Rama nanar. Sinta tidak ingin berpisah lagi dengan Rama.
“Tapi...”
“Aku janji, Sinta. Kita akan kembali bersama, aku berjanji setelah semua ini selesai. Aku akan memberikan dunia baru untukmu, kita ukir nama kita berdua!”
Dengan berat hati, akhirnya Sinta mau pulang. Rama hanya tersenyum menatap mobil Satria yang mulai menjauh, hatinya menghangat saat menatap mata Sinta.
“Aku bersyukur bisa melihatmu lagi, Sinta.”
PUK
Tepukan di bahu membuyarkan, lamun Rama. Rama menoleh mendapati Marcus yang sedang merokok.
“Kau mencintainya?” tanya Marcus sembari memberikan sebatang rokok untuk Rama.
“Sangat,” Rama menolak pemberian rokok dari Marcus. Sinta tidak suka lelaki perokok, dan Rama tahu itu.
Marcus tersenyum miring melihat Rama menolak rokok pemberiannya. “Kau menolak? gadis itu membawa pengaruh positif untukmu, Rama.”
“Aku bersyukur menemuinya.”
Marcus kembali menghisap rokoknya, hingga mengepulkan asap-asap rokoknya. “Aku bodoh karna tidak bersyukur, saat Tuhan mempertemukanku dengan gadis yang luar biasa. Dan lihatlah? aku tidak berubah, karna tidak mendengar setiap perkataanya.”
“Kau jatuh cinta?” tanya Rama yang terlihat mengejek. Marcus terkekeh mendengarnya.
“Bisa kau lihat.”
“Siapa gadis luar biasa itu?” tanya Rama semakin penasaran. Marcus masih menyesap rokoknya, menikmati setiap kebulan-kebulan asap yang dia ciptakan.
“Ck. Kau membuatku penasaran, Marcus. Katakan siapa gadis luar biasa itu,” ucap Rama merasa kesal, karna Marcus tak kunjung menjawab.
“Awal pertemuan ku di negeri ini, kami sama-sama memiliki kehidupan yang kelam. Aku menculiknya ke Italia, kami melewati hal panjang disana, hal yang belum pernah gadis itu alami. Aku membawanya keduniaku, yang kelam dan di penuhi darah...”
Rama menyimak setiap cerita Marcus. “So, siapa dia?”
“Arana Idaguna.”
.
.
.
.
.
__ADS_1
Hai Readers😘 Jangan lupa tinggalkan Like, Vote, dan Komentar kalian agar Author tahu kamu ada.
TBC😘