RAMA & SINTA

RAMA & SINTA
Chapter 49


__ADS_3

Budayakan Like Sebelum Baca😘


The Last Mission Love ( Kisah Rednan)


****


“Woww ada reuni kah?”


Sinta yang mendengar suara Rama langsung mendorong Bima. Bima hanya bisa pasrah di dorong oleh Sinta.


“Rama aku bisa jelasin semua ini!” Sinta sudah sangat cemas, takut jika Rama salah paham. “Bima katakan kepada Rama! Apa tujuanmu kemari?”


Bima tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, Bima menghela napas.


“Apa yang lo lakuin sama pacar gue?” suara Rama membuyarkan lamun Bima


“Oke, Sorry. Sinta, gue kesini cuma pengen cerita. I–Ini tentang pernikahan gue dan Clara.“ ujar Bima dengan nada gemetar.


Sinta menatap Bima tajam. “Apa lagi yang pengen lo omongin?” suara Sinta terdengar datar.


Bima menghela napas. Lalu menceritakan dari awal, dimana dirinya mabuk-mabukan, dan berakhir di kamar hotel bersama Clara. Dan hal dimana Clara tidak jujur, malam itu tidak terjadi apa-apa!


“Gu–Gue benar-benar gak nyentuh Clara! Buktinya tadi gue bawa Clara ke Dokter kandungan, Dokternya malah mengatakan Clara masih virgin.”


Rama dan Sinta terdiam mendengar cerita Bima. Bima langsung meraih tangan Sinta, hal itu membuat Rama dan Sinta terkejut.


“Sinta.... Maafin gue! Kita mulai dari awal ya? Ini bukan salah gue sepenuhnya Sinta, g–ue gak salah! Wanita licik itu yang menjebak gue!”


Sinta menepis tangan Bima, matanya menatap tajam Bima. “Terjadi atau tidak! Itu sudah menjadi tanggung jawabmu sebagai pria. Lo tahu cowok paling pengecut di dunia? Cowok yang gak pernah menyayangi Istrinya, melindungi Istri sahnya, dan bahkan mencaci Istrinya!” ujar Sinta menggebu-nggebu


Bima begitu tertegun mendengarnya. Sinta menghela napas. “Dan lagi, Bima meskipun lo mau cerai dengan Clara, gue juga gak akan kembali bersama lo, gue sekarang punya Rama! Pria yang membuat gue tersenyum. Gue tahu ini bukan salah lo, tapi maaf Bima hati gue sekarang milik orang lain.”


Dengan yakin Sinta menggengam tangan Rama. Meyakinkan jika Rama adalah pilihannya.


Bima terlihat kecewa dengan apa yang dia lihat. Padahal Bima berharap Sinta bisa kembali kepadanya. Namun, ternyata kekasihnya ini sudah menjadi milik orang lain.


Bima hanya bisa menghela napas. “Baiklah, gue gak akan memaksa lo Sinta!” suara Bima terdengar sangat pasrah.


“Kalo lo emang mencintai Sinta, lo pasti bahagia melihat Sinta bahagia. Bima, gue gak tahu apa hubungan kalian dulu, tapi mengikhlaskan seseorang yang kita sayang, dan melihatnya bahagia. Itu sudah cukup untuk pria sejati.” Rama yang sedari tadi diam, langsung mengangkat suara.


Bima hanya diam mendengarnya. Bima pun kembali menghela napas. “Kalo bahagia lo sekarang bukan sama gue. Oke, Sin! Gue ikhlas lo bahagia, gue pamit sin.” setelah mengatakannya, Bima pergi meninggalkan ruangan Sinta.


“Rama kamu gak marah kan?” Sinta langsung mengalihkan perhatiannya kepada Rama.


Rama hanya tersenyum melihat kekasihnya yang terlihat takut. Rama menuntun Sinta agar duduk terlebih dahulu.


“Makan dulu, kamu belum makan kan?” Rama langsung mengeluarkan makanan Fastfood yang dia beli tadi.

__ADS_1


Sinta masih saja takut. Takut jika Rama salah paham, takut jika Rama marah, padahal sungguh Sinta tidak mempunyai perasaan spesial lagi untuk Bima, Sinta benar-benar melupakan Bima!


“Rama kamu gak marah kan?” tanyanya sekali lagi.


“Kenapa aku harus marah?” Rama malah menjawab dengan santai.


Sinta berdecak kesal mendengar ucapan Rama. “Kamu kok gak cemburu sih! Berarti kamu mau aku di peluk-peluk sama Bima?”


Rama tersenyum simpul mendengarnya. “Cuma peluk asalkan gak diambil.”


Dengan santai Rama langsung memakan makan siangnya. Sedangkan Sinta masih belum puas dengan jawabannya.


“Kalau aku di ambil Bima gimana?”


Rama menghentikan makannya. “Kalau Bima ngambilnya paksa, aku akan menghabisi Bima.”


Jawaban Rama membuat Sinta tertawa, pipinya bersemu merah mendengarnya. “Kalau Bima gak maksa? Dan aku mau?”


“Kalau kamu kembali ke Bima, maka aku akan menghilang dari bumi ini.”


****


“Kita mau kemana dulu?”


Sinta yang saat ini duduk di Jok belakang motor tampak berpikir. Ini sudah jam pulang kerja, dan saat ini dia dan Rama sedang berputar-putar kota.


“Jangan pulang dulu! Mama sama Papa gak ada di rumah, nanti aku makan malam sendiri.” ujar Sinta sedikit berteriak.


Rama langsung menggandeng Sinta untuk masuk. Sinta bisa melihat rumah Rama jauh lebih besar dari miliknya. Rumah dengan interior kuno, namun sangat elegan


“Kamu duduk disini dulu!” Sinta hanya menurut, Sinta duduk di sofa.


Sedangkan Rama, Rama mengendap-endap ke dapur. Di lihatnya Bundanya sedang makan apel, sembari bersenandung.


Ide jahil sudah ada di pikiran Rama. Satu langkah, dua langkah, dan....


Dor


Apel yang Aletha makan setengah sudah menggelinding jatuh. Ibu beranak satu itu sudah memasang wajah garang.


“Assalamualaikum, Bundaku yang cantik!” Dengan santai Rama mencium kedua pipi Bundanya, Rama tidak sadar jika sudah ada tanduk tak kasat mata.


Dengan geram seperti biasa, Aletha menarik telinga Rama. “Dasar anak nakal! Suka banget ngagetin Bundanya, kalau Bunda jantungan gimana? Kamu mau jadi anak yatim?!!”


“Aduh... aduh... bunda..!!”


Teriakan Aletha membuat Sinta ikut menyusul ke dapur. Sinta melihat Rama di marahi oleh Bundanya, bukannya kasihan Sinta malah menahan tawanya melihat tingkah Rama.

__ADS_1


“Aduh... bunda... Lepasin dong! Nanti kalau kupingnya copot gimana? Masa iya diganti kuping gajah.” rengek Rama memelas.


Aletha masih saja menarik telinga Rama. “Biarin! Biarin kamu pake kuping gajah, pake kuping kuda sekalian!”


Rama cemberut dibuatnya. “Bunda jahat banget, nanti Rama kalau gak ganteng, calon mantu Bunda gak mau sama Rama. Oh iya, Sinta!” Rama langsung bisa lepas setelah mengingat Sinta.


Rama terkejut ternyata Sinta melihat kelakuannya. “S–Sinta? Sejak kapan kamu disini?” Rama sangat malu, kelakuan kekanakannya tercyiduk oleh Sinta.


Sinta hanya tersenyum kecil. Sinta lalu berjalan mendekat ke arah Aletha, di ciumnya punggung tangan Aletha. Ini bukan pertama kalinya Sinta bertemu dengan Aletha.


“Apa kabar, Tante?”


Aletha malah memeluk Sinta. “Baik, calon mantu.”


Sinta merona mendengarnya. Setelah lepas pelukannya, Sinta menatap Aletha dalam-dalam.


“Kok Tante tahu?” tanya Sinta bingung


Aletha terkekeh mendengarnya. “Mama kamu udah cerita, kamu lupa apa Mama mu itu sahabatnya, Bunda?”


Sinta tersenyum, dan kembali memeluk Aletha. Aletha menjadi senang, merasa punya anak perempuan.


“Makasih ya, Tan!”


“Eh jangan panggil, Tante. Panggil Bunda!” ujar Aletha setelah melepas pelukan.


“Iya Bunda!”


“Ekhm ini anaknya yang asli siapa ya?” celetuk Rama mengalihkan perhatian Sinta dan Aletha.


Aletha hanya memandang jengkel putranya tersebut. “Bunda mau punya anak Sinta aja, dia gak nakal kaya kamu! Sudah dua kali kamu bikin makanan Bunda jatuh!”


Rama mencibirkan bibirnya mendengar ucapan tajam Aletha. “Sinta... kamu harus sabar ya sama makhluk ini.” Sindir Aletha kepada Rama.


Sinta hanya tertawa, sedangkan Rama sudah cemberut. “Kok Rama di panggil makhluk sih, Bun? Emangnya Rama makhluk halus?!” ketusnya.


Aletha terkekeh mendengar putranya marah. “Udah gak usah bawel kamu, cepat sana mandi! Bau kamu itu, kaya Sinta dong tetap wangi.” Dengan gemas Aletha memeluk Sinta.


Sinta tersenyum kemenangan kepada Rama. Rama dengan kesal pergi meninggalkan kedua perempuan yang dia sayangi.


“Bunda lagi masak? Mau Sinta bantuin?”


Aletha nyengir mendengar pertanyaan Sinta. “Iya, Sin. Tapi lagi nungguin, Bibi”


Sinta berbinar mendengarnya. Saat-saat inilah menunjukan skil kepada calon mertua, pikir Sinta.


“Sinta bantuin, Bun!”

__ADS_1


“Bunda gak pinter masak... hehehe!”


TBC😘


__ADS_2