RAMA & SINTA

RAMA & SINTA
Chapter 44


__ADS_3

Budayakan Like Sebelum Baca😘


Baca juga\= The Last Mission Love (Kisah Rednan)


****


Irak


Negara Timur tengah yang 8 tahun memiliki konflik peperangan. Ingatan Sinta 8 tahun yang lalu kembali di putar, dimana dirinya menyaksikan Papanya hampir mati karna tertembak, dan di saat itu juga Sinta mengingat pria bertopeng yang menyelamatkan dirinya dan Papanya.


FLASHBACK 8 Tahun yang lalu


“Papa mau ke mana? pokoknya Sinta ikut!” gadis berusia 12 tahun, yang masih sangat imut itu terus menempel kepada, Papanya.


Saat ini Sinta berada di hotel Divan Erbil, Irak. 2 hari yang lalu dirinya menyaksikan Papanya akan pergi, Sinta yang saat itu libur sekolah ingin ikut, dan mau tak mau Kevin harus mengiyakan.


“Tidak bisa, Sinta. Kamu disini saja sama, Pak Yanto” Kevin terus merayu, Sinta. Agar Sinta bersama dengan Pak Yanto, assiten pribadi Kevin.


“No, Sinta ikut!”


Kevin pun menghela napas. Hanya melihat-lihat tak apa, pikir Kevin. “Baiklah ayo kita pergi!”


Sinta langsung berbinar mendengarnya. Setelah berganti pakaiaan, Sinta dan Kevin langsung menaiki mobil jeepnya.


“Kita mau kemana, Pa?”


“Papa gak bisa kasih tahu, pokoknya kamu tidak boleh memfoto apa-apa, jangan cerita ke siapapun, ini rahasia kita. Kamu mengerti, Sinta?” tutur Kevin yang sedang fokus menyetir.


“Mengerti.” Sinta hanya mengangguk patuh.


Setelah lamanya perjalanan, Sinta dapat melihat seperti camp militer yang di jaga ketat. Sinta pun hanya bisa diam, takut jika Papanya marah.


“Kamu disini saja, jangan kemana-kemana, Papa gak akan lama. Setelah ini kita jalan-jalan”


“Oke, Pa” Sinta hanya patuh saja dengan ucapan, Kevin.


Kevin pun turun dari mobil, mendekati penjaga camp militer itu. Kevin pun tidak menggunakan seragam, hal itu membuat Kevin di todongkan senjata.


Kevin mengeluarkan kartunya, kedua Tentara berwajah barat itu langsung mengizinkan, Kevin masuk.


Kevin lalu masuk ke camp militer tersebut. Camp itu diisi dengan berbagai RAS. Kebanyakan malahan adalah anak muda, mereka semua adalah Tentara bayaran Blackwater yang di sewa AS untuk bertugas di Irak.


Kevin langsung menemui pemimpin Blackwater. Erik Prince, petinggi Blackwater.


Kevin di sambut hangat, mereka lalu berbincang-bincang. Mereka tidak sadar jika akan ada kejutan yang menakutkan.


Dor


Dor


Dor


Suara tembakan terdengar, membuat Kevin segera bangkit. Kevin langsung mengingat Sinta.


“Saya harus keluar, Pak Erik” Kevin sudah sangat panik.


“Ini serangan yang tiba-tiba. Tentara baru Irak ulah dari semua ini”


Kevin langsung berlari keluar, tidak memperdulikan teriakan Erik. Kevin berlari menuju mobilnya, dirinya takut jika Sinta tertembak.

__ADS_1


Dor


Dor


Dor


Dor


Tembakan-tembakan terus menghujani. Antara pasukan Blackwater melawan Tentara baru Irak.


Beberapa langkah lagi, Kevin mencampai mobil jeepnya. Namun


Dor


Satu tembakan mengenai punggungnya.


“Papa...!!!” Sinta yang saat itu bersembunyi di bawah kursi mobil terkejut melihat Kevin ambruk.


Sinta langsung turun dari mobil, padahal tembakan-tembakan terus menghujani. Sinta langsung berlari menuju ke Papanya yang terjatuh.


“Papa...!!” Sinta terisak mencoba membantu, Kevin.


“Lari, Sinta...!! Lari..!! mereka tidak akan mengampuni jika kamu tertangkap”


Air mata Sinta langsung berluruh deras mendengar ucapan, Kevin. Sinta menggeleng pelan. “Aku gak mau ninggalin, Papa. Papa harus ikut, Sinta pulang!!”


”Jangan, Sinta. Larilah nak...” suara Kevin mulai melemas, karna darah yang terus berkeluaran.


Dor


Dor


Dor


Saat ini seorang sniper dari kejauhan sudah mengawasi, Kevin dan Sinta. Sniper itu sudah memfokuskan di kepala, Sinta. Sniper itu sudah siap menarik pelatukanya. Namun..


Dor


Belum sempat sniper itu menembak, sniper itu sudah tertembak dahulu. Pria tinggi gagah, yang saat ini menggunakan topeng mendekat ke arah Kevin dan Sinta


Pria itu membantu Kevin dan Sinta untuk bebas. Matanya menangkap seorang pria setengahbaya hendak menembak pria itu. Pria itu hendak menembaknya terlebih dahulu. Namun


Dor


Pria setengah baya itu sudah tertembak oleh peluru lain. Sinta menatap pria tinggi yang menyelamtakannya. Sebuah tanda lahir yang dirinya lihat, di bahu pria tersebut.


FLASHBACK OFF.


“Apa mungkin, Rama ada kaitannya dengan kejadian 8 tahun yang lalu?” gumam Sinta.


****


Pukul 17.00


Sinta keluar dari gedung rumah sakit itu bersama, Rita. Jadwal Sinta hanya akan sampai pada sore hari.


“Mbak, kita ka caffe dulu ya. Aku laper nih,” ujar Sinta setelah mereka duduk di mobil.


Rita yang sudah duduk di kursi kemudi mengangguk. “Oke, Sin”

__ADS_1


Mobil pun melaju, mereka mencari caffe terdekat di rumah sakit tersebut. Rita akhirnya memilih Caffe yang petang ini tidak terlalu ramai.


Caffe tersebut memiliki dua tempat. Outdoor dan di dalam. Sinta lebih memilih di dalam, dan memilih tempat duduk di dekat kaca, yang langsung bisa mengamati jalanan Ibu kota yang ramai.


Seorang pelayan menghampiri Sinta. “Pesanannya, Mbak?”


“Pastanya 2, sama Jus jeruknya 1, kamu mau apa Mbak Rita?”


“Samain aja, Sin”


Pelayan itu pun mengangguk. Sinta lalu kembali fokus dengan ponselnya, tidak ada panggilan masuk atau pesan. Rama benar-benar tidak menghubungi dirinya.


Sinta mendengus kesal melihatnya. “Punya pacar tapi kaya gak punya pacar” gerutunya di dalam hati.


Sinta kini mengalihkan pandangannya ke arah luar. Namun, pandangannya kini malah menangkap, kedua insan yang sedang duduk di kursi luar caffe.


Sinta tersenyum tipis melihat pasangan tersebut. “Semoga lo bahagia deh, Clar. Mungkin, Bima jodoh lo”


Tak lama pelayan kembali datang, lalu memberikan pesanan Sinta. Sinta langsung berbinar menatap pasta pesanannya.


“Sinta...!”


Sinta yang hendak menyuap pasta kemulutnya itu langsung di urungkan, lantaran mendengar suara gadis yang dirinya kenal.


Sinta mengadahkan kepalanya, menatap Clara yang saat ini sedang bergandengan dengan, Bima.


Sinta tersenyum melihat, Clara. “Clara..!! Apa kabar?” Sinta langsung bangkit dan memeluk Clara.


Clara yang melihat reaksi, Sinta sangat terkejut. Dirinya bertanya-tanya. Sinta gak marah? kenapa aku tidak di tampar? kenapa aku tidak di caci maki?


Sedangkan, Bima dia tak kalah terkejut. Dirinya pun betanya-tanya. Apa Sinta sudah melupakanku? Sinta sudah rela? Dia melepaskan ku?


“L--Lo gak marah, Sin?” Clara bertanya gugup, saat pelukannya sudah di lepas oleh Sinta.


“Gue mau marah gimana? nasi sudah menjadi bubur, bukan?” Sinta menjawab dengan santai, tidak terlihatkan jika Sinta sedih.


Bima saat ini sangat-sangat terkejut melihatnya. Bima semakin takjup dengan, Sinta. “Dia bahkan mau memaafkan sahabatnya, Sinta hatimu memang selembut kapas. Andai saja aku tidak bodoh, pasti aku sudah menjadi pria yang paling beruntung bisa berdampingan denganmu**” Bima terus bergumam di dalam hati


“Hay, Bim!”


Sapaan, Sinta langsung membuyarkan lamun, Bima. Bima malah menjadi salah tingkah mendengarnya.


“H--Hay?”


Clara tahu, jika Bima gugup. Clara bisa melihat jika, Bima masih mencintai Sinta. Sedangkan, Sinta? dia menatap Bima sebagai sahabat.


“Oh iya gusy, gue lagi makan nih. Yuk gabung, kenalin juga ini Assiten pribadi gue, namanya Mbak Rita” Sinta pun langsung mempersilahkan Clara dan Bima untuk bergabung.


Dengan canggung Clara dan Bima duduk bersama. Sinta pun kembali menikmati pastanya, sesekali Sinta bercanda bersama Clara.


“L--Lo pulang kapan, Sin?” tanya Clara ragu-ragu.


“Kemarin.” jawabnya singkat.


Clara hanya ber Oh ria. Clara pun tidak tahu jika, Bima kemarin yang menyambut Sinta. Memang suami durhaka!


“Kenapa aku menjadi merasa bersalah begini? Sinta begitu baik, dia mau memaafkanku. Bagaimana kalau Bima tahu sebenarnya malam itu tidak terjadi apa-apa” Clara terus berkecamuk dengan pikirannya. Dia sangat takut, jika Bima mengetahui semuanya, takut jika Bima pergi meninggalkannya.


“Ekhm, Clar. Udah berapa bulan hamilnya?”

__ADS_1


Deg!


TBC😘


__ADS_2