Reinkarnasi Pendekar Manusia

Reinkarnasi Pendekar Manusia
9


__ADS_3

Setelah perkelahian dengan Fang Chu, Yue Jian dan Bocah ingusan jelas pergi mencariku. Namun, aku dengan sengaja bersembunyi dari mereka, berpura-pura telah pergi jauh, padahal tidak.



Ya, kalian boleh menyebutku sebagai stalker, tetapi aku tidak peduli. Apa yang aku lakukan sekarang hanya untuk mengawasi dan melihat sejauh mana kedua pemuda itu dapat berkembang, tanpa perlu bantuanku. Kurang lebih seperti itu.



“Sepertinya Raja kecil itu mempermainkan kita!” Bocah ingusan berteriak kencang dan tampak kesal, berbanding terbalik dengan Yue Jian.



“Tenanglah, Zhang.” Yue Jian terlihat santai. “Guru tidak mempermainkan kita, melainkan dengan sengaja memisahkan diri dari kita, sesuai dengan apa yang dia katakan. Aku yakin dia tidak pergi jauh, hanya saja kita tak dapat menemukannya.”



Seperti yang kuharapkan dari Yue Jian. Pemuda itu sangat-sangat mahir dalam melihat situasi. Kurasa dia paham dengan ucapanku ‘belajar dari pengalaman’. Ditinggalkan oleh guru juga merupakan suatu pengalaman yang kuharap dapat mereka resapi.



Beberapa saat kemudian, karena Yue Jian sudah paham dengan situasi, aku memutuskan untuk pergi. Untuk pertama-tama, kurasa aku harus menjual sesuatu untuk membeli jubah agar penyamaran ini bisa menjadi lebih efektif.



Setelah memutuskan itu, aku pun masuk ke dalam hutan, memburu dua ekor babi hutan, lalu menjualnya ke salah satu rumah makan. Hasilnya memang tidak terlalu banyak, tetapi kupikir cukup untuk membeli jubah.



Tiba di toko pakaian ketika matahari hampir terbenam, dengan santai aku berjalan dan melihat-lihat. Di tempat ini ada cukup banyak pengunjung, tetapi antriannya tidak terlalu panjang. Kemudian, agar bisa menghemat banyak waktu, aku memutuskan untuk segera memilih jubah hitam dengan asal dan membayarnya di kasir.



“Tuan, aku ingin membeli jubah ini.”



“Baik.”



Tanpa ada drama apa pun, aku membayar jubah, memakainya dan pergi. Aku sedikit ingat saat pertama kali aku terbangun di kehidupan kedua ini, aku berada di gang kecil dan kumuh di kota. Namun, kota itu bukan kota yang ini. Mungkin kota di sebelahnya, aku tak tahu.



Awalnya aku mengira kota ini berbeda sampai akhirnya aku mendengar seseorang berkata, “Ampuni aku ….”



Aku berhenti tepat di depan sebuah gang kecil dan gelap. Di dalam gang tersebut terlihat seorang gadis kecil, mungkin seumuran dengan aku yang sekarang, tengah ditendang dan dipukul oleh pria gendut. Jelas saja aku tak tahan untuk melihat perundungan semacam itu.



“Hei, kau, babi gemuk,” kataku sembari memdekat.



Pria gemuk itu kemudian berbalik, “Huh?! Apa kau bilang?!” Dia tidak terima kusebut babi gemuk, tetapi aku tak peduli.



“Aku bilang, menyingkir dari sana, babi gemuk!” Aku menghentikan langkah, berdiri tegak dan memancarkan aura intimidasi.



“Bocah kecil.” Pria gemuk itu segera melesat ke arahku. “Jaga mulutmu!” Dia pun meluncurkan pukulan dengan tangan kanannya. “Pukulan pemecah batu!”

__ADS_1



Pemecah batu apanya? Apa dia seorang pendekar? Pendekar yang tidak dapat mengubah Chi menjadi kekuatan elemen tidak pantas disebut pendekar.



“Tendangan pemecah biji!” Satu tendangan keras yang kuarahkan ke ‘adiknya’, membuat pria gemuk itu menjerit.



“Sakit!!!” Pria itu berguling-guling sembari memegangi ‘adiknya’ dengan kedua tangan.


Itu pasti sakit! Kurasa aku memecahkan salah satu telurnya ….



Melihat ada kesempatan pergi, aku segera menarik tangan gadis yang dianiaya tadi, kemudian berlari dengan cepat. Aku harus segera pergi dari sini.



“Tunggu, kalian, bocah brengsek!” seru pria gemuk. “Sakit!!!”



“Kau pikir aku cukup bodoh untuk terus berada di sini?!”



Aku membawa pergi gadis teraniaya tadi hingga berada cukup jauh dari gang di mana dia dirundung. Gadis dengan rambut panjang ini hanya diam ketika aku membawanya ke tempat yang tak ada banyak orang.



“Jadi, mengapa pria gemuk itu merundungmu?” tanyaku. “Apakah kau mencuri sesuatu di tempat sampahnya, gadis kecil?”




Itu adalah jawaban yang sudah kuduga. Dia pasti melakukan ini karena tidak memiliki uang untuk makan. Ya, aku pun—atau harus kukatakan, Luo Xiao yang kini kuambil alih, pernah mengais tempat sampah untuk makan.



“Apa orangtuamu tahu kalau kau mencuri?” Aku paham topik ini sensitif, tetapi harus aku katakan bahwa ini diperlukan. Namun, jika dia tidak ingin membicarakannya, maka sudahlah.



“Orangtuaku ….” Terlihat kedua tangan gadis itu mengepal erat roknya. “Mereka sudah taka da ….”



….



Bagaimana ini? Aku menanyakan orangtuanya untuk membawanya pulang, tetapi sekarang aku harus bagaimana? Apakah dia tinggal bersama neneknya atau siapa pun itu? Bagaimana cara menanyakannya kalau situasi sudah seperti ini? ….



Ketika aku bimbang harus menjawab apa, suara alam mendadak keluar dari perut gadis berambut panjang ini. Kesempatan ini harus kumanfaatkan!



“Bagaimana kalau kita makan terlebih dahulu?” ajakku yang ditanggapi dengan anggukan oleh si gadis.


__ADS_1


Beberapa saat kemudian, kami tiba di sebuah rumah makan. Aku memesan makanan secukupnya untuk kami berdua. Untung saja uangku masih tersisa.



“Makanlah,” kataku ketika makanan sudah dihidangkan.



Gadis itu terlihat sedikit heran, tetapi juga senang. Lalu, dia pun mulai makan dengan lahap ketika aku tersenyum padanya. Mungkinkah aku bisa mengatakan kalau ini adalah salah satu caraku untuk menebus kesalahan? Entahlah ….



Rumah makan ini cukup sepi, sehingga setelah makan, aku sedikit mengobrol dengan gadis ini, “Siapa namamu?”



Dia diam sejenak, lalu menjawab, “Namaku Huo Lin.”



“Apakah kau tinggal bersama seseorang? Aku akan mengantarkanmu ke sana.”



Berbeda dari apa yang kuharapkan, Huo Lin menggelengkan kepala, menjawab, “Aku tidak memiliki rumah ….”



Bodohnya diriku! Lagi-lagi aku menanyakan hal yang salah!



Tapi tunggu. Dia tak punya rumah? Apakah dia selama ini tinggal di kolong jembatan sendirian? Apa karena itu dia tampak lusuh dan bau? Aku tidak tahan dengan takdirnya ini!



“Bagaimana kalau kau ikut denganku saja?” Karena kasihan, aku mengatakan hal itu. Setidaknya, aku dapat menolong seorang gadis kecil supaya tidak perlu lagi tidur di tempat kumuh.



“Tapi ….” Huo Lin tampak ragu.



“Kau tidak perlu takut. Aku hanya ingin membantu.” Itu yang kukatakan, meskipun sekarang aku sudah tak memiliki uang yang cukup untuk tinggal di penginapan. Apakah malam ini aku akan tidur di hutan bersama gadis ini? Entah kenapa rasanya aneh.



“Terima kasih ….”



Sudah terlanjur diputuskan. Aku tak bisa lagi menarik kata-kataku. Sekarang aku harus mencari cara untuk menghasilkan uang di hari yang sudah gelap ini. Tapi apa yang bisa kulakukan?!



Ah, aku ingat sesuatu! Hehe.



“Kalau begitu, ayo keluar dari sini, Huo Lin.” Aku berdiri, lalu berjalan keluar diikuti oleh Huo Lin.



Saatnya untuk mencari uang dengan instan dan tanpa usaha!

__ADS_1


__ADS_2