
Sebuah ruangan luas dengan meja panjang di kelilingi oleh kursi yang berjajar. Aku tanpa ragu duduk di salah satu kursi tersebut, diikuti oleh Huo Lin yang langsung duduk tepat di sebelah kananku. Sejujurnya kedatangannya sore tadi membuat sedikit khawatir, tetapi ternyata dia sudah bisa bergerak, meski keadaannya belum kembali seluruhnya seperti semula.
“Guru Luo …,” kata Huo Lin, melirik ke arahku sembari menarik piring, “entah mengapa aku ingin disuapi olehmu. Hehe ….”
“Bukankah setiap hari aku menyuapimu?” Aku menaikkan sebelah alis. Akan tetapi, segera aku berubah pikiran ketika melihat matanya yang berbinar-binar. “Baiklah, baik. Apa yang kau inginkan hari ini?”
“Apa pun yang Guru Luo berikan padaku! Hehe.” Dia tersenyum sembari memberikan piringnya padaku.
Padahal kemarin dia baru saja bisa bangun dari ranjang, tetapi hari ini sudah berubah menjadi seekor naga. Selain itu, sejauh pengelihatanku, dia tulang-tulangnya yang patah bisa dengan cepat sembuh ketika dalam wujud seekor naga. Gadis ini jadi mengingatkanku pada kehidupan sebelumnya.
Berhenti memikirkan semua itu, aku mengambil piring Huo Lin, mengisinya dengan beberapa jenis makanan. Kemudian, tanpa membuang banyak waktu, aku langsung menyuapi gadis tersebut. Aku senang dia sangat menikmati makanan yang kuberikan padanya. Andaikan saja aku bisa bertemu dengan anak-anakku di kehidupan sebelumnya.
“Omong-omong,” tiba-tiba aku mendengar Ling Tian yang duduk di kursi yang jaraknya cukup jauh denganku, berkata pada perwakilan keluarga Fang, “bagaimana dengan investigasinya? Apakah berjalan dengan lancar?”
“Aku tidak bisa mengatakan kalau kami sudah berhasil,” jawab perwakilan keluarga Fang—Fang Fei. “Namun, kami menemukan informasi bahwa Raja daratan dan kelompoknya selalu berpindah-pindah tempat. Sebagai fraksi kecil dari keluarga Fang, hanya itu yang kami ketahui.”
“Keluarga Shi juga tidak banyak mendapatkan informasi,” sahut Shi Li sebelum ditanya. “Kata ayahku, dalam waktu dekat mereka akan bertemu dengan kepala keluarga-keluarga besar. Sayangnya, keluarga Shi tidak bergabung, jadi tidak tahu di mana lokasinya.”
Percakapan awal mereka sedikit menarik perhatianku, tetapi percakapan lainnya bisa kuabaikan. Pada dasarnya, Mu Lan dan rekan-rekannya akan berkumpul pada waktu dekat, tetapi tidak tahu kapan dan di mana. Selain itu, mereka yang selalu berpindah-pindah membuat cukup sulit untuk dilacak.
“Bagaimana? Apa kau menyukainya?” tanyaku sambil tersenyum pada Huo Lin.
__ADS_1
“Ya!” Huo Lin tampak gembira. “Selera Guru Luo memang bagus. Hahaha.”
Baguslah dia suka, meskipun aku mengambil makanan yang terlihat enak saja. Entah bagaimana dia membuatku sedikit lebih percaya diri dengan memilih sesuka hati. Haha.
...*** ...
Aku berdiri di dalam sebuah ruangan luas bersama dengan Ling Tian. Kali ini bukan Ling Tian yang memanggilku ke sini, melainkan aku yang memanggil Ling Tian untuk bertemu, dan dia menyarankan untuk ke aula ini seperti biasa.
“Jadi, apakah ada pergerakan dari keluarga lain?” tanyaku. “Sudah lebih dari seminggu, keluarga Ling tidak diganggu oleh keluarga mana pun. Padahal seperti yang kau katakan, semua keluarga besar memusuhi keluarga Ling.”
Ling Tian berpikir selama beberapa saat, lalu menjawab, “Aku juga ingin tahu alasannya. Dan selain itu, aku sedikit meragukan bahwa ada sebagian orang di keluarga Fang yang tidak setuju dengan keluarga Fang sekarang. Malah kalau dipikir, mereka mungkin rugi dengan bergabung dengan keluarga Ling.”
“Selagi mereka tidak melakukan hal aneh, bukankah itu tak masalah?” Aku memang tidak terlalu peduli dengan konflik antar keluarga besar ini. Selain itu, aku sudah berniat untuk menghancurkan Mu Lan seorang diri!
Tiba-tiba Ling Tian berjalan menjauh, lalu duduk di atas singgasana. “Aku sudah tahu niatmu sejak awal, Luo Xiao. Yue Jian, Zhang, dan Huo Lin juga pasti telah mengetahui ini.” Dia diam sejenak. “Kau tidak peduli dengan konfik antar keluarga besar ini dan hanya ingin informasi tentang keberadaan Mu Lan, kan?”
“Itu benar, tapi … aku tidak ingin kau bergerak sendiri dan melawan Mu Lan seorang diri.”
“Aku sadar dengan kemampuanku. Selain itu, Mu Lan sudah pernah kubuat sekarat dan kedua rekannya tewas dengan kedua tanganku sendiri. Bukankah itu sudah cukup meyakinkan?”
...*** ...
Di puncak sebuah gunung, terdapat sebuah gua yang pintu masuknya ditutup menggunakan batu besar. Dalam gua tersebut terdapat seorang pemuda yang sekujur tubuhnya diperban seperti mumi, duduk di atas singgasana yang terbuat dari batu. Pemuda itu menatap kosong ke depan, di mana terlihat lima orang berjubah hitam sedang mengobrol satu sama lain.
“Sangat disayangkan Ye Fing dan Mo Shin tewas, tetapi mau bagaimana lagi,” kata salah satu dari orang berjubah hitam.
__ADS_1
“Mau bagaimana lagi?” sahut orang berjubah lain. “Yang lemah memang akan selalu kalah oleh yang kuat. Bukankah itu hukum paling dasar di alam semesta ini?”
“Ya,” sahut orang berjubah pertama tadi. “Tapi memang sangat disayangkan saja.”
“Orang yang sudah mati tidak akan kembali lagi,” tiba-tiba pemuda di atas singgasana batu ikut dalam percakapan. “Namun, itu semua hanya berlaku pada manusia biasa!”
“Kau sungguh tahu poin pentingnya, Mu Lan,” kata orang berjubah pada pemuda di atas singgasana.
“Meskipun Tuan tidak mau membangkitkan Ye Fing dan Mo Shin, kita tetap akan mengalahkan Luo Xiao! Membuat jiwanya hancur sehingga tidak dapat bereinkarnasi lagi!” Mu Lan terlihat menggebu-gebu, membuat orang-orang berjubah di depannya ikut bersemangat.
“Karena Mu Lan bilang seperti itu, kematian Ye Fing dan Mo Shin merupakan sebuah batu pijakan agar kita bisa mencapai tujuan yang sebenarnya!” kata orang berjubah.
“Itu benar! Itu benar!” sahut orang-orang berjubah lain, serentak.
“Kita akan mulai dengan menghancurkan keluarga Ling, lalu semua murid Luo Xiao, baru kemudian Luo Xiao sendiri!” Mu Lan mengepal erat kedua tangan. “Aku tidak akan mengecewakanmu lagi, Tuan!”
...*** ...
Meski sedikit kesal, aku keluar dari ruangan tempat bertemu dengan Ling Tian. Dia sungguh merasa bisa membantuku dalam pertarungan setelah mendapatkan kekuatan baru, padahal kekuatannya sangat-sangat jauh dariku! Jangankan dibandingkan denganku, dibandingkan dengan Zhang saja dia masih kalah!
Aku berjalan keluar, menuju ke lapangan. Pada malam hari berbintang ini, tidak ada angin berembus, tetapi aku bisa merasakan hawa dingin menyelimuti tubuh. Mungkin aku perlu sedikit waktu untuk menenangkan diri. Ah … kuharap tidak ada yang menganggu waktuku.
“Guru Luo …,” kata Huo Lin dari belakangku.
__ADS_1
Dia datang di waktu yang tidak tepat, tetapi aku berusaha untuk tetap bersikap tenang. Aku menengadah sejenak, kemudian menjawab tanpa menoleh, “Ada apa, Huo Lin?”