Reinkarnasi Pendekar Manusia

Reinkarnasi Pendekar Manusia
47


__ADS_3

“Jadi, apa yang akan kau lakukan hari ini?” tanyaku pada Ling Qian yang baru saja keluar dari penginapan, bersamaku. “Padahal aku berniat untuk berangkat pagi ini, tetapi kau menundanya. Berikan aku alasan atau aku akan meninggalkanmu.”



“Haah ….” Ling Qian mengembuskan napas panjang, masih melangkah ke depan, lalu menjawab, “Aku akan mengalahkan Ling Tian! Dengan kekuatanku yang sekarang, aku pasti bisa melakukannya!”



Sejenak aku melirik tatapan mata gadis ini, lalu tahu bahwa dia memang tidak bercanda dengan apa yang baru saja dikatakannya. “Ah, hari ini pasti akan menjadi hari yang panjang,” gumamku. “Aku tidak mau terlibat dalam usaha balas dendammu. Aku hanya akan melihat saja.”



“Guru Luo tidak perlu terlibat,” jawab Ling Qian. “Aku sendiri saja sudah cukup untuk menghadapi mereka semua!”



“Omong-omong, aku juga tidak akan membantu kalau Ling Chi sang Raja Daratan datang juga.”



“Aaa, Guru Luo! Kau ingin aku mati, ya?!”



Ling Qian sepertinya menjadi sedikit panik, tetapi itu sesuai dengan yang aku harapkan. Jadi, aku pun membiarkan kalimatnya berlalu bagaikan angin, tidak mau memberikan tanggapan apa pun.



Sepanjang perjalanan, Ling Qian terus merengek agar jika Ling Chi datang, aku akan membantunya. Namun, aku sedikit pun tidak menjawab, hingga akhirnya kami tiba di depan gerbang kediaman keluarga Ling.



“Jika kau mau mundur,” kataku. “Ini masih belum terlambat.”



Awalnya Ling Qian terlihat ragu, tetapi kemudian menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. “Tidak! Aku tetap akan melakukannya!” Tekadnya sudah bulat, jadi aku sendiri pun tidak bisa melakukan apa pun untuk itu. Haah … mari berharap semuanya selesai dengan cepat.



“Kalian berdua!” tiga orang penjaga gerbang segera menghampiri kami. Mereka sepertinya mengetahui siapa kami, sehingga menodongkan pedang di tangan mereka pada kami. “Pergi tinggalkan kediaman keluarga Ling sekarang!”



Mereka mengancam? Sayangnya, Ling Qian tidak memiliki keinginan untuk mundur dari sini. Aku hanya bisa mendoakan kalian agar selamat. Meskipun ini konyol, menyerang kediaman keluarga besar dari pintu depan.



“Kalian mau mengusirku?” Ling Qian segera mengeluarkan aura intimidasinya. Dia sungguh berbeda dengan dirinya yang dulu, terlebih sekarang dia bisa mengubah tubuhnya menjadi sangat keras, tetapi masih hanya setengah dari kerasnya tubuh Qi Lin. Atau mungkin kurang dari setengahnya? Aku tidak terlalu familiar dengan hewan satu itu.



“Hentikan!” Tiba-tiba terdengar suara seorang pria yang datang, keluar dari kediaman keluarga Ling dengan menunggangi seekor hewan buas, seekor singa dengan tanduk seperti kerbau—Singa Batu. Pria yang dikelilingi oleh beberapa pengawal berpakaian hitam itu tak lain adalah Ling Tian.

__ADS_1



“Ling Tian, akhirnya kau keluar!” Tampaknya Ling Qian sudah tidak sabar untuk menghajar kakaknya itu.



Aku mundur beberapa langkah, merasa tidak pantas untuk ikut campur pada masalah keluarga ini. “Kalian selesaikan masalah kalian sendiri. Semangat,” kataku.



Entah mengapa, aku merasa kalau Ling Tian berbeda dari yang pernah aku temui. Apakah dia mendapat pelajaran berharga dari Ling Chi? Mungkin saja, tetapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin ini segera berakhir dan mencari makan siang.



“Ling Tian! Bertarunglah denganku!” Kalimat yang diucapkan dengan nada tegas itu, bagaikan tombak yang langsung menusuk jantung Ling Tian. “Ayo kita putuskan siapa yang lebih hebat di antara kita!”



“Heh! Anak cacat sepertimu tidak akan menang dari tuan muda!” sahut seorang penjaga yang menyarungkan kembali pedangnya.



“Kau pasti sedang bermimpi bisa mengalahkan tuan muda!” tambah penjaga yang lain. “Lihat saja anak kecil berjubah itu! Dia sadar akan posi—”



Tanpa sempat menyelesaikan ucapannya, sang penjaga sudah terlempar jauh ke udara. Ling Tian tidak bercanda saat menyerang penjaga yang mengabdi pada keluarganya itu.




Hanya dengan satu kalimat itu, para penjaga gemetar dan bersujud tanpa bisa mengatakan apa pun. Kedua penjaga yang tersisa sadar kalau tindakan mereka tidak ditoleransi oleh tuan muda mereka.



Ling Tian kemudian berbalik, masih menunggangi Singa Batu-nya. “Kalian berdua, masuklah. Kita selesaikan ini di arena.”



Pria itu menunggangi hewan buasnya, menuju arena tarung keluarga Ling dengan diikuti oleh para pengawalnya. Kemudian, Ling Qian berjalan di belakang mereka, baru selanjutnya aku menyusul di barisan paling belakang.



Sejenak aku melirik ke belakang, melihat dua pengawal tadi masih bersujud dengan wajah pucat. Kira-kira sampai kapan mereka akan seperti itu? Kuharap mereka tidak tewas dalam keadaan takut.



Baiklah, kembali ke topik, kami sudah tiba di arena yang berukuran cukup besar. Di sini hanya ada arena, tidak ada kursi untuk penonton dan sebagainya. Ini pasti jenis arena yang mana penonton hanya bisa menonton sambil berdiri di samping arena.



Ling Tian dan Ling Qian naik ke arena, sementara aku dan para pengawal pribadi Ling Tian masih berada di bawah. Sepertinya para pengawal maupun Ling Tian sendiri tidak memiliki tri kapa pun untuk menjebak kami.

__ADS_1



“Ayah bilang, setiap orang memiliki takdirnya sendiri,” kata Ling Tian, tiada angin atau pun hujan, sembari turun dari Singa Batu. “Bukankah begitu, Ayah?” Ling Tian menengadah.



Tidak lama berselang, seorang pria tua mendarat tepat di antara Ling Tian dan Ling Qian. Sepertinya pria tua itu adalah ayah mereka. Syukurlah ada orang yang akan menengahi mereka.



“Ayah …,” kata Ling Qian, sedikit ragu.



Kurasa Ling Qian tidak dekat dengan ayahnya. Hal itu terlihat dari betapa canggungnya mereka di hadapan satu sama lain. Semoga saja ini tidak menjadi masalah lain.



“Iya, putriku?” jawab pria itu.



Aku bisa melihat dan merasakan, emosi yang tercampur aduk, terpancar dari Ling Qian. Air mata tampak hendak menetes dari matanya, tetapi dia berusaha menahannya.



Pengakuan ….



Itu adalah apa yang diharapkan oleh Ling Qian, sehingga berlatih dengan sangat keras demi bisa meraihnya. Ternyata tidak setiap orang yang tersakiti, berusaha menjadi kuat, hanya untuk balas dendam.



“Maafkan ayah karena sudah menelantarkanmu, Nak …,” kata pria tua. Dari nada bicaranya, dia sepertinya menyesali apa yang sudah diperbuat olehnya.



“Ikut aku.” Seperti tidak mau membaca suasana, Ling Tian segera mengajak Ling Qian pergi ke suatu tempat, diikuti oleh ayah mereka.



Aku tentu tidak mau hanya diam di sini bersama para figuran ini, jadi aku memutuskan untuk pergi bersama mereka. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam keluarga ini.



Kemudian, setelah berjalan selama beberapa saat, kami tiba di sebuah ruangan. Ruangan luas dengan beberapa lemari besar dan sebuah ranjang besar itu, mendapat cahaya matahari dari dua buah jendela yang terbuka, tetapi ditutupi oleh kain berwarna putih.



“Ibu!!!” Ling Qian segera berlari dan merangkul tangan seorang wanita dengan wajah pucat dan keriput yang terbaring di ranjang.


__ADS_1


“Maaf ayah sudah menyembunyikan banyak hal pada kalian, Ling Tian, Ling Qian.” Pria tua itu memalingkan pandangan ke arah lain.


Arc 5: Keluarga Ling (done)


__ADS_2