
Hanya dalam waktu satu malam saja, gadis kritis yang nyawanya seperti sudah tidak tertolong lagi ini, sekarang benar-benar sembuh. Tidak hanya sembuh, dia bahkan langsung kembali bertenaga dan melanjutkan latihannya yang tertunda.
“Aku akan segera menjadi kuat!” seru Ling Qian sembari mengangkat dua buah batu di kedua tangannya.
“Kau sangat bersemangat,” kataku sembari memerhatikan latihan yang dilakukan gadis itu di sekitar air terjun. “Hari ini aku akan memperhatikanmu agar kau tidak diculik lagi.”
“Huh! Ketika aku berhasil menggunakan Chi, aku akan menghajar habis mereka semua tanpa ampun!”
“Iya, aku percayakan padamu!”
Sepertinya hari ini aku kembali merasa menjadi seorang guru yang baik. Ha … kejadian kemarin telah membuatku berpikir kembali untuk pergi meninggalkan gadis ini. Selain itu, aku juga sudah mendapatkan dua token memasuki Gerbang Tanah Utara.
Aku harus segera membuat gadis ini dapat menggunakan Chi. Dia pasti akan menjadi lebih kuat daripada sampah dari keluarga Ling itu.
Segera aku berdiri, lalu berkata, “Aku lelah menunggu.”
“Ha?” Tanpa sadar Ling Qian melepaskan dua buah batu di masing-masing tangannya. Dia sepertinya salah paham pada perkataanku.
“Cara ini sepertinya terlalu lama,” aku melanjutkan, tidak mau membuat Ling Qian semakin salah paham. “Ayo kita bertarung saja. Kau pasti akan dapat menggunakan Chi dalam situasi seperti itu.”
“Bertarung? Denganmu?”
“Aku hanya akan menggunakan sepertiga kekuatanku atau kurang, dan tidak akan menggunakan Chi sedikit pun. Aku berjanji.”
“Kau yang mengatakannya!” Ling Qian segera melesat, meluncurkan pukulan keras dengan tangan kanannya. Dia jelas tidak mau menunggu aba-aba untuk memulai pertarungan. Anak gadis memang selalu licik, ya!
“Pukulanmu sangat lemah. Meski wajar saja karena kau seorang perempuan,” kataku, menangkis setiap pukulan yang diarahkan Ling Qian.
“Apa kau bilang?” Ling Qian semakin mempercepat pukulan tangannya. “Aku pasti akan mengalahkanmu, Guru Luo!”
Memang benar serangannya menjadi lebih variatif, tetapi itu membuat serangannya menjadi lebih lemah dan semakin mudah dihadapi. Dia sepertinya tidak begitu paham tentang dasar-dasar pertarungan.
“Kau menyia-nyiakan banyak gerakan.” Aku segera menahan tangan kanan gadis itu, lalu membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh. “Sepertinya aku harus mengajarimu dari hal paling dasar tentang bela diri. Ini sangat merepotkan. Seharusnya aku tidak menyadarinya.”
“Kau sangat jahat!” Ling Qian pun berdiri, tetapi matanya terlihat berapi-api. Kekalahan tadi seharusnya membuatnya semakin bersemangat, kan? Semoga saja, aku tidak paham bagaimana cara berpikir orang lain.
“Daripada kau mengeluh, bagaimana jika kita bertarung sekali lagi? Sepertinya kau akan menjadi semakin baik.” Aku kemudian secara tidak sengaja teringat akan sesuatu. “Aku hampir lupa mengatakan bahwa aku memiliki dua token masuk Gerbang Tanah Utara—”
“Aku mau ikut!”
Jawabannya sangat cepat, tetapi aku tidak bisa mengiyakannya begitu saja, “Hanya jika kau sudah berhasil menggunakan Chi dalam tubuhmu, maksimal satu bulan ke depan. Jika belum, aku tidak akan mengajakmu pergi ke sana dan akan mengurungmu di gua bawah tanah!”
__ADS_1
“Jangan meremehkanku, Guru Luo!”
“Haah ….” Aku mengembuskan napas panjang. “Semangatmu memang hebat, tetapi aku tidak yakin apakah kau akan bisa dengan cepat mengontrol Chi dalam tubuhmu seperti yang aku mau.”
“Ayo bertarung lagi, Guru Luo!”
Sialan. Kali ini dia memulai pertarungan tanpa meminta persetujuan lagi. Namun, serangan mendadak seperti ini tidak akan bisa melukaiku!
“Kau boleh curang, tetapi kau tidak akan bisa menang dariku!” Setiap serangannya dapat aku tahan dengan sangat mudah.
***
“Haah … haah … haah ….” Ling Qian terbaring dengan napas yang terengah-engah.
Hari ini terasa cukup panjang di mana Ling Qian benar-benar serius dalam latihan. Semangatnya yang membara itu membuatku tidak dapat makan siang hari ini, tetapi kurasa itu sepadan.
Perkembangan Ling Qian meliputi cara bertarung dan penggunaan Chi yang lebih efisien. Chi Perak yang dia miliki memang lebih hebat dari Chi biasa, tetapi dia dapat menguasainya setelah berlatih beberapa kali saja. Gadis ini cukup berbakat dalam kultivasi, kurasa....
“Aku tidak akan menyerah sampai bisa mengalahkanmu!” Sekali lagi Ling Qian berdiri, sudah membentuk kuda-kuda yang kokoh. “Ayo kita lakukan sekali lagi!”
“Tidak mau.” Aku segera menolak. Kali ini aku tidak akan membuatnya mengubah keputusanku. “Latihan hari ini sudah cukup! Ayo kita kembali dan mencari makan malam!”
Tidak akan sudi aku untuk menemaninya berlatih hari ini lagi. Masih banyak waktu di masa depan, tidak perlu terburu-buru yang bisa membuat latihan menjadi tak efisien.
Meskipun raut wajahnya masam, Ling Qian tetap mengangguk dan berjalan di belakangku. Itu tidak terlalu masalah bagiku jadi sudahlah. Hal terpenting sekarang adalah aku harus makan. Makan itu sesuatu yang harus kulakukan!
Berjalan selama beberapa saat, tak terasa akhirnya kami tiba di penginapan. Tanpa mengatakan apa pun, Ling Qian masuk ke kamar mandi dengan mengabaikanku.
"Hei, tunggu! Aku yang pertama kali datang!" ucapku.
"Kau harus mengalah pada seorang gadis, Guru!" bantah Ling Qian.
"Cih!" Percuma aku adu mulut dengannya, sebab dia pasti tidak akan mendengarkan.
Tidak mengatakan apa pun, aku memutuskan untuk keluar dari penginapan. Di jalan yang sedikit lebih senggang ini, mendadak aku melihat seekor kucing sedang memakan ikan mentah.
Aku hanya melihat hewan itu sekilas, lalu pergi. Seharusnya begitu sampai akhirnya kucing itu melompat ke wajahku tanpa ada aba-aba apa pun.
"Sialan!" Aku menarik kucing itu dari wajahku. "Apa yang kau lakukan kucing sialan?!"
"Meong! Meong!"
__ADS_1
"Kucing ini...." Tak perlu banyak waktu, aku berhasil menangkap dan menyingkirkannya dari wajahku. Namun, ketika aku hendak menurunkannya, tatapan matanya yang berbinar itu terarah padaku. "Ini kutukan...."
Akhirnya, tidak sanggup membiarkannya begitu saja, aku memutuskan untuk segera kembali ke penginapan bersama kucing berwarna oranye ini. Sebaiknya dia bukan kucing nakal atau sejenisnya. Ha.....
"Kau jangan nakal di sini," kataku sembari meletakkan kucing ke atas kasur.
"Meong meong."
Omong-omong, sesuai dengan dugaanku, sampai detik ini pun belum ada tanda-tanda Ling Qian selesai mandi. Mungkin memang sebaiknya aku harus menjadi keras kepala dibandingkan menunggu seorang gadis mandi.
"Meong...." Kucing yang baru saja kubawa menggarukkan tubuhnya padaku.
Mengelus kucing itu sejenak, aku lantas berbaring di atas kasur. Perlahan tapi pasti, aku kembali merasakan lelah di sekujur tubuh.
***
Aku membuka mata perlahan, sekujur tubuhku rasanya sangat segar. Oh inikah surga ….
Ah, kurasa tidak. Suara alam itu sudah memanggil.
Aku pun bangun, melihat Ling Qian tertidur di sebelahku. Sejak kapan dia selesai mandi? Apakah dia tidak mau makan malam?
“Kurasa dia sangat lelah,” kataku, perlahan berjalan menuju kamar mandi. Namun, sebelum aku masuk ke ruangan itu, sepertinya ada hal yang janggal. “Kenapa sepertinya hari sudah cerah?”
Aku membuka jendela, lalu menyesal sudah melakukannya. “Sialan, mengapa aku selalu melakukan hal ekstra yang tidak diperlukan?”
Hari ternyata sudah berganti, matahari telah terbit dan menyinari bumi. Aku tak menyangka aku tertidur begitu pulas hingga pagi tiba. Pasti Ling Qian akan mengoceh ini itu saat dia bangun.
"Meong...."
Kucing Oranye yang aku bawa kemaren, kini menggarukkan tubuhnya di kakiku. Mungkin dia ingin makan? Tak tahu, tetapi sekarang aku tak memiliki apa pun untuk diberikan padanya.
"Nanti dulu, ya." Aku mengelus kucing itu lalu masuk ke kamar mandi.
Saat hendak membasuh tubuh dengan air, mendadak aku memalingkan pandangan ke arah lain kala mendengar teriakan keras dari luar.
"Ling Qian?" Segera aku bergegas keluar dan menemukan Ling Qian dibawa keluar oleh kucing oranye yang tubuhnya berubah menjadi besar. "Sial! Aku lengah."
Tanpa banyak berbicara, aku segera melesat keluar mengejar kucing oranye. Kucing itu sangat gesit, berlari di atas atap sambil membawa Ling Qian.
"Kau takkan bisa lari!" Hanya dengan satu gerakan, aku berhasil merebut Ling Qian dan menendang kucing oranye tadi hingga jatuh ke jalanan.
__ADS_1
Warga terkejut melihat hal tersebut, lalu kucing oranye tadi kembali berubah menjadi kecil. Kucing itu berdarah, dan nyawanya mungkin sudah hilang.