
Di sebuah ruangan kecil yang hanya memiliki satu pintu dan satu jendela, serta sebuah meja dengan dua kursi, terlihat sosok berbadan kekar sedang duduk sembari melihat keluar. Ia dengan santai mengembuskan napas ketika mendengar pintu dibuka.
“Yo, Tian Wang,” kata sosok yang membuka pintu, berjalan mendekat ke sosok yang menatap keluar jendela. “Pertemuan keluarga Jian itu hanya akal-akalanmu saja, kan?”
Sosok yang melihat keluar—Tian Wang menoleh ke sumber suara. “Kau terlambat, Jian Lang.”
Jian Lang tersenyum tipis. “Maaf, tapi tadi sesuatu terjadi di perjalanan.”
Terlihat tak acuh, Tian Wang memalingkan wajah ke depan. “Duduklah. Aku akan memberimu tugas baru yang harus kau lakukan tanpa kesalahan sedikit pun.”
“Ya ….” Sedikit tersenyum, Jian Lang duduk di kursi di seberang meja Tian Wang.
...*** ...
Berjalan dengan tenang di antara pepohonan, Yue Jian tampak waspada. Pemuda itu tidak berjalan seorang diri, melainkan diikuti oleh Shi Li.
Beberapa saat kemudian, Yue Jian tiba di tempat tujuan. Di tempat tersebut sudah ada Zhang, Ling Tian, Huo Lin, dan juga Ling Qian.
Melihat Yue Jian membawa Shi Li bersamanya, Zhang sedikit terkejut, bertanya, “Kenapa membawanya ke mari, Yue Jian?”
“Tenanglah.” Yue Jian menghentikan langkah, melirik sekitar dengan tenang. “Dia datang kepadaku untuk menawarkan informasi. Namun, ada syaratnya ….”
“Sepertinya kau sangat yakin hal tersebut menguntungkan,” sahut Ling Tian yang sedari tadi diam. Dia berdiri tepat di sebelah Zhang, mengamati gerak-gerik Shi Li dengan saksama. “Apa aku benar?”
Yue Jian menggelengkan kepala. “Mungkin aku harus mengatakan kalau ini adalah pertukaran yang sepadan. Tidak ada keuntungan dan kerugian besar di kesepakatan ini.”
Hening beberapa saat, Zhang akhirnya mengembuskan napas panjang. “Kalau begitu, aku serahkan di sini padamu dan Ling Tian.” Dia menoleh ke arah Huo Lin dan Ling Qian. “Kita kembali ke medan perang.”
Sebelum mereka bertiga pergi, Yue Jian berkata, “Huo Lin dan Ling Tian di sini sebentar.” Ia melirik Zhang.
“Baiklah.” Tanpa mau memperpanjang percakapan, Zhang bergegas kembali ke medan pertempuran. “Ayo Ling Qian!”
__ADS_1
“Ya!” Ling Qian segera mengikuti Zhang.
Setelah Zhang dan Ling Qian pergi, tanpa basa-basi Ling Tian langsung bertanya, “Jadi, apa kesepakatannya?”
Yue Jian tidak menjawab, melainkan memberikan kode pada Shi Li untuk menjelaskan secara langsung. Shi Li pun segera paham pada kode itu.
“Keluarga Shi dan setengah dari keluarga Fang mau bergabung dengan keluarga Ling!” kata Shi Li, tegas, membuat Ling Tian sedikit tersentak. Shi Li pun melanjutkan, “Namun, sebagai gantinya Huo Lin harus mengajari aku jurus berubah menjadi seekor naga!”
Usai Shi Li menjelaskan, segera Yue Jian memotong, “Jadi, bagaimana, Huo Lin? Apakah kau bisa melakukannya?” Ia sangat jelas mengabaikan opini Ling Tian sekarang, demi mendapat jawaban langsung pada Huo Lin.
Tentu Ling Tian tidak protes akan hal tersebut, karena dia juga menghormati Huo Lin dalam kesepakatan hari ini. Meski begitu, Ling Tian sepertinya berharap Huo Lin setuju.
Huo Lin berpikir sejenak, kemudian menjawab, “Sejujurnya aku tak begitu paham bagaimana caranya mengajar. Tapi …,” dia diam sejenak, “Aku akan membantumu sebisaku, Shi Li ….”
Mendengar itu, Ling Tian mengembuskan napas lega. “Kalau begitu, aku menanti utusan resmi kalian besok di kediaman keluarga Ling, Shi Li!” Tanpa ragu dia mengulurkan tangan.
Shi Li pun menyambut uluran tangan tersebut, berjabat tangan sambil tersenyum. “Baik ….”
...*** ...
“Awas!!!” Zhang melompat tinggi, menerjang ke depan, menghabisi seorang pendekar hanya dengan satu tendangan.
Meski sudah melakukan hal luar biasa, hanya beberapa orang yang memerhatikan hal tersebut, sedangkan yang lainnya sibuk dengan pertarungan masing-masing. Zhang pun memanfaatkan hal itu dengan menyerang mereka semua menggunakan tangan kosong.
Melihat Zhang sibuk menghabisi musuh, Ling Qian tidak mau kalah, segera melompat, menumbangkan beberapa musuh menggunakan pukulan beruntunnya. Sekarang, Ling Qian dan Zhang benar-benar menggila seperti tidak ada yang membatasi mereka lagi untuk berbuat sesuka hati.
Beberapa saat berlalu, kian banyak pendekar pihak musuh yang menyadari keberadaan mereka. Para pendekar itu lantas mundur beberapa langkah, mencoba menjaga jarak. Akan tetapi, menjaga jarak bukan sesuatu hal yang mudah untuk dilakukan.
“Jangan biarkan mereka kabur!” seru Zhang, langsung menghentakkan kaki, membuat beberapa tombak tanah mencuat, menyerang pasukan lawan.
“Serang!!!” Pasukan keluarga Ling kian menggila, menyerang musuh tanpa ada keraguan sedikit pun. Moral bertarung mereka sudah meningkat melihat betapa kuat Zhang dan Ling Qian yang berada di pihak mereka.
__ADS_1
“Sialann!!!” Seorang pendekar di pihak musuh, tampak berlari dengan frustasi ke arah Zhang. “Aku akan membunuhmu!” Dia mengayunkan pedangnya secara diagonal pada Zhang sekuat tenaga.
“Emosimu tidak akan membuahkan hasil.” Tidak kesusahan sedikit pun, Zhang menangkis tebasan pedang menggunakan tangan kanan, lalu tangan kirinya meluncurkan pukulan keras tepat ke perut lawannya. “Jika tak ingin mati, jangan ikut ke medan perang.”
“Ugh!!!” Pendekar yang mendapat pukulan Zhang, seketika memuntahkan darah segar. Seluruh tubuhnya menjadi lemas tanpa ada tenaga sedikit pun.
Kendati demikian, terlihat jelas bahwa Zhang tidak memiliki keinginan untuk memberi ampun pendekar tersebut. Ia segera menarik tangan musuhnya, membanting orang tersebut hingga kehilangan nyawa.
“Sepertinya di sini sangat meriah,” kata seseorang yang berjalan mendekat dari belakang Zhang.
Tanpa menoleh pun, Zhang sudah tahu bahwa suara tersebut berasal dari Yue Jian. Ia pun menjawab dengan tenang, “Ingin bergabung?”
Yue Jian mendekat, berdiri tepat di sebelah kiri Zhang. Pemandangan ini tentu membuat pasukan musuh semakin kehilangan harapan. Selain itu, kini Ling Tian juga kembali menjadi pemimpin pasukan. Kharisma pria yang baru dikalahkan oleh Fang Chu itu tetap tidak berubah sedikit pun, masih sangat memengaruhi mental baik pasukan keluarga Ling, maupun pasukan musuh.
“Kita menangkan pertempuran ini!” seru Ling Tian, kembali bergerak ke garis depan.
“Ya!!!” Pasukan keluarga Ling kian bersemangat saat melihat harapan di depan mata mereka.
Yue Jian tersenyum tipis, hendak bergerak ke garis depan. “Ayo kita selesaikan ini secepatnya dan melakukan hal penting lain, Zhang, Huo Lin, Ling Qian!”
“Tentu saja,” jawab Zhang, sangat percaya diri.
“Tidak perlu disuruh,” Huo Lin tampak bersemangat.
“Itu memang tugasku!” Ling Qian tak kalah semangat.
Sayangnya, sebelum mereka berempat bergerak ke garis depan, tiba-tiba langit menjadi gelap, lalu sebuah sambaran petir menggelegar. Hawa gelap yang begitu pekat, seketika dirasakan semua pendekar yang sedang bertempur, membuat mereka semua mematung, terlalu shock merasakan hawa gelap tersebut.
Yue Jian dan yang lainnya pun menengadah. Di atas sana, terlihat tiga orang sosok dengan jubah hitam, tengah melayang. Yue Jian pun segera mengenali salah satu dari mereka.
__ADS_1
“Mu Lan …,” gumam Yue Jian, mengepal erat tangan kedua tangan.