
Ruangan ini luas, di dinding terdapat bola-bola api yang melayang, menerangi tempat yang panas bagai neraka ini. Namun, karena aku dapat melapisi tubuhku dengan Chi yang dingin, aku jadi tak merasakan panas di dalam sini walau hanya sedikit.
Dalam gua yang berada di bawah tanah ini, yang baru saja aku ciptakan. Aku melatih Huo Lin siang malam selama lebih dari 3 hari. Aku cukup terkesan dengan gadis itu, karena dia sanggup bertahan hingga detik ini.
“Bagaimana, Huo Lin? Apa kau merasa ada yang berbeda dengan dirimu?” tanyaku pada Huo Lin yang terbaring dengan napas terengah.
“Kak Yue Jian bilang kalau kau adalah guru yang baik, yang mementingkan istirahat sebagai bagian dari latihan. Ternyata kau sangat kejam!” keluh Huo Lin.
Wajar saja dia mengeluh, karena memang aku membuatnya berlatih tanpa ampun selama tiga hari ini. Namun, dia adalah seekor naga, jadi latihannya tentu berbeda dari manusia.
“Kau tahu, kan? Aku tidak menyuruhmu untuk mengatakan keluhanmu padaku.”
“Hm! Iya, aku tahu.” Tampaknya gadis ini kesal. “Aku merasa bahwa kekuatan fisikku jadi jauh lebih kuat. Mungkin hanya itu perubahan yang aku rasakan.”
Akhirnya dia benar-benar menjadi naga. Dari dulu, hewan seperti naga dan lainnya memang memiliki fisik yang jauh lebih kuat dibandingkan manusia. Jadi, jika melatih mereka sama seperti melatih manusia, itu hanya akan menghasilkan sampah lainnya alias tak berguna! Tidak peduli apakah mereka memiliki campuran darah dengan manusia.
“Aku harus mengakui kalau kau sudah berkembang pesat hingga hari ini, Huo Lin,” ucapku, menyanjung. “Setelah istirahat beberapa menit, kita akan kembali berlatih. Tingkat latihannya akan menjadi jauh lebih berat!”
“Kau sungguh kejam, Guru Luo!”
“Siapa suruh kau merengek untuk menjadi muridku. Sekarang kau harus rasakan konsekuensi dari ucapanmu sendiri, Huo Lin!”
“Berlatih dengan Kak Yue Jian jauh lebih menyenangkan!”
“Hahaha.”
Kendati Huo Lin cukup banyak mengeluh, tetapi dia masih sangat serius melakukan latihan. Gadis itu tampaknya memang tidak bercanda kala mengatakan kalau dia ingin menjadi kuat. Aku menghargai tekadnya ini.
“Baiklah, pemanasan sudah cukup!” Aku pun mengambil sebuah botol dari balik pakaian. Dalam botol kecil itu tersimpan sebiji pil berwarna putih dengan sedikit ukiran di permukaannya. “Makanlah ini, dan lakukan jurus mengontrol Chi seperti yang sudah kuajarkan.”
“Baik!” Tanpa keraguan sedikit pun, Huo Lin mengambil pil yang kuberikan padanya. Selang beberapa saat, dia lantas menelan pil tersebut.
__ADS_1
“Uhuk! Uhuk! Uhuk!” Gadis itu terbatuk dan berlutut di tanah. “Argh!!!”
Seperti yang sudah kuduga, dia berteriak menahan rasa sakit yang menjalar ke sekujur tubuhnya.
“Tahanlah sebentar, Huo Lin!” kataku. “Kau pasti bisa melakukannya!”
“Baik, Guru Luo!” Huo Lin begitu percaya pada ucapanku dan menahan semua rasa sakit akibat dari efek samping obat yang kuberikan padanya.
Tidak lama kemudian, tubuh gadis itu berubah. Dia sungguh berubah menjadi seekor naga emas perkasa tepat seperti harapanku. Dia benar-benar tidak mengkhianati harapanku padanya!
“Teruskan seperti itu!”
Ini adalah apa yang aku namakan dengan melatih sesuatu menggunakan sesuatu hal yang sesuai. Dengan memberikan jurus-jurus yang aku ajarkan pada Lou Ching pada Huo Lin, Huo Lin jadi bertambah kuat. Ditambah dengan pil dariku, dia sekarang bisa mulai menjadi naga yang sesungguhnya!
“Hei!!! Apa yang terjadi dengan tubuhku?!” seru Huo Lin.
“Latihan kita akhirnya berhasil, Huo Lin! Selamat!”
“Haah ….” Dia pada akhirnya tetap adalah anak gadis ya. “Lakukan jurus mengontrol Chi untuk mengembalikan tubuhmu.”
Selang beberapa saat, akhirnya Huo Lin berhasil mengembalikan tubuhnya seperti semula. Aku cukup terkejut karena dia benar-benar menuruti setiap ucapanku dengan penuh kepercayaan. Kurasa ini adalah hal baik lain dalam dirinya, atau mungkin naif?
“Bagaimana rasanya menjadi seekor naga?” tanyaku sembari memberikan Huo Lin seguci air. “Kau pasti terkejut, kan? Hahaha.”
“Itu tadi pengalaman yang tak dapat aku deskripsikan,” jawab Huo Lin, menerima air yang kuberikan. Dia pun minum dengan cepat, mungkin karena sangat kehausan.
“Apa kau senang? Kesal? Menjadi tak percaya lagi padaku?”
Huo Lin menggelengkan kepala, “Tidak. Tapi, entah mengapa aku merasa kalau aku seharusnya berwujud seperti itu. Aku tak mengerti. Di satu sisi aku tak ingin berubah lagi, di sisi lain aku merasa bahwa itu wujud alamiku ….”
Ya … aku tak paham apa yang dia rasakan. Sungguh. Bolehkah aku menganggap bahwa ini karena dia berasal dari Ras Manusia Naga, sehingga sifat dari kedua makhluk itu yang berbenturan satu sama lain, sulit untuk dihilangkan? Lupakan ....
__ADS_1
Aku menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan, “Jadi, saat ini kau merasa lebih baik ketika sedang dalam wujud manusia atau sedang dalam wujud naga?”
Pertanyaan itu langsung menusuk pada inti permasalahan. Aku tak ingin menunda sesuatu yang mungkin akan menjadi masalah di kemudian hari. Jadi, mari kita selesaikan secepat mungkin.
“Menurutmu, aku lebih baik dalam wujud manusia atau naga?” Jelas sekali kalau Huo Lin tidak dapat memutuskan ini seorang diri.
“Jika kau menginginkan kekuatan, menjadi seekor naga adalah sesuatu yang bagus. Selain itu,” Aku rasa aku harus membuatnya melihat langsung kenyataan yang sebenarnya, “tidak pernah sekalipun ada manusia yang berdarah naga, yang sanggup mendaki hingga ke puncak tertinggi kejayaan manusia. Mereka semua lemah jika dibandingkan dengan manusia murni.”
Kalian mungkin berpikir bahwa dahulu tak ada Ras Manusia Naga. Padahal, dulu ada, tetapi jumlahnya sangat-sangat sedikit. Mereka semua lemah, sangat lemah dibandingkan dengan Ras Manusia Murni. Jadi, aku tak berniat sedikit pun membuat Huo Lin menjadi kuat sebagai pendekar manusia. Lebih baik baginya untuk menjadi naga.
“Kalau kau belum dapat memutuskan, kau tak harus memutuskannya sekarang juga,” kataku pada gadis itu. “Sekarang ayo kita keluar. Aku akan membiarkanmu makan sesuka hati, karena kau sudah berjuang sangat keras dalam latihan!”
“Hore!!! Terima kasih, Guru Luo!”
Memberinya hadiah karena sudah bekerja keras bukan hal yang sulit. Hanya dengan mentraktirnya makan, dia sudah semangat kembali.
“Ayo kita pergi!”
“Ayo!”
Kami pun segera berjalan keluar dari gua bawah tanah. Dan karena aku tak berniat untuk menggunakan gua ini lagi, aku lantas memadamkan semua bola api yang menjadi sumber cahaya, lalu menimbun kembali gua ini menjadi tanah pada umumnya.
Terima kasih karena sudah menjadi tempat latihan yang nyaman bagi kami. Sekarang kami akan pergi, gua yang indah.
“Apa aku juga boleh membeli pakaian baru, Guru Luo?”
“Baiklah. Khusus untuk kali ini saja.”
“Hore!!!”
Sekali-kali membuatnya senang, bukanlah hal buruk, kurasa. Ya, kurang lebih seperti itu.
__ADS_1