Reinkarnasi Pendekar Manusia

Reinkarnasi Pendekar Manusia
55


__ADS_3

Dunia dewa, meskipun aku bukan pertama kalinya datang ke sini, tetapi tetap saja aku takjub pada betapa indahnya langit malam penuh bintang yang ada di sini. Jika aku harus membandingkannya dengan hamparan bintang di dunia manusia, sepertinya takkan bisa. Maksudku, pemandangan ini harus kuakui sangat indah.


“Jadi, apa kau sudah memutuskan ke mana kau akan pergi setelah ini?” tanya Jian Lang, kala aku dan dia berjalan masuk ke dalam kota.



Aku menggelengkan kepala sejenak, lalu menjawab dengan tenang, “Aku masih ragu-ragu, tetapi yang jelas bahwa aku harus menemukan di mana Ling Chen berada.” Sejenak aku melirik Jian Lang. “Aku rasa kau tahu di mana dia berada sekarang ….”



“Ya, aku memang tahu akan hal itu.”



“Katakan padaku!”



“Tidak untuk sekarang.” Jian Lang bersikap tak acuh, masuk ke dalam rumah makan sederhana, kemudian duduk di meja yang masih kosong.



“Kenapa tidak?!” Aku ikut masuk dalam rumah makan, duduk di kursi yang berada di seberang meja di mana Jian Lang duduk.



Setelah memesan makanan, akhirnya Jian Lang menjawab lagi, “Kau yang sekarang sangat lemah. Jika kau ingin membandingkan secara ekstrim, dirimu yang hanyalah manusia paling lama bisa hidup seratus atau dua ratus tahun, tetapi kami para dewa dapat hidup bahkan sampai lima puluh ribu tahun.”



“Maksudmu aku harus menjadi dewa?!”



“Tidak juga.” Pemuda yang umurnya sebenarnya tidak muda ini kemudian menjawab, “Tidak juga. Jika kau berhasil mencapai kultivasimu seperti dulu, hingga kau memiliki harapan hidup selama beberapa ribu tahun, aku akan mempertimbangkannya.”



“Haah ….” Aku menyerah. “Sepertinya itu adalah cara tercepat agar kau mau memberitahuku lokasi mereka, kan?”



“Aku salut dengan kecepatanmu berpikir, tetapi tidak dengan kecepatan kultivasimu.”



“Jika kau ingin aku cepat berkembang, setidaknya beri aku benda-benda yang bisa kumanfaatkan.”



“Hahaha!” Jian Lang tertawa lepas. “Kau harus mencarinya sendiri.”



Si rubah licik ini memang tidak pernah berubah! Haah …, ujung-ujungnya aku kembali ditarik untuk menyelesaikan masalahku di kehidupan sebelumnya. Kapan aku bisa hidup damai dan tenteram tanpa memikirkan semua masalah duniawi ini?



Beberapa saat kemudian, kami sudah selesai makan dan keluar dari rumah makan. Jian Lang memberiku beberapa koin untuk bertahap hidup di dunia dewa, tetapi aku yakin bahwa jumlahnya pasti hanya cukup untuk makan satu kali saja.



“Kalau begitu, kita berpisah di sini saja, Luo Xiao,” kata Jian Lang sembari berjalan menjauh sambil melambaikan tangannya. “Temui aku lagi jika kau sudah menjadi sangat kuat.”


__ADS_1


“Kau terlalu meremehkanku!” Aku membalas, kemudian berjalan di arah yang berlawanan dengannya.



Perlahan aku berjalan menyusuri jalanan yang asing kulihat. Selain itu, sistem penerangan jalan yang ada di sini, menggunakan bola-bola api yang melayang di udara cukuplah unik. Jika bukan dunia dewa, maka hal seperti ini tidak akan kulihat.



Setelah berjalan beberapa saat, langkahku terhenti. Aku sangat bodoh sampai tidak mengetahui bahwa aku diincar dan sekarang dicegat oleh empat pemuda dengan pakaian lusuh. Dewa macam apa mereka yang tidak menggunakan pakaian layak ini?



“Hei bocah kecil,” kata pria berotot yang menggenggam kayu besar di tangan kanannya. “Serahkan semua yang kamu miliki atau kami akan dengan paksa melucuti sekujur tubuhmu!”



“Menurut saja jika kau ingin hidup!” sahut pria di sebelahnya yang juga berotot, diikuti oleh dua pria lain yang mengiyakan.



“Kalian pikir kalian siapa?” Ingin mengancamku? Kalian sedang bermimpi? Jangan pernah berharap bisa menekanku!



“Kau ternyata punya nyali yang bagus, bocah!”



Pria berotot yang memegang kayu, langsung mengayunkan pedangnya, vertikal tepat ke arahku. Aku pun dengan sangat percaya diri menahan serangan tersebut menggunakan kedua lenganku.



Sial ….




“Bocah ingusan!”



“Itulah akhirnya jika menjadi orang sombong!”



“Kau hanyalah anak kecil tidak tahu diri!”



Mereka menendang tubuhku, kepalaku, dan menghajarku menggunakan kaki, tangan dan bahkan kayu tadi. Jadi inikah, kekuatan dari dewa-dewa yang bahkan tidak memakai pakaian layak?



Rasa sakit itu menyebar, sekujur tubuhku kaku tak bergerak. Semuanya berlangsung begitu lambat rasanya, hingga akhirnya aku kehilangan kesadaran. Aku tidak menduga bahwa aku bagaikan seekor katak dalam tempurung sekarang.


***


Aku perlahan membuka mata. Rasa sakit itu masih bisa kurasakan, bahkan lebih buruk lagi. Namun, aku memaksakan diri untuk bangun, mendapati sekujur tubuhku sudah dipenuhi oleh begitu banyak luka.



“Argh ….”


__ADS_1


Refleks aku menyangga kepalaku dengan tangan kanan. Meskipun pandanganku masih kabur, aku menyadari bahwa kini aku telanjangg bulat, tidak mengenakan apa pun.



“Di mana ini?” Aku melirik sekitar, mendapati bahwa aku tidak lagi berada di jalanan, tetapi sebuah tempat yang dipenuhi oleh bebatuan dan pepohonan lebat. “Para dewa brengsek itu pasti membawaku ke sini untuk melihat aku mati di makan hewan buas atau semacamnya!”



Sial …, belum juga aku sempat membayangkan kemungkinan terburuk, kebetulan yang tak diimpikan itu malah terjadi. Terlihat beberapa singa betina sudah mengelilingiku, bersiap untuk menerkam kapan saja. Aku yakin bahwa mereka bukan Singa Batu seperti yang ada di dunia manusia!



Meskipun mereka sudah siap memangsa, bergerak memutar sembari mengamati, tetapi aku tidak akan menyerah pada keadaan begitu saja. Aku akan mengalahkan mereka dan menaklukan tempat ini! Akan kubalas para dewa berpakaian lusuh yang berani menelanjangi dan membawa aku ke tempat ini!



Aku mengamati gerakan para Singa Batu dengan saksama, lalu seekor dari mereka pun langsung melompat ke arah punggungku, tetapi dengan sigap aku berbalik, menyerang balik dengan tendangan kaki kanan. Sesuai dugaanku, tendangan tersebut belum cukup untuk membuat Singa Batu itu terhuyung ke belakang.



Segera aku melompat ke belakang, tetapi empat Singa Batu lainnya langsung melompat ke arahku dengan waktu bersamaan. Sedikit melakukan taruhan, aku melapisi sekujur tubuh dengan kekuatan energi, lalu meluncurkan serangan berbentuk telapak tangan raksasa berwarna biru.



Kali ini aku sengaja membuat diriku terdorong jauh ke belakang, lalu bersembunyi di balik sebatang pohon besar. Namun, karena sudah seperti ini, aku tidak akan pernah mundur apa pun yang terjadi!



“Kalian masih tidak akan bisa mengalahkan aku!” Penuh dengan kepercayaan diri, aku memanjat pohon besar, tetapi para Singa Batu tadi juga ikut memanjat pohon. “Inilah mengapa manusia lebih baik dari hewan apa pun!”



Aku segera melompat dari pohon ketika para Singa Batu tadi sudah bertengger di dahan pohon. Tanpa keraguan sedikit pun, aku menyemburkan semburan api panas ke arah pohon, kemudian membuat dinding tanah yang membentuk kotak, mengurung para hewan tadi.



Aku pun berhasil mendarat dengan selamat. “Datang ke tempat asing dan langsung mendapat makanan enak? Kurasa ini tidak terlalu buruk. Hahaha.” Aku tertawa pelan. “Tapi jika itu memang benar-benar terjadi.”



Hanya dalam beberapa saat saja, dinding tanah yang aku buat sudah dihancurkan. Lima ekor Singa Batu keluar dari sana, tidak memiliki luka apa pun. Ini adalah situasi yang sudah kubayangkan sebelumnya.



“Kekuatan seorang manusia biasa memang tidak bisa mengalahkan siapa pun atau apa pun di dunia dewa. Sialan! Rasanya sangat sakit ditampar oleh realita seperti ini!”



Lima Singa Batu tadi perlahan mendekat, mulai kembali bersiap untuk menyerang. Kali ini mereka pasti akan bergerak dengan kekuatan penuh.



Sesuai dengan dugaanku, kelima Singa Batu tersebut menyerangku bersama-sama. Mereka tanpa ragu kembali menerkamku dari depan, tetapi karena sudah aku duga, jadi ini sedikit pun tidak membuatku terkejut atau apa pun itu. Aku sudah mempersiapkan semuanya.



“Hewan tetaplah hewan!”



Serangan anak panah yang terbuat dari kekuatan energi berwarna biru segera melesat dengan begitu cepat. Semua anak panah itu menghujani para Singa Batu hingga kesulitan untuk bergerak. Aku tahu mungkin serangan ini tidak akan membuat luka fatal di tubuh mereka, tetapi bagaimana jadinya jika serangan ini menembus organ lunak mereka seperti mata? Aku tidak yakin mereka bisa selamat tanpa luka.



Tidak hanya diam dan menunggu, sekali lagi aku menyemburkan api ke arah hewan-hewan itu, lalu memendamkan mereka dengan lava. Aku merasa kembali ke diriku yang masih muda.

__ADS_1


__ADS_2