
Aku akhirnya bisa kembali ke bumi lagi dan menjadi semakin kuat, tetapi apa yang kulihat setelahnya? Itu tidak lebih dari sebuah mimpi buruk yang ingin kudapatkan. Ini … terlalu mengerikan bahkan untukku sendiri.
Perlahan aku meraih tangan kanan Ling Qian yang terbaring dengan luka parah di dada. Seperti kemungkinan terburuk di dalam pikiran, dia sudah tewas. Pelakunya pasti Mu Lan beserta dua teman sialannya itu! Aku tidak akan memaafkan mereka!
Akhirnya aku berdiri, melirik ke sekitar. Yue Jian, Zhang, Huo Lin, dan Ling Tian sudah terkapar tanpa daya. Tidak hanya itu, pasukan yang berada di pihak mereka, kini sudah banyak tumbang, menyisakan beberapa orang saja. Sedangkan pasukan di pihak Mu Lan masih terlihat cukup banyak.
Air mata memang mengalir membasuh pipi, tetapi bukan berarti mengaburkan pandanganku. Sejenak aku diam, menatap tajam pada Mu Lan yang kini berusaha untuk bangkit. Lalu, tanpa keraguan sedikit pun, kekuatan energi kualirkan ke kedua tangan, kemudian melesat cepat ke depan.
“Aku akan menghajarmu dengan kedua tanganku, Mu Lan!” Aku meluncurkan serangan beruntun, tidak memberikan Mu Lan sedikit pun untuk bertahan dan menyerang balik.
“Argh!!!” Mu Lan jatuh terbaring ke tanah, kedua tangannya lemas, sudah tidak sanggup lagi menahan pukulan beruntunku.
“Jangan membangunkan iblis yang tertidur.” Tanpa sedikit pun ampunan, aku menghajar wajah pemuda itu hingga beberapa gigi tercabut dan darah keluar dari hidung serta mulutnya.
“Beraninya kau!!!” Seorang gadis berpakaian minim dan seorang pemuda di sebelahnya, melesat ke arahku.
“Kalian seperti nyamuk.” Aku berdiri, melesat cepat, mencekik leher mereka masing-masing menggunakan satu tanganku. Gadis berpakaian minim kucekik dengan tangan kanan, sedangkan si pemuda kucekik menggunakan tangan kiri. “Berisik!”
“Argh!!!” Mereka berdua menggeliat, menyerangku sembarangan menggunakan kedua tangan dan kaki.
“Matilah.” Seketika darah membasuh kedua tanganku ketika dua orang yang kucekik sudah tak bergerak lagi. Aku pun membuang tubuh mereka begitu saja, kemudian berbalik.
Mu Lan sudah melarikan diri, meninggalkan kedua rekannya begitu saja. Aku bisa saja mengejar, tetapi sekarang bukan saat yang tepat.
Berpaling dari Mu Lan, aku melirik pasukan yang berada di pihak si brengsekk itu. Mereka semua segera melepas senjata, lalu bersujud. Pandangan mereka kosong, seperti ikan yang telah mati. Akan tetapi, itu bukan hal yang harus kuperhatikan.
“Kalian sudah membantu Mu Lan …,” gumamku ketika beberapa tombak besi muncul dari tanah, menusuk menembus jantung mereka semua tanpa menyisakan satu orang pun. “Maka matilah.”
__ADS_1
Setelah itu, aku melirik pasukan yang berada di pihak murid-muridku. Mereka juga langsung melepaskan senjata dan mengangkat tangan.
“Bawa mereka semua ke kediaman keluarga Ling,” kataku sembari berjalan mendekati Huo Lin yang sudah tak berdaya.
“Baik!” Pasukan tadi segera membawa semua orang di pihak mereka yang sudah tak berdaya maupun tak bernyawa.
“Maafkan Guru …, Huo Lin.” Aku mengangkat tubuh gadis itu sembari melapisinya dengan kekuatan energi.
...*** ...
Seminggu mungkin sudah berlalu semenjak saat itu, tetapi Huo Lin masih terbaring di atas ranjang. Gadis ini memang sudah sadar setelah tiga hari pingsan, tetapi banyak tulangnya patah, sehingga tidak memungkinkan baginya untuk bangun.
Aku duduk di kursi di sebelah ranjang Huo Lin. Perlahan aku merapikan rambut panjangnya. “Apa sekarang rambutmu sudah tidak menghalangi lagi?”
“Terima kasih, Guru Luo,” jawab Huo Lin, mencoba untuk tersenyum.
Tak berselang lama, aku memalingkan pandangan ke arah pintu ketika mendengar pintu diketuk. Si pengetuk pintu berkata, “Guru …, ini aku.”
“Masuklah.” Aku memberi izin.
Pintu pun terbuka, kemudian terlihat Yue Jian yang tangan, kaki, bahkan dadanya terlilit perban, masuk. Dia menutup pintu kembali, kemudian berdiri di sisi lain tempat tidur.
“Aku datang untuk menjengukmu,” kata Yue Jian pada Huo Lin.
“Terima kasih karena selalu berkunjung, Kak Yue Jian …,” jawab Huo Lin.
Yue Jian kemudian mengalihkan pandangan ke arahku. Tampak berhati-hati, pemuda itu berkata, “Guru, Ling Tian mengundangmu menemuinya di aulanya.”
__ADS_1
“Tolong jaga Huo Lin.” Aku bangkit, melirik Huo Lin sejenak. “Guru pergi dulu.”
“Baik, Guru Luo.”
Aku segera keluar dari ruangan, berjalan di sebuah lorong kosong, menuju aula tetua keluarga Ling. Aku masuk melalui pintu besar, langsung bisa melihat Ling Tian yang tengah duduk sambil menunduk. Kedua tangannya saling menggenggam, sedangkan matanya tertutup.
Segera aku berhenti beberapa langkah di depan pria itu, berkata, “Apa kau memerlukan sesuatu?”
Tanpa membuka mata, seperti tahu siapa yang berbicara padanya, Ling Tian menjawab, “Luo Xiao, kumohon latih aku untuk bisa menjadi sekuat dirimu.”
“Lihatlah kondisimu,” aku menjawab cepat ketika melihat bahwa perban tidak hanya melapisi tangan dan kakinya, melainkan juga dada, perut dan bahkan lehernya. “Hal pertama yang kau lakukan bukan berlatih, melainkan memulihkan diri.”
“Aku tahu ….” Ling Tian membuka mata, tetapi masih menunduk. “Tapi …, kalau bukan aku sendiri, siapa yang akan membalaskan dendam adikku?! Siapa yang bisa membuat aku yang tidak berdaya ini, menjadi orang yang paling bisa diandalkan?!”
Petir seketika menggelegar, seperti menjawab ucapan Ling Tian. Namun, saat ini bukan hanya Ling Tian yang merasa terpuruk, tetapi aku juga. Mungkin juga, bukan hanya kami berdua, tetapi masih banyak lagi, terlebih Ling Qian baru saja dimakamkan beberapa hari lalu. Aku hanya bisa berharap bahwa seminggu ini aku hanya sedang berada di mimpi buruk.
Aku lantas mengepal kedua tangan, lalu berbalik, “Panggil aku ketika keberadaan Mu Lan sudah ditemukan.” Aku pun segera berjalan ke pintu keluar. “Serahkan semua padaku.”
...*** ...
Awan terlihat gelap, petir bergemuruh menambah suram suasana. Angin berembus pelan, menerbangkan dedauan serta debu.
Deretan batu terhampar di sebuah lapangan, disusun rapi membentang ke segala arah. Di antara deretan batu tersebut, terlihat seorang pemuda yang membawa bunga, berjalan perlahan. Ia melirik sekitar, kemudian lurus menuju salah satu batu.
Pemuda itu adalah Zhang. Ia datang ke tempat ini setelah tubuhnya dapat bergerak lagi. Perlahan pemuda itu meletakkan bunga di tangannya, tepat di depan batu yang ada di hadapannya.
“Maafkan aku ….” Tubuh Zhang seketika lemas, membuatnya jatuh bersujud. Air mata pun mengucur membasuh kedua sisi pipinya. Ia menunduk, mencoba menutup mata. Akan tetapi, ia tidak dapat menahan luapan emosi yang tercermin dari air matanya. “Maafkan aku karena tidak bisa melindungimu, Ling Qian. Maaf karena sudah merusak janji kita ….”
__ADS_1
Angin pun berembus, menerpa tubuh Zhang yang kini menengadah. Ia membuka mata, melihat awan gelap. Tak lama kemudian, hujan pun turun, tetapi ia tak bergegas pergi, melainkan membiarkan dirinya basah oleh air yang membasuh sekujur tubuhnya.