
Sebuah lorong panjang diterangi oleh lentera di dinding. Deretan jeruji besi terlihat di ujung lorong serta para penghuninya yang menatap dengan tatapan penuh kebencian.
Terlihat seorang pemuda dengan jubah hitam berjalan dengan tenang, tanpa dikawal atau pun diawasi oleh para penjaga penjara. Pemuda ini berjalan dengan tenang sampai akhirnya tiba di depan penjara paling ujung.
“Lama tidak berjumpa, Ling Chen, Chi Ling,” kata pemuda itu sambil tersenyum tipis. Ia melirik ke dalam penjara yang dihuni oleh dua orang pria itu.
“Jian Lang?!” Ling Chen segera bangkit dan mendekat ke jeruji besi, berbeda dengan Chi Ling yang tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya duduk.
Jian Lang, pemuda yang berada di depan penjara, melirik ke sekitar selama beberapa saat, lalu menjawab, “Jangan terlalu bersemangat, Ling Chen.”
Ling Chen pun segera mengerti arti dari peringatan itu, sehingga memelankan suaranya. “Maaf … aku tidak sengaja.”
“Tidak apa.” Jian Lang tersenyum tipis.
“Apa kau ke sini untuk membebaskan kami?”
Saat mendengar itu, Jian Lang mengembuskan napas panjang, lalu menundukkan kepala. “Aku ingin melakukannya, tetapi maaf ….” Ia mengepal erat tangan kanannya.
“Ah, aku mengerti. Tentu tidak mudah untuk melakukan itu, kan ….” Ling Chen tidak mau memaksakan kehendaknya.
“Aku memang tidak bisa mengeluarkan kalian dari sini, tapi ….” Jian Lang menegakkan kepalanya kembali. “Aku ingin mengabarkan pada kalian bahwa Luo Xiao masih hidup. Dia dalam perjalanan menyelamatkan kalian. Pada saat itu, aku dan dia akan mengeluarkan kalian dari sini.”
“Luo Xiao … masih hidup?” Mata Ling Chen terbuka lebar, kedua tangannya menggenggam erat jeruji besi. Pria itu terlihat hendak mengatakan sesuatu, tetapi dia menahan diri.
“Aku ke sini hanya untuk mengatakan itu.” Perlahan Jian Lang berbalik, berjalan pergi sambil melambaikan tangan kanannya. “Percayalah padanya dan tunggu. Dia akan datang menyelamatkan kalian berdua.”
__ADS_1
...*** ...
Aku masih berdiri di atas jembatan tempat berlangsungnya ujian kedua. Seperti yang bayangkan, di rel sebelah kiriku, masih terlihat Chi Ling yang sekujur tubuhnya—bahkan mulutnya, terikat dengan rapat. Di sisi lain, aku melihat sebuah rel kosong.
“Sebentar lagi kau akan menghadapi ujian berikutnya,” kata sang suara, ketika sebuah portal kembali muncul di depanku.
“Ya.” Aku pun segera masuk ke dalam portal itu. Kali ini aku tidak mau menebak ke mana aku akan dibawa. Mari kita lihat saja.
Berbeda dari sebelumnya di mana aku berada di luar, kali ini aku ada di sebuah ruangan yang tidak terlalu sempit, memiliki sebuah lentera terang di tenang sebagai satu-satunya sumber cahaya. Di depan sana terlihat dua buah pintu, yang satu berwarna merah, satunya lagi berwarna biru. Apakah kali ini aku harus memilih lagi?
“Selamat datang di Kualifikasi As Human Beings tahap ketiga, Pilihan,” kata sang suara yang datang tiba-tiba di telingaku.
“Apakah ini akan menguji kemampuan deduksiku atau semacamnya?”
“Penjelasan hanya akan diberitahukan sekali, tidak ada tanya-jawab.” Saat si suara mengatakan kalimat itu, mendadak Chi Ling berada di sebelah kananku. Tentu saja ini bukan dia yang asli, melainkan sebuah tiruan. “Dengarkanlah baik-baik.”
“Di depan terdapat dua buah pintu yang masing-masing mengarah pada dua tempat yang berbeda,” lanjut si suara. “Setiap pintu hanya bisa dimasuki oleh dua orang. Kau tidak akan bisa membawa orang lain untuk masuk ke pintu itu bagaimana pun caranya.”
Dia benar-benar membuatku mempersempit pilihan. Aku yakin ujian kali ini pasti tentang hidup atau mati. Pilihan yang aku ambil akan memengaruhi hasil ujian ini. Ah … sepertinya aku sudah menebak alur kedepannya akan seperti apa. Ini tidak menyenangkan.
“Mengeluh tidak ada gunanya, ya …,” gumamku.
“Sebentar lagi gas beracun akan memenuhi ruangan ini,” lanjut sang suara, mengabaikan gumamanku, “saat itu, kau harus memilih masuk ke pintu merah atau biru, dan orang di sebelahmu akan masuk ke pintu sebaliknya. Pintu merah akan membawamu ke tempat penuh lava panas yang akan membuat apa pun terbakar dalam sekejap, sedangkan pintu biru akan membawamu ke sebuah taman indah di mana kau bisa aman.”
Singkatnya, ujian ini ingin melihat apakah aku akan mengorbankan diri atau mengorbankan orang lain, khususnya sahabat terdekatku. Bagiku, jawabannya sudah jelas. Aku tidak memiliki alasan hidup yang kuat lagi jika aku kehilangan Ling Chen. Namun, Ling Chen yang di sini bukanlah Ling Chen yang sesungguhnya.
__ADS_1
“Jika dalam sepuluh detik dari sekarang kau masih belum memilih untuk masuk ke ruangan mana,” kata si suara, “kalian berdua akan mati oleh racun! Pilihlah, Luo Xiao!”
Hening selama beberapa saat. Aku menundukkan kepala, mengembuskan napas panjang, tetapi belum juga beranjak dari tempatku berdiri.
“Konyol!” aku berseru lantang sambil menegakkan kepala. Tubuhku perlahan dilapisi oleh kekuatan energi, lalu lantai yang kuinjak pun retak. “Aku hanya akan menghancurkan siapa pun yang berani mengancamku! Dewa sekalipun akan kuhancurkan!”
Kekuatan energi meledak-ledak dalam diriku, merembes keluar membuat dinding ruangan menjadi retak. Sejak awal memang tidak ada jawaban yang benar. Maka aku akan menghancurkan semuanya, membuat pilihan baru yang aku inginkan!
“Tidak ada negosiasi lagi!” Aku menghentakkan kaki kanan sekuat tenaga. Hanya dalam satu kali hentakan, ruangan bergerak, kemudian retak. “Aku adalah manusia, tetapi bukan manusia yang terkekang oleh ancaman!”
Aku mengangkat kedua tangan, menciptakan sebuah pedang besar dari kekuatan energi berwarna biru. Aturan yang mengekangku, akan kuhancurkan dengan kedua tanganku sendiri.
“Manusia lebih dari hewan!” Aku mengayunkan pedang besar di kedua tangan, lurus ke depan secara vertikal. Hanya dalam satu ayunan pedang, ruangan yang tadinya suram, seketika hancur berkeping-keping. Langit-langit pun kini roboh, memperlihatkan langit biru yang sesungguhnya.
Pedang yang tadi kuciptakan dengan kekuatan energi, perlahan hilang. Sejenak aku memalingkan pandanganku ke samping, di mana Ling Chen palsu berdiri. Aku bisa melihat bahwa sahabatku itu tersenyum tipis, kemudian menghilang.
“Aku harap ujian konyol ini segera berakhir!” Aku menarik napas pelan dan mengembuskannya. Kekuatan energi yang melapisi tubuhku pun ikut menghilang.
“Selamat, kau sudah menyelesaikan Kualifikasi As Human Beings tahap ketiga, Pilihan, Luo Xiao.”
“Ha? Aku lulus? Apa ini sebuah lelucon?” Aku melihat ke sekitar, memastikan bahwa ruangan ujian tahap ketiga memang sudah aku hancurkan. “Aku masih tidak mengerti ….”
“Tidak ada ciri khusus seorang manusia untuk menjadi manusia. Manusia tetaplah makhluk tidak sempurna dan tidak pernah sempurna. Namun …,” si suara aneh menjeda kalimatnya sejenak, “manusia terkadang lupa bahwa mereka memiliki kebebasan memilih. Salah benar hanya sebuah kesepakatan antar manusia itu sendiri.”
__ADS_1
Ah … aku mengerti. Sialan, pada akhirnya, apa pun pilihanku di ujian ini, aku akan selalu benar! Cih.