
Hari yang dinanti telah tiba. Sehari sebelum seleksi tahap dua Perguruan Tanah Merah, perguruan tersebut memajang nama-nama peserta yang lolos di depan perguruan. Dapat dilihat kalau banyak orang sedang berkerumun di depan perguruan tersebut untuk melihat apakah mereka lolos atau tidak. Di antara mereka jelas ada Yue Jian dan juga Zhang.
“Sudah aku duga bahwa kita lolos! Hahahaha!” Zhang tertawa kencang kala melihat ada namanya di sana. “Mereka pasti tidak mau orang berbakat seperti kita pergi ke perguruan lain!”
“Baru sekarang kau mengatakannya?” Yue Jian menanggapi dengan ketus. “Padahal kau kemarin tidak dapat tidur karena terus memikirkannya. Dan kau juga yang menyeretku datang ke sini!”
“Kejadian yang sudah berlalu tidak perlu diungkit, Saudaraku!” Jelas bahwa Zhang langsung mengalihkan topik percakapan. “Yang jelas bahwa sekarang kita lolos! Mari kita rayakan!”
Yue Jian hanya dapat menghela napas panjang karena tingkah laku Zhang yang sangat kekanak-kanakan. “Guru pasti langsung menertawakan kita karena ini ….”
Berhubung sudah datang ke sini, Yue Jian sekalian memeriksa siapa saja yang menjadi lawannya dalam seleksi kedua. Dari nama-nama mereka yang lolos, dia menjadi tahu hal menarik yang tidak dipikirkannya sebelumnya.
“Ternyata memang ada nama-nama mereka yang kalah dalam pertarungan, tetapi lolos seleksi. Aku jadi tak tahu lagi bagaimana tolak ukur seleksi pertama itu jika bukan hasil pertarungan,” gumam Yue Jian.
“Ada apa, Yue Jian?” Zhang memiringkan kepala.
Sebelum Yue Jian dapat menjawab, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang berteriak histeris, “Sialan! Padahal aku menang dalam pertarungan itu, kenapa aku tidak lolos?!”
“Dia memang menang saat itu, tetapi karena lawannya menyerah …,” orang-orang mulai bergosip.
“Malang sekali nasibnya ….”
“Kenapa Shi Li dari Ras Manusia Naga yang kalah dari Mu Lan itu malah lolos?!” seru orang yang histeris tadi. “Perguruan ini sangat tidak adil!”
“Siapa yang kau bilang tidak adil?” Orang yang dimaksud, gadis dari Ras Manusia Naga—Shi Li. “Apa kau pikir kau jauh lebih kuat dariku?”
“Itu Shi Li …,” kini orang-orang mulai membicarakan Shi Li.
“Auranya sangat berbeda dari orang biasa ….”
“Ras Manusia Naga memang hebat.”
Shi Li memang memiliki aura yang hebat. Pria yang berteriak histeris tadi kini hanya bisa terdiam. Namun, tampaknya situasi tidak akan selesai hanya dengan itu.
“Jadi, apakah kau mau bertarung atau tidak?!” tantang Shi Li.
__ADS_1
Gadis itu memang arogan, tetapi untuk ukuran pendekar muda zaman sekarang, kekuatannya memang bisa dibilang besar. Akan tetapi, Yue Jian jelas jauh lebih kuat dibandingkan dengan gadis ini.
“Baik kalau begitu!” Pria tadi pun buka suara. Tampaknya kekesalan sudah membuatnya lupa akan rasa takut. “Aku, Mi Lan akan mengantarmu ke neraka!”
Itu yang dia katakan. Tapi, sesuai dengan dugaan. Pria bernama Mi Lan itu memang sangat lemah, bahkan Shi Li dapat mengalahkannya hanya dengan satu serangan. Dari situ orang-orang paham bahwa Perguruan Tanah Merah mencari orang yang kuat, bukan orang yang menang dalam pertarungan.
Ketika Yue Jian dan Zhang sedang memerhatikan perkelahian antara Shi Li dengan Mi Lan, mendadak ada seseorang yang memanggil mereka, “Hei, Yue Jian, Zhang!”
Yue Jian dan Zhang tentu segera memalingkan pandangan mereka ke sumber suara. Di sana terlihat pria gendut beserta bodyguard-nya. Mereka berdua pun segera mendekat pada pria itu, karena mereka mengenalnya.
“Lama tidak bertemu, Xian Ji,” kata Yue Jian. “Bagaimana kabarmu?”
“Yo, Xian Ji!” sapa Zhang, santai.
“Kabarku baik! Bagaimana dengan kalian?” Xian Ji kemudian teringat akan sesuatu. “Pertama-tama aku ucapkan selamat karena kalian lolos di seleksi pertama!”
“Hahaha. Terima kasih, Xian Ji. Kami sangat menghargainya!” Zhang tampak begitu tenang dan bersahabat. Sepertinya dia masih sangat senang setelah tahu bahwa dia berhasil lolos seleksi tahap pertama.
“Seleksi tahap kedua jauh lebih ketat dari ini. Kalian sebaiknya jangan lengah!” Xian Ji memperingatkan.
“Aku sangat menantikan hal itu!”
“Kami tidak akan membuatmu kecewa!”
“Kalau kalian lolos, aku akan mentraktir kalian.” Xian Ji kemudian mengakhiri percakapan mereka. “Aku masih ada urusan, jadi aku pergi dulu, Yue Jian, Zhang.”
“Baik! Hati-hati di jalan!”
Xian Ji pun pergi dengan santai sembari melambaikan tangan. Dari gerak-geriknya, dia terlihat tulus dan tak memiliki niat buruk. Namun, siapa yang tahu isi hati seseorang.
“Kau terlihat sangat akrab dengannya, Zhang?” ucap Yue Jian, sedikit menyindir.
“Kaulah yang terlalu kaku, Yue Jian!” Zhang jelas masih terbawa suasana karena keberhasilannya. “Lebih penting lagi. Mari kita rayakan ini dengan makan di rumah makan mewah!”
“Kita ini miskin! Jangan berkhayal yang tidak-tidak!”
__ADS_1
“Kalau begitu. Mari kita makan di rumah makan mewah bagi orang miskin!”
“Maaf, tapi aku tak mau bertambah miskin!”
“Ayolah, Yue Jian. Sekali-kali saja tak apa ….”
“Jawabanku tidak akan berubah!”
“Kau sangat pelit!”
“Pelit pangkal kaya!”
“Petuah sesat dari mana itu?!”
...***...
Setelah mengalahkan Mi Lan, Shi Li melirik ke sekitar, berkata, “Apa ada lagi dari kalian yang keberatan? Kalau ada, aku akan menghadapinya di sini!” Gadis ini sangat percaya diri akan kekuatannya.
Para pendekar yang mendengar ancaman itu pun segera mundur sembari menggelengkan kepala. Sepertinya mereka sudah tak mau mempertanyakan keputusan Perguruan Tanah Merah dalam memilih murid yang harus lolos seleksi dan yang tidak.
Kemudian, karena tidak ada yang menantangnya lagi, Shi Li berniat untuk pergi. Akan tetapi, dia lantas melihat sesuatu yang menarik perhatiannya.
“Kalau tidak salah mereka adalah Yue Jian dan Zhang,” gumam Shi Li. “Ternyata mereka mengenal Xian Ji yang berada di peringat 100!” Gadis ini tampaknya tertarik pada Yue Jian dan Zhang.
Setelah urusannya selesai, Shi Li pun memutuskan untuk mengikuti Yue Jian dan Zhang diam-diam. Dia ingin tahu lebih banyak tentang kedua pemuda itu. Namun, apa yang dia dapatkan adalah fakta kalau kedua pemuda tersebut sekarang sedang adu mulut hanya karena hal sepele.
“Orang-orang jenius memang memiliki sisi lain yang aneh …,” gumam Shi Li, mencoba untuk berpikir positif.
Dia pun terus mengikuti Yue Jian dan Zhang, hingga tiba di sebuah rumah makan. Rumah makan yang mereka kunjungi itu jelas membuat Shi Li terkejut.
“Mereka makan di rumah makan kumuh ini?” Dia tidak percaya hingga mengusap matanya beberapa kali. Namun, fakta tetaplah fakta. “Apa ada sesuatu yang spesial semacam pintu rahasia untuk pertemuan atau lainnya di rumah makan itu?!”
Sayangnya, Shi Li berpikir terlalu jauh. Dia sadar bahwa rumah makan ini memang hanya rumah makan biasa, tanpa ada hal yang istimewa atau apa pun.
“Kukira mereka berasal dari keluarga besar ….” Shi Li mengembuskan napas panjang, kecewa. “Ternyata aku salah besar.”
__ADS_1