
Semua yang berkumpul di lapangan ini sepertinya hanya para murid baru, sedangkan murid-murid senior datang satu per satu dan menonton di samping lapangan. Karena aku bukanlah salah satu dari para murid baru itu, aku memutuskan untuk menyamar di antara murid senior. Aku harap tidak ada dari mereka yang sadar akan keberadaanku.
Belum sempat aku menonton dengan tenang apa yang akan terjadi selanjutnya, mendadak seseorang menepuk pundakku dari belakang. Aku berbalik, melihat lagi sosok berjubah saat itu.
Dia segera pergi ketika aku melihatnya, aku pun segera mengejar sosok berjubah hitam itu dengan tetap hati-hati, agar tidak ketahuan. Namun, aku harus mengakui bahwa orang itu dapat berlari lebih cepat dariku! Apa karena aku berlari tanpa menggunakan kekuatanku? Sudah pasti seperti itu!
Beberapa saat berlari, sosok berjubah itu membuatku mengejarnya hingga keluar dari Perguruan Tanah Merah. Aku sedikit penasaran tentang ke mana dia akan membawaku? Baiklah, aku akan mengikuti. Jika kau ternyata membawaku ke tempat membosankan, jangan harap dapat lari!
“Sial!”
Aku lengah, hingga sebuah lingkaran berwarna putih bercahaya, menarikku ke suatu tempat yang tidak aku tahu. Cara kerja jurus ini pasti sama seperti gapura-gapura di seleksi kedua. Orang yang hendak menangkapku ini pasti bagian dari Perguruan Tanah Merah!
Awalnya aku mengira bahwa Perguruan Tanah Merah tahu aku seorang penyusup, lalu mengirimku ke penjara. Akan tetapi, kenapa aku malah berada di sebuah ruangan luas yang tampak begitu mewah? Apakah terjadi sedikit kesalahan dalam transfer lingkaran berwarna putih tadi?
“Di mana ini?” Aku menerawang ke sekitar. “Hei, kau!” Tanpa sadar aku berteriak pada sosok berjubah yang menjebakku ke sini.
Sebelum aku sempat mendekat ke sosok berjubah itu, mendadak ada suara orang lain yang langsung mengalihkan perhatianku, “Kerja bagus, Mu Lan.”
“Mu Lan katamu?” Aku melirik ke sumber suara, di mana terlihat seorang pemuda dengan tanduk panjang tengah mendekat ke arahku.
“Kenapa, Luo Xiao?” tanya pemuda bertanduk panjang yang tubuhnya diselimuti sisik emas. “Apa kau mengenalnya?”
Aku lantas mengalihkan pandanganku ke arah sosok berjubah tadi. Kala sosok tersebut membuka tudung kepalanya, aku dapat melihat dengan jelas bahwa dia adalah Mu Lan—pendekar yang mengalahkan Shi Li di seleksi pertama.
“Jangan tegang begitu,” si pemuda kembali berkata. “Ayo kita mengobrol, Luo Xiao.” Dia dengan sengaja mendekatkan wajahnya ke wajahku. Namun, aku tidak dapat terintimidasi hanya karena hal ini.
“Bagaimana kau bisa tahu namaku?” Aku balik bertanya.
Pemuda itu memalingkan pandangannya ke arah Mu Lan sejenak, berkata, “Mu Lan.”
“Baik, Tuan!” Mu Lan segera pergi dari ruangan ini.
“Bagaimana kalau kita mengobrol santai terlebih dahulu, Luo Xiao?” Pemuda bertanduk itu mendekat dan melihat ke luar jendela. “Omong-omong namaku Ling Chi.”
__ADS_1
“Aku tak tertarik.” Aku memasukkan kedua tangan dalam saku celana, berbalik menghadap ke arah Ling Chi. “Katakan saja apa yang kau mau? Kau pasti membawaku ke sini untuk diintrogasi tentang alasan aku menyusup ke Perguruan Tanah Merah, kan?”
“Apa peduliku pada perguruan bobrok itu?”
“Bobrok? Dari apa yang kulihat, bagunannya sangat megah.”
“Itu hanya bagian luarnya saja.” Ling Chi berbalik, menghadap ke arahku. “Omong-omong, kau seharusnya bangga karena dapat berbicara empat mata denganku, Luo Xiao.”
Bangga? Apa yang harus kubanggakan dengan berbicara empat mata dengan ras manusia campuran sepertimu? Apa kau akan membanggakan dirimu yang memiliki darah naga atau semacamnya?
“Apa kau tak tahu, Luo Xiao? Aku adalah Raja Daratan. Banggalah akan hal itu.”
“Wah … hebat sekali, aku dapat berbicara dengan Raja Daratan.”
“Kau sungguh mengatakannya dengan tulus!”
Sangat tulus, sampai-sampai nada bicaraku datar kala mengatakannya. Lagi pula, ada urusan apa seorang Raja Daratan dengan bocah yatim piatu seperti ‘Luo Xiao’ ini? Apa kau kekurangan pekerjaan?
“Kakek buyutku? Apakah dia orang yang sangat penting hingga seorang Raja Daratan harus membujukku untuk menyelamatkannya?”
Ling Chi tersenyum tipis, lalu menggelengkan kepala. “Kurasa aku salah bicara.” Dia diam sejenak. “Maksudku, apakah kau ingin menyelamatkan sahabat terdekatmu bersamaku, Guru?”
Aura ini! Tidak salah lagi, dia pasti adalah, “Chi Ling?!”
“Kau begitu lambat menyadari, Guru. Apakah karena kau sudah sangat tua?”
“Mulutmu masih saja busuk seperti dulu!”
“Meski begitu, aku tetap adalah murid terbaikmu, lho ….”
“Aku sedikit kecewa karena akhirnya murid terbaikku malah menjadi bagian ras rendahan!”
“Hahaha.”
__ADS_1
Chi Ling sungguh mengejutkanku. Namun, aku senang dapat bertemu dengannya di kehidupan ini, walaupun aku tidak menyangka dia sekarang bagian dari ras manusia campuran dan menjadi Raja Daratan.
“Jadi, Chi Ling, kenapa kau membawaku kemari? Apakah hanya sekedar untuk pamer saja? Dan sejak kapan kau tahu aku telah bereinkarnasi menjadi anak kecil ini?”
“Guru …, kau mencecarku dengan banyak pertanyaan sekaligus.” Chi Ling mengembuskan napas panjang. “Akan kujelaskan dengan singkat. Sebagai Raja Daratan, Guru pasti tahu aku memiliki kemampuan unik, kan?”
“Tentu. Aku juga pernah memilikinya.”
“Pada dasarnya, aku secara tidak sengaja mendeteksi keberadaan jiwamu. Lalu, aku mengutus Mu Lan untuk menyelidikimu diam-diam. Dan Seleksi kedua Perguruan Tanah Merah adalah jalan terbaik untuk melakukannya.”
“Jadi pada dasarnya kau menguntitku?”
“Aku kan hanya menguntit guruku yang turun derajat menjadi penguntit durjana.”
“Hei! Jaga mulut busukmu itu, dasar murid busuk!”
“Hahaha. Aku hanya bercanda.” Chi Ling kemudian segera kembali ke topik semula. “Aku membawaku ke sini karena aku ingin guru tahu bahwa Ling Chen masih hidup, tetapi dia ditawan oleh para dewa.”
“Ditahan oleh para dewa? Apa maksudmu? Bukankah dia seharusnya menjadi seorang Raja Daratan menggantikan aku yang telah dibunuhnya?”
Chi Ling menundukkan kepala. “Kenyataannya dia memang telah ditahan oleh para dewa setelah menjadi Raja Daratan. Dan apa guru tahu, hal lucu yang aku temukan?”
“Huh? Apa kau sedang ingin menambah ceritamu dengan sedikit komedi?”
Chi Ling menggelengkan kepala. “Bukan. Maksudku, Ling Chen sebenarnya sangat menyanyangimu hingga rela berpura-pura menjadi pengkhianat dan membunuhmu agar dapat menggantikanmu.”
“Aku masih tidak paham ….”
“Ketika aku hendak balas dendam kepada Ling Chen, aku menemukan fakta bahwa para dewa tidak menginginkan manusia untuk menjadi lebih kuat lagi. Mereka tak mau ada orang sekuat dirimu lagi, Guru.”
“Lalu?”
“Para dewa itu memutuskan untuk membinasakanmu di ruang tanpa waktu. Akan tetapi, karena Ling Chen sudah membunuhmu, mereka mengganti target menjadi Ling Chen. Dan, zaman kegelapan pun dimulai, di mana Ras Manusia Murni ditekan habis-habisan oleh para dewa, lalu Ras Manusia Qi Lin, Naga, dan yang lain-lainnya berkuasa.”
__ADS_1