Reinkarnasi Pendekar Manusia

Reinkarnasi Pendekar Manusia
35


__ADS_3

Zhang akhirnya berhasil masuk dalam Gapura Kesepuluh. Seperti sebelumnya, dia dibawa lagi ke atas arena pertarungan. Selain itu, pertarung yang akan dilawannya saat ini pasti lebih kuat dari Xian Ji.


“Aku jadi menantikan pertarungan ini!” kata Zhang, mengamati sekitar dengan tenang. “Apakah aku akan bertarung dengan Fang Chu si peringkat pertama itu? Hahahaha!”


“Kau tak pantas untuk melawan Fang Chu!”


Zhang segera mengalihkan pandangan ke sumber suara. Dia tidak menyangka ternyata suara itu berasal dari seorang gadis berambut panjang dan memegang cambuk panjang di tangan kanannya. Gadis itu tampak arogan.


“Siapa kau?” tanya Zhang, sedikit kecewa karena ternyata lawannya adalah seorang gadis. “Aku tidak terbiasa menghajar seorang gadis. Apakah kau bisa ditukar dengan orang lain?”


“Huh! Dasar makhluk rendahan!” balas si gadis. “Aku Qing Yue, peringkat 70 di Perguruan Tanah Merah!”


“Hanya peringkat 70?” Terlihat bahwa Zhang sedikit kecewa mendengar bahwa gadis itu bukan peringkat 10 besar. “Aku semakin yakin kau harus digantikan dengan orang lain!”


“Brengsek! Berani sekali kau meremehkanku!” Qing Yue mengibaskan cambuknya ke depan. “Pertarungan dimulai!”


“Kau curang!”


Ayunan cambuk Qing Yue menghasilkan serangan berbentuk gelombang dengan warna merah muda. Akan tetapi, serangannya itu dapat dengan mudah ditahan oleh Zhang hanya menggunakan tembok tanah.


“Kau jauh lebih lemah dari Xian Ji!” Zhang melesat ke depan, meluncurkan pukulan beruntung menggunakan kedua tangannya yang berlapiskan elemen tanah. “Maafkan aku harus menghajarmu sedikit!”


“Aku tak butuh belas kasihanmu!” Tanpa ragu Qian Yue mengayunkan cambuknya ke atas, menciptakan pelindung berwarna merah jambu yang mengelilinginya.


Meski pelindung itu tampak kuat, Zhang dapat menghancurkan pelindung tersebut, dan pukulannya tepat menghantam tubuh Qian Yue. Gadis itu pun terpental ke belakang, tetapi masih sanggup berdiri tepat di tepi arena.


Zhang sengaja mundur, menjaga jarak sejenak. Dia masih belum tidak rela bila harus menghajar seorang gadis yang dianggapnya jauh lebih lemah dari dirinya. Namun, dia juga sadar bahwa sekarang dia harus mengalahkan gadis di depannya untuk menaklukan gapura ini.


“He … hei. Kau tidak apa-apa?” tanya Zhang, merasa sedikit bersalah karena sudah membuat lawannya jatuh berlutut.


Qian Yue tentunya tidak menganggap ucapan Zhang sebagai permintaan maaf, melainkan lebih seperti ejekan baginya. Gadis ini pun berdiri, lalu menyelimuti sekujur tubuhnya menggunakan aura berwarna merah muda.


“Aku akan membuatmu sadar bahwa kau jauh lebih lemah dariku!” ancam Qian Yue.


“Mm ….” Kali ini Zhang tak tahu harus bereaksi seperti apa. “Aku benar-benar tidak mau melukai wanita ….”


“Aku memang wanita, tetapi aku jauh lebih kuat darimu, bocah ingusan!”


Qian Yue segera mengayunkan cambuknya ke depan. Dari sana kemudian muncul seekor naga berwarna merah muda yang melesat cepat ke arah Zhang.


“Bocah ingusan kau bilang?” Zhang jadi sedikit kesal mendengar nama panggilan itu. “Cukup Raja kecil itu saja yang memanggilku seperti itu!”


Tanpa ada keraguan sedikit pun, Zhang melapisi kedua tangannya yang berlapiskan elemen tanah dengan elemen api. Kemudian pemuda itu segera meluncurkan pukulan keras yang membuat naga berwarna merah muda tadi hancur berkeping-keping.

__ADS_1


Tidak cukup hanya sampai di sana, Zhang kemudian melesat cepat ke depan, mengerahkan pukulan bertubi-tubi. Dia sepertinya sudah tidak terlalu memikirkan kalau dirinya akan memukul seorang wanita.


“Jangan sombong kau!” Qian Yue mengayunkan cambuknya dengan gerakan memutar ke depan. “Cambukan tanpa henti!”


“Ha!!!”


Zhang tidak menahan kekuatannya lagi. Pukulan pemuda itu berbenturan langsung dengan ayunan cambuk Qian Yue. Seperti yang dapat dibayangkan, Zhang berhasil menembus serangan itu hingga membuat Qian Yue terpental jauh keluar arena pertarungan.


“Maafkan aku …,” kata Zhang yang masih berdiri tegak di atas arena.


Dikarenakan Qian Yue sudah tak sadarkan diri, kini pemenangnya adalah Zhang. Tanpa menunggu lebih lama lagi, pemuda itu segera keluar dari Gapura Kesepuluh dengan harapan akan menjadi orang yang lebih dahulu keluar dibandingkan Yue Jian.


Malangnya, rival terkuatnya itu sudah lebih dulu keluar dari Gapura Kesepuluh. Bahkan, sekarang Yue Jian sedang mengobrol santai dengan Yi Xian yang ternyata sudah menunggu di sana.


“Cih!” Zhang sedikit kecewa karena tidak bisa mengalahkan Yue Jian lagi, tetapi dia dapat menerimanya. “Ternyata kau lagi-lagi selangkah lebih cepat!”


Yue Jian memalingkan pandangan ke arah Zhang. “Kurasa aku berada tidak hanya selangkah lebih cepat darimu. Hahahaha!”


“Huh! Lain kali aku akan menang!”


“Kalian berdua sungguh rival yang hebat,” potong Yi Xian. “Aku tahu kalian pasti akan mencapai lantai ini.” Tetua berambut putih itu mengelus pelan janggut panjangnya.


“Jadi, apakah kami sudah resmi menjadi murid Perguruan Tanah Merah sekarang?” tanya Yue Jian, tidak terlalu memedulikan pujian dari Yi Xian.


“Kalau begitu, hari ini sudah selesai, kan?” Yue Jian memastikan.


“Tentu.” Sebelum Yue Jian dan Zhang hendak pergi, Yi Xian berkata, “Tapi, aku akan memberitahu kalian dari awal bahwa kalian harus memilih untuk menjadi murid dari salah satu cabang Perguruan Tanah Merah.”


“Hm? Apa itu?”


“Kalian akan mengetahuinya besok.”


Tepat ketika Yue Jian hendak mencari tahu lebih lanjut, dia dan Zhang mendadak sudah berada di depan gerbang Perguruan Tanah Merah. Tempat ini ternyata masih dipenuhi oleh para peserta yang gagal. Kondisi mereka juga berbeda-beda, ada yang terluka parah, tetapi ada juga yang tidak terluka sama sekali.


“Ternyata mereka tidak sekedar mengancam,” gumam Zhang kala melihat situasi ini.


“Ayo kita pergi, Zhang.” Tampak jelas bahwa Yue Jian tidak mau terlalu lama berada di tempat yang dipenuhi oleh aura kesedihan ini.


“Ya ….”


Kedua pemuda itu pun segera pergi untuk mencari guru mereka, kendati mereka tidak tahu di mana reinkarnasi Raja Daratan terkuat itu sekarang. Namun, dengan beberapa pertimbangan, mereka memutuskan untuk pergi ke lapangan di tengah hutan, di mana mereka bertarung.


***

__ADS_1


“Kau sudah latihan dengan baik, Huo Lin,” kataku, memuji gadis kecil yang kini tengah mengatur tarikan napasnya.


Sore hari berlatih di lapangan luas ini setelah latihan pagi tadi, aku dapat mengatakan bahwa gadis ini sangat rajin. Dia tanpa perlu aku awasi sudah berlatih lebih dulu di tempat ini, jadi aku datang hanya melihatnya melakukan latihan sesuai dengan yang dia mau saja.


“Guru Luo, kapan kau akan mengajarkan aku jurus lainnya?” tanya Huo Lin, seperti sudah tak sabar untuk dapat menjadi semakin kuat. “Aku sudah bertekad untuk mengalahkan Kak Yue Jian semenjak kekalahanku waktu itu!”


Aku paham dengan ambisinya, tetapi dia tidak perlu terburu-buru untuk meraihnya. “Yue Jian itu jenius, kau mungkin memerlukan lebih banyak usaha lagi agar dapat mengalahkan orang jenius seperti dia.”


“Tapi aku akan melakukannya!”


“Aku suka dengan semangatmu, tetapi kau harus tahu bahwa beristirahat juga merupakan bagian dari latihan yang sehat.”


“Jadi, kapan kau akan mengajarkanku jurus baru?”


“Sampai kau benar-benar menguasai jurusmu yang sekarang.”


“Dasar pelit!”


“Aku hanya tidak ingin kau berkembang secara kuantitas dan mengabaikan kualitas. Ingatlah, kualitas yang baik akan mengalahkan kuantitas.” Apa itu terdengar bijak? Aku kan memang bijaksana! Hahahaha!


“Sepertinya kalian sedang bersenang-senang, Guru.”


Aku segera berbalik ke sumber suara. Benar seperti dugaanku bahwa orang itu adalah Yue Jian. Di belakangnya tentu ada Bocah ingusan yang entah kenapa terlihat cukup murung.


“Yo, kalian berdua sudah menyelesaikan seleksinya?”


“Tentu,” jawab Yue Jian, tenang.


“Kau kenapa?” kataku pada Bocah ingusan sembari menaikkan sebelah alis. “Apa kau gagal?”


“Aku tidak gagal!” jawab Bocah ingusan. “Hei, Raja kecil. Cepat latih aku sampai aku bisa mengalahkan Yue Jian!”


Yue Jian lagi? Ternyata rival terkuat baik bagi Huo Lin atau pun Bocah ingusan tetap si jenius Yue Jian ya? Ini menjadi semakin merepotkan saja.


“Kau takkan mungkin bisa mengalahkan Yue Jian, Bocah ingusan bau kencur!” Aku memalingkan pandangan ke tempat lain, di mana terlihat Yue Jian sedang mendekat ke arah Huo Lin.


“Kau kejam, Raja kecil!”


“Percuma merengek. Yue Jian memang jauh lebih hebat darimu!”


“Huh! Aku pasti akan mengalahkannya suatu hari nanti! Lihat saja, Raja kecil!”


“Aku sangat menantikan hari ketika kau akan dihajar lagi. Hahahaha!”

__ADS_1


Aku tahu bahwa Bocah ingusan tidak akan menyerah hanya karena kata-kataku. Dia bukan orang lemah yang seperti itu, dan aku sangat percaya padanya akan hal itu. Kata-kataku pasti akan menjadi bahan bakar baginya untuk menjadi lebih kuat.


__ADS_2