Reinkarnasi Pendekar Manusia

Reinkarnasi Pendekar Manusia
29


__ADS_3

Gapura Ketiga, gapura di mana dewi keberuntungan menyertai Zhang. Di sini mungkin Zhang akan merebut posisi Yue Jian yang sedari tadi terus mengambil posisi pertama dengan sangat mulus.



“Hahahaha!” Zhang tertawa lepas kala melihat sebuah lonceng raksasa berlapiskan emas dan baja, melayang di hadapannya. “Kali ini aku dapat pastikan aku pasti lolos pertama kali!”



“Baiklah, di Gapura Ketiga ini kau akan dianggap lolos bila dapat membunyikanku dengan cara memukul. Tapi kau dilarang menggunakan jurus apa pun, harus menggunakan kekuatan fisik yang murni!”



“Aku sangat kasihan padamu Yue Jian, karena kau akan gagal di Gapura Ketiga ini!” kata Zhang, sangat percaya diri bahwa dia akan dapat lolos dengan mudah di sini.



“Kau hanya memiliki tiga kali kesempatan untuk memukul,” lanjut lonceng raksasa.



“Itu lebih dari cukup!” Zhang segera meluncurkan satu pukulan keras pada lonceng raksasa. Lalu, hanya dengan satu kali pukulan saja, lonceng tersebut langsung berbunyi. Zhang berhasil lolos dari Gapura Ketiga hanya dengan satu percobaan saja.



“Selamat kau berhasil!”



“Ini sangat mudah bagiku!”



Zhang pun segera berjalan keluar melalui lonceng raksasa yang kini berubah menjadi pintu keluar. Kali ini, orang yang pertama kali keluar dari gapura adalah Zhang, bukan lagi Yue Jian. Tentu saja itu terjadi, karena di gapura ini Zhang tidak perlu berpikir dan hanya perlu memukul dengan sekuat tenaga agar bisa lolos.


***


“Haah … haah … haah ….” Tarikan napas Yue Jian tidak beraturan. Pemuda ini sudah menggunakan dua kali jatah pukulannya untuk membunyikan lonceng raksasa di depannya. Namun, hasilnya nihil. Dia masih belum juga dapat membunyikan lonceng tersebut.



“Apakah kau mau menyerah?” tanya lonceng raksasa.



“Tidak akan!” jawab Yue Jian, tegas. “Jika ini Zhang, dia pasti akan dengan mudah lolos dari tes ini! Tapi aku tidak akan kalah darinya!” Pemuda ini masih belum kehilangan semangatnya agar bisa lolos dari Gapura Ketiga.



“Baiklah. Segera gunakan pukulan terakhirmu, anak muda.”


__ADS_1


Yue Jian berhasil mengatur tarikan napasnya. Dia menjernihkan pikiran, mengumpulkan kekuatan fisiknya yang masih tersisa. “Ini bukan tes yang menguji kemampuan berpikir. Aku harus tenang, mengosongkan pikiran, lalu keluarkan seluruh kekuatan yang ada!”



Pemuda itu tidak terburu-buru. Dia masih dapat tenang kendati menghadapi tes yang tidak sesuai dengan kemampuannya. Dia meyakinkan dirinya bahwa dia sanggup menghadapi tes ini dan lolos!



“Aku siap!” ucap Yue Jian, kencang.



“Silakan,” jawab lonceng raksasa.



“Ha!!!” Yue Jian membentuk kuda-kuda kokoh, meluncurkan satu pukulan dengan tangan kanannya. Pukulan ini adalah pukulan terkuat yang dia bisa lakukan dengan fisiknya saat ini.



*Tong*!



Satu suara itu langsung membuat Yue Jian tersenyum lebar. Dia akhirnya dengan susah payah dapat lolos dari tes dalam Gapura Ketiga. Hal ini sungguh membuatnya lega.




Kali ini, Yue Jian tidak menjadi peserta yang keluar pertama kali, tetapi dia juga tidak menjadi yang terakhir. Dan berbeda dari sebelumnya, Yue Jian memutuskan untuk beristirahat sejenak di anak tangga ke tiga puluh satu. Dia bermaksud untuk memulihkan tenaga, sebelum akhirnya kembali mendaki.



Berdiri di anak tangga ke tiga puluh tiga, Yue Jian melihat bahwa para pendekar lain sangat kesusahan dalam mendaki satu per satu anak tangga. Kemampuan para pendekar itu memang tidak setara dengan Yue Jian, jadi Yue Jian mewajarkan hal tersebut dan hanya diam mengamati.



“Sekali-kali beristirahat di tempat yang telah disediakan, aku rasa bukan hal buruk,” gumam Yue Jian.


***


Sebagai seorang guru yang baik dan sangat bijaksana, aku mengamati dari dekat bagaimana para muridku menyelesaikan tes yang ada di depan mata mereka. Berbeda dari sebelumnya, kali ini Bocah ingusan adalah orang yang pertama kali keluar dari gapura. Wajar saja, karena Gapura Ketiga tidak membuat para peserta di sini berpikir panjang untuk dapat menyelesaikannya.



Itu tadi adalah gapura paling cocok yang didapatkan oleh Bocah ingusan. Namun, sangat disayangkan bahwa tes tersebut sangat-sangat tidak cocok bagi Yue Jian yang cerdas, dapat menguasai banyak jurus, tetapi tidak memiliki kekuatan fisik yang sekuat Bocah ingusan. Ya, semua orang memang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.



Kemudian, setelah beberapa waktu menunggu, akhirnya aku melihat Yue Jian keluar dari Gapura. Dia tampak berbeda dari sebelumnya. Kali ini dia tidak langsung bergegas mendaki tangga untuk mengapai gapura selanjutnya, melainkan beristirahat sejenak.

__ADS_1



“Itu adalah keputusan yang bagus, Yue Jian,” gumamku, memuji muridku yang cerdas itu. “Kau tidak perlu terburu-buru untuk menyelesaikan semua ini. Semua ada waktunya tersendiri.”



Selang beberapa saat, Yue Jian tampak mengembuskan napas panjang, bersiap untuk melanjutkan seleksi ini. Dia kemudian berjalan menaiki setiap anak tangga dengan tenang, lalu berhasil menggapai Gapura Keempat lebih cepat dari beberapa pendekar yang terlebih dulu mendaki anak tangga ini.



“Saatnya aku masuk,” kataku sembari mendaki hingga memasukki Gapura Keempat. “Empat kali memasukki gapura, aku tidak lagi terkesan dengan banyaknya dimensi yang dimiliki dalam setiap gapura.”



“Selamat datang di Gapura Keempat.”



Kali ini, siapa yang berbicara? Tidak mungkin papan hitam atau lonceng raksasa lagi, kan, yang akan menguji di Gapura Keempat ini? Sudahlah, mari kita lihat.



Ya … bagaimana aku mengatakan ini. Sekarang yang melayang dan berbicara padaku adalah sebuah gulungan. Tanda apa ini? Apakah ujian kali ini untuk menghancurkan sebuah gulungan?



“Di Gapura Keempat ini, kau hanya akan melakukan hal sederhana, jadi tidak usah panik atau pun takut.”



“Aku ingin tahu sesederhana apa hal itu.”


Gulungan yang tidak terlalu besar itu pun terbuka. Dia menunjukkan padaku tulisan yang tercantum dalam gulungan tersebut. Entah mengapa aku langsung mengerti inti dari tes ini.



“Di sini kau hanya perlu menguasai jurus yang ada dalam gulungan!” kata si gulungan. “Kau akan diberikan waktu paling lama hanya setengah jam, dimulai dari sekarang!”



“Setengah jam?” kataku, mengulangi. “Itu terlalu lama!” Kali ini aku dapat yakin bahwa Yue Jian maupun Bocah ingusan pasti dapat melalui tes ini dengan sangat mudah. “Ini hanya lelucon!”



Seperti yang aku harapkan, setelah aku keluar dari Gapura Keempat usai menguasai jurus anak kecil dalam gulungan tadi, aku dapat melihat Yue Jian dan Bocah ingusan sedang mengobrol santai di anak tangga ke empat puluh satu. Kali ini aku tidak tahu siapa dari mereka yang keluar pertama.



“Perhatian!” Mendadak Yi Xian datang, lalu berseru. “Sebelum mendaki sampai ke Gapura Kelima, kalian diperkenankan untuk beristirahat di anak tangga ke empat puluh satu, karena aku akan menyampaikan sesuatu setelah semuanya datang.”


__ADS_1


Menyampaikan sesuatu? Mungkin itu hal yang penting. Lebih baik ditunggu saja.


__ADS_2