Reinkarnasi Pendekar Manusia

Reinkarnasi Pendekar Manusia
33


__ADS_3

Apa?! Kalian bosan mengikuti kisah hidupku?!



Kalian harusnya bersyukur karena dapat mengetahui bagaimana kisah hidup seorang Raja Daratan terkuat yang telah bereinkarnasi! Kalian semua pasti berasal dari Ras Manusia Naga dan tidak tahu apa itu seni!



Tapi baiklah, kita akhiri saja penyelundupan di Perguruan Tanah Merah ini. Aku sangat yakin banyak dari kalian yang sudah tidak mau tahu lagi tentang kisahku! Padahal aku adalah Raja Daratan terkuat! Huh!



Aku telah memutuskan untuk berhenti mengikuti seleksi ini di Gapura Keenam. Memang benar aku berhasil lolos dari gapura itu, tetapi aku telah menyaksikan bagaimana Yue Jian dan Bocah ingusan dalam menaklukan seleksi ini. Langkah mereka perlu aku berikan sedikit apresiasi kukira.



Sangat mudah untuk menyerah dalam seleksi ini, yaitu dengan gagal di Gapura Ketujuh. Dari aturan Yi Xian itu, aku dapat memanfaatkannya dengan menjadi salah seorang dari seratus peserta yang hendak dieliminasi. Ini bukan hal rumit untuk dilakukan.



Seperti biasa, aku berjalan masuk ke dalam Gapura Ketujuh dengan berpura-pura kesusahan mendaki. Namun, entah mengapa aku mulai bosan karena lagi-lagi aku dipindahkan ke atas arena.



“Apakah kali ini akan diadakan pertarungan tiga lawan tiga? Sangat tidak kreatif,” kataku.



“Tiga lawan tiga?” kata seseorang yang mendadak muncul di sisi lain arena. “Itu tidak perlu. Cukup aku saja yang melawanmu!”



“Siapa kau?” Aku memiringkan kepala.



“Aku adalah Li Fang! Salah satu murid biasa di Perguruan Tanah Merah!” Dia diam sejenak, lalu melanjutkan. “Tes kali ini sangat mudah, jika kau kalah tipis saja saat melawanku, maka kau lolos, jika kau kalah telak, maka kau akan langsung gagal dari seleksi!”



“Hm ….” Sejenak aku memikirkan sesuatu. “Bagaimana jika aku turun dari arena?”



“Ya … tentu saja kau akan gagal dari seleksi ini saat itu juga,” jawab Li Fang, seperti tidak menduga aku akan bertanya seperti tadi.



Bagaimana harus mengatakannya, ya? Tapi, ya, ini jauh lebih mudah daripada yang kubayangkan. Mari kita akhiri sampai di sini saja.



“Terima kasih atas informasinya.”



“He … hei! Kau mau ke mana?”



“Tentu saja menyerah.” Aku segera turun dari arena, lalu aku pun segera dinyatakan telah dieliminasi. Sesaat setelah dieliminasi, aku segera dipindahkan tepat ke depan gerbang masuk Perguruan Tanah Merah.

__ADS_1



Di sini, terlihat begitu banyak pendekar yang gagal dalam seleksi. Di antara mereka bahkan ada yang telah meninggal. Pemandangan ini cukup mengenaskan jika dilihat-lihat. Terlebih, mereka tampak sangat sedih karena tak bisa masuk ke dalam perguruan yang mereka mimpikan.



Tangisan teriakan orang-orang yang memohon untuk dibukakan gerbang agar bisa masuk ke Perguruan Tanah Merah, menggema di telingaku. Mereka pasti memiliki alasan tersendiri sehingga sangat ingin masuk dalam perguruan bobrok ini.



Mengabaikan semua itu, aku berjalan keluar dari kerumunan dengan santai. Dari yang aku lihat, kebanyakan dari mereka mengalami luka, dari luka ringan sampai luka yang sangat parah. Selain itu, aku juga melihat ada mayat yang memiliki luka lebar di perutnya.



“Ternyata memang ada orang-orang yang rela membunuh supaya dapat lolos dari seleksi,” gumamku, pelan, berjalan pergi dari kerumunan orang yang dilingkupi aura kesedihan ini. “Kurasa aku akan menemui Huo Lin saja sekarang.”


***


Yue Jian dan Zhang kini sudah berhasil melewati Gapura Ketujuh. Di sini Yue Jian tentu sudah dinyatakan lolos seleksi, sedangkan Zhang masih harus menaklukan Gapura Kedelapan, sesuai dengan syarat yang telah dia sepakati.



“Kalau begitu, aku pergi duluan, Yue Jian,” kata Zhang, mendaki tangga untuk mencapai Gapura Kedelapan.



“Ya.” Yue Jian menanggapi dengan singat. Dia sebenarnya sudah tak ingin lagi untuk mendaki, tetapi dia ingat bahwa gurunya mengatakan jika dia harus meraih prestasi sebanyak mungkin. “Lolos dari sepuluh gapura tanpa gagal juga merupakan sebuah prestasi, kan?” gumam Yue Jian.



Sementara itu, Zhang masih terus mendaki ke atas. Dia tidak peduli dengan beberapa pendekar yang membicarakan dirinya di bawah sana.




Zhang lagi-lagi dikirim masuk ke atas arena pertarungan. Kali ini dia bertanya-tanya siapa yang akan dia hadapi usai menghadapi salah satu murid biasa dari Perguruan Tanah Merah.



Kala Zhang mencoba menebak hal tersebut, mendadak seorang pemuda dengan rambut pandang dan dua pedang di tangannya, muncul di hadapan Zhang. Pemuda itu berkata, “Yo. Selamat sudah sampai di Gapura Kedelapan.”



“Apakah kau yang harus aku lawan?” tanya Zhang, seolah tak ingin membuang-buang waktunya.



“Ya. Kau benar. Aku adalah Liu Fe, pendekar peringkat 269 di Perguruan Tanah Merah.”



“Kalau begitu, ayo kita mulai!”



“Tahan dulu.” Liu Fe tampak sangat tenang, tidak terburu-buru. “Aku ingin mengingatkan bahwa kau harus tahu, jika kau berani menginjakkan kaki di Gapura Kedelapan, itu artinya kau sudah siap dengan konsekuensinya.”



“Tidak peduli!” jawab Zhang. “Aku tetap harus menaklukan Gapura Kedelapan ini!”

__ADS_1



“Oh ….” Sepertinya Liu Fe langsung paham alasan mengapa Zhang ada di sini. “Baiklah, ayo kita mulai seperti yang kau inginkan!”



“Jangan salahkan aku bila kau kalah!” Zhang menghentakkan kaki kanannya, membuat sebuah dinding tanah tepat di depan Liu Fe.



“Hanya ini?” Liu Fe tanpa kesulitan sedikit pun, menghancurkan dinding tanah Zhang menggunakan pedangnya. “Kau masih berada jauh dibandingkan aku!”



Liu Fe segera melesat ke depan, berpikir bahwa menyerang Zhang dari jarak dekat adalah pilihan tepat. Malangnya, pilihannya salah, karena Zhang jauh lebih ahli dalam pertarungan jarak dekat.



“Kau yang memintanya!” Zhang melapisi tangannya dengan kekuatan elemen tanah, menangkis semua tebasan pedang Liu Fe.



Liu Fe segera menjaga jarak. “Kau hebat juga!”



“Banyak omong!” Zhang melesat cepat ke depan, meningkatkan kecepatan menggunakan kekuatan elemen petir di kakinya. “Terima ini!”



Meski dalam situasi terdesak, Liu Fe masih tenang, lalu mengeluarkan jurus, “Tebasan pembelah bulan!” Pemuda itu segera mengayunkan pedangnya secara vertikal ke arah Zhang.



“Pukulan biji kuda!” Zhang meluncurkan pukulan ke atas, menangkis serangan Liu Fe. “Pukulan biji kuda beruntun!” Zhang pun segera menyerang Liu Fe dengan pukulan bertubi-tubi.



“Argh!” Liu Fe tidak dapat menghindari serangan Zhang. Pemuda itu terdorong sampai hampir jatuh dari arena. Akan tetapi, dia lantas mengeluarkan jurus lain, “Gelombang penghancur!”



Serangan Liu Fe berhasil membuat Zhang terdorong ke belakang. Namun, pemuda itu kini harus menahan rasa sakit akibat menahan serangan Zhang.



“Kalian hanya dapat membuat nama bagus untuk jurus kalian, tetapi sangat lemah!” kata Zhang. Dia sedari tadi hanya asal menyebutkan nama, seolah-olah itu adalah jurusnya. Padahal dia bisa melakukan serangan tersebut tanpa perlu meneriakkan nama jurus atau apa pun itu.



“Kau tidak buruk ….” Liu Fe mengusap darah yang mengalir dari mulutnya. Dia kemudian mengarahkan pedang di tangan kanannya ke depan. “Tapi kau akan kukalahkan sekarang juga!”



“Aku menantikannya!” Zhang melompat ke depan, hendak meluncurkan satu serangan lagi. “Pukulan menahan berak!”



“Jangan meremehkanku!” Liu Fe mengalirkan Chi ke ujung pedangnya. “Tembakan penembus gunung!” Sebuah serangan berwarna kuning berbentuk pedang, melesat cepat ke depan, tepat ke arah Zhang.


__ADS_1


Sayangnya, serangan tersebut masih belum dapat untuk mengalahkan pukulan Zhang. Zhang berhasil menghancurkan serangan itu dan terus melesat ke depan.


__ADS_2