Reinkarnasi Pendekar Manusia

Reinkarnasi Pendekar Manusia
22


__ADS_3

Angin berembus pelan, mengantarkan udara segar pada pagi hari yang cerah ini. Di sebuah lapangan dalam hutan, aku memasang pelindung tak terlihat yang dapat menyamarkan tempat ini dari orang lain. Aku melakukannya karena hari ini adalah hari spesial, di mana tiga muridku akan bertarung.


Sebelumnya aku sudah menyuruh mereka untuk pemanasan atau apa pun itu. Mereka bisa menyusun strategi atau melakukan hal lain jika menganggap latihan ini tidak serius. Kendati aku menyebut ini latihan, aku sebenarnya hanya ingin mengetahui sejauh mana kekuatan Huo Lin setelah berubah menjadi seekor naga emas. Apa dia bisa menjadi sekuat Luo Ching?


Tentu aku sangat meragukan dia dapat menjadi seperti naga emasku dulu. Namun, tidak ada salahnya juga menguji kemampuannya. Siapa tahu dia lebih hebat dari Yue Jian dan Bocah ingusan.


“Kalian semua sudah siap?” tanyaku pada mereka bertiga.


“Ya!” jawab Yue Jian, diikuti oleh Bocah ingusan dan Huo Lin yang menganggukkan kepala.


Sejenak aku melirik mereka bertiga satu per satu. “Yue Jian, Bocah ingusan, 2 hari lagi kalian akan memasukki seleksi tahap kedua di Perguruan Tanah Merah.” Aku menjeda kalimatku selama beberapa saat. “Aku tahu kualifikasi mereka jauh lebih rendah daripada kalian, tetapi kalian harus menjadi pendekar yang jauh lebih kuat daripada siapa pun di sana!”


“Baik!” Bocah ingusan dan Yue Jian menjawab serentak.


Aku kemudian memalingkan pandangan ke arah Huo Lin. “Huo Lin, kau baru menapakki jalan pendekar selama 3 hari. Meski begitu, kau harus menunjukkan seluruh kemampuanmu pada mereka. Jangan khawatir, karena tidak ada yang dapat melihat menembus pelindungku!”


“Baik, Guru Luo!” Huo Lin tampak antusias, tetapi dia juga tak kehilangan fokus. Tatapan matanya itu dapat membuatku tahu betapa dia menganggap latihan ini serius.


“Kalau begitu, ambil posisi kalian masing-masing, karena kalian bertiga akan bertarung satu sama lain saat ini juga!”


Ketiga muridku itu pun lantas mengambil posisi, sudah siap bertarung. Semangat mereka patut untuk mendapatkan apresiasi.


“Mulai!”

__ADS_1


Segera setelah aku mengatakan mulai, Bocah ingusan menghentakkan kakinya, mengurung Yue Jian dalam tanah yang membentuk kotak. Bukan hanya Yue Jian, Huo Lin juga langsung dikurung oleh pemuda itu.


Akan tetapi, sebuah anak panah dari Yue Jian segera melesat, menghancurkan tembok tanah Bocah ingusan. Tidak cukup hanya sampai di sana saja, Yue Jian lantas mengarahkan tembakan anak panah beruntun pada Bocah ingusan, membuat pemuda itu harus menciptakan berlapis-lapis tembok tanah untuk menahan serangan.


Di sisi lain, Huo Lin sudah berubah menjadi naga emas. Dia dengan sangat mudah menghancurkan kotak tanah yang mengurungnya. Lalu, tanpa menunda waktu sedikit pun, gadis tersebut menyemburkan kobaran api yang begitu besar dari mulutnya.


“Huo Lin sekuat ini hanya dalam tiga hari?!” Bocah ingusan segera membentuk dinding tanah yang berbentuk setengah lingkaran. Pemuda itu sepertinya terkejut melihat kekuatan adik seperguruannya.


“Guru memang sangat mengerikan …,” gumam Yue Jian. Meskipun aku tidak dapat mendengarnya dengan jelas, tetapi aku dapat paham melihat gerakan mulutnya.


“Mari kita lihat, berapa lama pertarungan mereka berlangsung.” Aku pun memutuskan untuk terbang, melihat mereka dari atas. “Kurasa tempat ini cukup untuk aku bisa mengamati setiap gerakan mereka.”


...***...


Yue Jian berhasil menahan semburan api Huo Lin dengan memanfaatkan tembok tanah. Namun, pemuda itu tidak terlalu menguasai elemen tanah, sehingga pertahanannya jauh lebih lemah dibandingkan Zhang.


Hanya dalam sekejap mata, begitu banyak anak panah langsung turun bagaikan hujan, menyerang Huo Lin yang menyemburkan api. Serangan tersebut tentunya membuat Huo Lin terpaksa mengarahkan semburan apinya ke atas.


Melihat ada sedikit celah, Yue Jian tanpa ragu membidik ke arah Huo Lin. Dia tahu kalau Luo Xiao pasti akan datang membantu di saat yang tepat, sehingga dia tak perlu menahan diri. Akan tetapi, niat tersebut seketika gagal karena Zhang melesat cepat ke arah pemuda tersebut.


“Aku tidak akan membiarkanmu mem-bully adik seperguruan, Yue Jian!” Zhang tanpa ragu melepaskan pukulan beruntun dengan kedua tangannya yang berlapiskan elemen tanah.


Meski Zhang menyerang tiba-tiba, Yue Jian dapat menahan serangan pemuda itu dengan dinding angin. Tak cukup sampai di sana, Yue Jian lantas memberikan serangan balasan dengan menembakkan peluru-peluru angin dari mulutnya.

__ADS_1


“Argh!” Zhang langsung terdorong mundur akibat serangan beruntun dari Yue Jian.


“Kalau begitu, aku akan mengalahkanmu terlebih dahulu, Zhang!” Yue Jian membuat kuda-kuda kokoh, membidik Zhang dengan panahnya. “Jangan diambil hati!”


Sebelum Yue Jian sempat melepaskan tembakan, dia terpaksa harus melompat ke belakang untuk menghindari serangan bola api dari Huo Lin. Kini dia sadar bahwa dia tak bisa hanya fokus pada satu orang terlebih dahulu, melainkan harus mencari cara untuk melawan kedua lawannya di waktu bersamaan.


Sayangnya, takdir menolak rencana Yue Jian berjalan lancar. Kini Huo Lin melesat dengan kecepatan tinggi, hendak melibas Yue Jian dengan tebasan ekornya. Demi menghadapi serangan cepat itu, Yue Jian langsung membelokkan bidikan panahnya, lalu melepaskan tembakan.


BOOM!


Suara ledakan menggema kala anak panah Yue Jian berbenturan dengan ekor naga emas. Namun, satu hal yang pasti, serangan Yue Jian berhasil memukul mundur Huo Lin.


“Argh!!!” Huo Lin menjerit.


“Yue Jian!” Dari sisi lain, Zhang mempercepat gerakan kakinya dengan elemen petir. Dia sekali lagi bermaksud menyerang Yue Jian menggunakan pukulan beruntun dari dua tangannya yang berlapiskan elemen tanah.


Yue Jian tidak tampak panik sedikit pun melihat serangan mendadak itu. Hanya dengan memanipulasi Chi-nya dengan udara di sekitar, pemuda itu dapat dengan segera menciptakan puluhan anak panah yang melesat langsung ke arah Zhang. Tentunya Zhang terpaksa harus menghindari semua anak panah itu.


“Haah ….” Yue Jian membuang napas, terlihat begitu tenang. Dia pun segera menarik keluar sebatang anak panahnya, lalu mengarahkan tembakan panahnya ke atas.


Pemuda itu mengalirkan Chi ke ujung anak panahnya, menandakan dia hendak melakukan sesuatu yang tidak biasa. Tanpa menunggu lama, dia pun melepaskan anak panahnya.


Anak panah tadi melesat dengan cepat, lalu meledak. Hasil dari ledakannya menciptakan hujan anak panah yang menutupi seluruh lapangan.

__ADS_1


“Kekuatan ini?!” Zhang mundur sejauh mungkin, lalu menyatukan kedua telapak tangannya. “Ha!!!” Dia menciptakan sebuah tempurung tanah raksasa yang sanggup melindunginya dari hujan anak panah yang diciptakan Yue Jian.


Di sisi lain, Huo Lin menyemburkan api berbentuk payung dari mulutnya, ke atas. Payung api tersebut bisa menahan hujan anak panah, meskipun ada beberapa anak panah yang berhasil lolos dan menghantam tubuhnya. Akan tetapi, berkat sisik emasnya, dia dapat menahan serangan anak panah itu.


__ADS_2