
Gawat … ini situasi yang sangat gawat. Aku tak menyangka, aku yang adalah Raja Daratan ini, bisa sampai seceroboh ini.
“Guru!”
Benar, itu adalah panggilan dari Yue Jian. Dia dan Bocah ingusan secara kebetulan menemukan aku dan Huo Lin sedang makan di rumah makan yang cukup sepi ini, malam setelah seleksi pertama masuk Perguruan Tanah Merah, selesai.
“Ternyata memang benar si Raja kecil!” Bocah ingusan dan Yue Jian segera duduk masing-masing di sebelah kanan dan kiriku. Jelas situasi ini membuat Huo Lin sedikit terkejut.
“Hee … jadi ini alasan mengapa kau menonton seleksi itu sampai akhir, Luo Xiao.” Huo Lin tersenyum. Aku dapat tahu kalau dia memiliki niat tersembunyi dari senyumnya itu.
“Raja kecil, siapa gadis ini?” tanya Bocah ingusan. “Jangan-jangan ….”
“Kau salah!” Aku segera mengklarifikasi. “Dia hanyalah anak yatim piatu yang aku pungut!”
“Hm …?” Tampaknya Bocah ingusan yang duduk di sebelah kananku ini masih belum puas menggodaku. “Aku rasa kau menyembunyikan sesuatu ….”
“Luo Xiao! Kau tega sekali tidak mengakui kalau aku ini pacarmu! Ha ….”
Sialan kau, Huo Lin! Kau pasti sengaja melakukan ini, kan? Tidak tahu terima kasih!
“Guru …,” kata Yue Jian. “Tidak kusangka kau begitu kejam ….”
“Sudah kubilang. Bukan begitu! Aaa!!!”
Huo Lin sialan! Aku dapat melihatmu tertawa dibalik air mata palsumu itu!
“Maafkan Raja kecil ini, ya, gadis baik ….”
“Guru kami ini tidak terlalu jahat kok ….”
“Mm ….”
Mm ndasmu! Apaan anggukan yang seolah sedang tersakiti itu?! Aku yang tersakiti di sini, kau tahu?! Aku sudah tak tahan lagi. Haaaa.
Aku pun berdiri, menarik telinga kedua muridku itu, menyeret mereka keluar. “Kalian berdua, ikuti aku ….”
“Raja kecil, aku hanya bercanda!”
“Guru! Maafkan kami.”
__ADS_1
“AAAA, RAJA KECIL.”
“KAMI TIDAK AKAN MENGULANGINYA LAGI.”
Beberapa saat kemudian, aku mengembuskan napas panjang. Rasanya begitu lega setelah semuanya selesai. Inilah kenikmatan setelah menyelesaikan masalah! Sungguh tak ada duanya.
“Kau kejam sekali, Raja kecil ….”
“Guru …, kami hanya bercanda ….”
“Buatlah itu sebagai bahan renungan!” Aku masuk ke dalam rumah makan lagi dengan hati gembira dan lega.
“Kau apakan mereka?” Huo Lin bertanya dengan kaku.
“Tidak ada. Ayo lanjut makan.” Aku lantas kembali menyantap makanan dengan lahap setelah penundaan beberapa tadi. Ah … makan setelah menyelesaikan masalah memang menyenangkan.
***
“Hei, Raja kecil ….” Bocah ingusan masih terus merengek ketika kami sudah keluar dari rumah makan. “Ke mana kau pergi selama ini? Kukira kau sungguh telah meninggalkan kami ….”
“Kalian berdua sangat manja! Kalian tidak akan bisa berkembang jika terus mengandalkanku!” Jawabanku masih tetap sama mulai dari saat Bocah ingusan mulai merengek bahwa mereka kutinggalkan.
“Aku ada urusan lain.” Sejenak aku menunda jawaban. “Selain itu, aku tidak begitu tertarik untuk masuk ke sana. Tapi, karena kalian sudah memutuskan untuk masuk, buatlah pencapaian yang tinggi!”
“Baik!”
Yue Jian dan Bocah ingusan sepertinya mulai jadi sangat bersemangat lagi untuk masuk ke Perguruan Tanah Merah. Semoga saja mereka tidak lupa dengan tujuan mereka. Meskipun aku juga memiliki suatu tujuan untuk membuat mereka menjadi semakin kuat. Perguruan Tanah Merah bahkan tidak pantas disebut sebagai sebuah batu loncatan. Namun, masih lebih baik daripada tidak sama sekali.
Setelah berjalan selama beberapa saat, akhirnya kami tiba di sebuah persimpangan. Di sini aku menghentikan langkah, kemudian berkata pada Yue Jian dan Bocah ingusan, “Seperti yang sudah kukatakan. Kalian harus berguru pada pengalaman.”
“Hm?” Bocah ingusan seperti biasa tidak dapat langsung menangkap dengan apa yang aku maksudkan.
“Aku tidak akan pergi tanpa mengatakan apa pun kali ini,” kataku. “Mulai hari ini, kalian harus mencari pengalaman sebanyak mungkin. Tentu tanpa perlu aku bersama kalian. Semangatlah!”
“Baik, Guru!” Yue Jian memang cerdas. Dia segera menangkap maksudku dan membawa Bocah ingusan pergi. “Sampai jumpa lagi, Guru!”
“Ya!”
__ADS_1
Kini, hanya ada aku dan Huo Lin yang ada di persimpangan. Dari raut wajahnya, aku tahu bahwa gadis itu ingin mengatakan sesuatu padaku.
“Jadi, apakah kau mau mengatakan sesuatu hal padaku, Huo Lin?” Aku tidak ingin banyak basa-basi, jadi langsung pada intinya saja. “Aku tak ingin membuat ini panjang, jadi persingkat saja.”
“Itu ….” Huo Lin mulai berbicara. “Yue Jian itu memanggilmu guru, dan aku asumsikan bahwa mereka berdua adalah muridmu! Aku mohon, latih aku juga menjadi seorang pendekar hebat seperti mereka!”
“Tidak mau!”
Aku lantas berjalan menuju jalan yang berbeda dari Yue Jian dan Bocah ingusan. Namun, Huo Lin menarik tangan kananku, memohon, “Aku mohon, Luo Xiao. Aku ingin menjadi kuat!”
“Huo Lin, aku tak ingin membuat ini menjadi semakin panjang,” jawabku sembari melepaskan genggaman tangan Huo Lin. “Aku sudah tak berniat untuk mengangkat murid baru. Mereka berdua adalah yang pertama dan terakhir. Salahkan takdirmu sehingga kita tidak bertemu lebih awal.”
Mungkin aku tampak bersikap kejam dan terkesan arogan di sini, tetapi aku memang sudah tak ingin lagi menjadikan seseorang sebagai muridku. Bukan karena dia tidak berbakat, tetapi karena memang aku tak mau melakukannya.
Sehabis percakapan itu, aku dan Huo Lin berjalan menuju penginapan tanpa membicarakan apa pun. Rasanya memang sedikit canggung, tetapi mau bagaimana lagi. Bahkan, setelah masuk ke dalam kamar penginapan pun, Huo Lin dan aku tidak membicarakan apa pun dan langsung tidur. Atau bisa kukatakan, Huo Lin yang tidur, sedangkan aku keluar dari penginapan.
“Aku tahu kalian di sana, Yue Jian, Bocah ingusan,” kataku sembari memasukkan kedua tangan dalam saku celana.
Seperti yang sudah kuinstruksikan, Yue Jian dan Bocah ingusan keluar dari persembunyian dan mendekat ke arahku. Bocah ingusan memang tidak dapat langsung memahami situasi, tetapi beruntung ada Yue Jian yang cerdas di sini.
“Bagaimana, Guru, tentang penampilan kami hari ini?” tanya Yue Jian yang sudah mengerti mengapa aku mengumpulkan mereka ke sini.
“Tadi itu bukan sebuah pertarungan. Aku tidak dapat memberikan komentar yang banyak. Tapi ….” Aku berbalik, menatap Bocah ingusan dan Yue Jian. “Kalian berdua membuat pertarungan yang tidak seharusnya heboh, menjadi sangat heboh. Itu bukan sebuah kebiasaan yang baik.”
“Akan kami perbaiki, Guru!”
“Lalu, Bocah ingusan.” Kali ini aku khusus menatap Bocah ingusan. “Kau harus mendapatkan hukuman karena tidak dapat memenuhi ekspektasiku!”
“Huh?! Sejak kapan peraturan itu ada, Raja kecil?!”
“Itu sebelum kau bertanding, jadi peraturannya sah!”
“Tapi aku tidak mendengar aturan apa pun ….”
“Aturannya adalah kau harus mengalahkan lawanmu kurang dari 2 menit, tetapi kau melakukannya lebih dari itu!”
“Curang! Aku bahkan tak tahu kapan kau menghitungnya!”
__ADS_1
“Dalam aturan, semua orang dianggap tahu dan paham!”