
“Mungkin ini jauh lebih baik,” gumamku sembari melepaskan kulit lima ekor Singa Batu yang sangat keras ini. Percayalah padaku bahwa perlu begitu banyak kekuatan energi sampai akhirnya aku bisa menguliti salah satu dari mereka.
Kemudian, tanpa membuang banyak waktu, aku segera menyalakan api pada tumpukan kayu di sampingku, lalu melemparkan kulit Singa Batu tadi ke sana. Sekarang waktunya menunggu kulit itu kering.
Sembari menunggu kulit Singa Batu kering, aku lantas memotong daging hewan itu untuk dibakar. Tentu aku membakar daging tersebut di perapian berbeda dari perapian untuk mengeringkan kulit.
“Aku penasaran apakah rasanya akan jauh lebih enak atau malah lebih buruk …,” gumamku sembari membakar beberapa potong daging. “Saatnya membersihkan diri.”
Aku lantas memalingkan pandangan ke sungai yang berada di depan sana. Tanpa menunggu lama, aku segera masuk ke sana. Rasanya sangat menyegarkan, memang mandi setelah melakukan aktivitas melelahkan bisa membuang stress yang terkumpul dalam kepala. Ah … aku tidak ingin keluar dari ketenangan ini.
Setelah merasa cukup, aku pun keluar dari sungai dan langsung memeriksa kulit Singa Batu yang tadi aku bakar. Sesuai dengan dugaan, kulit hewan itu tidak gosong, melainkan hanya kering. Aku lantas menarik keluar kulit hewan tersebut, lalu mendiamkannya selama beberapa saat.
Selagi menunggu, aku memeriksa daging yang tadi kubakar, dan ternyata hasilnya sama saja. Daging itu masih belum matang jadi aku membiarkannya di sana.
“Kurasa aku harus menunggu lagi. Tapi sebelum itu,” aku mengalihkan pandangan ke arah empat mayat Singa Batu lainnya, “mayat hewan ini harus aku kubur terlebih dahulu. Lagipula, tidak mungkin bagiku untuk memakan mereka semua.”
...*** ...
Pada malam yang diterangi oleh cahaya rembulan, aku berjalan menjelajahi hutan dengan tenang. Kali ini aku mengenakan pakaian dari kulit Singa Batu, tidak lagi telanjang seperti sebelumnya. Meskipun jika aku telanjang tidak ada yang peduli di hutan yang tak berpenghuni ini.
“Apakah serangan dari lima Singa Batu tadi hanya sebuah geratakan?” Aku masih berjalan dengan tenang menyusuri jalan setapak. “Ini aneh. Awalnya kukira akan ada begitu banyak hewan kuat di sini.”
Aku mengembuskan napas panjang, berhenti sebentar di bawah sebatang pohon rindang. Dari sini aku menerawang sekitar, tetapi yang kulihat hanyalah pohon dan pohon lagi serta bebatuan besar dan semak belukar. Entah mengapa aku menjadi seorang penunggu hutan sekarang.
__ADS_1
Tanpa ada harapan yang jelas apakah bisa keluar dari hutan ini, aku kembali mengambil langkah ke depan. “Well, aku juga tak bisa melakukan apa pun lagi selain terus mencari jalan keluar—kalau memang ada. Aku sungguh tak bisa berharap banyak. Haah … terlebih kemampuanku untuk terbang tidak bisa digunakan di sini.”
Berjalan terus tanpa tahu harus ke mana, akhirnya aku menemukan sebuah gua yang tertutup oleh lumut. Aku mencoba masuk ke dalam gua tersebut, ternyata di dalamnya tidak seperti yang kubayangkan. Sebelumnya aku sudah bersiap untuk menutup hidung, tetapi ternyata di dalam sini tidak bau.
Aku membuat sebuah bola api di telapak tangan kanan, mengangkatnya ke depan. Dari yang bisa aku lihat, tidak ada seekor pun kelelawar di dalam gua ini. Atau mungkin karena sudah malam?
Perlahan aku melirik ke bawah, memastikan apakah ada jejak hewan atau tidak. Benar-benar di luar dugaan, di sini tidak terdapat jejak hewan atau pun kotoran hewan. Gua ini sangat aneh, sangat tidak bisa untuk diprediksi. Apakah ada sesuatu di dalam sini?
Aku mencoba masuk lebih jauh, tetapi yang kutemui hanyalah sebuah jalan buntu. Lagipula apa yang aku harapkan dari sebuah dua di dalam hutan yang sangat asing?
“Haah ….” Sambil mengembuskan napas panjang, aku duduk bersandar di dinding gua, tetapi, “eh?!”
Dinding gua itu terbuka bagai pintu menuju ke sebuah ruang bawah tanah.
Rasanya cukup sakit ketika pinggangku bersentuhan dengan tanah alias jatuh. Perlahan aku membuka mata, melihat bahwa sekarang aku terperangkap di sebuah ruang bawah tanah aneh tanpa bisa melihat pintu, lubang, atau apa pun yang membuatku bisa tiba di tempat ini.
“Hal aneh apalagi yang harus aku alami sekarang?” Aku bangkit berdiri, melirik ke sekitar. “Sebuah ruangan dengan begitu banyak obor penerang di dinding. Apakah ada seseorang yang tinggal di sini?”
Aku pun mengamati lebih jauh lalu menemukan beberapa patung naga sedang berjejer. Mereka sepertinya tunduk akan sesuatu? Mungkinkah ada seseorang di sana?
Perlahan, aku berjalan di antara deretan naga hingga akhirnya menemukan sebuah keanehan lain. “Begitu banyak patung naga di sini ternyata sedang bersujud pada patung seorang bayi yang terbaring di atas takhta? *Privillage* memang beda.”
__ADS_1
Aku kemudian berjalan mendekati takhta, berdiri tepat di depan patung bayi tadi. Kukira akan terjadi sesuatu seperti para naga itu mendadak hidup kembali dan menyerang atau semacamnya, tetapi rupanya aku hanya terlalu banyak berpikir.
“Tapi, jika dilihat lagi, patung ini sangat detil.” Aku mengamati dengan saksama patung bayi yang sedang terbaring itu. “Aku penasaran apakah di balik kain yang membungkusnya ini juga diukir dengan detil? Hahaha. Tidak mungkin sih, karena kan kainnya ini juga merupakan sebuah ukiran dari batu.”
Puas mengamati patung bayi, aku menengadah, menemukan di atas sana terdapat obor lain yang entah mengapa ada dan sedang melayang. Apakah aku sedang berada dalam ilusi seseorang, atau berada di sebuah ruangan misterius yang tidak kuketahui?
“Dua-duanya terasa sangat aneh, aku harap ini semua hanya mimpi karena saking lelahnya aku hari ini.” Mari kita tetap berpikiran positif di situasi apa pun.
Sebelum aku bisa berharap kalimat tadi menjadi nyata, sebuah suara yang datang entah dari mana, mendadak menggema di ruangan ini. Suara itu berkata, “Manusia dan hewan tidak pernah setara, tetapi terkadang dapat saling membantu satu sama lain. Namun, tindakan penyiksaan hewan tidak bisa untuk ditoleransi walau hanya sebentar. Dan, mereka yang sewenang-wenang memperlakukan hewan tanpa rasa bersalah, lebih rendah daripada hewan!”
Apakah ada seseorang yang memulai orasi entah dari mana? Aku penasaran siapa yang berani bermain petak umpet dengan seorang Raja Daratan. Meskipun sekarang kekuatanku sangat dibatasi.
“Manusia, apakah kau setuju dengan pernyataan tadi?” tanya sang suara.
Aku diam sejenak, lalu bertanya, “Apakah yang dimaksud adalah aku?” Aku memiringkan kepala. “Baiklah, jika itu aku, aku setuju bahwa manusia dan hewan tidak akan pernah setara, tetapi bukan berarti tidak bisa berteman sama sekali. Tergantung pada konteks yang ada.”
“Jawaban yang bagus, wahai manusia.”
Dia baru saja memujiku? Apakah itu artinya dia memang sedang berbicara padaku? Ah sudahlah, jawab saja. “Terima kasih.”
“Menilai dari jawabanmu, kau pantas untuk mengikuti kualifikasi As Human Beings.”
Apa itu? Sepertinya sebuah test aneh lainnya.
__ADS_1