Reinkarnasi Pendekar Manusia

Reinkarnasi Pendekar Manusia
6


__ADS_3

Strategi yang sangat bagus, kemampuan mengamati dan pengambilan keputusan yang cepat. Kurasa aku tidak dapat mengharapkan apa pun lagi. Yue Jian berkembang jauh lebih dari yang kuperkirakan. Dia mungkin adalah orang jenius.



Aku tersenyum tipis, merasa bangga dapat menjadi guru pemuda itu. Akan tetapi, dia masih tidak tahu sejauh apa kekuatanku.



Semua serangan mendadak yang diciptakan Yue Jian untuk menjebakku, seketika beku dan jatuh ke tanah. Dia tidak menduga aku dapat memanipulasi Chi suatu makhluk atau pun benda, tanpa perlu kusentuh. Meskipun tidak sepenuhnya tak kusentuh, karena aku memanfaatkan udara di sekitar.



“Saatnya serangan balik yang sangat brutal, Yue Jian, Bocah ingusan!” Semua anak panah yang tadi kubekukan, kini melayang di sekitarku.



“Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya dengan mudah, Raja kecil!” Bocah ingusan segera mengurungku dengan empat tembok tanah yang membentuk kotak. Tak hanya sampai di sana, dia juga sempat membuat dinding penutup di bagian atas, membuatku terkurung dalam kubus tanah.



“Hee ….” Sekarang aku tidak akan asal bergerak lagi. Sudah cukup muridku menunjukkan kemampuannya. Sekarang giliranku.



Bergerak cepat ke depan, aku segera menerobos dinding dan menyerang balik Bocah ingusan menggunakan anak panah yang sudah kubekukan. Sesuai dengan perkiraanku, tidak ada serangan mendadak yang menyergap, melainkan Bocah ingusan yang kewalahan menahan seranganku dengan dinding tanah.



“Sepertinya, kau salah langkah, Yue Jian!” Aku lantas menciptakan sebuah monster dari tanah yang tingginya tiga kali lebih tinggi dari pepohonan di sekitar. Namun, serangan tombak es dengan skala besar, mendadak berubah arah dan menyerangku. “Serangan ini pasti kau ciptakan untuk menyergapku dari atas! Hahaha!”



Monster tanah yang kuciptakan pun kuberikan pedang dari tanah, dan segera menebas serangan tombak es dengan skala besar tadi. Tebasan monster tanah ini menghasilkan gelombang angin yang sanggup menghancurkan semua tombak es, bahkan merubuhkan beberapa pohon dalam satu tebasan.



“Raja kecil! Aku juga bisa melakukannya!” Bocah ingusan tak mau kalah, langsung mengeluarkan monster tanah dengan tinggi yang sama. Dia juga mensenjatai monster itu menggunakan pedang. “Serang!”



Monster tanah pemuda itu mengaum, segera melesat ke depan, menebaskan pedangnya ke arah monster tanahku. Namun, monster tanahku dengan mudah dapat menahan tebasan pedang monster tanah yang menyerangnya. Lalu, adu pedang pun tidak dapat terelakkan lagi.



Tak lama kemudian, aku merasakan ada serangan mendadak dari belakangku. Itu adalah … Bocah ingusan yang melapisi tangannya dengan kobaran api, melompat ke arahku. Sejak kapan?



Aku melirik ke atas monster tanah di depanku. Di sana ternyata berdiri patung tanah berbentuk Bocah ingusan dan di sebelahnya terdapat Yue Jian. Mereka berdua ternyata serius untuk mengalahkan aku.



“Ini adalah pelajaran terakhir kalian ….”

__ADS_1



Bocah ingusan berhasil mendaratkan pukulannya. Akan tetapi, dengan kecepatan tinggi aku berpindah tempat dan melayang di udara. Tentu Bocah ingusan segera berbalik dan menyerangku dengan tembakan bola api dari mulutnya. Berbeda dengan Yue Jian yang dengan tenang memerhatikan sekitar.



Aku mengangkat tangan, semua bola api Bocah ingusan kuhancurkan dengan bola air raksasa, hingga kedua serangan itu berubah menjadi uap yang sejenak membutakan mata. Kemudian, secara tak terduga, seekor naga air muncul, menyerangku dari depan dengan sangat berani. Naga ini tidak terbentuk dari air biasa, melainkan air yang bergerak dengan sangat cepat, yang membuatnya sangat mungkin untuk memotong dinding tanah.



Masih menjulurkan tangan kananku ke depan, aku bergumam pelan, “Kalian sudah menjadi pendekar yang hebat. Terlebih di zaman sekarang, wahai Pendekar Manusia yang baru, Yue Jian, Zhang!”



Hanya dalam hitungan detik, naga air, monster tanah beserta pedangnya, bahkan kaki Yue Jian dan Bocah ingusan, membeku. Mereka semua tak dapat bergerak. Tak lagi bisa menyerangku.



Tidak lama kemudian, dari atas sini aku melihat Yue Jian sudah mengangkat tangan, tetapi Bocah ingusan masih tidak rela dirinya dapat aku kalahkan. Padahal, sangat wajar bagi mereka untuk kalah di hadapan kekuatan yang begitu besar. Apalagi sekarang aku memiliki Chi Emas! Bukan Chi biasa.


***


“Curang!!!”



Bocah ingusan terus saja merengek ketika kukalahkan dengan kekuatan mutlak. Dia sangat tidak terima bahwa kekalahannya adalah hal wajar. Justru dia seharusnya bangga dapat bertarung dengan Luo Xiao sang Raja Daratan!




“Yue Jian benar, Bocah ingusan!” Aku menambahi. “Sampai kapan pun kalian tidak akan dapat mengalahkan Raja Daratan ini! Hahaha!”



“Suatu hari nanti aku akan mengalahkanmu, Luo Xiao!” Bocah ingusan yang masih tidak terima, menunjukku dan menyatakan tantangan terbuka.



“Kapan pun kau berani datang, aku akan membuatmu babak belur! Hahaha!” Aku sebagai guru yang baik, tentu menerima tantangan tersebut.



“Haa ….” Yue Jian mengembuskan napas panjang, lalu mengubah topik pembicaraan. “Maaf, Guru. Tapi, pada akhirnya aku tetap tidak mengerti apa yang kau maksud dengan pelajaran terakhir ….”



“Hm? Kau sungguh tak mengerti?” Sejenak aku memalingkan pandanganku kepada Bocah ingusan. “Bocah ingusan, apa kau juga tak mengerti?”



“Aku mengerti ….” Tidak kusangka Bocah ingusan mengatakan itu. “Aku mengerti bahwa kau adalah orang paling curang!!!”

__ADS_1



Aku menyesal telah berharap!



Akhirnya aku mengembuskan napas panjang, sedikit kecewa, tetapi kemudian berkata, “Pelajaran terakhir kalian ini padahal pelajaran paling berharga ….”



“Maafkan kami, Guru,” jawab Yue Jian, terdengar sedikit menyesal.



Tidak terlalu memedulikan rasa bersalah Yue Jian, aku segera semangat kembali. “Baiklah, aku akan memberitahu kalian pelajaran terakhir dan paling berharga hari ini adalah ….”



Yue Jian tampak antusias, aku suka, berbeda dengan Bocah ingusan yang masih tak menerima kekalahan dan malah mengabaikanku. Tapi sudahlah.



“Pelajaran berharga itu adalah bahwa kalian tidak akan bisa mengalahkan aku, Luo Xiao sang Raja Daratan!” Pelajaran ini sangatlah penting dan harus mereka pahami, resapi dan ingat. “Kalian harus—”



“Instruksi.” Yue Jian mengangkat tangan. “Guru, kau pasti sedang bercanda, kan?”



“Apakah aku terlihat bercanda?”



“Baiklah, aku akan kembali ….”



“Tunggu!”



“Hahahaha!” Di sisi lain, Bocah ingusan malah tertawa dengan kencang. “Yue Jian, akhirnya kau sadar kalau gurumu masih anak kecil. Hahahaha!”



“Apa yang lucu, huh?!” Tampaknya Bocah ingusan harus diberi pelajaran lagi. “Aku akan membuatmu meresapi makna dari pelajaran terakhirku, Bocah ingusan!”



“Kali ini aku yang akan menghajarmu, Raja kecil!”


__ADS_1


Dan … ya, kupikir kalian semua sudah tahu apa yang terjadi selanjutnya. Aku dan Bocah ingusan bertengkar tak jelas, sedangkan Yue Jian kembali ke rumah, tidak memiliki keinginan untuk ikut atau pun melerai pertengkaran aku dan Bocah ingusan. Namun, karena ada mereka berdua—muridku, di kehidupanku sekarang, aku menjadi menikmati hidup ini lagi. Kurasa, dua kali mendapatkan kehidupan yang memuaskan bukan hal buruk.


__ADS_2