Reinkarnasi Pendekar Manusia

Reinkarnasi Pendekar Manusia
32


__ADS_3

“Apa?! Aku satu tim dengan gadis ini?!” Aku reflex berteriak kala mengetahui bahwa aku berada di tim yang sama dengan Shi Li.



“Aku juga tak sudi berada satu tim dengan pecundang sepertimu!” balas Shi Li.



“Artinya kau jauh lebih lemah dari pecundang karena kalah dariku!”



“Huh! Itu hanya sebuah kebetulan!”



“Semuanya tenang!” bentak papan hitam. “Pembagian tim dilakukan secara acak. Bila kalian bertemu, itu artinya takdir telah membuat kalian bertemu. Jangan ada yang mengeluh!”



Sialan, kenapa aku malah satu tim dengan gadis ini? Tidakkah mereka tahu kalau nyawaku akan terancam bila mereka berhasil mengetahui kalau aku adalah penyusup! Tapi, aku yakin sekali dapat membasmi mereka semua sih.



“Apa boleh buat jika itu aturannya,” gumamku, mengembuskan napas kecewa.



“Kau sebaiknya jangan membebaniku!” ancam Shi Li, tegas.



Aku mengabaikan gadis itu, lalu sedikit memerhatikan percakapan antar dua pemuda yang ada di depan sana. Mereka sepertinya sedang membicarakan tentang Shi Li si gadis bar-bar ini.



“Apa kau yakin dapat mengalahkan Shi Li?” bisik pemuda yang satu ke pemuda di sebelahnya.



“Aku tak yakin …,” jawab pemuda di sebelahnya itu.



Kemudian, papan hitam pun mengambil alih perhatian dengan berkata, “Untuk lolos dari Gapura Keenam, kalian perlu mengalahkan tim lawan! Jika tim lawan tidak lagi dapat bertarung atau keluar dari arena, maka kalian dinyatakan lolos. Mengerti?!”



“Mengerti!” jawab tiga pendekar itu, tentu tanpa diriku.



“Hei pengecut,” kata Shi Li. “Jika kau merasa tidak percaya diri, sembunyi saja di belakangku!”



“Dengan senang hati!”



“Kau sungguh pecundang dan sampah!”



Kenapa dia marah? Aku, kan, hanya melakukan apa yang dia suruh. Lagipula, dia pasti dapat dengan mudah memenangkan pertarungan ini. Kecuali dia sedang tidak dalam kondisi yang baik.



“Kau pecundang!” kata pendekar yang adalah lawanku. “Kau sangat tidak punya harga diri hingga berlindung di belakang perempuan! Keluarlah dan lawan aku, pecundang!”



Bodo amat. Siapa orang gila yang akan terhasut provokasi burukmu itu. Sini aku ajarkan padamu bagaimana caranya memprovokasi dengan benar!


__ADS_1


Aku tersenyum lebar, berkata, “Kalau aku tak salah dengar, kalian berdua tadi berkata bahwa kalian tidak akan sanggup melawan Shi Li. Jika begitu, mengapa aku harus repot-repot ikut turun tangan untuk mendisiplinkan kalian, hah? Kau pasti bercanda!”



“Kau ….”



Itulah yang disebut provokasi, bodoh. Sebagai seorang Raja Daratan, aku hidup lebih lama darimu dan memiliki banyak pengalaman, jadi jangan berlagak sok kuat di depanku!



“Kalian terlalu banyak bicara!” Shi Li lantas mengeluarkan pedangnya, membuat dua pemuda di depan sana siaga level maksimal. “Laki-laki tidak terlalu banyak bicara, kau tahu?!”



Shi Li tanpa ampun segera menyerang dua pemuda itu dengan serangan yang sebelumnya dia luncurkan padaku. Dua pemuda itu dengan sangat susah payah menangkis mau pun menghindari semua serangan tersebut. Kurang lebih seperti aku sebelumnya, tetapi aku tidak sekalipun menangkis serangannya.



“Pecundang, gunakan serangan yang kau gunakan untuk membuatku keluar dari arena tadi!” kata Shi Li, memberi perintah.



Aku tahu aku tak bisa menolak, jadi aku langsung memasang kuda-kuda asal-asalan, lalu bersiap meluncurkan serangan. “Jika seranganku gagal, itu sepenuhnya bukan salahku, ya!”



“Terserah!”



“Pukulan alay pemecah batu!” Aku meluncurkan serangan berupa gelombang kejut paling lemah yang aku bisa. Meskipun sebenarnya jurus ini adalah jurus pemecah batu, tetapi karena kurasa sangat berlebihan, aku menambahkan kata alay di sana.



“Kau memiliki jurus yang aneh, ya ….”



“Suka-suka aku!”




“Selamat pada Shi Li dan Li Sang karena sudah menyelesaikan tes di Gapura Keenam!” kata papan hitam.



“Kenapa juga harus ada kata ‘Li’ di namamu?!” keluh Shi Li sembari berjalan keluar.



“Memangnya apa masalahmu?!” Lagipula, Li Sang bukanlah namaku. Jika kau ingin mengeluh, kau melakukannya pada orang yang salah!


***


Setelah menunggu cukup lama, Yue Jian akhirnya bertemu dengan teman satu timnya. Lalu, tak lama berselang, muncullah dua pendekar yang menjadi lawannya. Yue Jian sangat tidak berharap akan mendapatkan lawan berat di sini, karena dia tahu bahwa Zhang sudah masuk ke dalam Gapura Keenam lebih cepat dari dirinya, jadi sekarang tak mungkin dia bertemu Zhang.



Itu adalah apa yang dipikirkan Yue Jian sebelum akhirnya dikhianati realita. Ternyata Zhang muncul sebagai salah satu pendekar yang menjadi lawannya saat ini.



“Yue Jian?” Zhang jadi bertanya-tanya mengapa dia bisa bertemu dengan Yue Jian.



“Dari semua orang …,” ucap Yue Jian, “Mengapa malah kau yang menjadi lawanku, Zhang?”



“Aku yang harusnya mengatakan itu!”

__ADS_1



“Semua peserta diharapkan tenang,” kata papan hitam. “Tes di Gapura Keenam adalah pertarungan tim! Tim Pita Merah melawan Tim Pita Biru! Apakah semuanya sudah siap?”



“Tidak siap sama sekali,” kata Yue Jian.



“Kau harusnya lebih serius sedikit!” Pemuda dengan rambut pendek yang menjadi teman setim Yue Jian, membentak. “Kita harus melawan mereka?”



“Kau pikir dirimu siapa?” Tatapan Yue Jian seketika membuat pemuda tadi bercucuran keringat.



“Jadi, apa kita akan bertarung lagi, Yue Jian?” tanya Zhang, terlihat tidak sabar menanti pertarungan sengit dengan teman juga rivalnya. “Aku siap kapan pun kau mulai!”



Yue Jian mengembuskan napas panjang. “Aku tak mau.” Pemuda itu terlihat tak tertarik dalam pertarungan ini. “Masih ada tes terakhir, jadi aku lebih baik menyimpan tenaga daripada harus bertarung denganmu!”



“Lalu, apa rencanamu?” Terlihat jelas bahwa Zhang sedikit kecewa mendengar jawaban Yue Jian.



“Bagaimana kalau begini saja.” Mendadak Yue Jian mendapatkan sebuah ide, membuat Zhang menaruh perhatian penuh pada pemuda itu. “Kita lakukan gunting-batu-kertas! Caranya kita akan melakukan tiga kali gunting-batu-kertas!”



“Ide bagus! Aku setuju!” Zhang kemudian melirik teman satu timnya yang adalah seorang pemuda dengan rambut panjang dengan aura gelap. “Kau tidak keberatan, kan?”



“Ya, ya, ya. Aku sangat setuju!” Tampak jelas bahwa pemuda itu takut melihat tatapan Zhang yang sangat mengintimidasi.



Di sisi lain, Yue Jian lantas melirik tajam pemuda berambut pendek yang jadi teman satu timnya, “Kau pastinya setuju, kan?”



“Tentu, tentu. Aku setuju!” Pemuda itu sadar dia sudah tak memiliki pilihan lain di sini.



“Kalau begitu.” Yue Jian melakukan peregangan tangan selama beberapa saat, lalu maju ke depan, diikuti oleh Zhang. “Ayo kita lakukan yang terbaik, Zhang.”



“Aku akan memenangkan ini dua kali berturut-turut!” Zhang tidak mau kalah.



Akan tetapi, sebelum mereka mulai bertanding, papan hitam berkata, “Inikan pertarungan antar tim ….”



Mendengar itu, baik Yue Jian dan juga Zhang segera menarik masing-masing rekan satu tim mereka.



“Sekarang sudah layak disebut pertarungan tim, kan?” kata Yue Jian.



“Ya … itu tak salah sih, tapi … kenapa jadi seperti ini?” Papan hitam tak ada cara lagi untuk protes. “Sudahlah, pertarungan dimulai!”



“Ayo kita lakukan, Yue Jian!”

__ADS_1



“Ayo.”


__ADS_2