
Aku keluar dari kamar Huo Lin. Telah tiga hari semenjak Ling Tian memintaku untuk menjadi guru, dan sekarang dia kembali memanggil aku ke aulanya. Tentu tujuannya tidak langsung dikatakan.
Perlahan aku masuk ke sebuah ruangan besar. Di dalam sini sudah ada Ling Tian dan ayahnya—Ling Hai. Sejenak, sembari mendekat, aku memiringkan kepala. Namun, kemudian tidak peduli lagi.
“Lalu, apa tujuanmu memanggilmu kemari?” Aku tidak ingin membuang banyak waktu, langsung masuk ke inti pembahasan.
“Aku ingin kau ikut serta dalam pertemuan keluarga Ling dengan keluarga Shi dan sebagian keluarga Fang,” jawab Ling Tian, juga tak mau banyak basa-basi.
Merasa tidak perlu memperpanjang semua ini, tanpa waktu lama aku menyetujui, “Baiklah, aku akan ikut dengan kalian. Namun, jangan terlalu berharap agar aku bergabung dengan kalian. Aku memiliki rencanaku sendiri.”
“Kurasa ide bagus bila kau melibatkan kami dalam rencana itu,” sahut Ling Hai, seperti mengusulkan hal biasa.
“Akan kupertimbangkan.” Memang aku terdengar seperti memberikan harapan pada mereka, tetapi itu kulakukan agar tidak memperpanjang percakapan. Lagipula, setelah kematian Ling Qian, aku merasa sudah cukup untuk melibatkan orang-orang tak bersalah ini dalam permainan kotor dewa-dewa itu.
“Kuharap kau benar-benar memegang ucapanmu, Luo Xiao.” Ling Tian memerhatikan raut wajahku, tetapi itu percuma, karena aku bisa membuat agar wajahku terlihat datar, tanpa ekspresi apa pun.
“Jadi,” kataku, segera mengabaikan ucapan Ling Tian, “kapan pertemuan itu akan dilakukan, dan di mana?”
“Mereka sedang dalam perjalanan kemari.”
“Ternyata sejak awal kalian memang tidak ingin aku melewatkan pertemuan itu, ya.”
“Kau memiliki kekuatan besar yang tidak kami miliki untuk melawan Mu Lan. Tentu kau harus menjadi kartu AS kami, kan?”
Aku tidak menyalahkan mereka untuk berpikiran seperti itu, tetapi ini semua terjadi karena aku. Bagaimana pun, aku pasti akan menghancurkan Mu Lan serta orang di baliknya! Kalian bisa mengusikku sepuas hati, tetapi karena sudah berani mengusik murid-muridku, aku tidak akan pernah tinggal diam!
__ADS_1
Tak lama setelah percakapan, pintu masuk tiba-tiba diketuk. Aku, Ling Tian, dan Ling Hai tentu segera memalingkan pandangan ke sumber suara.
“Masuklah,” kata Ling Tian, mempersilakan si pengetuk pintu untuk masuk.
Seorang pemuda dengan rambut pendek pun masuk, berdiri beberapa langkah dari pintu. Pemuda itu berkata, “Lapor, Tuan Besar, Tuan Muda, utusan dari keluarga Shi dan keluarga Fang telah tiba.”
“Persilakan mereka masuk ke ruangan yang sudah disiapkan,” kata Ling Tian.
“Baik, Tuan Muda!” Si pemuda segera keluar dari ruangan.
Ling Tian melirikku sejenak, kemudian berjalan keluar juga. “Ayo ikut bersama kami, Luo Xiao.”
“Ya.” Aku pun berjalan di belakang Ling Tian dan Ling Hai. Ayah dan anak ini ternyata sangat kompak. Namun, ini bukan saat yang tepat untuk mengomentari hal tersebut.
Beberapa saat kemudian, kami bertiga masuk ke dalam sebuah ruangan luas lainnya. Di tengah ruangan ini terdapat sebuah meja bundar lebar dengan lima buah kursi mengelilinginya.
Selanjutnya terlihat enam orang memasukki ruang rapat ini. Dua dari mereka duduk di kursi, sedangkan empat lainnya berdiri, masing-masing dua orang di belakang salah satu orang yang duduk. Kurasa mereka berempat hanya datang sebagai pengawal pribadi.
Sejenak aku mengamati, kemudian mengingat salah satu dari dua orang yang baru saja duduk tadi. Dia seorang gadis … dan kalau aku tidak salah ingat, namanya Shi Li? Sepertinya gadis ini memiliki posisi yang cukup tinggi di keluarganya.
“Salam Tuan Besar Ling dan Tuan Muda Ling,” kata Shi Li. “Sebelumnya mohon maaf karena Tuan Besar Shi tidak dapat datang untuk pertemuan ini. Namun, saya datang ke sini sebagai perwakilan.”
“Kami sudah paham situasinya,” jawab Ling Tian. Dia sepertinya sudah mendapat pesan sebelumnya, sehingga tidak terlalu memedulikan hal ini. “Asalkan kau bisa menjamin bahwa ucapanmu sekarang sebagai representasi dari keluarga Shi, Nona Shi.”
“Tentu saja, Tuan Muda Ling.”
__ADS_1
“Kalau begitu tak masalah.” Ling Tian kemudian memalingkan pandangan pada seorang pemuda yang sedari tadi diam.
Si pemuda segera merespon dengan memperkenalkan diri, “Aku Fang Fei, sebagai perwakilan keluarga Fang.” Dia diam sejenak. “Akan tetapi, tidak semua fraksi keluarga Fang setuju akan pembicaraan ini, jadi aku tidak bisa memposisikan diri sebagai perwakilan mereka secara keseluruhan.”
“Aku mengerti,” jawab Ling Tian, sudah memahami kondisi saat ini. “Bagaimana kalau kita langsung ke inti pembicaraan?”
“Sebelum itu,” Shi Li memotong, “aku mendapat informasi bahwa Huo Lin terluka parah. Apakah dia bisa memenuhi perjanjian di antara kita?”
“Kau masih datang ke sini dengan mengetahui informasi tersebut,” kataku, tidak terlalu peduli dengan pandangan mereka. “Bukankah itu berarti kau yakin bahwa negosiasi ini memiliki kemungkinan berhasil?”
Shi Li melirikku sejenak, sedangkan Ling Tian terlihat tidak berniat untuk menghentikanku juga. Selama beberapa detik, Shi Li mengamatiku dari ujung rambut sampai raut wajah. “Sepertinya aku pernah bertemu denganmu?”
“Itu tidak penting.” Aku sungguh tak ingin membuat pembicaraan ini menjadi sangat panjang. “Aku ingin tahu alasan mengapa kau masih datang ke sini saat tahu kabar tentang Huo Lin.”
“Mulutmu sangat tajam.” Shi Li memalingkan pandangan ke arah lain. “Aku tidak tahu pasti bagaimana kondisinya, jadi aku masih memiliki sedikit keyakinan bahwa dia mungkin tidak terluka begitu berat.”
Sebelum aku dapat menjawab, Ling Tian mendadak melirik ke arahku. Lirikan itu seperti bisa terdengar seperti dia sedang memohon, ‘Aku tahu kau paham akan situasi, tetapi aku akan memohon padamu agar pembicaraan ini berhasil, Luo Xiao ….’
Aku sekarang sangat paham bahwa dia dengan sengaja ingin menjebakku di sini agar tidak memiliki pilihan. Tapi sudahlah, menambah satu atau dua orang sebagai murid, aku pikir juga bukan hal yang begitu buruk. Namun, aku pasti akan menjauhkan mereka dengan pertempuran melawan Mu Lan. Itu adalah hal mutlak!
Perlahan aku mengembuskan napas panjang, melirik Shi Li, berkata, “Huo Lin mungkin tidak bisa mengajarimu. Namun, aku bisa mengajarimu untuk menjadi seekor naga, bagaimana menurutmu?”
“Memangnya kau pikir siapa dirimu?” Shi Li tentu ragu akan hal ini, dan sini Ling Tian harus memberi sedikit dorongan.
“Dia Luo Xiao, guru dari Yue Jian, Zhang, Huo Lin,” kata Ling Tian. Dia sepertinya sengaja tidak memasukkan Ling Qian dalam list.
__ADS_1
Omong-omong, sekarang aku sedikit sadar bahwa mungkin aku memiliki lebih banyak murid di kehidupan kedua ini. Hm … aku merasa seperti sedang dilahirkan kembali untuk menjadi guru.