
Angin berembus pelan, aku berjalan mendekat ke arah danau sembari menarik napas panjang. Rasanya cukup lega mendapat udara segar yang masuk ke dalam paru-paru dan keluar perlahan.
“Bagaimana kalau kita bertarung, Luo Xiao?” tanya Jian Lang. Nadanya terdengar tenang, tetapi aku bisa merasakan semangat membara dalam dirinya.
“Haah ….” Aku memasukkan kedua tangan dalam saku celana. “Sepertinya kau sangat meremehkanku.” Perlahan aku memalingkan pandangan, menatap Jian Lang dengan wajah datar.
“Mau melakukannya?” Jian Lang berkata seperti itu tanpa memalingkan pandangan ke arahku. Dia sungguh meremehkanku!
“Jika itu maumu!”
Tanpa banyak membuang waktu, dalam sekali gerakan aku melesat cepat ke arahnya. Satu pukulan melesat, tetapi dia bisa menangkisnya dengan tenang. Namun, aku sudah meluncurkan tendangan kuat menggunakan kaki kiri, tepat ke rusuk pria ini.
“Itu cukup keras,” gumamnya, melompat ke belakang masih tanpa ekspresi. “Tapi kurang!”
Tidak mau menjawab ucapannya, bergerak cepat ke depan, aku meluncurkan pukulan beruntun. Dan seperti yang diharapkan pada seorang dewa kelas atas, Jian Lang sanggup menahan semua serangan itu dengan mudah. Dia menangkis setiap pukulan yang terarah padanya tanpa sedikit pun beranjak dari tempatnya berdiri.
Aku pun melompat mundur, menjaga jarak sejenak untuk meluncurkan serangan yang lebih baik. Sayangnya, Jian Lang tak memberiku ruang untuk bernapas. Dewa itu melesat cepat, meluncurkan pukulan keras menggunakan tangan kanannya.
Refleks aku menahan serangan tersebut dengan kedua lengan yang menyilang di depan wajah. Satu serangannya bisa kutahan, tetapi dia langsung memberikan serangan berikutnya dalam sekejap. Tendangan keras itu menghantam tulang rusukku, membuat aku terbanting hingga menumbangkan sebatang pohon.
Jian Lang kembali melesat ke arahku. Dia sungguh tak memberi ampun.
Aku melapisi diri menggunakan kekuatan energi, menahan pukulan Jian Lang dengan satu tangan. Sepertinya aku memang harus serius berhadapan dengan dewa aneh ini!
Jian Lang mundur, menjaga jarak sembari mengamati gerakanku. Dewa sialann itu tersenyum tipis melihat aku mulai serius.
“Seharusnya kau sedari tadi menggunakan kekuatan energimu, Luo Xiao,” kata Jian Lang sembari tertawa pelan. “Kau tak berpikir bisa mengalahkanku tanpa kekuatan energi, kan?”
“Maaf, tapi aku sedikit takut untuk melukaimu,” aku menjawab sembari menatap tajam ke depan, mengamati lawan, “dan sekarang aku tidak akan ragu lagi untuk mengeluarkan segenap kekuatan!”
“Itu yang aku tunggu!”
Sejenak, aku menutup mata, tetapi tidak membiarkan kewaspadaanku berkurang. Sesaat setelah membuka mata, aku berada di hadapan Jian Lang, menatap tajam ke arahnya. Ternyata dia sanggup menahan cakar energi yang kugunakan untuk menghabisi empat dewa tak berguna itu.
“Uhuk!” Darah segar keluar dari mulut Jian Lang. Gelombang seranganku berhasil memberinya luka dalam, dan kedua tangannya terluka cukup parah akibat menahan serangan cakar energi.
__ADS_1
Aku melompat mundur, membiarkan cakar energiku yang panjang tetap ada di kedua tangan. Berbeda dari serangan sebelumnya, seranganku kali ini bisa membuat Jian Lang mundur hingga berada selangkah di tepian danau.
“Sepertinya aku memang terlalu meremehkanmu, Luo Xiao.” Perlahan Jian Lang mengusap darah yang masih ada di bibirnya. “Ternyata aku juga harus serius ketika menghadapi Luo Xiao yang sedang serius.”
Aku mengarahkan tangan kanan ke depan, menunjukkan cakar energi berwarna biru dan tajam pada Jian Lang. Kekuatan ini tidak akan bisa mengintimidasinya, tetapi jelas bahwa aku bisa melukainya menggunakan cakar energi ini.
“Aku tidak pernah menyuruhmu untuk meremehkan seorang raja!” kataku dengan nada datar.
“Baiklah ….” Jian Lang melapisi dirinya menggunakan kekuatan energi, sudah mulai serius untuk bertarung.
“Jian Lang!”
Aku segera memalingkan pandangan ke kiri kala mendengar suara seorang wanita memanggil nama Jian Lang. Dia adalah seorang gadis berambut panjang dengan pakaian putih serta membawa sebilah pedang, wanita yang sama seperti kutemui di rumah makan.
“Ah … Mo Chiyun,” jawab Jian Lang, berhenti melapisi dirinya dengan kekuatan energi. Dia kemudian melirik ke arahku. “Kurasa pertarungan kita cukup sampai di sini dulu.”
Mendengar itu, tanpa banyak berpikir, aku segera memasukkan kembali kekuatan energi ke dalam tubuh. Pada akhirnya aku tetap tidak bisa melihat Jian Lang yang serius, ya? Tapi aku yakin pasti tetap aku pemenangnya!
“Baik, baik.” Jian Lang tampak tak acuh, tetapi kemudian kembali mengalihkan pandangannya padaku. “Omong-omong, Mo Chiyun.”
Mo Chiyun menaikkan sebelah alis. “Hm?”
“Dia adalah Luo Xiao. Kurasa kau akan tertarik berkenalan dengannya.”
“Ah, perkenalkan, aku Luo Xiao.” Aku tersenyum canggung, sedikit terkejut dengan kejutan yang diberikan Jian Lang secara tiba-tiba. Sialan, dia memang tidak pernah berubah!
Mo Chiyun akhirnya melirik ke arahku. Wajahnya tetap datar, tetapi entah mengapa aku merasakan aura familiar dari wanita ini. Apakah dia orang yang pernah ada di kehidupan pertamaku? Namun, itu cukup sulit untuk dipercaya.
“Aku Mo Chiyun,” jawab wanita itu sambil tersenyum tipis, “senang bisa berkenalan denganmu, Luo Xiao.”
“Senang berkenalan denganmu juga ….” Aku mengulurkan tangan ke depan, lalu menariknya kembali ketika Mo Chiyun segera memalingkan pandangannya ke arah Jian Lang lagi.
__ADS_1
Wanita berambut panjang ini sepertinya tidak suka denganku. Haah ….
“Apa lagi yang kau tunggu, Jian Lang?” tanya Mo Chyun. “Tidakkah kau pikir kalau kau harus segera pergi?”
“Hahaha!” Jian Lang tertawa lepas. “Silakan kau pergi duluan, aku akan menyusulmu. Lagi pula, keluarga Jian hanya memintamu untuk memberitahuku tentang pertemuan itu, kan, bukan menarikku ke sana.”
“Haah ….” Mo Chiyun mengembuskan napas panjang. “Terserah kau. Aku hanya orang luar yang kebetulan bekerja untuk keluarga Jian.” Dia pun segera berbalik dan pergi begitu saja.
Cara Mo Chiyun berjalan sangatlah anggun. Rambut panjangnya yang terurai membuat dia kian menarik perhatianku.
“Hei, hei, hei,” ucap Jian Lang, nadanya sedikit mengejek. “Sepertinya ada orang yang sedang jatuh cinta di sini.”
Aku menggelengkan kepala beberapa kali, mengalihkan perhatian dari Mo Chiyun. “Kurasa itu tidak masalah untuk orang yang sudah cukup umur!”
“Cukup umur?”
Sialan, wajah mengesalkan Jian Lang sangat menyebalkan! Aku sangat ingin menenggelamkan orang ini ke dasar laut!
“Kurasa dari tubuhmu itu, kau bahkan belum memasuki masa pubertaskan?”
“Cih! Yang terpenting bahwa umurku yang sebenarnya sudah cukup!”
“Begitukah, leluhur manusia?”
“Kau menjadi sangat menyebalkan.” Aku berbalik, perlahan berjalan menjauh.
“Tunggu sebentar, Luo Xiao,” kata Jian Lang dengan nada tenang. Dia sekali lagi menjadi serius, sehingga aku pun menghentikan langkah.
“Apa?” tanyaku, sedikit ketus.
“Apakah kau tidak penasaran siapa ayahmu di kehidupan kedua ini?”
“Ayahku?”
__ADS_1
“Ya ….” Sejenak dia menjeda kalimatnya. “Ayahmu, Luo Xiao.”