
Yue Jian duduk di kursi yang ada di samping ranjang. Mata pemuda itu melirik Huo Lin yang kini terbaring—tidur. Perlahan ia menggenggam tangan kiri Huo Lin, kemudian melepaskannya.
“Maafkan aku karena tidak bisa melindungi kalian,” gumam Yue Jian.
“Kau tidak perlu terlalu menyalahkan dirimu, Yue Jian,” potong Zhang yang mendadak masuk tanpa mengetok pintu. “Adalah fakta bahwa kita memang jauh lebih lemah dibandingkan Mu Lan dan rekannya. Namun, Raja kecil jauh lebih kuat dari mereka.”
Meskipun paham akan maksud baik Zhang, tetap saja Yue Jian merasa dirinya tidak bisa menepati janji pada Luo Xiao. Padahal dulu Luo Xiao sangat percaya padanya, tetapi ia merasa sudah menodai kepercayaan tersebut.
“Guru memang sangat hebat,” kata Yue Jian. “Dia bahkan kembali lagi setelah kita melihatnya mati di tangan muridnya sendiri. Itu sungguh sesuatu yang luar biasa.”
Zhang perlahan mendekat pada Yue Jian. “Omong-omong, sepertinya Raja kecil sedang melatih Ling Tian dan gadis bernama Shi Li.”
“Sungguh?” Yue Jian segera berdiri. “Aku akan pergi berlatih juga! Aku tidak bisa menjadi penghambat bagi guru lagi!”
“Aku ikut denganmu.”
Akhirnya Yue Jian dan Zhang bergegas pergi ke tempat Luo Xiao. Mereka tidak mau terus menjadi lemah dan menjadi beban bagi Luo Xiao yang sangat kuat.
...*** ...
Aku turun ke dalam lubang besar yang kubuat. Tentu saja di dalam sini terdapat sebuah ruang bawah tanah, lengkah dengan penerangan berupa bola api yang mengambang di dekat dinding. Kekuatanku yang sekarang sepertinya sudah pulih kembali. Namun, aku tidak yakin apakah lebih kuat atau sama saja seperti kehidupan sebelumnya.
Di dalam ruang bawah tanah ini, terlihat Shi Li sedang berkultivasi seperti perintahku. Ah, kalau dia sepercaya ini padaku, terpaksa aku harus mengajarinya dengan benar. Ini sangat merepotkan.
“Apa yang kau rasakan?” tanyaku pada Shi Li. Aku tidak sedang mengujinya, tetapi secara tersirat menyuruhnya untuk berhenti berkultivasi.
Shi Li membuka mata perlahan, mejawab, “Aku tidak merasakan perubahan besar. Tapi, entah bagaimana aku bisa merasakan bahwa ruang bawah tanah ini memiliki energi berbeda.”
Bisa kubilang dia memiliki sedikit bakat, tetapi jauh di bawah Huo Lin. Aku ingin menarik pernyataanku sebelumnya, tetapi sepertinya sudah terlambat. Haah … seharusnya aku tidak seyakin itu padanya.
__ADS_1
“Berdiri dan lihatlah sekitarmu.” Aku tidak mau menatap langsung wajah gadis ini.
“Hm ….” Perlahan Shi Li berdiri, memerhatikan sekitar. “Aku tidak melihat ada perubahan dari pertama kali masuk ke dalam sini.”
“Aku memang tidak membuat perubahan apa pun.” Aku menjentikkan jari, menciptakan sebuah bola api, melayang tepat di atas kepala Shi Li. “Sepertinya kau tidak bisa merasakan bahwa ruangan ini jauh lebih bagus untuk berkultivasi, terlebih bagi kalian para naga.”
“Kau mengatakan itu seperti tidak mengakui bahwa kami adalah manusia setengah naga ….”
Karena memang aku manusia murni berbeda dengan kalian para darah campuran! Aku berharap bisa mengatakan itu, tetapi mulutku bahkan tidak bisa bergerak untuk mengatakannya secara langsung.
“Omong-omong, apa aku hanya perlu berkultivasi di dalam sini?” Shi Li memiringkan kepala.
Dia benar-benar polos atau hanya berpura-pura bodoh? Ah, aku anggap dia polos dan tidak tahu kejamnya dunia. Oh, kejamnya diriku membuatnya bermimpi indah.
“Lakukan itu hanya jika kau ingin bisa berubah menjadi naga seribu tahun kemudian,” jawabku.
“Mulailah berkultivasi kembali.” Aku mengabaikan tingkah konyolnya. “Tapi kali ini kau harus melapisi sekujur tubuh dengan kekuatan aura dan biarkan aku membantumu selanjutnya.”
“Baiklah.” Segera Shi Li duduk bersila, memejamkan mata, berkultivasi sembari menyelimuti diri menggunakan kekuatan aura.
Dia sungguh tipe murid yang polos. Untung gurumu itu aku, kalau yang lain, aku tidak yakin apakah mereka akan bertindak sopan sepertiku.
Aku perlahan mendekat, mengalirkan kekuatan elemen di telapak tangan kanan. “Bersiaplah.” Tanpa banyak berbicara, aku menempelkan telapak tangan pada keningnya. “Kau mungkin akan merasakan auramu berubah seperti angin, tanah, api, atau bahkan petir. Tapi, kau bisa mengabaikan semua itu dan berkultivasi seperti biasa dan tunggu aku menemuimu lagi.”
Setelah melakukan semua persiapan, aku segera melompat keluar dari ruang bawah tanah. Akan tetapi, kali ini aku bisa melihat Yue Jian dan bocah ingusan—Zhang berdiri tepat di hadapanku. Tanpa perlu mereka katakana pun, aku sudah tahu tujuan mereka.
“Kalian sudah berhasil menggunakan kekuatan energi dengan cara latihan kalian sendiri. Itu artinya kalian sudah menemukan gaya berlatih kalian, jadi aku tidak perlu untuk melatih kalian lagi, kan?” kataku, sedikit acuh tak acuh.
__ADS_1
“Maaf, Guru!” Yue Jian tiba-tiba merendahkan kepala, memberi hormat dan meminta maaf dengan tulus.
“Hei, hei, ada apa ini?” Aku mengangkat tangan sembari mengambil satu langkah ke belakang.
Mengabaikan ucapan serta reaksiku, Yue Jian melanjutkan, “Aku sudah lama ingin mengatakan ini semenjak kedatangan guru kembali, tetapi selalu tidak mendapatkan waktu yang tepat. Padahal dulu guru memintaku untuk menjaga mereka, tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Maaf!”
“Kau tidak perlu menganggap semua itu salahmu sendiri, Yue Jian,” bocah ingusan berusaha membujuk Yue Jian agar berhenti menyalahkan diri sendiri.
Aku mengembuskan napas panjang, segera memeluk bocah ingusan dan Yue Jian. “Seharusnya aku yang meminta maaf karena tidak kembali di waktu yang tepat. Aku … merasa sudah gagal menjadi seorang guru.”
“Raja kecil ….”
“Kau bukan guru yang gagal, Guru!” Yue Jian berseru lantang kala angin berembus kencang.
Mereka benar-benar murid yang berbakti. Aku merasa beruntung bisa bertemu dan menjadi guru bagi mereka. Perlahan aku memejamkan mata sambil tersenyum tipis. “Aku senang mendengar itu. Terima kasih.”
“Yue Jian benar, Raja kecil!” Zhang tiba-tiba menyahut. “Kau ….” Suaranya sedikit tersendat kala air mata mengucur ke pipinya. “Kau bukan guru yang gagal!”
Ah, aku tidak tahu harus mengatakan apa pada mereka. Namun, aku sepertinya tidak menyesal memiliki kesempatan untuk hidup kedua kalinya.
“Kalian adalah muridku yang paling hebat, Yue Jian, Zhang.” Aku diam sejenak. “Aku berharap bisa mengatakan hal ini pada Huo Lin dan juga Ling Qian ….”
Itu realistis bagiku untuk mengatakan kalimat yang sama pada Huo Lin, tetapi bagi Ling Qian, kurasa itu juga dapat menjadi realistis setelah aku selesai dengan kehidupan kedua ini.
Yue Jian, Zhang, Huo Lin. Aku akan memastikan bahwa kalian akan menjadi yang paling hebat, bahkan bisa mengalahkanku suatu hari nanti. Namun, sekarang aku harus menjauhkan kalian dari semua masalah yang ada.
Perlahan, aku melepaskan rangkulanku, melihat Yue Jian dan Zhang tengah mengusap air mata. Aku sedikit ragu, tetapi mungkin saja sekarang air mata juga sedang menetes keluar membasuh pipiku.
__ADS_1