
Pertarungan antara pasukan keluarga Ling dengan pasukan keluarga Xuan sudah dimulai. Ling Tian yang tadi berada di garis terdepan, kini mundur cukup jauh, memancing Fang Chu untuk menyerangnya.
Sesuai dengan harapan Ling Tian, Fang Chu benar mengejarnya. Sekarang, mereka berdua saling berhadapan dan mengamati satu sama lain. Pertarungan sudah tak bisa lagi dielakkan di sini, apa yang dipikirkan oleh Ling Tian hanya bagaimana cara mengalahkan Fang Chu.
“Suatu kehormatan bisa bertarung dengan Tuan Muda Keluarga Ling,” kata Fang Chu sambil tersenyum tipis. “Aku tidak akan menahan diri.” Dia segera melapisi diri dengan aura berwarna emas.
Ling Tian menatap tajam ke depan, menjawab, “Maaf, tetapi aku tidak memiliki banyak waktu untuk bermain-main denganmu!” Ia tanpa ragu segera melapisi diri dengan jirah petir. “Aku akan membunuhmu.”
Fang Chu tidak tampak gelisah, melainkan segera melesat dengan cepat ke depan. Dia meluncur satu pukulan keras dengan tangan kiri, seperti sedang mengukur kekuatan Ling Tian.
Tidak memberi ampun sedikit pun, Ling Tian menghindari serangan Fang Chu, langsung menyerang balik menggunakan tangan kanan. Fang Chu pun segera menyilangkan tangan ke depan wajah, menahan serangan Ling Tian. Akan tetapi, Ling Tian menyerang pemuda itu menggunakan sambaran petir dari atas.
Segera Ling Tian melompat ke belakang, mengamati debu akibat sambaran petirnya. Ia masih dapat melihat bayang-bayang seseorang ada di sana, berdiri tegak. Kendati sudah diserang dengan sambaran petir, Fang Chu tampak tak terluka sedikit pun. Tak hanya itu, dia yang tadi hanya melapisi diri dengan aura emas, kini berlapiskan kekuatan energi berwarna kuning.
Tentunya hal tersebut disadari oleh Ling Tian yang kini kian siaga. Pria ini tahu bahwa ada perubahan pada aura Fang Chu, meskipun ia tidak mengerti apa itu. Satu hal yang ia mengerti adalah kenyataan sekarang Fang Chu memiliki aura seperti Luo Xiao.
“Ini adalah perbedaan di antara kita, Ling Tian,” kata Fang Chu. “Bahkan pemimpin tertinggi Perguruan Tanah Merah pun masih belum dapat mencapai tingkat ini!”
“Cih!” Ling Tian tetap merasa bisa menang. Ia bergerak cepat ke depan, meluncurkan satu tendangan keras menggunakan kaki kanan. Akan tetapi, tanpa sempat ia sadari, ia sudah terlempar jauh ke belakang karena pukulan keras Fang Chu.
Merasakan sakit menjalar di sekujur tubuh, perlahan Ling Tian yang sudah tak lagi menggunakan jirah petir, berdiri. Pandangan pria ini sedikit kabur, tetapi tekadnya tidak hilang begitu saja. Ia berdiri tegak meskipun mulutnya memuntahkan darah segar.
“Menyerahlah, Ling Tian.” Fang Chu perlahan mendekat pada Ling Tian. Pemuda ini tidak langsung menyerang Ling Tian lagi, melainkan berdiri beberapa langkah di depannya. “Kekuatan kita berbeda jauh. Tidak bisa disamakan!”
__ADS_1
Walaupun tahu bahwa serangannya tidak akan berfungsing, Ling Tian tetap meluncurkan satu pukulan dengan tangan kanan. Namun, pukulan itu tidak memiliki tenaga sedikit pun.
“Ini sudah berakhir.” Satu pukulan Fang Chu kembali membuat Ling Tian terlempar jauh ke belakang. Akan tetapi, Fang Chu sengaja tidak membuat patah tulang pria itu menggunakan tinjunya. “Tunduklah pada Mu Lan, Ling Tian! Kau memiliki potensi yang diharapkan olehnya.”
“Tidak akan!” Ling Tian bersikeras, kembali berdiri dengan susah payah.
“Kalau begitu matilah!” Kali ini Fang Chu melesat cepat ke depan, meluncurkan pukulan keras menggunakan tangan kanan.
“Jangan harap dapat melukai kakakku!” Ling Qian datang, menerjang Fang Chu dari sebelah kiri.
Fang Chu terkena serangan, lalu mendarat. Selanjutnya datang Huo Lin, segera menyerang Fang Chu menggunakan bola api beruntun. Namun, Fang Chu tidak berniat untuk menghindar atau apa pun. Dia menerima dengan tenang semua serangan tersebut tanpa bergerak dari tempatnya berdiri.
“Dia sangat sombong,” gumam Huo Lin yang kini berdiri di depan Ling Tian.
Ling Tian pun berlahan bangkit, berkata, “Dia meremehkanku!”
“Kak ….” Ling Qian tampak khawatir pada Ling Tian.
Ling Tian tersenyum tipis pada Ling Qian, lalu mengelus pelan rambut adiknya itu. “Kakak tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing.” Ia berkata begitu meskipun sekarang pandangannya masih sedikit kabur.
Huo Lin melirik ke belakang sejenak. “Sebaiknya kau beristirahat dulu. Biarkan aku dan Ling Qian yang menghadapinya.”
“Tidak ….” Terlihat jelas Ling Tian tak berniat untuk mundur.
__ADS_1
“Semua akan baik-baik saja, Kak,” Ling Qian meyakinkan. Gadis itu berdiri tepat di sebelah Huo Lin, menatap tajam ke depan. “Dia masih jauh lebih lemah dari Guru Luo!”
Fang Chu tersenyum tipis kala asap tebal yang menyelimuti sekitarnya, menghilang terbawa angin. “Hanya dua orang gadis kecil tidak akan bisa mengalahkanku yang sekarang!”
“Benarkah?” Suara itu datang tiba-tiba dari belakang Fang Chu, membuat Fang Chu menolah. Terlihat di sana Zhang berjalan perlahan mendekat, lalu berhenti beberapa langkah di belakang Fang Chu. “Bukankah kau hanya murid yang gagal melindungi peringkatnya dari Huo Lin, si peringkat 5?”
“Kukira siapa.” Fang Chu kini berbalik, memasang senyum lebar. “Sekarang aku adalah peringkat 1! Tidak ada lagi yang bisa merebutnya selain Mu Lan!”
“Kau masih lebih lemah dari Mu Lan, maka kau tidak pantas berbangga diri di hadapanku!”
“Kau hanya katak dalam tempurung, Zhang!” Secepat mungkin Fang Chu membuat kuda-kuda. Dia mengumpulkan sejumlah kekuatan energi di tangan kanannya, membentuk tangan besar dengan cakar panjang. “Cakar hantu!” Fang Chu melepaskan satu serangan pada Zhang.
“Kau sedang bercanda?” Zhang dengan mudah menepis serangan kekuatan energi berbentuk tangan dengan cakar panjang itu. “Kekuatan energi palsumu tidak lebih baik dari milik Xuan Chen.”
Zhang melesat cepat ke depan, meluncurkan satu pukulan keras pada Fang Chu. Akan tetapi, Fang Chu menahan serangan tangan kanan tersebut dengan menyilangkan kedua tangan di depan dada. Meski begitu, pukulan Zhang berhasil mematahkan kedua tangan pemuda itu.
“Argh!!!” Fang Chu menjerit kencang kala tersungkur di hadapan Zhang. Dia menatap tajam mata Zhang sembari menahan rasa sakit.
Tanpa ada belas kasihan sedikit pun, Zhang menendang Fang Chu hingga terhempas menumbangkan sebatang pohon besar di sebelah kirinya. Saat ini Zhang sungguh tak ingin membuang waktu dengan sia-sia, sehingga mengakhiri pertarungan secepat mungkin.
“Apa dia mati?” tanya Huo Lin sembari memerhatikan Fang Chu yang sudah tidak bergerak lagi. “Tragis ….”
“Kau sepertinya sedang tidak dalam keadaan hati yang baik,” kata Ling Qian yang memerhatikan tindakan Zhang.
__ADS_1
Zhang tidak menjawab. Dia malah berbalik lalu memasukkan kedua tangan dalam saku \*\*\*\*\*\*. \*\*\*\*\* diam, dia seperti sedang menunggu kedatangan orang lain. Namun, tidak ada yang tahu siapa yang ditunggu oleh Zhang.