
Sudah hampir setahun semenjak Mu Lan mendeklarasikan dirinya sebagai Raja Daratan yang baru. Tidak sesuai dengan harapan masyarakat, pemuda ini menjadi seorang raja diktator, bahkan kediktatorannya melebihi Raja Daratan sebelumnya—Ling Chi.
Sebagian besar masyarakat hendak mendeklarasikan perang demi merebut takhta, tetapi Mu Lan mendapat perlindungan dari banyak keluarga yang memiliki kepentingan pribadi. Selain itu, masyarakat yang tertindas hanyalah masyarakat kelas bawah atau keluarga besar yang bertentangan dengan Raja Daratan baru, salah satunya keluarga Ling.
“Bagaimana kedudukanmu di bumi, Mu Lan?” tanya pria besar yang duduk tegak penuh wibawa di atas takhta.
“Izin menjawab, Yang Mulia,” sahut Mu Lan yang bersujud bersama enam utusan dewa lainnya. “Sebagian besar keluarga besar yang berpengaruh di bumi sudah berada di bawah kendali, sedangkan sebagian lagi, mungkin memerlukan waktu sedikit lebih lama untuk tunduk ….”
“Bagus.” Pria besar yang adalah dewa Tian Wang ini, sebenarnya sudah tahu pada apa yang terjadi di bumi, tetapi dia sengaja menanyakan hal itu untuk memberitahu informasi pada enam utusan dewa lain, di sebelah Mu Lan. “Persiapkan semuanya dengan baik! Kita akan membuat Luo Xiao keluar dari persembunyiannya dengan memanfaatkan dunia serta murid-muridnya!”
“Baik, Yang Mulia!” Mu Lan dan enam utusan dewa lainnya menjawab serentak.
“Mu Lan, kau adalah pemimpin mereka!” Tian Wang memiringkan kepala, menyangganya dengan tangan kanan. “Sekarang bubar!”
“Baik!”
Mu Lan beserta utusan dewa lainnya pun pergi meninggalkan aula. Sementara itu, Tian Wang tersenyum tipis, membayangkan rencananya berjalan lancar tanpa hambatan apa pun.
“Kau tidak akan pernah bisa menghindar dariku, Luo Xiao,” gumam Tian Wang, tenang. “Aku dapat membayangkan wajah datarmu itu dipenuhi oleh air mata. Hahahaha!”
...*** ...
Di sebuah taman bunga yang indah, terlihat Yue Jian berdiri sembari memandangi langit biru. Pemuda itu diam, memandang ke atas dengan tenang.
“Bagaimana selanjutnya, Yue Jian?” tanya Zhang yang mendekat dan berdiri di belakang Yue Jian.
Sejenak, Yue Jian memgembuskan napas panjang sembari memalingkan pandangan ke belakang. Ia berbalik, menutup mata sesaat, menjawab, “Sudah saatnya kita keluar.”
“Tapi ke mana?” tanya Huo Lin yang datang bersama Ling Qian. “Aku merasa bahwa saat ini, taman ini satu-satunya tempat aman.”
__ADS_1
Yue Jian melirik Ling Qian sejenak. “Bukankah kita sudah tahu harus ke mana? Apa perlu untuk aku perjelas?”
Ling Qian mengangguk, berkata, “Aku tidak yakin bagaimana kondisi keluargaku sekarang, tetapi di sana mungkin kita bisa mendapat lebih banyak informasi.” Dia mengepal erat kedua tangannya. “Kita akan membalas dendam atas guru!”
“Aku juga sudah tidak sabar untuk memukul wajah Ling Chi itu dengan tanganku sendiri!” Zhang mengepal erat tangan kanannya.
Sekali lagi Yue Jian menghela napas, lalu mengembuskannya dengan cepat. “Persiapkan diri kalian!” Ia terlihat lebih serius dibanding sebelumnya. “Kita akan pergi dari sini, segera!”
“Baik!” Zhang, Huo Lin, dan Ling Qian menjawab serentak.
Melihat bahwa tekad teman-temannya sudah bulat, akhirnya Yue Jian melangkah ke depan, berjalan menuju pintu terowongan yang akan membawa mereka keluar. “Kita pergi sekarang juga!”
Mereka berempat pun segera pergi meninggalkan taman indah tempat di aman untuk mereka bersembunyi. Sekali lagi, keempat murid Luo Xiao ini memberanikan diri menempuh bahaya meski mereka tahu. Kebulatan tekad serta kepercayaan diri terlihat dari langkah kaki para remaja ini.
...*** ...
Seorang pria duduk di atas singgasana. Matanya melirik ke sana kemari, tangan kanannya yang bersandar di lengan singgasana, tidak kunjung berhenti bergerak. Bukan hanya tangannya, kedua kakinya juga tampak terus bergerak.
“Permisi, Tuan Muda ….” Seorang pemuda bertubuh pendek masuk ke dalam ruangan, bersujud di hadapan Ling Tian.
“Apa yang terjadi?”
“Keluarga Xuan …, Tuan Muda.”
“Mereka lagi?!” Kali ini Ling Tian hampir tidak bisa menjaga intonasinya. “Kali ini apa yang mereka perbuat?!”
“Mohon ampun, Tuan Muda.” Si pemuda menundukkan kepala, tidak sanggup menatap tuannya. “Mereka berhasil menahan pendekar kita yang berjaga di tambang emas kita ….”
“Keparatt!” Ling Tian memukul lengan singgasananya hingga hancur. Ia sudah tak bisa lagi menahan emosi yang meluap-luap di dadanya. “Segera siapkan pasukan! Aku sendiri yang akan menghadapi mereka kali ini!”
__ADS_1
“Mohon ampun, Tuan. Tapi …, pasukan kita sedang berhadapan dengan pasukan-pasukan keluarga besar lainnya ….”
“Bangsatt!” Ling Tian menghentakkan kakinya hingga membuat lantai menjadi retak. Pria ini melapisi dirinya dengan aura serta hawa intimidasi yang kuat. Ia dipenuhi oleh amarah serta kebencian yang begitu dalam. “Mu Lan sialan! Aku akan menghancurkanmu berkeping-keping!”
“….” Pemuda yang bersujud di hadapan Ling Tian tidak dapat berbuat apa pun. Dia terdiam sampai akhirnya sedikit bereaksi kala Ling Tian melirik ke arahnya selama beberapa saat.
“Panggil beberapa pendekar yang sedang berjaga,” kata Ling Tian, “suruh mereka berkumpul di sini! Kita akan membinasakan keluarga Xuan!”
“Baik, Tuan Muda!” Tidak menunda waktu lebih lama, si pemuda yang bersujud segera bangkit, beranjak pergi dari hadapan Ling Tian.
Masih dipenuhi oleh hawa intimidasi dan keinginan membunuh yang kuat, Ling Tian duduk kembali di singgasananya. Tatapan mata pria ini tajam ke depan, sementara kedua tangannya mengepal erat.
“Keluarga Ling bukan keluarga yang bisa kalian injak sesuka hati!”
...*** ...
Sebuah danau …, bisa kubilang pemandangan yang indah. Namun, pemandangan itu menjadi sedikit membosankan saat Jian Lang membawaku ke sini untuk ke sekian kalinya. Aku terpaksa mengakui itu karena sekarang dia lagi-lagi membawaku ke danau ini, danau nostalgia—kalau harus kunamai.
“Apa kau tidak memiliki tempat lain untuk dikunjungi?” tanyaku sembari bersandar di sebatang pohon.
“Kau bilang tidak akan mengeluh?” Jian Lang sedikit tertawa. “Aku sudah membelikanmu pakaian dan makanan yang pantas, seharusnya kau sedikit berterimakasih padaku.”
“Haah ….” Aku adalah raja miskin ternyata. “Aku akan mengembalikannya berpuluh kali lipat saat kembali mendapatkan takhtaku!” Meskipun aku tidak terlalu menginginkannya.
“Lupakan saja. Tidak perlu dipikirkan.” Perlahan Jian Lang mendekat ke arah danau. Dia merendahkan tubuhnya, melihat pantulan wajahnya selama beberapa saat, lalu kembali memalingkan pandangannya ke arahku. Angin sedikit berembus kala dia berkata, “Aku penasaran sekuat apa kau sekarang.”
“Bukankah kau seorang dewa? Kenapa tidak kau lihat saja sendiri?” sahutku, sedikit ketus.
Jian Lang tersenyum tipis. “Aku sudah mencoba, tetapi kau yang sekarang sedikit berbeda dari kau yang aku kenal.” Ia diam sejenak, lalu melanjutkan setelah senyum di wajahnya menghilang, “Apa terjadi sesuatu di Gunung Batu Keramat?”
__ADS_1
“Itu bukan sesuatu yang ingin kuingat, tetapi kurasa sedikit bermanfaat.”