Reinkarnasi Pendekar Manusia

Reinkarnasi Pendekar Manusia
59


__ADS_3

Jika kau adalah aku, dan aku adalah kau, maka kita sudah tahu tentang satu sama lain, apa yang menjadi kelemahan serta kekuatan kita. Rasanya sedikit lucu ketika harus melawan diri sendiri, orang yang paling aku pahami lebih dari siapa pun, tetapi orang yang juga tidak kumengerti dibanding orang lain.



Ah … kalau aku tidak salah, ujian ini adalah ujian tahap pertama bernama ‘Isi Hati’. Ternyata begitu, aku harus memilih apakah harus mempertahankan sifat munafik atau menerima isi hatiku yang sesungguhnya untuk mengontrol diriku mulai dari sekarang.



Pandanganku perlahan kabur kala darah terus mengucur keluar dari luka di punggung. Sangat menyebalkan. Tapi, aku tidak akan pernah kalah! Raja Daratan terkuat pasti akan selalu menang pada akhirnya!



“Diriku yang lain! Kau sudah tamat!” Pemuda di depanku, melesat cepat ke arahku dan meluncurkan pukulan menggunakan kedua tangan yang berlapiskan kekuatan energi.



“Kau tidak akan pernah menang!” Aku mengabaikan luka dan rasa sakit yang menjalar ke sekujur tubuh, bergerak cepat menahan semua serangan dari si pemuda. “Aku akan menyeretmu ke neraka!”



Pemuda itu—diriku yang lain—menyemburkan api dari mulutnya. Akan tetapi, serangan murahan tersebut tidak sanggup melukai tubuhku yang berlapiskan kekuatan energi.



“Pada akhirnya aku yang akan menang!” Si pemuda lantas melompat jauh ke belakang, menjaga jarak sejauh mungkin.



Seolah mengabaikan apa yang terjadi, aku melesat ke depan dengan kecepatan tinggi, mengayunkan pedang yang terbentuk dari kekuatan energi, secara vertikal pada lawan. “Aku tahu kau akan mengatakan itu, Luo Xiao!”



Dia mencoba menahan seranganku menggunakan kedua lengannya, tetapi hatinya sedikit goyah melihat gerakanku. Pertahanannya sia-sia, dia terbelah menjadi dua bagian, kemudian menghilang bagai debu yang tertiup angin.



Aku mengembuskan napas panjang, lalu terjatuh kehabisan tenaga. “Aku harus ‘membunuh’ isi hatiku sebenarnya untuk mempertahankan ‘topeng’ yang menyamarkan warna hatiku.”


...*** ...


“Selamat, kau sudah menyelesaikan Kualifikasi As Human Beings tahap pertaman, Isi Hati.”



Suara itu seketika menggema dalam telinga ketika aku perlahan membuka mata. Ah … kukira aku akan mati karena kehabisan darah, tetapi malah berhasil menyelesaikan ujian itu? Rasanya lebih lucu.


__ADS_1


Aku pun bangkit, menyadari bahwa diriku berada tepat di belakang pintu masuk yang sudah tertutup. Apa yang terjadi sebenarnya?



Penuh kehati-hatian serta waspada, aku mengamati sekitar, tidak ada perubahan apa pun, sama persis seperti ketika aku masuk. Selain itu, luka yang ada di punggungku juga tidak ada. Penyembuhan instan, kah? Sebentar lagi aku akan mengetahuinya!



“Kau sudah menyarinya, ya?” tanya suara yang menggema dalam ruangan. “Mungkin seperti tebakanmu. Pertarungan tadi terjadi dalam hatimu, dan kau berhasil mempertahankan sisi yang mau kau pertahankan. Namun, di saat yang sama, kau kehilangan sisi dirimu yang kau bunuh.”



Kurang lebih aku langsung mengerti apa yang terjadi. Akan tetapi, ruangan ini lebih unik dari yang kukira. Aku bahkan tidak tahu kapan aku terhipnotis.



“Apakah aku sudah bisa pergi dari sini?” tanyaku.



“Masih ada ujian yang menantimu,” jawab sang suara bersamaan dengan munculnya sebuah portal tepat di depan mataku. “Masuklah ke sana, kau akan diarahkan ke tempat ujian berikutnya.”



“Baiklah.”




Sesaat setelah masuk ke dalam portal, aku bukan merasakan terbakar, melainkan embusan angin yang cukup kencang, kemudian mereda. Sekarang aku bisa melihat sebuah pemandangan di atas jembatan, atau lebih tepatnya sebuah jembatan di bawah rel kereta yang bercabang.



“Selamat datang di ujian kedua,” kata sang suara yang datang dari langit. “Kualifikasi As Human Beings tahap kedua, Tindakan, akan dimulai!”



“Ujian aneh apa lagi itu?” Aku melihat ke bawah, menemukan bahwa di percabangan rel kereta itu terdapat beberapa orang yang terikat di atasnya.



“Seperti yang bisa kau lihat,” sambung sang suara, “di bawah sana terdapat percabangan rel. Tidak akan lama lagi, sebuah kereta tanpa penumpang akan berjalan di rel itu.”



“Kau ingin aku menyelamatkan mereka?”

__ADS_1



“Bisa dikatakan begitu, bisa juga tidak.” Sang suara memberikan jawaban ambigu. “Di depanmu akan muncul sebuah tombol berwarna merah.”



Benar saja, dalam sekejam mata sebuah tongkat yang di atasnya terdapat tombol merah, muncul tepat di depanku. Sedikit banyak, aku sudah menebak ke mana arah ujian ini.



“Jika kau menekan tombol merah itu,” lanjut sang suara, “kereta akan berbelok dan membunuh satu orang di rel sebelah kirimu. Orang itu adalah Chi Ling, murid yang sudah mengkhianatimu.


Namun, jika kau tidak menekan tombol merah itu, lima orang yang terikat di rel sebalah kananmu akan terlindas. Sebagai catatan, mereka adalah pengikut setiamu yang tidak kau kenal.”


Tidak langsung percaya pada penjelasan itu, sejenak aku mencoba melompat ke bawah. Akan tetapi, aku malah terpental ke belakang.


“Jadi, sekarang aku tidak bisa menyelamatkan mereka kecuali menggunakan tombol merah ini, ya?” Aku bergumam pelan.


“Tepat seperti yang kau katakan,” sahut sang suara, “kau hanya bisa memilih menyelamatkan siapa. Apakah murid yang sudah menghianatimu, atau para pengikut setiamu yang tidak kau kenal? Nyawa mereka sepenuhnya ada di tanganmu.”


“Haah ….” Ujian ini sangat merepotkan. Tapi, aku sudah tahu apa yang harus kulakukan. Pada akhirnya aku tetaplah aku, bukan orang lain.


Aku perlahan menjauh dari tombol merah saat sebuah kereta berkecepatan tinggi hendak melintas. Mungkin satu atau dua menit lagi, semuanya akan berakhir.


“Waktumu singkat, Luo Xiao!”


“Aku tahu.” Aku menutup mata sembari menarik napas panjang.


Sebelum semuanya berakhir, kurasa aku masih perlu mengatakan sesuatu. Aku pun bergumam pelan, “Maaf, Nek. Aku ternyata masih belum bisa menjadi orang yang begitu baik sepertimu.”


Tepat setelah aku mengatakan kalimat itu, kereta pun melindas lima orang yang terikat di rel sebelah kananku. Apakah ini pilihan baik atau pilihan buruk? Aku tidak tahu. Aku bisa menyalahkan semuanya kepada dewa yang membiarkan mereka terikat di rel itu!


“Jadi, apakah aku telah gagal di ujian kedua ini?” kataku pada sang suara.


“Tidak ada manusia yang sempurna,” jawab sang suara. “Kau sudah menunjukkan bagaimana tindakanmu di ujian kedua ini, Luo Xiao.”


“Aku pikir aku cukup munafik.”


“Selamat, kau lolos di Kualifikasi As Human Beings tahap kedua, Tindakan, Luo Xiao!”


“Itu bahkan jauh lebih mengejutkan,” gumamku sembari membuka mata.


Ujian kedua ini bukan tentang seberapa baik dirimu, atau memilih pilihan yang menurut sebagian orang ‘benar’. Ini adalah sebuah ujian untuk menguji seberapa jujur dirimu. Siapa yang akan kau lakukan saat kau mengikuti kata hatimu, bukan siapa yang harus kau selamatkan seperti yang orang lain inginkan!


---


Author note:

__ADS_1


Ini hanya fiksi dengan anggapan bahwa salah dan benar itu merupakan sebuah subjektivitas. Just enjoy the story, don't be so serious. Okay?


__ADS_2