
Langkah kaki seorang pemuda terdengar di dalam aula yang begitu besar. Terlihat aula ini kosong dan hanya terdapat seorang pria berbadan kekar, duduk di singgasana sembari menopang kepalanya dengan tangan kanan. Wajahnya terlihat begitu ganas, tatapannya lurus ke depan, pada pemuda yang kini mendekat dan berlutut padanya.
“Tuan …,” kata si pemuda, membuka tudung kepalanya. “Aku sudah menyelesaikan tugas yang tuan berikan.”
“Oh, kerja bagus, Chi Ling,” jawab pria besar di singgasana.
Chi Ling pun tanpa basa-basi lagi langsung mengungkapkan tujuannya datang kemari, “Tuan, aku sudah dua kali membunuh guruku dengan kedua tanganku sendiri.” Dia diam sejenak, lalu melanjutkan, “Aku datang ke sini untuk meminta agar tuan melepaskan kekasihku.”
Pemuda itu berusaha menahan amarah dalam hatinya. Ia pun dengan sengaja menggigit bibirnya hingga berdarah agar bisa menekan emosi supaya tak merembes keluar di wajahnya.
“Kau memang tidak pernah berubah, Chi Ling.” Pria yang duduk di singasana tadi pun, bangkit dan mendekat pada Chi Ling. Dia kemudian tanpa rasa bersalah, berkata pada si pemuda, “Tapi kau terlalu lama melakukannya, sehingga dengan terpaksa kekasihmu harus mengobati rasa bosanku dengan jiwanya.”
Waktu terasa berhenti dalam sekejap. Chi Ling terdiam, mencoba memproses apa yang terjadi.
“Tuan ….”
Sebelum Chi Ling dapat menyelesaikan kalimatnya, pria kekar tadi langsung berkata, “Aku meleyapkan jiwanya dari alam semesta.” Dia lantas kembali duduk di singasananya. “Sekarang pergilah, Chi Ling. Aku tidak dapat mengembalikan kekasihmu itu.”
'Tidak bisa kembali? Dileyapkan … dari alam semesta? Qian Ruyue ….'
Semua kenangan tentang kekasihnya—Qian Ruyue, berputar dalam kepala Chi Ling. Akan tetapi, kenangan-kenangan itu kemudian membeku dan pecah berkeping-keping, menyisakan kegelapan yang menelan segalanya.
Perlahan, Chi Ling berdiri. Kepala pemuda itu tertunduk, kedua tangannya mengepal erat. Matanya yang kosong, menatap ke depan, seketika dipenuhi oleh kebencian mendalam yang memperkeruh aura hitam di sekujur tubuhnya.
“Tidak akan kumaafkan ….”
__ADS_1
“Hm?” Pria di atas singasana hanya memiringkan kepala, tidak sedikit pun melihat Chi Ling sebagai sebuah ancaman.
“Tian Wang!” Chi Ling langsung melesat ke depan, menyerang pria di atas singasa dengan pukulan beruntun. “Aku akan membunuhmu!”
Sang dewa bernama Tian Wang tersenyum tipis, menangkis semua pukulan Chi Ling dengan tangan kiri saja. Dia kemudian meluncurkan serangan balik menggunakan satu pukulan yang terlihat sembarangan, tetapi itu cukup untuk membuat Chi Ling terhempas ke dinding aula.
“Kau akan membayar ini!” Sekali lagi Chi Ling melapisi dirinya dengan kekuatan energi. Ia tidak menyerah dan kembali menyerang Tian Wang dengan serangan berbentuk naga berwarna hitam pekat.
“Makhluk rendahan sepertimu tidak akan pernah bisa mencapai kekuatan dewa,” kata Tian Wang, bangkit dari singgasana, menghancurkan serangan Chi Ling menggunakan satu tamparan.
Tian Wang berjalan mendekat, tetapi Chi Ling tidak memberikan pria itu ruang untuk bergerak bebas. Ia tanpa ragu segera menyerang dengan kekuatan penuh, meluncurkan ribuan naga berwarna hitam dari segala arah.
Meski dihadapkan dengan ribuan serangan di waktu bersamaan, Tian Wang tidak gentar. Pria itu tersenyum tipis, kemudian dalam sekejap mata sudah berada di depan Chi Ling. Dia pun tanpa ragu menghantam wajah Chi Ling dengan satu pukulan keras.
Chi Ling terkapar dengan wajah penuh darah. Ia kalah sebelum tahu kapan serangan datang menghantam wajahnya.
***
Dalam sebuah lorong yang diterangi oleh beberapa obor di dinding, terlihat deretan jeruji besi yang mengurung begitu banyak tawanan. Tawanan-tawanan tersebut terdiri atas manusia dan juga dewa yang tidak disukai oleh Tian Wang. Dewa keji itu tidak peduli apakah tawanannya orang baik atau orang buruk, dia hanya memasukkan orang yang tak disukainya saja.
“Kau akan membayar semua ini, Tian Wang,” kata satu-satunya orang yang berada dalam penjara terbelakang, sebelum Chi Ling dilempar ke sini. Tatapan pria itu tajam ke depan, dipenuhi oleh amarah dan kebencian.
“Hahahaha!” Tian Wang tertawa sepuas hatinya, lalu menatap balik pria di dalam jeruji besi. “Luo Xiao sudah mati, Ling Chen. Murid terbaiknya itu yang membunuhnya sebanyak dua kali.”
Pria dalam penjara—Ling Chen tidak gentar pada provokasi tersebut. Semua kebencian dan amarahnya masih tetap hanya terarah pada Tian Wang, bukan pada Chi Ling.
“Berterimakasihlah padaku,” lanjut Tian Wang, “Aku dengan sukarela membawakan Chi Ling padamu agar kau bisa membalas dendam sepuasnya! Kau tahu bahwa penjara khusus ini memungkinkan siapa pun yang ada di dalamnya untuk tetap hidup.”
Setelah mengatakan semua provokasi itu, Tian Wang segera pergi. Ia tidak terlalu peduli bagaimana Ling Chen akan memperlakukan Chi Ling dalam penjara.
__ADS_1
“Aku tahu kau tidak akan mati semudah itu, Luo Xiao. Kali ini aku sendiri yang akan menghancurkan jiwamu sepenuhnya agar tidak dapat bereinkarnasi lagi!”
***
“Apa kau juga ikut, Yue Jian?” tanya Zhang sembari bangkit berdiri, menghadap ke luar jeruji besi.
Tidak ada tanggapan selama beberapa saat, sampai akhirnya Zhang menoleh ke belakang, melihat Yue Jian perlahan berdiri. Pemuda itu menunduk, kemudian perlahan menjawab, “Ya. Kalian saja tidak akan bisa keluar dari sini dengan selamat.”
“Kalau begitu …,” Zhang kembali menghadap ke luar jeruji, “katakan rencananya.” Ia sangat percaya pada kemampuan Yue Jian.
“Jika kita tak bisa menerobos dengan bantuan Chi, maka kita tidak ada pilihan lain selain menggunakan ototmu, Zhang.” Kali ini Yue Jian tidak lagi menyembunyikan hawa membunuh dan penuh kebencian yang keluar dari tubuhnya.
“Tapi aku tidak yakin kalau triknya akan sesederhana itu ….” Zhang menjadi ragu pada rencana Yue Jian. “Apakah mungkin bisa?”
“Ternyata kau juga sudah bisa menggunakan otakmu.” Yue Jian pun berjalan ke jeruji besi, lalu mengeluarkan kunci dari saku celananya. “Aku mengambil ini ketika menyerang si brengsek tadi.”
“Seperti yang diharapkan dari Yue Jian.”
Yue Jian ternyata sudah mempersiapkan semuanya. Dia dengan sengaja bertindak bodoh untuk mengelabuhi Mu Lan, sehingga tidak ada yang menyadarinya mengambil kunci yang ada digantung di pinggang Mu Lan.
“Terbuka,” kata Yue Jian sembari membuka pintu penjara dan berjalan keluar dengan waspada.
Zhang pun menyusul di belakang Yue Jian sembari bergumam, “Seperti kata Raja kecil. Ketenenanganmu memang sangat mengerikan, Yue Jian.” Pujian itu dilontarkan dengan tulus oleh Zhang.
“Sekarang kita akan pergi ke mana?” tanya Huo Lin yang menyusul keluar bersama dengan Ling Qian.
__ADS_1
“Kita tidak akan bisa pergi ke mana pun jika tak bisa keluar dari sini,” kata Yue Jian yang kemudian melirik ke sekitar. Ketika melihat banyak ruang penjara lain di sekitar, dia kemudian mendapat sebuah ide, “Namun, kita perlu bantuan beberapa orang untuk keluar dari sini.”