Reinkarnasi Pendekar Manusia

Reinkarnasi Pendekar Manusia
64


__ADS_3

Yue Jian, Zhang, Huo Lin, dan Ling Qian akhirnya berhasil masuk ke kawasan keluarga Ling. Banyaknya kekacauan serta peperangan antara keluarga Ling dengan keluarga besar lain, membuat Yue Jian dan teman-temannya bisa masuk ke dalam sini.



“Tidak kusangka keluarga Ling benar-benar dimusuhi oleh keluarga besar lain,” gumam Yue Jian, pelan. “Mereka pasti satu-satunya keluarga yang menentang pemerintahan Raja Daratan.”



“Tidak mungkin kakakku tunduk pada mereka setelah kejadian di Gerbang Utara itu terungkap,” sahut Ling Qian, yakin serta percaya pada keputusan kakaknya.



“Berhenti …,” Yue Jian memberi komando perlahan sembari bersembunyi di balik sebatang pohon besar.


Di hutan luas ini, terlihat beberapa pendekar yang terluka parah. Jumlahnya ada lima orang, bergerak perlahan menjauh dari perbatasan.


“Mereka adalah orang keluarga Ling,” kata Ling Qian, ingin segera menghampiri mereka. Namun, Yue Jian segera menarik tangan gadis itu, menghentikannya.



“Tunggu, Ling Qian.” Yue Jian melirik ke sekitar, memastikan tidak ada jebakan atau pun orang lain. “Kita tidak boleh ceroboh.”



Ling Qian mengerti maksud baik Yue Jian, sehingga mengangguk dan menunggu intruksi selanjutnya. “Baik ….”



Beberapa saat kemudian, setelah memastikan semuanya aman, Yue Jian berkata, “Ayo tolong mereka sekarang.”



“Ya ….” Tanpa banyak membuang waktu lagi, Zhang yang sedari tadi diam segera bergerak mendekati lima pendekar itu.



“Siapa ka—” Pendekar yang terkejut dan hendak menyerang—meski kaki mereka pincang, langsung menghentikan ucapannya ketika melihat Ling Qian bersama dengan Zhang dan yang lainnya.



“Kalian aman bersama kami,” kata Ling Qian, segera memeriksa keadaan mereka. “Huo Lin, bisakah kau berubah menjadi naga dan membawa mereka semua dengan cepat ke keluarga Ling?”



“Aku bisa, tapi … aku tidak yakin apakah nanti kita bisa menjadi tidak mencolok atau tidak …,” jawab Huo Lin, mempertimbangkan apakah mereka akan ketahuan oleh musuh atau tidak jika terlalu mencolok.



“Tidak perlu khawatir,” Yue Jian menanggapi, “kita masih jauh lebih kuat dari mereka. Terlebih ini adalah wilayah kekuasaan keluarga Ling.”



“Aku akan memastikan semuanya aman!” Zhang dengan percaya diri melapisi dirinya dengan kekuatan energi. “Kekuatan ini sama seperti yang digunakan Raja kecil! Aku tidak akan kalah!”



“Baik!” Tanpa banyak pertimbangan lagi, Huo Lin segera mengubah dirinya menjadi seekor naga.



Ling Qian, Yue Jian, dan Zhang segera mengangkat lima pendekar tadi ke punggung Huo Lin. Setelah itu, Huo Lin lantas melesat secepat mungkin.


__ADS_1


Hanya dalam waktu singkat tanpa ada hambatan apa pun, Yue Jian dan teman-temannya tiba di kediaman keluarga Ling dengan selamat. Tentunya para penjaga kediaman Ling tidak mempersulit mereka untuk masuk setelah melihat Ling Qian dan lima pendekar keluarga Ling yang terluka.



Setelah semuanya turun, Huo Lin kembali berubah menjadi manusia. Sementara itu, Ling Qian memanggil beberapa penjaga kediaman Ling.



“Kalian bertiga, ke sini,” kata Ling Qian. “Bawa mereka ke ruang medis!”



“Baik!” Tiga penjaga yang dipanggil pun segera mengantar lima pendekar yang terluka, ke ruang medis bersama dengan Yue Jian dan Zhang.



“Bertahanlah sebentar lagi,” kata Yue Jian, menggendong salah satu pendekar di punggungnya, berjalan mengikuti tiga penjaga kediaman keluarga Ling yang dipanggil oleh Ling Qian.



“Terima kasih …,” jawab pendekar yang digendong oleh Yue Jian. “Kalian menyelamatkan nyawa kami.”



“Berterimakasihlah pada Ling Qian.” Yue Jian tampak acuh tak acuh. “Dia yang berinisiatif untuk menyelamatkan anggota keluarganya yang sedang sekarat.”



Si pendekar tersenyum tipis. “Kalau begitu, tolong sampaikan terimakasihku padanya.”



“Katakan sendiri saat kau sembuh.”


Ling Qian masuk ke dalam aula tetua keluarga Ling bersama Huo Lin. Di sini ia menemukan Ling Tian—kakaknya—sedang duduk di singgasana. Terlihat jelas bahwa pria itu sedang tidak dalam suasana hati yang baik.



“Kakak …,” kata Ling Qian, pelan, mendekat ke singgasana.



“Ling Qian?” Sontak Ling Tian turun dari takhta, berlari memeluk adik kecilnya itu. “Syukurlah kau selamat.”



Ling Tian memeluk erat Ling Qian. Dia tampak begitu bahagia bisa bertemu kembali dengan adiknya.



“Aku kembali, Kak.” Ling Qian membalas pelukan Ling Tian.



Tidak lama berselang, saat Ling Tian dan Ling Qian mulai melepas pelukan mereka, Yue Jian dan Zhang datang dengan ditemani oleh seorang penjaga pintu. Mereka bertiga pun berhenti di dekat Huo Lin, sedikit menjauh dari kakak adik yang sedang melepas rindu.



Beberapa saat kemudian, setelah merasa lega, Ling Tian melihat sekitar, baru sadar ada Yue Jian, Zhang dan Huo Lin di dalam aula ini. Karena tidak tahu mereka siapa, Ling Tian pun bertanya pada Ling Qian, “Mereka siapa? Teman-teman barumu?”



Ling Qian melirik kea rah Yue Jian dan yang lainnya sejenak, lalu kembali melirik pada kakaknya. Gadis itu tersenyum tipis. “Mereka teman-teman dan juga kakak seperguruanku. Hehe.”

__ADS_1



“Kakak seperguruan?” Segera Ling Tian mengamati ketiga remaja asing yang masuk ke dalam aula bersama dengan adiknya itu. “Mereka murid Luo Xiao juga?”



“Ya,” jawab Yue Jian, sebelum Ling Qian dapat menjelaskan. “Aku Yue Jian, dan mereka adalah Zhang dan Huo Lin. Kami bertiga murid Luo Xiao.”



“Hahaha.” Ling Tian tertawa. “Kalau kalian adalah murid Luo Xiao, aku tidak akan meragukan kemampuan kalian! Perkenalkan aku Ling Tian, kakak Ling Qian sekaligus tuan muda keluarga Ling!”



“Senang bertemu denganmu ….”



“Omong-omong,” secara tiba-tiba, Ling Tian mengalihkan topik pembicaraa, “Ke mana perginya Luo Xiao? Dia tidak meninggalkan kalian begitu saja kan?”



Deg …



Ling Qian tersenyum masam, begitu juga teman-temannya. Gadis itu kemudian berkata pada Ling Tian yang tampak kebingungan melihat ekspresi mereka.



“Kakak, apakah kakak belum mendapatkan kabarnya?” tanya Ling Qian, mencoba berkata sepelan mungkin.



Ling Tian menggaruk kepala sembari tersenyum canggung, berkata, “Dari yang aku dengar, Mu Lan menghianati Tuan Ling Chi demi merebut takhta. Murid tidak berbakti itu membunuh gurunya sendiri demi sebuah jabatan.”



“Tunggu ….” Yue Jian mencoba mencerna informasi. “Apa maksudmu bahwa Mu Lan menghianati Ling Chi?”



Sejenak, Ling Tian memiringkan kepala. “Bukankah benar begitu?” Dia tampak keheranan. “Maksudku jelas seperti yang kukatakan, sekarang Mu Lan adalah Raja Daratan yang baru setelah berhasil membunuh Ling Chi. Lalu, secara mendadak Gerbang Tanah Utara ditutup, dan dia tidak peduli kalian bisa keluar dari sana atau tidak ….”



“Dari mana informasi itu berasal?”



“Ada seseorang dari Gerbang Tanah Utara yang berhasil keluar dengan selamat. Dia mengetahui kejadian itu setelah melihatnya secara langsung.”



“Dia salah, Kak,” sahut Ling Qian yang sedari tadi diam. “Apa yang terjadi bukan seperti yang kau dengar. Ceritanya sangat berbeda.”



“Apa maksudmu?” Mendengar itu, perhatian Ling Tian langsung diambil alih oleh ucapan Ling Qian.



“Aku akan menceritakan detil kejadiannya,” potong Yue Jian.

__ADS_1


__ADS_2