
Aku mengembuskan napas panjang, lalu melompat ke luar. Terlihat pemandangan hutan lebat di sekitar, menandakan bahwa tempat ini masih berada dalam hutan, bukan sebuah dimensi aneh.
“Selamat, dengan menyelesaikan tiga tahap Kuliafikasi As Human Beings, Luo Xiao, kau dinyatakan lulus!” ucap sang suara aneh yang lagi-lagi menggema di telingaku.
“Sudah lulus? Hanya begitu saja?” Sejenak, aku memiringkan kepala. “Kupikir akan lebih dari ini …, tapi baguslah.”
“Sebagai hadiah, kau akan diberkati oleh Tuan Gunung Batu Keramat,” lanjut suara aneh. “Silakan serap dan latihlah berkat itu di Gunung Batu Keramat ini.”
Hanya dalam beberapa detik, aku bisa merasakan aura hangat menyelimuti sekujur tubuh. Inikah berkat yang dimaksud? Aku bisa merasakan bahwa aura ini bukan aura biasa, melainkan sesuatu yang mengandung begitu banyak Chi.
Setelah itu, tanpa banyak membuang waktu aku langsung masuk ke dalam hutan, bersembunyi di bawah akar-akar pohon besar. Aku harus segera berkultivasi, memanfaatkan berkat yang sepertinya hebat ini. Namun, tentu tidak terlalu banyak harapan di hatiku tentang khasiatnya.
...*** ...
Mungkin sudah berlalu beberapa bulan semenjak aku mulai berkultuvasi serta berlatih di Gunung Batu Keramat ini. Harus kuakui bahwa kekuatanku meningkat cukup pesat, mungkin karena berkat waktu itu? Ah sudahlah, aku juga tak terlalu peduli.
Aku melangkah ke depan, berjalan perlahan di jalan setapak sembari memerhatikan sekitar. Pada siang hari, tempat ini tidak terlihat menyeramkan. Malam hari pun begitu sih.
“Dengan kekuatanku sekarang ini,” gumamku, pelan, “akan kulumatkan Singa Batu atau apa pun itu jika berani menggangguku lagi!”
Meskipun telah berjalan selama kurang lebih seperempat hari, tetap aku belum menemukan tanda-tanda akan diserang. Sepertinya para hewan buas di sini tahu batas kemampuan mereka. Hahaha! Takutlah padaku!
Akhirnya, setelah perjalanan setengah hari, aku berhasil keluar dari Gunung Batu Keramat. Akan tetapi, ini adalah pengalaman tidak menyenangkan ketika aku memasuki kota hanya mengenakan penutup tubuh yang terbuat dari kulit hewan. Maksudku, rasanya sangat memalukan saat dipandang aneh oleh para dewa di jalanan.
Mencoba mengabaikan semua itu, perlahan aku memasuki sebuah gang sempit. Tempat ini nyaris tidak ada siapa pun, tetapi aku yakin bahwa sebentar lagi akan datang beberapa dewa brengsekk.
“Ternyata lebih cepat dari dugaanku,” kataku menyambut lima dewa dengan pakaian lusuh dan kayu di tangan mereka.
“Tidak disangka ternyata kau berhasil selamat dari gunung itu!” kata dewa yang berada di tengah. “Itu cukup mengejutkan kau bisa selamat, tetapi sekarang kau malah ingin mati di tangan kami?”
“Hahaha! Otaknya pasti sudah sudah rusak,” sambung dewa lain.
“Itu benar.”
__ADS_1
“Dia mungkin sangat trauma dan tidak mau hidup lagi!”
“Kau dengar itu?” ucap dewa yang ada di tengah, lagi.
Aku tersenyum tipis, menundukkan kepala sejenak. “Kalianlah yang sudah bertindak kurang ajar di hadapan seorang Raja!”
“Ha—”
Dalam satu gerakan, aku melesat dan menendang kepala dewa yang berdiri di tengah. Aku yang sekarang sudah lebih dari sanggup untuk membuat tengkorak dewa congkak ini patah!
“Serahkan semua harta kalian jika tidak ingin mati …,” kataku sembari bergerak beberapa langkah ke belakang.
“Brengsekk!” Empat dewa lainnya segera menyerangku bersamaan. Mereka tidak terima melihat pemimpin mereka kupermalukan. Namun ….
“Aku memberi kalian kesempatan, tetapi malah memilih kematian.”
Tubuh dewa ini gemetar, sudah tak lagi arogan seperti sebelumnya. Sepertinya dia baru mengerti bahwa dia baru saja membangkitkan seekor monster mematikan.
“Am … ampuni aku!” Dia bersujud, memohon ampun padaku. “Aku akan memberikan semua yang kupunya padamu! Ampunilah aku ….”
Mau aku membunuh atau mengampuni dewa ini, aku tidak akan mendapat keuntungan atau kerugian. Lagipula, tidak menuntaskan semuanya sampai ke akar bukan sifatku!
“Aku sudah memberi kalian kesempatan ….”
Aku bukan orang yang baik atau pun naif. Jika aku sudah memutuskan, akan kulakukan sampai tuntas.
Beberapa saat kemudian, aku menghela napas panjang, mengembuskannya perlahan. Tanpa banyak berbicara, aku mengambil semua barang berharga yang mereka miliki. Namun, para dewa miskin ini hanya memiliki sejumlah uang, cukup untuk makan siang saja.
Agar tidak terlalu rugi, aku mengambil celana salah satu dari mereka, lalu mengenakannya. Aku tidak bisa mengambil pakaian mereka, karena sudah hancur seperti tubuh mereka. Ah … kurasa seperti ini dulu sudah cukup. Saatnya mencari makan siang!
__ADS_1
Seperti tidak terjadi apa pun, aku berjalan keluar dari gang sepi ini. Perlahan aku berjalan ke tempat yang lebih ramai, melirik sekitar, mencari tempat makan yang terlihat tidak mewah.
“Ketemu!” gumamku sembari berjalan masuk ke dalam sebuah restoran sederhana.
Tempat yang kukunjungi sangatlah ramai, bahkan ketika aku masuk, hanya tersisa satu kursi kosong saja. Aku pun memesan makanan dan duduk menunggu di satu-satunya kursi kosong itu sembari melihat dewa-dewa di sekitar. Bagaimana aku harus mengatakannya, tetapi … mereka terlihat cukup bar-bar sebagai makhluk yang berada satu tingkat di atas manusia.
Beberapa saat memerhatikan, tiba-tiba pandanganku teralih pada seorang wanita berambut panjang. Dia memiliki sebilah pedang yang tersarung rapi di sebelah kirinya. Selain itu, pakaiannya yang berwarna putih entah bagaimana bisa menambah nilai kecantikan dan keanggunannya di mataku.
“Kau jatuh cinta padanya?”
“Hm ….” Aku menjawab singkat. “Jian Lang?!” Aku segera tersentak kala melihat teman lamaku ternyata duduk tepat di hadapanku.
“Kau baru sadar?” Jian Lang tampak sedikit tertawa melihat reaksiku.
“Kau seperti hantu,” keluhku. “Jika kau ada di sana sedari tadi, setidaknya panggil aku dengan biasa, bukan malah membuatku terkejut.”
“Hahaha. Maaf, maaf, aku hanya merasa tidak ingin mengganggumu memandangi wanita di sebelah sana.”
“Berisik! Aku hanya melihatnya lebih cantik dari wanita lain saja.”
“Begitukah?” Kali ini Jiang Lang tersenyum tipis sembari memiringkan kepalanya. Aku tahu apa yang ingin dia katakan!
“Kau ternyata lebih menyebalkan dari yang kubayangkan!”
“Terima kasih ….”
“Itu bukan pujian!” Aku mengembuskan napas panjang, sudah tak mau membahas topik ini lagi. “Namun, aku tak menyangka bahwa kau akan makan di tempat seperti ini, Jian Lang.”
“Awalnya aku juga tak ingin, tetapi setelah melihat seseorang memancing beberapa dewa ke tempat sepi, aku berubah pikiran.”
Sialan! Dia terlalu beruntung bisa menyadari bahwa aku sudah kembali! Ah sudahlah, lagi pula sekalipun dia tahu, dia juga takkan membocorkan kejadian itu pada siapa pun, kan? Kurasa aku akan aman.
---
__ADS_1
Arc 7: As Human Beings (done)