
Aku bangun dari tidur yang nyenyak. Seperti biasa, Huo Lin masih tidur, jadi aku memutuskan untuk pergi keluar seorang diri.
Di luar penginapan, suhu terasa cukup dingin karena matahari masih belum menunjukkan tanda-tanda untuk terbit. Lalu, aku pun segera berjalan ke suatu tempat yang menjadi tempat favoritku akhir-akhir ini, sebuah tempat di mana aku dapat melihat danau agar kembali mengantuk.
Setelah berjalan selama beberapa saat, aku akhirnya tiba di tepi danau. Seperti yang sudah aku duga, tempat ini memang jauh lebih dingin dibandingkan tempatku berdiri sebelumnya. Namun, kesunyian dan rasa dingin ini malah tak membuatku mengantuk lagi. Padahal, hari-hari sebelumnya, ketika aku datang ke sini aku menjadi mengantuk dengan cepat sehingga dapat kembali tidur.
“Apakah matahari akan segera terbit dari barat?” Aku bergumam sembari berjalan di tepian danau yang berukuran cukup luas ini. Tentu saja aku memiliki niat untuk mengelilingi danau ini. Siapa tahu aku menjadi lelah, kemudian mengantuk.
Akan tetapi, harapanku seketika sirna begitu saja ketika aku telah selesai mengelilingi danau ini. Rasa ngantukku tidak muncul sama sekali, yang ada hanya lelah dan haus, tetapi tidak mengantuk. Apa aku sedang dikutuk untuk tidak dapat tidur lagi setelah ini?
Menyerah akan keadaan, merasa kalau sudah tak ada yang bisa dilakukan, aku memutuskan untuk kembali ke penginapan. Kemudian, sesampainya di dalam ruangan, seperti dugaanku, Huo Lin masih tidur pulas.
“Ah … aku sudah tak bisa tidur lagi …,” ucapku sembari mengembuskan napas, kecewa. Lalu aku pun teringat akan sesuatu. “Apa mungkin ini karena hari ini Yue Jian dan Bocah ingusan akan menghadapi seleksi kedua mereka?”
“Kau berbicara dengan siapa, Guru Luo?” gumam Huo Lin, terbangun, lalu duduk sembari mengusap kedua matanya. “Apa ini sudah pagi?”
“Ini masih belum pagi. Maaf sudah mengganggumu. Kau boleh tidur lagi.”
Berbeda dari dugaanku, gadis itu malah menggelengkan kepala. “Tidak. Aku tidak bisa tidur lagi setelah terbangun.” Dia pun segera masuk ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
Awalnya aku mengira semua akan selesai hanya sampai di sana, tetapi aku salah. Huo Lin membuatku tidak memiliki waktu bersantai lagi dengan kalimat yang keluar dari mulutnya.
“Guru Luo! Bagaimana kalau kita latihan?” kata Huo Lin, tersenyum lebar. “Sekalian saja, karena kita sudah bangun!”
“Latihan pagi?” Aku berbaring di tempat tidur, menenggelamkan kepalaku dalam bantal. “Tidak mungkin. Itu terlalu merepotkan!”
“Ayolah, Guru Luo!” Huo Lin menarik tanganku agar aku bangun.
Sayangnya, aku tidak memiliki niat sedikit pun untuk bangun. Latihan pagi bukanlah sesuatu yang mau kulakukan di kehidupan kedua ini! Cukup di kehidupan pertama saja aku berusaha. Kehidupan kedua adalah saat aku menikmati keindahan dunia tanpa memikirkan banyak hal rumit.
“Jika kau ingin berlatih, lakukan saja sendiri ….”
“Aku masih membutuhkan bimbinganmu, Guru Luo! Ayo kita latihan!”
“Tidak. Aku tak mau!”
__ADS_1
***
Pada akhirnya aku hanya bisa menyerah dengan bujukan Huo Lin. Dia menyeretku datang ke tepi danau yang baru saja aku kunjungi beberapa saat lalu. Ini memang menyebalkan, tetapi kurasa aku tak punya pilihan lain.
"Jadi, apa rencana latihanmu?" tanyaku, pasrah dengan nada dan wajah datar.
"Hehe...." Huo Lin tertawa pelan.
****! Dia pasti tidak memiliki rencana apa pun dan menyeretku ke sini untuk melatihnya. Tapi baiklah, akan kuberikan padanya formula paling ampuh!
“Seratus kali push up! Seratus kali sit up! Lari sepuluh kilo meter setiap hari!”
“Ha?” Huo Lin memiringkan kepala.
“Kau tidak dengar! Mulai sekarang kau harus rutin melakukan latihan seperti ini, dengan formula yang aku berikan!” Aku memasukkan kedua tangan dalam saku celana. “Aku hampir lupa. Kau juga harus menjaga pola makanmu dengan hanya memakan pisang di pagi hari!”
“Guru Luo ….” Gadis itu mendekat, lalu berteriak, “Kau pasti bercanda kan!”
Aku menggelengkan kepala, masih memasang wajah datar tanpa ekspresi. “Aku tidak bercanda,” jawabku. “Orang yang melakukan latihan itu sekarang menjadi manusia terkuat di bumi!”
“Ke mana semangatmu tadi?! Lakukan dengan serius!”
“Iya, iya.”
***
Saat matahari sudah meninggi, Huo Lin berhasil menyelesaikan latihan dengan formula khusus yang kuberikan. Tubuh gadis itu tampak berkeringat dan napasnya terengah-engah. Akan tetapi, semangatnya masih bisa aku rasakan dengan sangat jelas.
"Ingin mencoba sesuatu?" tanyaku pada Huo Lin.
"Apa itu, Guru Luo?" Huo Lin menjawab sembari mengusap keringat di keningnya.
"Hanya hal sederhana." Aku memalingkan pandangan ke arah danau. "Tidakkah kau pikir di sekitar danau ini masih terlalu dingin?"
"Ha?"
__ADS_1
Aku menjentikkan jari. Seketika itu pula muncul seekor naga yang terbuat dari air danau. Naga panjang tersebut melayang di atas danau sambil memandang ke arah Huo Lin.
Huo Lin tersenyum tipis, berkata, "Hee?"
Seperti yang diharapkan dari muridku. Dia langsung mengerti tanpa harus aku beri tahu.
Huo Lin menarik napas panjang, lalu menyemburkan api dari mulut. Api itu tersembur ke arah naga air, tetapi naga air tidak mau kalah dan langsung menyerang balik menggunakan semburan air.
Kedua elemen saling beradu, mengakibatkan keduanya melebur menjadi uap. Sesuai harapanku pada Huo Lin. Dia berkembang sangat cepat.
"Baiklah, latihan selesai," kataku.
"Ini bahkan tidak bisa membuatku mengeluarkan kekuatan penuh!" jawab Huo Lin penuh percaya diri.
"Percaya diri itu bagus." Aku menjentikkan jari kembali, membuat naga air kembali menjadi air seperti yang seharusnya.
Sejenak aku melirik ke arah Huo Lin yang perlahan sudah berhasil mengatur tarikan napas. Aku harus mengakui kalau gadis ini memang berusaha keras. Aku tak sabar menunggu saat ketiga muridku kembali berlatih bersama. Saat itu, apakah Yue Jian tetap akan menjadi pemenang, atau ada pemenang lain?
“Ini dia ….” Aku menyerahkan hadiah spesial pada muridku itu setelah menyelesaikan latihan.
“Pisang?”
“Selamat karena sudah berhasil melaksanakan latihan pagimu.” Aku pun berbalik, berjalan menjauh sembari melambaikan tangan kanan. “Tidak perlu terima kasih.”
“Tak sudi!”
“Aduh!” Aku kembali berbalik. “Tidak sopan melemparkan hadiah yang diberikan orang lain dengan tulus!”
“Kau tidak tulus sama sekali!”
“Dia pergi …?”
Aku tak tahu di mana salahku. Aku akan memberinya pisang yang dia butuhkan dalam dietnya selama melakukan latihan rutin ini. Tapi, kenapa dia malah marah? Aneh ….
Tidak mau pusing memikirkan gadis kecil itu, aku pun kembali berbalik, berjalan menuju tempat penting. “Sudahlah, aku tak memiliki banyak waktu untuk disia-siakan.”
__ADS_1
Mari kita lihat, bagaimana Yue Jian dan Bocah ingusan dalam menghadapi seleksi kedua. Aku takkan memaafkan mereka bila hasilnya tidak memuaskan!