Reinkarnasi Pendekar Manusia

Reinkarnasi Pendekar Manusia
65


__ADS_3

Dalam sebuah aula yang cukup luas, di mana terlihat Ling Tian sedang mendengarkan Yue Jian menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di Gerbang Tanah Utara. Usai mendengar penjelasan tersebut, Ling Tian menundukkan kepala sembari mengepal erat kedua tangan.



“Jadi … sekarang Luo Xiao sudah meninggal, lalu Ling Chi memerintahkan Mu Lan untuk memenjarakan kalian?” tanya Ling Tian, mengonfirmasi.



Yue Jian mengembuskan napas pelan, menenangkan diri, lalu menjawab, “Sayangnya, itu adalah apa yang kami lihat selama di sana.” Ia terhenti sejenak. “Ling Chi dan Mu Lan bekerjasama untuk mengalahkan guru, sedangkan kami tidak bisa berbuat apa pun.”



Ling Tian segera berbalik, berjalan dan duduk di singgasana. Kepalanya masih tertunduk, tetapi Yue Jian bisa merasakan aura membunuh yang begitu pekat menyelimuti sekujur tubuh pria tersebut. Tidak hanya Yue Jian, teman-temannya juga merasakan hal sama.



Mengabaikan sejenak bagaimana perasaan Ling Tian, Yue Jian bertanya, “Lalu, apa yang sebenarnya terjadi ketika kami sedang berada dalam persembunyian?”



Tidak ada jawaban selama beberapa saat, tetapi kemudian Ling Tian mengembuskan napas panjang. Di waktu bersamaan, aura membunuh pekat yang tadi terasa, kini mulai menipis kala pria tersebut berdiri.



“Mu Lan mendeklarasikan diri sebagai Raja Daratan baru setelah membunuh gurunya sendiri,” jawab Ling Tian. Dia lantas kembali duduk, menyangga kepala dengan tangan kanan yang bersandar di lengan singgasana.



“Lalu bagaimana caranya memerintah? Apakah lebih baik?”



“Hei …,” Ling Qian menegur Yue Jian yang seperti acuh tak acuh dengan fakta bahwa Mu Lan membunuh Ling Chi untuk menjadi seorang Raja Daratan.



“Lebih buruk!” Ling Tian tampak mengabaikan adiknya.



“Baiklah, aku mengerti.” Yue Jian mengempal erat tangan kanan, tatapan matanya terarah lurus pada Ling Tian. “Kalau begitu, biarkan aku ikut denganmu untuk menghabisi si brengsek itu, Ling Tian.”



Sebelum Ling Tian sempat menjawab, Zhang tiba-tiba memotong, “Hei.”



Bukan hanya Zhang, Huo Lin dan Ling Qian juga memotong, “Jangan lupakan kami, Yue Jian.”



Tidak langsung menerima, melainkan memerhatikan Yue Jian dan yang lainnya terlebih dahulu, Ling Tian bertanya, “Apa kalian membantuku hanya untuk balas dendam atas kematian guru kalian? Meskipun kalian tidak tahu apakah Ling Chi—dalang pembunuhan Luo Xiao—sungguh sudah meninggal atau belum?”



Perlahan Yue Jian berjalan mendekat, mengulurkan tangan ke depan, hendak berjabat tangan dengan Ling Tian. “Kami memang ingin balas dendam, tetapi lebih dari itu, kami tidak ingin ada lebih banyak orang yang merasakan penderitaan yang sama dengan kami, atau setidaknya penderitaanku dan Zhang.”

__ADS_1



Tatapan tajam dan nada suara yang meyakinkan, kharisma Yue Jian terpancar keluar. Pemuda ini tidak berbohong sedikit pun.



Tersenyum tipis, Ling Tian menyambut uluran tangan Yue Jian, bejabat tangan. “Sepertinya aku harus percaya pada murid Luo Xiao. Kuharap kalian tidak akan mengecewakanku!”



“Mohon kerjasamanya!”


...*** ...


Di depan pintu masuk yang terbuka lebar, Zhang terdiam dengan mata dan mulut yang terbuka lebar. Dia segera berlari sambil meneriakan suara aneh, lalu berkata, “Sudah berapa lama aku tidak melihat makanan semewah ini?!”



Ketika Zhang duduk dengan antusias di salam satu kursi yang mengitari meja panjang besar di tengah ruangan, Yue Jian ikut duduk dengan tenang di kursi yang berada di seberang Zhang. Pemuda itu memerhatikan Zhang yang begitu antusias. “Bukankah sudah sejak kau lahir kau tidak pernah melihat makanan seperti ini?”



“Huh! Itu benar, tetapi entah mengapa menjengkelkan!”



“Kalian berdua sangat kampungan,” sahut Huo Lin yang duduk dengan tenang di sebelah kanan Yue Jian.



“Hanya Zhang,” balas Yue Jian. “Jangan samakan aku dengannya.”




“Ini jauh lebih dari cukup.” Yue Jian pun tanpa sungkan mengambil piring dan mengisinya dengan makanan yang ia inginkan.



“Kuharap kalian menyukainya,” kata Ling Tian sembari duduk.



Yue Jian sadar bahwa mereka sebentar lagi akan memasuki medan perang melawan Mu Lan dan keluarga besar lainnya. Ia tak tahu apa yang menantinya di masa depan, atau bagaimana kekuatan Mu Lan sekarang. Saat ini, setiap suap makanan yang masuk ke dalam mulutnya sangat bermakna.


...***...


“Si sialan itu meninggalkanku tanpa sebuah petunjuk sedikit pun!” Aku melemparkan sebuah kerikil ke sungai. Batu itu melompat-lompat di atas air hingga akhirnya tiba di seberang sungai. “Padahal bisa saja, kan, dia memberikan sedikit informasi tentang topik yang dibawanya!”



Aku mengembuskan napas panjang, berhenti menggerutu tak jelas seperti orang gila. Meski sedikit kecewa, aku perlahan berjalan menjauh dari sungai melewati jalan setapak di tengah hutan.



Beberapa berjalan, tiba-tiba aku teringat akan sesuatu. Hm … sepertinya tadi Jing Lang brengsek itu memberitahuku sesuatu. Tapi apa? Aku tidak ingat apa pun. Mungkin aku bisa bertanya padanya ketika bertemu lagi.

__ADS_1


...*** ...


Yue Jian, Zhang, Huo Lin, dan Ling Qian berbaris dalam pasukan yang berisikan kurang dari seratus orang. Pasukan ini pasukan khusus yang baru saja dibentuk oleh Ling Tian untuk membantai keluarga Xuan.



“Jangan gentar!” seru Ling Tian, berdiri dan menghadap pada pasukan. “Keluarga Ling jauh lebih kuat dari keluarga Xuan! Jumlah kita sudah cukup untuk menghabisi mereka semua!”



“Ya!!!” jawab pasukan dengan semangat.



“Hidup keluarga Ling!”



“Hidup Tuan Muda Ling Tian!”



“Hidup! Hidup! Hidup!”



*Orang ini sungguh pandai berbohong*, pikir Yue Jian. *Kharisma yang dia miliki membuatku bisa sedikit diyakinkan olehnya*.



Tubuh tegak dan kekar itu terlihat tak gentar. Ling Tian berbalik, menunggangi kuda yang sudah menanti sedari tadi. Masih tanpa mengeluarkan sedikit pun hawa takut, pria tersebut mengangkat tangan kanan ke atas. “Mari taklukan keluarga Xuan!”



“Ya!”



Pasukan pun bergerak di belakang Ling Tian. Kharisma Ling Tian sebagai pemimpin benar-benar bisa membuat moral pasukan menjadi tinggi.



Berjalan melewati hutan selama beberapa jam, akhirnya Yue Jian beserta pasukan Ling Tian berhasil tiba di markas pasukan Ling Tian. Tempat ini dipenuhi oleh banyak pendekar terluka, baik ringan mau pun berat. Bahkan, terdapat beberapa mayat pendekar yang dibaringkan tanpa disentuh.



Ling Tian turun dari kuda, disambut oleh beberapa pendekar dari markas. Meski terlihat tegar, Yue Jian bisa melihat kalau tangan Ling Tian sedikit gemetar. Pria itu mencoba untuk menahan agar hawa kebenciannya tidak terlihat oleh orang lain, tetapi dia tidak bisa membohongi Yue Jian.



“Apa rencana kita, Yue Jian,” bisik Zhang. “Apa kita akan bergerak bersama dengan pasukan ini?”



“Kalian bertiga lindungi pasukan ini.” Yue Jian berjalan pelan ke depan. “Aku akan membuka jalan dengan menghabisi mereka yang berani menghalangi jalan.”


---

__ADS_1


santai sebelum badai.


__ADS_2