Reinkarnasi Pendekar Manusia

Reinkarnasi Pendekar Manusia
54


__ADS_3

Yue Jian dan Zhang diam-diam menangkap beberapa penjaga yang sedang berpatroli. Mereka berdua melucuti baru para penjaga tersebut, kemudian memenjarakan mereka. Akhirnya, karena cara cerdik itu, Yue Jian, Zhang, Huo Lin, dan Ling Qian berhasil keluar dari penjara dengan selamat.



Mereka berjalan beberapa saat, hingga akhirnya tiba di depan sebuah air terjun. Melirik ke sekitar selama beberapa saat, Yue Jian menyadari ada sesuatu di balik air terjun itu. Ia pun tanpa ragu mendekat, mencari celah di bawah air terjun, hingga akhirnya mendapati sebuah jalur kosong.



“Di balik air terjun ini sepertinya terdapat sebuah terowongan,” kata Yue Jian, masuk ke jalur kosong tadi, melewati air terjun dengan aman, diikuti oleh tiga temannya.



“Apakah kita akan aman di sini?” tanya Zhang sembari melirik ke sekitar. Dia berusaha menelusuri sesuatu, tetapi semakin ke dalam, kegelapanlah yang mereka lihat.



Huo Lin lantas menjentikkan jari, membuat sebuah bola api yang melayang dan menyinari gelapnya terowongan. Bola api itu tentu sangat membantu mereka sekarang.



“Terima kasih, Huo Lin,” kata Yue Jian sembari terus berjalan masuk.



“Sudah seharusnya,” jawab Huo Lin, terus mengikuti.



Beberapa saat kemudian, Ling Qian bertanya, “Omong-omong, ke mana kita akan pergi?”



Yue Jian pun menjawab tanpa menoleh atau pun berhenti sejenak, “Kata ayahku, terowongan di balik air terjun ini menuju ke sebuah taman. Tapi, aku tidak tahu pasti apakah terowongan ini yang dimaksud.”



“Tapi kau sepertinya sangat yakin kalau ini adalah terowongan itu?” sahut Zhang, tenang.


“Apa ada alasan khusus yang membuatmu yakin?”


“Hanya sebuah firasat.” Yue Jian melirik sekitar selama beberapa saat. “Namun, kita tidak punya pilihan lain, kan?”



“Kurasa begitu ….”



Mereka terlihat sangat santai, tetapi sebenarnya di hati mereka tersimpan dendam yang tak bisa padam. Dendam yang seperti mendarah daging.


...*** ...


Mimpi? Ah, kenapa rasanya begitu damai? Bisakah aku terus berada di sini?



Perlahan aku membuka mata, mendapati diriku sedang berada di bawah pohon yang ada di tepian danau. Aku perlahan bangun, melirik ke sekitar, masih bertanya-tanya di mana sebenarnya aku berada.


__ADS_1


Angin perlahan berembus, menghantar kesegaran di sekujur tubuh. Namun, entah mengapa aku merasa sedang bernostalgia. Apakah aku pernah mengunjungi tempat ini di kehidupan pertamaku?



“Akhirnya kau sadar juga, Luo Xiao.”



Aku segera menoleh ke belakang kala mendengar suara familiar itu, suara yang selama ini terus menjadi pengganggu di kepala.



Sosok pria bertubuh tinggi, mengenakan hanfu berwarna merah. Sosok pemuda dengan rambut panjang itu adalah orang yang kulihat.



Aku kemudian kembali melirik danau, menjawab dengan tenang, “Lama tidak berjumpa, Jian Lang.” Sejenak aku terdiam, lalu melanjutkan, “Apa kau masih menjadi dewa idiot yang memusuhi semua dewa? Hahaha.”



Jian Lang pun duduk di sampingku, mengembuskan napas panjang. “Haah …, pada akhirnya dewa pun tidak bisa berbuat semaunya ketika berada di alam dewa, Luo Xiao.”



“Aku tebak kalau kau telah membangkitkanku di dunia dewa sekarang, kan?”



“Apakah menurutmu aku akan menyangkalnya? Di danau yang pernah menjadi pertemuan pertama kita?”



“Hahaha. Kau sungguh berpikir kalau dirimu istimewa, ya?”




“Katakanlah itu pada Aturan Langit.”



“Ugh ….”



Kami mengobrol santai selama beberapa saat. Aku tidak mengira dapat bertemu dengan teman lama di kehidupan kedua ini. Namun, itu artinya aku harus sekali lagi menghadapi ribuan masalah di kehidupan pertamaku. Haah ….


...*** ...


Dalam sebuah ruangan yang tidak terlalu besar dan hanya mendapat cahaya dari beberapa obor di balik jeruji, Ling Chen duduk diam bersandar di dinding dengan tangan yang terborgol. Pria itu melirik ke depan, tepat pada Chi Ling yang kini terbaring, tetapi tidak bergerak walaupun belum mati.



Beberapa saat berlalu tanpa ada percakapan. Keduanya hanya diam, seperti tidak ada sedikit pun niat untuk menghilangkan kesunyian yang melingkupi mereka.



Setelah kesunyian yang panjang, Ling Chen akhirnya mengembuskan napas panjang, memulai sebuah topik percakapan, “Hei, Chi Ling, bagaimana perasaanmu sekarang?”

__ADS_1



Pertanyaan itu memang terdengar sederhana, tetapi di balik itu terdapat makna yang begitu dalam. Ling Chen ini mengetahui sejauh mana Chi Ling telah berubah selama ribuan tahun ini.



Meski mendapat sebuah pertanyaan, Chi Ling tetap diam, terlihat tidak ingin menggerakkan apa pun anggota tubuhnya. Pemuda ini seperti sudah mati, kendati tubuhnya masih sangat sehat berkat energi khusus yang ada dalam ruang penjara.



Usai menunggu selama beberapa waktu, Ling Chen pun berdiri, mengangkat Chi Ling dengan kedua tangan. Tatapan mata pria itu begitu tajam terarah pada Chi Ling yang bagaikan orang mati.



Saat ini, Ling Chen berbohong bila ia mengatakan tidak menyimpan dendam apa pun pada Chi Ling. Pria ini memiliki kebencian dan amarah yang tidak bisa dilupakan, tetapi ia berusaha menahan semua itu. Ia tidak ingin kebencian mengontrol dirinya, tetapi ….



“Jawab aku!” Ling Chen mencekik leher Chi Ling, “Chi Ling!”



Napas Chi Ling tersendat, kemudian kakinya repleks menendang perut Ling Chen, sehingga pria itu melepaskan leher Chi Ling. Kali ini Chi Ling menatap tajam Ling Chen dengan matanya yang digenangi air mata.



“Kau ingin aku menjawabnya dengan apa!” Nada suara yang tertekan dan tersendat di tenggorokan, keluar dari mulut Chi Ling. “Apa kau akan bahagia jika aku mengatakan hatiku hancur?!”



Ling Chen mengepal erat kedua tangannya, kemudian kakinya bergerak cepat ke depan, hendak menendang Chi Ling dari samping. Akan tetapi, tendangan itu terhenti di udara. Ling Chen menunduk, menarik kembali tendangannya. Terlihat jelas bahwa tubuh pria itu gemetar, dan ia berusaha untuk tidak menatap Chi Ling lagi.



Ling Chen berbalik, kembali duduk bersandar, tetapi dengan wajah yang masih tertunduk. Ia sadar bahwa rasa dendam sempat mengontrol dirinya beberapa saat lalu.



“Luo Xiao ….”



Itu adalah ucapan yang mengandung banyak kerinduan di dalamnya. Ling Chen tidak tahu apa yang terjadi pada Luo Xiao, tetapi ia berharap bahwa itu bukan sesuatu yang lebih buruk dibanding yang telah ia rasakan.


...*** ...


Seorang pria berbadan kekar terlihat duduk di singgasana sembari menyangga kepala dengan tangan kanannya. Ia menatap rendah seorang pemuda yang kini bersujud sembari menunduk di depannya sekarang.



“Aku memanggilmu karena ingin kau melakukan sesuatu lagi untukku, Mu Lan,” kata dewa Tian Wang dengan nada datar.



“Baik, Yang Mulia!” Mu Lan menjawab dengan penuh percaya diri. Dia bangga karena sudah menjadi bawahan yang berbakti pada Tian Wang. “Aku akan dengan hati mempersembahkan jiwaku sekalipun untuk memenuhinya.”



“Bagus, bagus,” kata Tian Wang, masih menatap rendah Mu Lan yang mengabdi padanya dengan tulus. “Sekarang gunakan identitasmu sebagai murid Ling Chi untuk mendeklarasikan diri sebagai Raja Daratan yang baru!”

__ADS_1



“Dengan senang hati, Yang Mulia.”


__ADS_2