
Tiga murid Luo Xiao bertarung dengan begitu sengit. Namun, di antara mereka bertiga, jelas yang paling menonjol adalah Yue Jian yang dapat mendesak dua lawannya sekaligus. Jurus hujan anak panahnya benar-benar ampuh untuk membuat pergerakan lawan terhenti.
Selama jeda waktu beberapa saat, Yue Jian terus memikirkan strategi paling ampuh untuk mengalahkan lawan. Akan tetapi, karena tempat ini adalah sebuah lapangan luas, dia tidak bisa menyembunyikan diri dan membuat jebakan. Sekarang yang dapat dia lakukan hanya menyerang dengan mengefektifkan jurus-jurusnya saja.
Pemuda itu menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Pikirannya sudah jernih, tetapi dia masih belum mendapatkan cara paling terbaik untuk mengefektifkan setiap serangannya. Meski begitu, dia tak tampak terburu-buru sedikit pun.
Sekarang, serangan hujan anak panah Yue Jian telah semakin berkurang, membuat waktu Yue Jian untuk berpikir semakin sedikit. Beberapa saat kemudian, pemuda itu menarik dua anak panah dari punggungnya, mulai membidik ke atas lagi.
Meski seperti akan melakukan serangan yang sama, Yue Jian sedikit pun tak berniat untuk menggunakan serangan hujan anak panah lagi. Apa yang ada dalam pikirannya sekarang bukan menahan gerakan lawannya, melainkan melumpuhkan kedua lawannya itu.
“Ha!!!” Huo Lin berseru lantang kala berhasil menahan semua anak panah yang menyerangnya.
“Kali ini giliranku!” Zhang menerobos keluar dari pelindung tanahnya, langsung melesat cepat ke depan. Dia pun kembali mempercepat langkahnya dengan jurus elemen listrik.
Akan tetapi, di sisi lain Yue Jian dengan tenang melepaskan dua anak panah. Kedua anak panah itu kemudian meledak, menciptakan cahaya yang membutakan mata kedua lawannya.
Tidak cukup hanya sampai membutakan lawannya, Yue Jian juga langsung memerangkap kedua lawannya menggunakan jaring angin. Hal tersebut membuat lawannya tak bisa melihat dan bergerak di saat bersamaan.
“Saatnya sentuhan terakhir!” Yue Jian menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.
Perlahan tapi pasti, suhu menjadi kian dingin. Lalu, tubuh Zhang dan Huo Lin pun perlahan dibekukan. Yue Jian sungguh tidak menahan diri dalam latihan hari ini.
“Cukup sampai di sana!” seru Luo Xiao.
Hanya dengan satu gerakan tangan, reinkarnasi Raja Daratan itu membuat suhu menjadi normal kembali. Zhang dan Huo Lin juga tidak tertutup oleh es lagi. Semuanya menjadi normal hanya dalam satu gerakan.
Guru memang luar biasa, pikir Yue Jian. Dia sekali lagi menjadi kagum pada gurunya itu.
***
“Cukup sampai di sana!” kataku, tak habis pikir pada Yue Jian.
Pemuda itu memang luar biasa seperti dugaanku. Namun, aku tak menyangka dia benar-benar tidak menahan diri dalam latihan ini. Jika saja aku telat sedikit, mungkin Zhang dan Huo Lin tidak hanya sekedar pingsan sekarang, melainkan sudah tewas. Aku sendiri pun tak dapat melakukan apa pun bila mereka tewas.
“Kau ini sangat berlebihan ….” Aku mendarat di sebelah kanan Yue Jian yang tampak tak merasa bersalah. “Kau pasti merasa semua akan baik-baik saja, kan?”
“Hehe. Kau, kan, ada di sini, Guru …,” jawab Yue Jian.
__ADS_1
“Ternyata memang benar.” Aku tak tahu lagi harus bereaksi seperti apa. “Sekarang kau urus Bocah ingusan. Aku akan pergi membawa Huo Lin ke sini.”
“Baik, Guru!” Yue Jian segera pergi sesuai dengan perintahku.
“Baiklah, mari lihat bagaimana keadaan anak itu. Sebagai seekor naga dia pasti dapat bertahan dari serangan es tadi, kan?”
Aku segera berjalan menghampiri Huo Lin. Sesuai dengan dugaan, dia kini terbaring dengan wujud manusianya. Pasti serangan es tadi membuatnya tak sanggup mempertahankan wujud naga. Tapi, entah mengapa wujud naganya itu selalu mengingatkanku pada Luo Ching.
“Kau sudah berjuang dengan baik,” ucapku sembari menggendong gadis itu di punggungku.
“Terima kasih, Guru Luo,” jawab Huo Lin yang ternyata masih sadarkan diri. Dia kemudian memeluk erat aku yang membawanya ke sisi lapangan.
Kini aku kembali berkumpul dengan Yue Jian dan Bocah ingusan. Bocah ingusan itu ternyata pingsan juga akibat serangan dari Yue Jian yang memang tidak mau menahan diri. Tapi, mungkin itu adalah hal baik bagi Yue Jian? Aku tak tahu, lihat saja nanti.
“Apakah kita harus menggendong mereka ke penginapan, Guru?” tanya Yue Jian.
Aku segera menurunkan Huo Lin dan membaringkannya di sebelah Bocah ingusan. “Tak perlu. Mereka akan sadarkan diri tak lama lagi.” Memang aku terlihat tak acuh, tetapi ini karena aku tahu aku tak perlu terlalu menghawatirkan dua muridku ini.
“Jadi, Guru ….” Terlihat jelas kalau Yue Jian akan mengganti topik pembicaraan.
“Karena aku sudah memenangkan pertarungan ini, bagaimana kalau guru bertarung denganku sebagai hadiahnya?”
Dia sungguh meminta hadiah yang aneh! Lagipula, dia bukan tandinganku. Perbedaan kekuatan kami bahkan sudah terlihat jelas ketika aku menetralisir serangannya hanya dengan satu gerakan.
“Kau ini sungguh maniak bertarung seperti Bocah ingusan juga rupanya?”
“Aku tidak semaniak dia,” bantah Yue Jian. “Aku hanya ingin bertambah kuat lagi dan lagi!”
“Jangan terlalu memaksakan diri.” Dengan tenang aku duduk bersandar di sebatang pohon. “Kau baru saja menggunakan begitu banyak Chi. Dari sana saja sudah terlihat kalau kau tidak sedang dalam keadaan terbaik.”
“Tapi ….”
Aku tahu dia tidak akan mundur untuk mengajakku bertarung, jadi aku harus mengabulkan permintaannya ini. “Begini saja,” aku menawarkan, “Aku akan bertarung denganmu ketika kau lolos seleksi. Bagaimana?”
“Baik!”
Semangatnya sangat cepat pulih!
__ADS_1
Tapi …, melihat Yue Jian membuatku teringat dengan kehidupanku sebelumnya. Aku dulu adalah seorang maniak latihan, hingga akhirnya menjadi seorang Raja Daratan. Namun, aku harus akui bahwa Yue Jian jauh lebih cerdas dibandingkan dengan aku yang dulu seusia dengannya.
“Yue Jian, bagaimana kalau kau membuat makan siang saja selagi menunggu mereka sadar?”
“Segera laksanakan, Guru!”
Apa dia pikir dia seorang prajurit? Sudahlah, yang penting dia melakukan apa yang aku suruh. Lagi pula, dia juga perlu makan siang, jadi sekalian saja makan siang bersama hari ini.
Aku kemudian menengadah, melihat langit biru yang berhiaskan beberapa awan cerah. Hari cerah dengan embusan angin segar memang dapat membuat hatiku tenang. Kurasa tak apa sesekali menghilangkan lelah dengan cara seperti ini.
***
“Kak Zhang! Kau jangan rakus! Sisakan juga untuk Guru Luo!”
“Raja kecil? Dia pasti masih kenyang!”
“Karena kau rakus, kau tidak mendapat jatah makanan lagi, Zhang!”
“Aku masih lapar, Yue Jian!”
“Jangan berikan lagi, Kak Yue Jian!”
Apa yang mereka ributkan? Ah, aku lupa aku sedang berada di mana sekarang.
“Guru bangun.”
“Guru Luo!”
Berat ….
Perlahan aku membuka mata dan melihat Huo Lin memeluk erat tubuhku. Di depan sana ada Yue Jian dan Bocah ingusan yang sedang bertengkar. Itu adalah pemandangan yang tidak biasa.
Ah! Sekarang aku ingat!
Aku pasti ketiduran setelah menyaksikan latihan para muridku. Tidak kusangka aku benar-benar terlelap hingga matahari sebentar lagi akan tenggelam di ufuk barat.
Arc 3: Naga Emas(done)
__ADS_1