
Pada dasarnya, saat itu Ling Chen sengaja bertindak bagaikan seorang penghianat demi bisa menyelamatkanku. Lalu, zaman kegelapan yang dia maksudkan adalah runtuhnya kekuasaan Ras Manusia Murni.
Aku mengepalkan tangan dengan erat, bergumam pelan, “Jadi, para dewa itu tidak ingin takhta mereka diambil alih oleh manusia, hingga berniat membinasakan kita semua agar tetap menjadi budak mereka?”
“Ya. Kurasa kurang lebih seperti itu.” Chi Ling setuju. “Kurasa para dewa itu sangat paham jika Aturan Langit tak memperbolehkan mereka berbuat sesuka hati. Jadi, alih-alih berusaha mencari jiwamu setelah kematian, yang mana itu melanggar Aturan Langit, mereka lebih memilih menggantimu dengan Ling Chen, Guru.”
Sejauh ini aku dapat menerima penjelasan Chi Ling. Namun, aku tahu bahwa Aturan Langit memperbolehkan seorang dewa untuk mereinkarnasikan seseorang karena alasan tertentu. Apakah ada penghianat para dewa yang membuatku bereinkarnasi?
“Omong-omong, harusnya sekarang para dewa itu mendengarkan percakapan kita, kan?” kataku pada Chi Ling.
“Aku tidak seceroboh yang guru pikirkan,” jawab Chi Ling, lalu berbalik, melihat keluar jendela. “Bagaimana, Luo Xiao? Apakah kau tertarik untuk menjadi muridku?”
Aku paham. Dia mendesain tempat ini agar dapat mengaburkan atau menyesatkan pandangan para dewa selama beberapa waktu. Namun, karena kekuatannya tidak terlalu mumpuni, dia hanya dapat menyesatkan para dewa tidak cukup lama. Hal ini membuatku yakin bahwa ada satu atau dua orang dewa yang berkhianat dan menutupi kehadiranku dari dewa lain.
Dewa penghianat itu bahkan sampai memberiku Chi Emas di kehidupan ini, pasti terjadi sesuatu di Alam Dewa! Apakah dia menyiapkanku untuk menjadi petarung hebat dunia lagi, untuk mengalihkan perhatian dewa lain, lalu mengambil keuntungan di sana?
“Maaf, Raja Daratan Ling Chi, tetapi saya tidak pantas menjadi muridmu.”
“Itu sangat disayangkan. Padahal, aku mengakui kemampuanmu itu.”
“Saya sungguh meminta maaf ….”
Walaupun ada dewa penghianat yang menyembunyikan keberadaanku, dia juga takkan mungkin dapat mengambil tindakan ceroboh seperti menyembunyikan keberadaan Chi Ling yang sekarang adalah Raja Daratan. Tampaknya aku harus segera bertindak agar hal ini tidak berlarut-larut.
Bodo amat dengan dunia ini! Aku akan menghancurkan para dewa sialan itu sampai diriku dihancurkan oleh Aturan Langit!
“Kalau begitu, saya pamit undur diri, Yang Mulia Raja ….”
“Baiklah. Pintu keluar ada di depan.”
Aku segera masuk ke dalam lingkaran putih tadi lagi. Dalam sekejap, Chi Ling dapat mentrasferku ke lapangan yang berada di tengah hutan. Di sini ada Huo Lin yang sedang sangat giat dalam latihan.
Sejujurnya, aku sedikit tertarik untuk melihat bagaimana perkembangan gadis kecil ini nantinya, tetapi aku tidak memiliki waktu untuk bermain-main lagi. Aku harus segera meningkatkan kultivasiku lagi hingga ke puncak dunia lagi!
“Huo Lin, kau sangat rajin,” kataku, membuat Huo Lin memalingkan pandangan sembari menaikkan sebelah alisnya.
__ADS_1
Gadis itu tampak sedang mengamatiku dari ujung rambut sampai ujung kaki, kemudian bertanya, “Kenapa kau ada di sini, Guru Luo? Bukankah kau sedang menyusup ke Perguruan Tanah Merah?”
“Hahaha.” Aku tidak menyiapkan alasan bagus untuk ini, jadi aku asal mengarang saja, “Entah mengapa aku merasa bosan, jadi ke sini untuk menemanimu latihan.”
“Aku menjadi ragu kau adalah Guru Luo ….” Huo Lin tampak tak percaya kalau aku berinisiatif untuk menemaninya berlatih.
Wajar saja dia tidak percaya, karena memang aku sejak awal tak memiliki niat untuk menenaminya. Akan tetapi, kurasa ini saat yang tepat untuk mengatakan perpisahan secara tidak langsung.
“Intinya aku datang ke sini untuk menemanimu latihan, Huo Lin,” kataku, meyakinkan. “Setelah latihan aku akan mentraktirmu apa saja, selagi uangku cukup untuk itu sih ….”
“Baiklah! Aku akan memanfaatkan kebaikan Guru Luo dengan baik!”
“Entah mengapa aku tidak merasa itu sebagai pujian ….”
Seperti yang sudah aku katakan, aku menemani Huo Lin latihan dengan sungguh-sungguh. Aku membuat gadis ini benar-benar paham dan menguasai semua jurus dasar yang wajib dikuasainya sebagai seekor naga. Walaupun semua jurus itu adalah jurus yang dimiliki Luo Ching dulu.
“Sekali lagi! Tembakan bola apimu masih sangat lambat!”
“Ha!!!” Huo Lin dalam wujud naga menyerangku dengan banyak bola api.
“Ha!!!”
Kendati terus melakukan kesalahan, Huo Lin tidak mau menyerah. Gadis itu tetap berusaha keras sekuat tenaganya. Dia tampaknya sangat serius saat mengatakan akan mengalahkan Yue Jian. Namun, Yue Jian masih jauh lebih kuat dari gadis ini, setidaknya sekarang.
***
Malam ini, aku berkumpul lagi dengan tiga muridku, yaitu Yue Jian, Bocah ingusan, dan juga Huo Lin. Kami makan di rumah makan yang lebih baik dari biasanya, sebagai hadiah karena kerja keras mereka selama ini.
“Raja kecil, kau sangat baik hari ini! Bahkan mentraktir kami di rumah makan ini!” ucap Bocah ingusan di sela-sela makannya.
“Tidak hanya itu,” sahut Huo Lin. “Kau juga membelikanku banyak baju baru hari ini! Kau memang Guru Luo versi terbaik!”
“Khusus hari ini saja, aku berniat untuk menyenangkan hati murid-muridku! Hahahahaha!”
“Apa kau sungguh-sungguh mengatakannya?” tanya Yue Jian yang tetap makan seperti biasa, tidak berlebihan layaknya Bocah ingusan dan juga Huo Lin. “Atau kau memiliki niat lain dibalik ini semua, Guru?”
__ADS_1
Seperti yang diharapkan pada Yue Jian, dia sangat tidak paham membaca suasana! Namun, dia memang tidak salah mencurigai aku memiliki niat lain di sini.
“Kau terlalu curiga pada gurumu, Yue Jian!” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan. “Aku mau ke belakang sebentar.”
“Aku juga,” sambung Yue Jian.
“Kalau kalian lama, semua makanan ini akan kuhabiskan!” kata Bocah ingusan, terlihat tidak ada beban sama sekali.
“Aku tidak akan kalah darimu, Kak Zhang!”
Kau bersaing dengan Bocah ingusan untuk kontes makan atau apa, Huo Lin? Haah ….
Aku memang pergi dari meja makan, tetapi tidak pergi ke belakang seperti kataku. Aku keluar dari rumah makan, mencari tempat sunyi, lalu berdiri di sana.
“Ada yang ingin kukatakan padamu, Yue Jian.”
“Ternyata dugaanku memang benar.”
Sejenak aku melirik pemuda itu, lalu berkata, “Aku memang tidak bisa membohongi matamu.” Aku kembali melirik ke arah lain.
“Jadi, apa yang ingin guru bicarakan?”
“Tolong jaga mereka untukku, Yue Jian.”
“Hah?!” Yue Jian jelas terkejut mendengar ucapanku. “Apa maksudmu, Guru?!”
“Maksudku mulai sekarang kalian bebas mau melakukan apa pun. Apakah kalian akan tetap bertahan di Perguruan Tanah Merah, atau pun pergi balas dendam. Tapi, aku sangat berharap kalian dapat menjaga Huo Lin.”
***
Di dalam hutan di tengah terangnya cahaya rembulan, tampak bayangan seseorang yang tengah duduk di atas batu. Dia menengadah sejenak, lalu kembali melihat ke bawah.
“Luo Xiao, seorang manusia yang mendapat berkah Aturan Langit. Orang yang dibenci para dewa.”
Arc 4: Seleksi dan Misteri(done)
__ADS_1