Reinkarnasi Pendekar Manusia

Reinkarnasi Pendekar Manusia
40


__ADS_3

Aku melesat cepat ke depan, meluncurkan satu serangan kuat dengan tangan kananku. Aku telah melapisi tanganku itu dengan elemen angin, sehingga aku mengira serangan ini sudah cukup kuat. Akan tetapi, kenyataan berkata lain, makhluk yang katanya sekeras tungsten ini hanya bergeming.


Sejenak aku mengambil jarak, masih memerhatikan gerak-gerik makhluk itu. Namun, sedari tadi dia tidak melakukan gerakan apa pun, hanya diam, seolah tidak bisa bergerak layaknya patung. Apakah dia memang tidak bisa bergerak atau bagaimana?



“Percuma kau memikirkannya.”



Suara itu lagi! Dia masuk ke dalam pikiranku ketika aku tengah menganalisa makhluk aneh di depanku ini.



“Semua berawal dari analisis!” jawabku, lalu menjentikkan jari, menyerang makhluk itu menggunakan banyak tombak angin.



“Alasan yang hebat. Tapi ….”



Sesuai dengan dugaanku, makhluk keras ini bukannya tidak dapat bergerak, melainkan sengaja tidak digerakkan. Buktinya sekarang dia melesat ke arahku dengan sangat cepat.



“Aku sudah menunggu!”



Tanpa keraguan sedikit pun, aku menangkis semua pukulan yang diarahkan padaku. Kekuatannya bisa kubilang luar biasa, tetapi bagiku yang sekarang, meski belum pulih sepenuhnya, dia masih bukan tandingan!



Aku meluncurkan pukulan keras dari bawah, tepat menghantam rahang makhluk itu. Tidak cukup sampai di sana, aku juga menyerangnya menggunakan tombak tanah yang muncul dari tanah, serta tombak angin dari atasnya.



Serangan itu berfungsi, tetapi makhluk ini tidak mengalami kerusakan parah. Dia hanya tergores, lalu bergerak mundur, menjaga jarak dariku. Aku harus mengakui bahwa tubuhnya sangat keras. Kecepatannya juga tidak boleh aku remehkan!



“Bagaimana, Luo Xiao?” tanya suara aneh. “Apakah sekarang kau tahu bahwa alam semesta ini tidak sesederhana yang kau pikirkan? Hahaha!”



“Apa menurutmu aku akan takut?”



Kaulah yang terlalu meremehkan aku, suara aneh!



Aku melesat cepat ke depan, meluncurkan satu pukulan yang cepat dan kuat. Pukulan ini sudah pasti akan membuat makhluk ini hancur!



Berbeda dari sebelumnya, makhluk itu menyilangkan kedua lengannya di depan dada, hendak menahan seranganku. Namun ….



“Percuma saja! Kau ditakdirkan untuk hancur hari ini!”


__ADS_1


Seranganku ditahan, tetapi dia lebih lemah dariku! Makhluk itu berhasil aku hancurkan dengan pukulan keras tadi.



“Ini adalah perbedaanku dengan pendekar biasa.” Aku melangkah mundur, tetapi tidak mengalihkan perhatian. Ada kemungkinan kalau makhluk itu dapat menyatu kembali, lalu menyerangku diam-diam.



“Seperti yang diharapkan dari Luo Xiao. Kau memang sangat hebat.”



“Saat kekuatanku pulih sepenuhnya, aku akan menghajarmu hingga kau tidak bisa berbicara lagi!”



“Aku menantikan hari itu. Tapi, aku ragu itu akan datang dengan cepat.”



“Kau lihat saja!”



“Ya, aku selalu melihatmu. Dan aku sudah tahu, batas dari kemampuanmu. Jangan meremehkan aku.”



“Aku tak yakin.”



“Terserah. Aku akan menghubungimu lagi.”




Beberapa detik berlalu, aku tidak mendengar jawaban suara itu lagi. Kurasa dia mungkin sudah pergi. Namun, pernyataannya membuatku semakin yakin untuk meningkatkan kultivasi! Aku akan kembali ke tahap puncak, menyelamatkan Ling Chen walau bahkan aku harus menghancurkan Alam Dewa!



“Aku akan membuat perhitungan kepada siapa pun yang berani menyakiti teman-temanku!”



Saatnya untuk kembali mengurung diri. Setidaknya aku harus berkultivasi selama beberapa bulan lagi. Aku harus segera memulihkan kekuatan lagi!


***


Seorang pria yang menutup setengah wajahnya dengan tudung, terlihat tersenyum kecil sembari melihat sesuai yang terlihat pada mutiara biru besar di tangan kanannya. Ia tampaknya tertarik akan sesuatu hal, membuatnya tidak mengalihkan pandangannya dari mutiara biru besar itu.



“Luo Xiao, aku yakin kau pasti bisa menghancurkan ketidakadilan ini,” kata si pria yang kemudian memasukkan mutiara biru besar di tangan kanannya, ke balik pakaiannya.



Setelah itu, ia mulai melangkan pergi, menyusuri jalan setapak yang ada di tengah hutan ini. Ia tidak membawa penerangan apa pun, sebab cahaya rembulan sudah cukup untuk menerangi langkah kaki pria ini.



Kondisi hutan tetap tenang seperti biasa, tidak ada hal menegangkan atau mengejutkan. Suara jangkrik menggema dalam gendang telinga, sedangkan angin tidak terasa berembus. Akan tetapi, ketenangan itu seolah tidak bertahan lama.


__ADS_1


Si pria kemudian menghentikan langkah, memasukkan kedua tangan dalam saku celana. Ia mengembuskan napas pelan, lalu berkata, “Menyelinap dan bersembunyi di balik pohon seperti itu tidak akan membuat aku tidak tahu akan keberadaanmu.”



Dari balik sebatang pohon besar, tampak samar-samar sesosok berjubah hitam sedang menyembunyikan wajahnya di balik bayang-bayang. Namun, pria bertudung dapat melihat sedikit senyum dari wajah sosok berjubah hitam itu.



“Jangan bersikap dingin seperti itu, Jiang Lang,” kata sosok di balik pohon. “Aku datang ke sini atas permintaan tuanku.”



Pria bertudung yang bernama Jiang Lang itu kemudian tersenyum tipis. Ia lantas memalingkan pandangan ke arah lain, seolah tidak mengetahui keberadaan orang yang berbicara padanya.



“Katakan padanya untuk tidak terlalu cemas,” kata Jiang Lang. “Semua berjalan sesuai dengan rencana. Aku melakukan apa yang perlu kulakukan, kalian lakukan yang perlu kalian lakukan. Itu saja. Mudah bukan?”



“Akan kusampaikan pesanmu,” jawab sosok berjubah sembari berbalik. “Apa ada lagi yang perlu kau sampaikan, Jiang Lang?”



Jiang Lang menggelengkan kepala. “Tidak ada.”


***


Sebulan? Dua bulan? Atau setengah tahun? Aku takt ahu sudah berapa lama aku berkultivasi. Terlalu fokus berkultivasi membuatku lupa untuk menghitung hari.



Kembali aku selesai berkultivasi, lalu keluar dari gua. Seperti biasa, aku mencari makanan terlebih dahulu sebelum akhirnya memulai perjalanan lain.



“Sudah saatnya mencari petunjuk tentang keberadaan Ling Chen!” Aku mengepalkan kedua tangan. “Tunggu aku, Ling Chen!”



Tapi sebelum itu, aku harus menyelesaikan urusan mendesak terlebih dahulu. Hahaha. Maafkan perutku yang sudah tak bisa dinegosiasi.



Berbeda dari sebelumnya, kali ini aku bisa mendapatkan hewan buruan dengan cukup mudah. Aku pun menyalakan api untuk membakar hewan buruan ini, di tepi sungai, ketika matahari hampir terbenam. Aku sedikit curiga kalau suara aneh itu akan datang lagi, tetapi dia tidak akan bisa mengejutkanku untuk kedua kalinya!



Itu yang aku katakan, tetapi faktanya suara itu tidak kunjung datang sampai aku menghabiskan makananku. Mungkin dia sedang tidak memerhatikanku? Itu lebih baik daripada aku terus merasa diawasi.



Omong-omong, aku bukan penguntit! Jangan samakan aku dengan para brengsek yang tidak tahu tentang privasi itu!



“Baiklah, saatnya mencari jalan ke Alam Dewa!”



Aku pun memutuskan untuk pergi di malam hari, setelah menyelesaikan urusanku dengan perut. Aku sengaja berjalan di jalan setapak di tengah hutan, tanpa menggunakan penerangan apa pun, sebab aku merasa cahaya bulan saja sudah cukup.



Meskipun aku tak tahu ke mana jalan setapak ini akan membawaku, tetapi aku hanya bisa berharap bahwa dia tidak membawaku ke neraka.

__ADS_1


__ADS_2