
Rumah reyot yang awalnya tampak hendak rubuh kapan saja, perlahan menjadi kokoh kembali. Kurasa aku harus berterima kasih pada Yue Jian dan Bocah ingusan yang bersedia memperbaiki rumah ini, setelah berlatih. Atau mungkin mereka berencana membayar formula latihanku dengan memperbaiki rumah serta menyediakan makanan di rumah ini? Hm … itu terdengar tidak buruk.
Pada malam cerah yang penuh bintang ini, setelah seharian melatih Bocah ingusan cara bertarung, aku duduk di teras sembari menengadah. Aku menghela napas panjang, lalu mengembuskannya, membiarkan udara segar di malam hari, masuk dan menyebar ke seluruh tubuh.
“Ini sangat nikmat.” Aku menenangkan pikiran. “Tak pernah aku pikirkan akan mendapatkan kehidupan kedua yang sangat damai seperti ini ….”
“Guru, maaf mengganggumu sebentar ….”
Ah, padahal aku baru saja bersyukur dengan kehidupan kedua yang tenang. Baiklah, saatnya kembali ke realita.
“Duduklah, Yue Jian.”
Yue Jian pun duduk di sebelahku, kemudian segera masuk ke inti pembicaraan, “Aku ingin bertanya, kenapa di setiap strategi di buku itu, ketika bertemu musuh tidak langsung menyerang seperti yang biasa kulakukan, tetapi malah diam dan mengamati. Maksudku, apakah musuh hanya akan diam saja ketika sedang diamati?”
Baiklah, aku paham dengan kebingungannya. Aku pun mengembuskan napas panjang, menjawab, “Ketika kau berhadapan dengan musuh yang lebih kuat, kau lebih baik lari. Tapi, jika itu adalah situasi di mana kau tidak bisa lari, agar dapat mengalahkannya kau harus tahu kelemahannya.”
“Sejauh itu aku bisa paham ….”
“Bagus. Selanjutnya, kata diam di sana bukan berarti tidak bergerak sama sekali, melainkan berusaha untuk meminimalisir pergerakan dalam menghindari setiap serangan. Kuncinya adalah mengamati.”
“Hm ….” Yue Jian tampak sedang mencerna penjelasanku. Dia berbeda dari Bocah ingusan yang langsung mengiyakan tanpa dipikir ulang. “Tapi, bagaimana jika lawannya lebih lemah atau seimbang?”
“Mungkin banyak orang di luar sana menjadi gegabah karena melawan lawan yang lebih lemah. Namun, aku harus menekankan padamu bahwa kesabaran dan ketelitian dalam menciptakan sebuah strategi adalah kunci kemenangan!”
“Terima kasih, Guru!”
Tampaknya Yue Jian segera paham dengan penjelasanku. “Ya. Sekarang istirahatlah.”
__ADS_1
Yue Jian pun masuk ke dalam rumah. Lalu, tak lama kemudian Bocah ingusan keluar, mulai berjalan menuju ke halaman. Tentu saja aku langsung menegur bocah itu.
“Istirahat juga bagian dari latihan, Bocah ingusan,” tegurku.
Bocah ingusan segera menghentikan langkah, lalu memalingkan pandangan ke arahku. “Aku ingin segera menjadi kuat!” Dia mengepal erat tangan kanannya.
“Semua itu perlu proses, tidak akan langsung kau dapatkan.”
Hanya dengan satu kalimat itu, Bocah ingusan kembali melemaskan tangannya. Dia tampaknya paham dengan apa yang aku maksud.
“Baiklah.” Nadanya terdengar sedikit kecewa dan wajahnya menunduk. Namun, dia tetap masuk ke dalam rumah, seperti yang aku harapkan.
***
Hari cerah, angin berembus pelan menerbangkan dedaunan. Aku tidak ingat sudah berapa lama kiranya hari berlalu saat aku mulai melatih dua pemuda yang mendadak menjadi muridku ini. Mungkin telah berlalu seminggu, sebulan, atau mungkin setahun? Aku terlalu malas untuk menghitung hari yang berlalu, tetapi yang jelas bahwa mereka kini menjadi kuat.
Perkembangan mereka sejujurnya sedikit mengagetkan, karena berada di luar ekspektasiku. Namun, aku pikir itu adalah hal yang baik.
Yue Jian mengepal erat tangan kanannya sembari mengarahkan pandangannya dari tangan ke langit. “Ini masih belum cukup!”
“Hahaha, kau sangat tamak, Yue Jian.” Aku tertawa pelan. “Tapi, kurasa tak terlalu buruk untuk menjadi jujur.” Setelah itu aku mengalihkan pandangan ke Bocah ingusan. “Bagaimana denganmu, Bocah ingusan?”
“Aku akan mengalahkanmu!”
“Haha. Silakan maju kalau kau mampu!”
Suasana menjadi hening sejenak. Aku pikir sudah saatnya untuk ke topik inti pagi hari ini.
Aku menghela napas sejenak, lalu mengembuskannya sembari memejamkan mata. “Aku sudah mengajari kalian apa yang kalian perlukan. Selanjutnya, apakah kalian dapat berkembang atau tidak, itu tergantung dari diri kalian sendiri, Yue Jian, Bocah ingusan!”
__ADS_1
Kedua pemuda itu jelas mendengarkanku dengan serius, sudah tahu bahwa ini bukan saatnya bercanda lagi. Selain itu, tidak menutup kemungkinan kalau hari ini adalah hari perpisahan kami.
“Hari ini aku akan memberikan kalian pelajaran terakhir yang harus kalian pahami.” Aku memasukkan kedua tangan dalam saku celana. “Buktikan padaku kalau kalian adalah murid sesungguhnya dari Raja Daratan—Luo Xiao!”
Tanpa menunggu apa pun lagi, Yue Jian segera bergerak ke belakang, sedangkan Bocah ingusan menghentakkan kakinya. Begitu banyak tombak tanah kemudian mencuat, menyerangku dari depan. Sayangnya, serangan itu masih tidak cukup kuat untuk menghancurkan pelindung anginku.
Akan tetapi, Bocah ingusan tidak langsung menyerah karena serangannya gagal. Pemuda itu segera menyemburkan kobaran api dari mulutnya. Harus aku akui bahwa serangan itu efektif untuk mengalahkan pelindung anginku. Namun, tak cukup untuk mengalahkanku.
Hanya dengan satu hentakan kaki, empat buah tembok tanah mencuat membentuk tanah, mengurung Bocah ingusan dan Yue Jian. Meskipun aku tahu serangan ini tak cukup untuk mengalahkan mereka.
Sesuai dengan perkiraanku, serangan mendadak kini muncul. Yue Jian sepertinya sudah menunggu momentum aku menggunakan tembok tanah. Pemuda itu langsung menyerangku dengan hujan ribuan anak panah. Lumayan!
“Apa kalian terlalu takut untuk menyerang langsung?!” Itu adalah sebuah provokasi yang kukatakan sembari meluncurkan pukulan ke atas, menciptakan payung angin yang segera menghancurkan semua anak panah. “Serangan lemah ini tidak akan melukaiku!”
Ah …, sepertinya aku sedikit lengah.
Benar, aku lengah. Ternyata gerakanku sudah dibaca bagaikan buku oleh Yue Jian, sehingga dia berani mengirim Bocah ingusan untuk menyerangku dari atas. Tentu saja semua serangan tangan kosongnya dapat dengan mudah aku tangkis, tetapi ini membuatku sedikit kesulitan dengan tubuhku yang sekarang.
Kini, ketika Bocah ingusan sedang menahanku sekuat tenaga, Yue Jian meluncurkan serangan berupa empat anak panah dari empat arah berbeda. Jika aku tak sanggup menangkis serangan itu, perutku sepertinya dapat berlubang karenanya.
“Kalian membuatku bersemangat!” Aku mengeluarkan gelombang kejut dari tubuh, membuat serangan Yue Jian gagal dan Bocah ingusan terpental. Aku tak begitu yakin, tetapi mungkin saat ini aku sedang tersenyum. “Sekarang adalah giliranku!"
Tidak mau hanya bertahan, akhirnya aku memutuskan untuk menyerang balik. Orang pertama yang aku serang tentunya Yue Jian yang kini bersembunyi di dalam hutan.
“Kau tidak akan dapat mengelabuhiku!” Segera aku melesat masuk ke dalam hutan. Namun, hal yang tidak kusangka adalah bahwa Yue Jian telah menyiapkan perangkap untukku.
Saat banyak anak panah melesat padaku dari segala arah, aku sadar bahwa aku telah meremehkannya. Dia sangat teliti dan membaca situasi juga musuhnya, bagaikan tengah membaca buku.
__ADS_1