Reinkarnasi Pendekar Manusia

Reinkarnasi Pendekar Manusia
8


__ADS_3

Wahai kalian kumpulan orang dengan jam karet, mari angkat gelas bersamaku! Ha … kenapa aku malah bergabung dengan kalian? Aku tidak sudi!



Meskipun aku tidak ingin menjadi salah satu orang yang memiliki jam karet, dengan terpaksa aku mengakui bahwa aku bagian dari mereka. Rencana awalku untuk menginap di hutan cukup satu malam saja, berubah menjadi satu minggu.



Bayangkan saja, selisih waktunya berbeda jauh! Selain itu, ketika masuk ke kota, kami terjebak dalam kerumunan orang yang tengah menonton perkelahian. Maksudku, bencana macam apa ini? Membuatku ingin kembali ke hutan saja.



“Lihat, kasian sekali pemuda itu …,” bisik seseorang dalam kerumunan.



“Iya, sangat kasihan, tapi dia menyinggung orang yang salah …,” yang lain menambahi.



Bisik-bisik itu pun kian menyebar. Berkat itu aku jadi tahu nama orang yang berkelahi di sana, walaupun aku sedikit pun tidak tertarik.



“Fang Chu, ya? Dia itu murid nomor 1 di Perguruan Tanah Merah,” kata mereka. “Menyinggungnya berarti sudah siap untuk dihajar.”



“Padahal dia hanya tak sengaja menabraknya ….”



Itu adalah suatu perbuatan yang dihasilkan dari kesombongan. Hanya karena dia merasa sudah di atas angin, dia menindas orang lain yang lebih lemah darinya. Meskipun itu salah satu sifat manusia.



“Luo Xiao, apakah kita hanya akan membiarkan orang sombong itu menghajar orang tak bersalah itu?” Bocah ingusan sepertinya sudah mulai terpancing untuk membalas.



Aku menggelengkan kepala, berbalik, “Tidak usah terlalu dipikirkan.” Perlahan aku berjalan keluar dari kerumunan. “Kita hanya akan menjadi mencolok jika membantunya sekarang.”



“Bagaimana kalau dia meninggal …?”



“Itu urusannya ….” Aku tak ingin menjadi orang munafik, mengatakan diriku adalah orang baik. Tapi, aku sedikit merasa bersalah sudah mengingkari kata-kataku sendiri.



“Guru, apakah Guru yakin?” Yue Jian sepertinya tidak yakin kalau aku tega untuk membiarkan pemuda tak bersalah tewas karena kesombongan orang lain.


__ADS_1


Setelah berhasil keluar dari kerumunan, aku mengembuskan napas panjang. Sejenak aku memalingkan pandangan kepada dua muridku itu, berkata, “Sebenarnya aku tidak tertarik untuk menarik perhatian. Terlebih dia adalah pendekar muda nomor 1 di Perguruan yang akan kalian masuki.”



“Apakah Raja Daratan adalah seorang pengecut?” Bocah ingusan mencoba untuk memprovokasiku.



“Tidak juga,” jawabku, asal. “Aku hanya tidak ingin merepotkan diri sendiri. Sebagai orang yang pernah menghadapi dunia seorang diri, aku tahu bagaimana susahnya membuat situasi menjadi tenang.”



“Kau berpikir terlalu jauh, Raja kecil.”



“Aku setuju dengan, Zhang.”



“Haa ….” Aku mengembuskan napas panjang. “Aku tahu kalian akan memaksa, jadi lakukan sesuka kalian!”



“Katamu adalah perintah!”



Mereka berdua segera kembali masuk ke dalam kerumunan, sementara aku masih berdiri di tempat. Kurasa mereka adalah orang yang baik, terlepas dari kesan pertamaku pada mereka. Namun, aku ingin tahu seberapa jauh mereka dapat menjadi orang baik.




Segera setelah membuat keputusan, aku langsung melangkahkan kaki ke tempat lain. Aku pun berdiri di atas sebuah rumah sembari menyembunyikan aura dan menghindari terlihat oleh orang lain.



Dari atas sini, aku melihat Yue Jian dan Bocah ingusan melindungi pemuda yang ditindas oleh Fang Chu. Mereka tampak sangat percaya diri berhadapan dengan lawan yang tampak kuat itu.



Meski samar-samar, aku dapat mendengar Bocah ingusan berkata, “Hei, kau! Jangan hanya berani menindas orang lemah!”



Tentu saja dia segera menjadi bahan obrolan orang-orang yang sedang berkerumun. Di orang-orang itu ada yang mencemoohnya bodoh, tetapi ada juga yang memujinya sebagai orang berani.



Di sisi lain, Yue Jian membaringkan pemuda yang sudah babak belur ke tempat aman, lalu berdiri di belakang Bocah ingusan. Aku yakin dia pasti sedang waspada dan mengamati musuh serta lingkungannya. Apakah dia sungguh ingin mengubah kota ini sebagai lokasi perang, semenit setelah dia datang ke sini?



Aku jelas tak tahu apa yang ada dalam kepala pemuda itu, tetapi aku berharap itu bukan hal buruk. Atau setidaknya tidak merusak kota ini.

__ADS_1



“Siapa kalian berdua?” Fang Chu tampak tak senang dengan kehadiran Bocah ingusan dan Yue Jian yang menganggunya. “Apa kalian tidak tahu aku siapa?”



“Hahahaha!” Bocah ingusan tampak sangat santai dan tak takut sedikit pun. “Aku baru saja keluar dari gua dan aku tak tahu apa pun soal kehidupan di kota. Jadi, maaf, aku tak tahu siapa kau.”



“Aku juga tak tahu siapa kau,” sahut Yue Jian, menambahi.



“Kalian akan menyesal karena sudah berani menolong orang yang telah menyinggungku!” Fang Chu mengeluarkan kilatan-kilatan listrik dari tanduknya yang pendek. “Aku Fang Chu sang Naga Awan!”



Apakah dia memiliki darah campuran manusia dan naga? Pantas saja para manusia ini sangat lemah. Mereka sudah tak murni lagi.



“Fang Chu adalah keturunan Naga dan Manusia. Rasnya adalah yang kedua terkuat! Menyinggungnya adalah mencari kematian!” kata orang-orang, kagum tetapi juga takut di waktu bersamaan.



Apanya yang ras kedua terkuat? Manusia dengan darah murni adalah yang paling kuat. Ras campuran tidak lebih dari manusia setengah hewan yang tak bisa berada di atas segala rantai makanan!



Sepertinya manusia pada zaman ini lupa bahwa manusia itu ada untuk menaklukan semua makhluk. Tidak ada makhluk yang bisa menguasai dunia beserta isinya selain manusia!



Ah … aku tidak menyangka bahwa aku telah lahir di era kehancuran manusia. Apakah takdir memaksaku untuk menyelamatkan makhluk-makhluk lemah ini dari kepunahan massal?



“Kaulah yang akan menyesal karena telah menjadi orang sombong!” Bocah ingusan segera melapisi tangannya dengan Chi yang berubah menjadi tanah. Kedua tangannya bertambah besar dengan tambahan tanah tersebut.



“Hanya karena kau juga bisa mengubah Chi menjadi kekuatan elemen, jangan berlagak kuat!” Fang Chu membentuk kuda-kuda kokoh, bersiap bertarung dengan mengalirkan listrik ke sekujur tubuh. “Akan kutunjukkan padamu perbedaan di antara kita!”



“Jangan lupa kalau aku juga ada di sini!” Yue Jian mengeluarkan panahnya, lalu membuat anak panah dengan elemen angin.



Melihat kejadian itu, para penduduk yang masih berkumpul dan tak segera menjauh, lantas kembali berbisik satu sama lain. Mereka sepertinya terkejut dengan kemampuan Yue Jian dan Bocah ingusan yang dapat mengubah Chi menjadi kekuatan elemen. Meskipun hal itu dulu pada zamanku merupakan hal paling dasar yang harus dikuasai oleh seorang pendekar.



Sebelum pertarungan terjadi di antara mereka bertiga, mendadak datang tiga orang pria dengan rambut putih yang melayang, lalu mendarat menengahi mereka. Ketiga pria itu tampak seperti tetua yang berwibawa.

__ADS_1



“Sudah hentikan perkelahian kalian!” kata salah satu pria tua itu, sedikit menggertak. Lalu, beberapa saat kemudian dia berkata lagi dengan menurunkan nadanya, “Masalah hari ini cukup sampai di sini saja. Semuanya bubar!”


__ADS_2