Reinkarnasi Pendekar Manusia

Reinkarnasi Pendekar Manusia
15


__ADS_3

Dalam sebuah ruangan luas dan terisi banyak pendekar, tampak dua orang pemuda yang duduk di pojok ruangan. Kedua pemuda itu terlihat tidak tertarik melihat apa yang orang lain lihat dari ruangan tersebut. Mereka berdua tak lain adalah Yue Jian dan Zhang.



Selain Yue Jian dan Zhang, pendekar yang ada dalam ruangan saling berbisik satu sama lain, “Kurasa Mu Lan jauh lebih kuat dari Shi Li!”



“Kau bodoh, ya?” sahut pendekar lain. “Sudah jelas bahwa Shi Li itu lebih kuat! Lihat saja naga yang terbuat dari auranya itu.”



“Itu benar, Shi Li memang lebih kuat,” timpa yang lain.



“Ssst. Diam.” Seseorang menghentikan percakapan. “Lihat di sana, Gorilla Mu Lan dan Naga Shi Li mulai bergerak!”



Gorilla Mu Lan dan Naga Shi Li bergerak cepat ke depan. Kedua hewan itu kemudian bertabrakan, membuat sebuah ledakan keras yang dapat meretakkan arena.



Sementara Shi Li diam menunggu, Mu Lan bergerak cepat ke depan, mengayunkan kedua pedangnya tepat ke kepala Shi Li. Sayangnya, serangan mendadak tersebut dapat dengan mudah ditangkis oleh Shi Li.



Kini, kedua pendekar muda itu kembali menjaga jarak. Kemudian, Mu Lan berkata, “Tidak kusangka kau hebat juga meskipun kau adalah seorang gadis manja dari keluarga kaya!”



“Jika kau iri, katakana saja!” Kali ini Shi Li yang melesat cepat ke depan, menyerang sekuat tenaga menggunakan pedangnya.



Di sisi lain, Mu Lan tampak tersenyum tipis. Lalu, tidak tahu apa yang terjadi, pedang di tangan kanan Mu Lan sudah menancap ke perut Shi Li.



“Cukup sampai di sana!” Pembawa acara menghentikan pertarungan. “Pemenang dalam pertarungan ini adalah Mu Lan!”



Sementara itu, dalam ruangan luas, para pendekar yang melihat kejadian tadi langsung bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang mereka lihat hanyalah pedang Mu Lan yang mendadak menancap di perut Shi Li, lalu pertarungan pun berakhir.



“Apa ada yang salah dengan mataku?” kata salah seorang pendekar. “Aku tidak tahu apa yang terjadi. Apakah dia bergerak dengan sangat cepat atau bagaimana?”



“Itu benar. Apa yang baru saja terjadi?” tambah pendekar lain.



“Mungkin dia menggunakan semacam jurus kuno?”



“Jurus kuno macam apa itu? Aku juga mau mempelajarinya.”



“Aku juga tak tahu!”



Ketika banyak pendekar mulai berbisik satu sama lain, Yue Jian dan Zhang hanya diam, menunggu dengan tenang saat mereka dipanggil ke arena. Namun, karena pendekar-pendekar lain terus berbisik satu sama lain, Zhang menjadi risih dan memberikan komentar.



“Mereka sangat picik,” kata Zhang. “Aku yakin sekarang kalau si Raja kecil itu sedang menertawakan level para pendekar ini.”



“Kurasa mereka hanya berbeda level dengan kita,” kata Yue Jian. “Tadi itu jelas hanya pertarungan biasa atau bahkan sangat biasa.”

__ADS_1



“Aku jadi ingat ketika kita memamerkan kemampuan kita yang dapat membuat hewan dari aura pada Raja kecil.”



“Aku masih sangat ingat kalau saat itu guru menertawakan kita habis-habisan.”



“Haah ….” Zhang dan Yue Jian mengembuskan napas bersamaan.



Beberapa saat pun berlalu, Mu Lan sudah turun dari arena, menuju ruangan khusus para pemenang. Sedangkan Shi Li diturunkan dari arena oleh beberapa petugas. Gadis itu dimasukkan ke ruang perawatan untuk menyembuhkan lukanya.



Setelah kedua peserta itu diturunkan, arena pun diperbaiki. Baru setelah semua persiapan selesai, pembawa acara memulai kembali seleksi Perguran Tanah Merah tahap pertama.



“Penonton sekalian,” ucap pembawa acara. “Sebelumnya kita sudah menyaksikan pertarungan yang sangat mengesankan dari Mu Lan dan Shi Li!



Sekarang saatnya kita melanjutkan seleksi dengan pertarungan lainnya yang takkan kalah seru. Mari kita panggil dari sisi arena, Zhang!”



Mendengar namanya dipanggil, Zhang segera berdiri, “Aku duluan, Yue Jian.”



“Ya. Menangkan pertarungannya demi guru!”


“Serahkan saja padaku!” Zhang segera berjalan keluar dari ruangan.



Melihat Zhang keluar, para pendekar seketika mulai membicarakan pemuda itu. Mereka ingat bahwa Zhang adalah orang yang pernah secara langsung menyinggung Fang Chu, tanpa takut sedikit pun.




“Katanya dia sangat kuat!”



“Bukan katanya! Dia bisa melapisi kedua tangannya dengan batu! Dia pasti sudah bisa mengubah Chi menjadi kekuatan elemen!”



“Itu mengerikan!”



Tidak hanya para pendekar dalam ruangan yang membicarakannya Zhang, tetapi juga para penonton. Mereka terlihat sangat antusias melihat Zhang memasukki arena.



“Itu dia! Orang yang berani menyinggung Fang Chu!”



“Apakah dia benar-benar kuat?!”



“Dia terlihat kuat sih ….”



“Apakah dia akan memenangkan pertarungan ini dengan mudah!”


__ADS_1


Di sisi lain, Yue Jian mengembuskan napas panjang kala mendengar orang-orang membicarakan Zhang. Pemuda ini tidak mau membayangkan kalau dirinya juga akan disoraki dan menjadi bahan percakapan orang-orang ketika memasuki arena, sama seperti Zhang.



“Kurasa kejadian saat itu sudah membuat kami menjadi selebriti …,” keluh Yue Jian.



Menyadari kehadiran Yue Jian, para pendekar dalam ruangan pun kembali riuh. Mereka jelas tahu kalau Yue Jian pada saat itu ikut membantu Zhang ketika menyinggung Fang Chu.



“Bukankah itu adalah temannya?”



“Kurasa dia juga sangat kuat ….”



“Mungkin kita dapat bilang kalau kita beruntung dapat satu ruangan dengan mereka.”



*Baru saja aku berpikir untuk tidak menarik perhatian, tetapi kenapa malah seperti ini akhirnya*? pikir Yue Jian sembari memalingkan wajahnya ke tempat lain. *Semoga para penonton tidak ikut mengenali aku*!



Di saat yang sama, di dalam arena, pembawa acara yang berada dalam balon terbang, kembali mengenalkan peserta berikutnya, “Selanjutnya, pendekar yang akan melawan Zhang yang misterius adalah salah seorang pendekar terkemuka di kota Angin.



Pendekar itu mendapat julukan sebagai master muda kota Angin! Mari kita sambut, Xuan Chen!”



“Baru saja mulai kau malah mendapatkan lawan yang populer,” ucap Yue Jian, menahan tawa.



Dari sisi lain arena, terlihat seorang pemuda dengan pakaian berwarna kuning dan kipas di tangan, muncul. Pemuda itu memiliki rambut panjang seperti wanita, tetapi auranya terasa sangat berwibawa.



“Itu adalah Pangeran Xuan Chen!” seru para penonton perempuan.



“Itu sungguhan dia! Pangeran, lihat ke sini!”



“AAA! DIA MELIHATKU!”



Para penonton perempuan itu tampak begitu antusias menyambut Xuan Chen masuk ke dalam arena. Mereka benar-benar tergila-gila pada pemuda yang mereka anggap pangeran tersebut.



“Cih! Apa hebatnya orang ini!” gumam Zhang, menahan kekesalannya setelah melihat Xuan Chen.



Kini, Xuan Chen sudah berdiri di arena, siap untuk bertarung. Pemuda itu kemudian tersenyum pada Zhang, berkata, “Jika kau tidak ingin kalah dengan memalukan. Segera angkat tangan dan menyerahlah.”



“HUH?!” tentunya Zhang tidak terima.



“AAA! PANGERAN XUAN CHEN BERBICARA!”



“PANGERAN XUAN CHEN! KAMI MENDUKUNGMU!”

__ADS_1



Sayangnya, Zhang tidak dapat mengungkapkan kekesalahnya, karena para penonton perempuan bersorak begitu kencang. Selain itu, Zhang merasa nyawanya akan terancam bila menghina Xuan Chen di sini.


__ADS_2