Reinkarnasi Pendekar Manusia

Reinkarnasi Pendekar Manusia
34


__ADS_3

Zhang keluar dari Gapura Kedelapan. Dia kini sudah resmi menjadi seorang murid di Perguruan Tanah Merah. Ini karena dia sudah berhasil melewati tujuh gapura, sebagai syarat untuk lolos seleksi tahap dua.



Awalnya Zhang ingin segera pergi dari sini, tetapi dia melihat Yue Jian juga keluar dari Gapura Kedelapan, kendati pemuda itu harusnya telah lulus dengan melewati Gapura Ketujuh. Tentunya Zhang tidak mengerti mengapa Yue Jian melakukan hal ekstra tanpa disuruh.



“Yue Jian, apa yang kau lakukan di sini?” Zhang memiringkan kepala.



“Apa lagi kalau bukan menaklukan gapura?” Yue Jian terlihat tidak terlalu mengacuhkan Zhang. “Omong-omong, selamat karena kau berhasil lolos!”



Usai mengatakan itu, Yue Jian langsung mendaki lagi. Dia menapakkan kaki ke lantai delapan puluh satu. Tekanan gravitasi di sini tentu sangat kuat berkali-kali lipat dibandingkan sebelumnya.



Tidak mau kalah, Zhang juga mulai mendaki lagi. Dia berkata, “Aku yang akan merebut juara pertama, Yue Jian!”



“Kau takkan bisa!” Yue Jian tampak memiliki semangat kompetisi lagi hari ini. “Aku akan menaklukan Gapura Kesepuluh!”



“Aku akan melakukannya lebih cepat!”



Zhang dan Yue Jian bertanding siapa yang lebih cepat dalam mendaki tangga. Mereka berdua memang sungguh teman dan rival yang hebat. Keduanya saling mendorong satu sama lain untuk maju.



Akhirnya, dengan usaha lebih, keduanya berhasil mencapai Gapura Kesembilan di waktu bersamaan. Mereka tentunya juga masuk ke dalam gapura secara bersamaan. Kali ini yang akan membedakan adalah berapa lama mereka akan bertarung di dalam sana.



Masuk dalam Gapura Kesembilan, Zhang kembali berdiri di atas arena. “Cepat keluar dan lawan aku! Aku sedang buru-buru!” Terlihat jelas bahwa pemuda itu tidak ingin membuang banyak waktu.



“Kau ternyata sangat bersemangat, Zhang!”



Zhang segera melihat ke sumber suara yang familiar dia dengar, lalu berkata, “Xian Ji?”



“Kita bertemu lagi, Zhang!” Xian Ji berdiri di sisi lain arena, mendakan bahwa dirinya adalah lawan dari Zhang.



“Ternyata benar kau!” Sejenak Zhang teralihkan, tetapi kemudian kembali ingat akan sesuatu. “Xian Ji, ayo cepat bertarung!”



“Kau buru-buru sekali,” jawab Xian Ji. “Gerbang Kesembilan ini akan membuat kalian bertarung dengan peringkat seratus sampai dua ratus, dan aku sendiri adalah peringkat seratus. Apa kau sungguh yakin dapat mengalahkan aku?”


__ADS_1


“Fang Chu pun akan aku lawan!”



“Aku lupa kau orang yang telah menyinggung Fang Chu. Hahahaha!” Xian Ji tertawa lepas. “Baiklah, ayo bertarung sekarang, Zhang!”



“Baik!”



Zhang tanpa ragu langsung menghentakkan kakinya, membuat dinding tanah yang mengurung Xian Ji di empat arah. Tidak cukup sampai di sana, dia juga segera menyelimuti kedua tangannya dengan kekuatan elemen tanah.



“Pukulan penghancur gunung!” Xian Ji mengeluarkan jurusnya, menghancurkan dinding tanah yang ada di depannya.



“Pukulan asal maju!” Zhang melesat cepat ke depan, meluncurkan sebuah pukulan keras dengan tangan kanannya.



Xian Ji tidak panik, melainkan segera membentuk kuda-kuda kokoh, menangkis pukulan Zhang. “Pukulan seribu arah!”



Pukulan Zhang dan pukulan Xian Ji saling beradu. Mereka berdua tidak mau mengalah satu sama lain. Namun, ketika Zhang menaikkan sedikit lagi tenaganya, Xian Ji menjadi kehilangan keseimbangan, lalu terkena satu pukulan keras Zhang yang melesat ke wajah pemuda itu.



Xian Ji tersungkur, Zhang menghentikan serangan, menjaga jarak dengan mundur ke belakang. “Apa kau mau menyerah, Xian Ji?” Tentunya Zhang tidak berniat untuk menyakiti pemuda yang kini menjadi lawannya.




Tentunya Zhang tidak mau untuk mengkhianati harapan Xian Ji. Dia pun segera melapisi kekuatan elemen tanah yang melapisi kedua tangannya, dengan kekuatan elemen api. Ini membuat kedua tangannya itu seperti dilapisi oleh tanah keras yang terbakar oleh api yang tak padam.



“Aku akan mengalahkanmu, Xian Ji!”



“Itu baru namanya semangat!” Xian Ji menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Dia terlihat tengah melapisi sekujur tubuhnya dengan cahaya berwarna kuning. “Aku Xian Ji dari Ras Manusia Hou!”



Tubuh Xian Ji seperti dilapisi oleh armor aura berwarna kuning. Di belakang pemuda itu, terlihat ada makhluk yang mirip dengan buaya berwarna kuning, tetapi memiliki tanduk seperti naga.



“Aku, Zhang! Atas nama guruku, aku tidak akan kalah!” Zhang mengadu kedua tinjunya hingga tercipta gelombang udara yang cukup kencang.



Xian Ji tersenyum, “Ayo maju!”



Mendadak Zhang merasakan dirinya tidak bisa bergerak. Xian Ji telah mengunci gerakan Zhang menggunakan Teknik suara yang dikuasi oleh Ras Manusia Hou. Namun, Zhang tidak mengetahui hal tersebut.

__ADS_1



Xian Ji melesat ke depan, hendak meluncurkan serangan sementara Hou—makhluk seperti buaya tadi, terus mengeluarkan serangan suara. Di sini Xian Ji merasa sudah berada di atas angin. Akan tetapi, sangat disayangkan bahwa Zhang dengan paksa sanggup keluar dari efek serangan suara.



“Ha!!!” Zhang melepaskan satu pukulan ke depan.



“Pukulan penghancur gunung level tiga!!!” Xian Ji dengan sengaja mengadu tinjunya dengan pukulan Zhang.



Gelombang udara yang begitu keras, seketika menggema. Gelombang udara tersebut sanggup menghancurkan arena pertarungan menjadi dua bagian.



Meski kedua pendekar muda itu terkena dampak dari gelombang udara tadi, mereka tetap dapat berdiri kokoh. Keduanya saling berhadapan dengan napas yang terengah-engah. Lalu, Xian Ji pun melompat ke belakang.



“Kau memang sangat kuat, Zhang!” kata Xian Ji, memuji lapisan tangan Zhang yang tidak hancur.



“Kau juga lumayan,” jawab Zhang. “Kau mampu memadamkan api yang melapisi tangan kananku.”



Xian Ji memang berhasil memadamkan api di tangan kanan Zhang, tetapi untuk melakukannya dia kehilangan setengah armor dari aura kuningnya. Kini hanya sebagian tubuhnya saja yang dilapisi oleh armor. Selain itu, Huo berwarna kuning di belakangnya juga semakin melemah.



“Uhuk!” Xian Ji jatuh berlutut di tanah sambil memuntahkan darah.



“Xian Ji!” Zhang segera mendekat pada Xian Ji.



“Sepertinya gelombang tadi tidak hanya merusak armorku,” kata Xian Ji. “Ingat ini, Zhang. Di Gapura Kesepuluh kau akan berhadapan dengan pendekar di atas peringkat seratus. Bisa saja dia peringkat sembilan puluh sembilan, tetapi juga bisa peringkat sepuluh! Kau harus berhati-hati.”



“Terima kasih, Xian Ji!”



Dengan ini, Zhang berhasil melewati Gapura Kesembilan. Dia keluar dari gapura, sedangkan Xian Ji menghilang dari arena.



“Aku pasti akan merebut peringkat satu!” kata Zhang saat keluar dari gapura. Akan tetapi, pemuda itu sedikit terlambat, karena ternyata Yue Jian sudah hampir masuk ke dalam Gapura Kesepuluh. “Aku tidak akan kalah darimu, Yue Jian!”



Zhang segera mengejar ketertinggalannya. Dia tak mau selalu kalah dari Yue Jian.



“Aku yang akan menang!” seru Yue Jian yang kemudian masuk ke dalam gapura.

__ADS_1



“Aku tidak akan membiarkanmu, Yue Jian!”


__ADS_2