
Aku melesat cepat ke depan, tepat kea rah sosok berjubah. Pukulan kami saling beradu satu sama lain, tetapi seranganku masih jauh lebih kuat! Aku berhasil membuat sosok berjubah itu terhuyung ke belakang sekali lagi.
“Itu saja tak cukup!” Kali ini sosok berjubah meluncurkan tendangan horizontal dengan kaki kanannya. Serangan ini memang mengejutkan, bahkan bagi diriku.
“Ugh!” Aku bisa merasakan, tendangan ini mematahkan satu tulang rusukku.
“Guru!” Chi Ling segera melepaskan satu pukulan keras dengan tangannya kepada sosok berjubah.
Aku terpaksa mundur, menyembuhkan lukaku dengan kemampuan medisku yang tidak seberapa. Namun, sosok berjubah ini memang bukan orang sembarangan. Dia sanggup melukaiku hingga muntah darah.
“Aku sudah bilang padamu, dia bukan tandinganmu, Luo Xiao!” tegur suara aneh yang mendadak kembali berbicara padaku.
“Berisik.” Sekali lagi aku bangkit berdiri, menyelimuti sekujur tubuhku dengan energi berwarna biru. “Kekuatannya yang hanya seperti itu, tidak akan pernah bisa mengalahkanku!”
Berhenti mendengarkan ocehan suara aneh, aku kini melesat cepat ke depan. Rasa sakit dari tulang rusukku yang patah memang terasa, tetapi aku bukan orang yang akan lari dari pertarungan!
“Chi Ling!” Aku terbang jauh di atas Chi Ling dan sosok berjubah. “Menyingkir.”
Aku sangat yakin, auraku kini sangat terasa bahkan di jarak yang cukup jauh. Oleh karenanya, Chi Ling segera melesat mundur, memberiku ruang untuk menyerang sosok berjubah.
Ketika aku melesat dengan kecepatan tinggi, aku bisa melihat senyum tipis di balik tudung hitam yang digunakan sosok berjubah. Lalu, tanpa aku sadari, masing-masing sebilah pedang menusukku dari depan dan belakang.
“Ugh ….”
Sosok berjubah menusuk jantungku dengan pedang berwarna hitam yang datang entah dari mana, kemudian Chi Ling menusukku dari belakang menggunakan pedang berwarna emas. Ini ….
Aku mencoba memproses apa yang terjadi, tetapi … pandanganku perlahan gelap dan kesadaranku mulai pudar. Apa yang terjadi ….
__ADS_1
“Bodohnya kau, Guru …,” ucap sosok berjubah. “Dibunuh sebanyak dua kali oleh muridmu sendiri. Itu lucu!”
“Chi … Ling ….” Aku akhirnya sadar, sosok berjubah yang adalah utusan dewa ini adalah Chi Ling, sedangkan orang yang sedari tadi kukira Chi Ling ternyata Mu Lan yang sedang menyamar.
“Tak perlu khawatir, Guru.” Chi Ling kian menekan pedangnya. “Aku akan mengurus murid-muridmu dengan baik.”
...*** ...
Chi Ling dan Mu Lan masing-masing mencabut pedang mereka, membiarkan Luo Xiao terjatuh dalam keadaan tak sadarkan diri. Pedang kedua orang itu berlumuran darah, tetapi mereka terlihat begitu tenang mengembalikan pedang mereka menjadi bentuk energi yang menyatuh dengan tubuh mereka.
“GURU!!!” Yue Jian, Zhang, Huo Lin, dan Ling Qian segera melesat ke arah guru mereka jatuh. Mereka berlari sekuat tenaga, tidak mau memedulikan apa pun.
Chi Ling yang melihat itu, segera memberikan perintah pada Mu Lan, “Tangkap dan masukkan mereka ke penjara. Jangan biarkan mereka berhasil menyentuh mayat Luo Xiao walau hanya sedetik!”
“Baik, Guru!” Mu Lan langsung melesat ke bawah, menyerang empat murid Luo Xiao dengan panah energi berwarna emas dengan kecepatan tinggi. “Jangan harap kalian bisa bertindak sesuka hati!”
“HA!!!” Dengan satu hentakan kaki, Zhang menciptakan beberapa raksasa tanah yang langsung menyerang Mu Lan tanpa ampun.
Meski mereka berusaha sekuat tenaga, kenyataan tidaklah sebaik yang mereka bayangkan. Baik pelindung maupun serangan dari keempat murid Luo Xiao itu tidak bisa menghalangi serangan Mu Lan. Gabungan serangan mereka bagaikan angin lewat yang tidak dipedulikan.
“Perjuangan kalian itu tidak ada gunanya.” Mu Lan segera mengurung mereka berempat dalam penjara yang terbuat dari energi berwarna emas. “Kekuatan mutlak jauh lebih kuat dibandingkan perasaan kalian semua.”
Chi Ling memerhatikan semua itu dengan tenang. Pemuda dengan jubah hitam ini kemudian menengadah. Ia menatap penuh kebencian langit biru yang kini ia lihat. Tidak ada sedikit pun terlihat kepuasan di wajahnya, kendati tujuannya membunuh gurunya sekali lagi sudah terpenuhi.
“Guru, aku sudah menangkap mereka semua!” kata Mu Lan yang mendekat pada Chi Ling.
Chi Ling memasang wajah datar dan menoleh pada pemuda itu, berkata, “Bawa mereka ke istana.” Ia pun segera pergi setelah itu.
__ADS_1
“Aye, aye, kapten!” Dengan senang hati Mu Lan melakukan apa yang diperintahkan padanya. Pemuda ini terlihat begitu puas dengan apa yang terjadi dan dia lihat hari ini. “Guru memanglah yang terbaik!”
...*** ...
Dalam sebuah penjara yang hanya memiliki sebuah lentera di dinding sebagai sumber cahaya, terlihat dua pemuda dan dua orang gadis tengah duduk sambil menundukkan kepala. Mereka membiarkan masing-masing sepiring makanan di depan mereka dingin tak tersentuh. Mereka tak lain adalah Yue Jian, Zhang, Huo Lin, dan Ling Qian yang baru saja kehilangan guru yang mereka cintai.
Ruang penjara ini begitu sunyi, hampir tidak ada suara yang terdengar kecuali beberapa tetesan air yang jatuh dari ventilasi dan suara gemuruh hujan yang lebat. Tidak ada satu orang pun dari keempat remaja ini yang mau menjadi pencair suasana yang mencekam, hingga tak lama kemudian datang seseorang yang membawa lentera.
“Hei, hei, hei,” kata orang itu, berdiri di depan jeruji besi. “Ini sudah tiga hari, tetapi kalian masih murung, para pendekar payah?”
“Mu Lan sialan!” Yue Jian segera melepaskan pukulan keras ke arah Mu Lan, tetapi dia malah terhempas ke belakang kala pukulannya menghantam jeruji besi.
“Aku sudah berbaik hati mau memberikan kalian makanan, tetapi kau malah membuangnya, Yue Jian?” Mu Lan dengan sengaja memprovokasi. Akan tetapi, Yue Jian yang terhempas ke dinding dan tak bertenaga lagi, tidak bisa membalas dan hanya terdiam tanpa daya.
Kemudian, Zhang yang sedari tadi diam dan mendengarkan, mendadak berdiri, menatap tajam Mu Lan. Pemuda yang dipenuhi oleh hawa membunuh ini menatap Mu Lan dengan penuh kebencian, berkata, “Pergi dari sini ….”
“Wah, wah, wah, aku sangat takut.” Mu Lan tidak terpengaruh sedikit pun. “Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh orang lemah sepertimu?”
Zhang perlahan mendekat hingga berdiri tepat di depan Mu Lan. Pemuda ini tidak sedikit pun menyembunyikan kebenciannya yang meluap-luap. “Aku tidak akan mengulangi kata-kataku.”
Tersenyum tipis, merasa dirinya sudah menang, Mu Lan pun perlahan pergi sambil berkata, “Ya, ya, ya. Aku sama sekali tidak peduli.”
Setelah Mu Lan pergi, Zhang kemudian duduk kembali. Dari semua orang, Zhang adalah orang yang hatinya paling hancur kala melihat kematian Luo Xiao tepat di depan matanya sendiri. Namun, dia juga sadar bahwa berdiam diri di dalam penjara ini saja tidak akan bisa membuatnya berhasil balas dendam.
“Aku akan keluar dari sini,” gumam Zhang, pelan.
“Kami ikut,” kata Huo Lin dan Ling Qian bersamaan.
__ADS_1
Arc 6: Senyum Penghianat(done)