
Setelah kurang lebih satu minggu, akhirnya kembali terjadi serangan ke wilayah keluarga Ling. Aku tidak berharap terjadi serangan, tetapi juga merasa bahwa ini sebuah kesempatan untuk mengintrogasi salah satu musuh keluarga Ling yang bergabung dengan Mu Lan. Semoga mereka bukan hanya bawahan biasa.
Aku bersama Yue Jian, Zhang, dan Ling Tian berlari membawa pasukan pendekar di belakang. Serangan kali ini hanya di lakukan di salah satu wilayah keluarga Ling, sehingga tidak ada kesulitan bagi Ling Tian untuk mengatur pasukan. Namun, itu tidak berarti bahwa Ling Tian sepenuhnya mengabaikan wilayah keluarga Ling yang lain.
“Sepertinya kau ingin membantai habis keluarga besar yang berani menyerang tambang emas keluargamu, Ling Tian?” kataku yang kini berlari tepat di sebelah kiri Ling Tian.
“Tambang emas itu adalah asset berharga keluarga kami!” jawab Ling Tian. “Aku tidak akan membiarkan orang lain merebutnya dari kami!”
“Itu adalah semangat yang bagus, harus aku akui.”
“Memang seharusnya seperti itu.”
Berhenti mengobrol, aku menerawang sekitar selama beberapa saat. Hutan ini tampak lebat dengan pepohonan rindang, serta tidak ada tanda-tanda serangan mendadak atau pun perangkap. Tampaknya Ling Tian mengatur pendekar hebat keluarga mereka untuk bertahan di tambang emas.
Beberapa saat kemudian, kami akhirnya tiba di sebuah bukit kecil. Tempat ini hanya memiliki satu jalan setapak untuk bisa mencapai puncak. Sedangkan di atas sana terlihat sebuah bangunan besar yang kurasa adalah tempat pekerja keluarga Ling yang mengerjakana tambang emas berada.
“Pertahanan kita masih belum kalah!” seru Ling Tian. “Maju dengan gagah perkasa menghancurkan musuh!”
“Hidup Tuan Muda!” pasukan segera bersorak dan kian tambah semangat. Kharisma Ling Tian cukup menakjubkan bisa menaikkan moral juang pasukannya dengan kalimat motivasinya.
Kami akhirnya tiba di puncak, di mana terlihat banyak pendekar bertarung. Tentu tanpa ragu Ling Tian beserta pasukannya dan juga dua muridku, langsung ikut dalam pertarungan. Mereka berhasil membuat musuh sedikit goyah. Berbeda dengan aku yang segera menjauh dari medan pertempuran, berdiri di paling belakang.
Pada dasarnya, aku berada di sini bukan untuk bertarung, melainkan karena tujuan lain. Kupikir Ling Tian juga mengerti akan hal itu. Akan tetapi, tujuanku sepertinya tidak akan tercapai menimbang bahwa pasukan yang menyerang tambang emas keluarga Ling ternyata tidak seperti bayanganku.
“Haah ….” Aku mengembuskan napas panjang. “Ini mengecewakan, tetapi harus bagaimana lagi. Ini memang sudah kenyataan. Sepertinya aku memang hanya bisa pasrah.”
Sedikit merasa kecewa, perlahan aku melayang, memerhatikan lebih jauh ke depan. Dari atas sini aku setidaknya bisa melihat bahwa pasukan yang menyerang tambang emas ini masih ada di bawah sana. Tampaknya mereka sedang merencanakan sesuatu. Aku harus mengacaukan itu!
Sebelum aku bergerak, tiba-tiba Yue Jian dan Zhang ikut melayang, masing-masing di sebelah kiri dan kananku. Apakah mereka pikir pasukan keluarga Ling tidak perlu ditolong?
__ADS_1
“Sepertinya ini bukan pasukan utama,” kata Yue Jian sembari memerhatikan para pendekar yang bertarung di bawah sana.
“Hm … mereka memang terlalu lemah,” sahut Zhang. “Atau karena kita yang semakin kuat?”
“Kalian berdua tiba-tiba datang dan tiba-tiba juga memulai topik pembicaraan seperti mengabaikanku,” kataku, membuat mereka sadar bahwa sedari tadi aku ada di tengah-tengah mereka. Memang ketika dunia milik berdua itu rasa berbeda, ya? Ah, salahku, konteksnya berbeda.
“Hehe, maaf, Guru,” kata Yue Jian. Dia sepertinya sadar aku di sini, tetapi bertindak seolah takt ahu.
Mengabaikan semua itu, aku melirik ke bawah bukit, berkata, “Yue Jian, Zhang, aku ingin kalian mengerjakan sesuatu untukku.”
“Apa kau ingin kami menghabisi pasukan di balik tenda-tenda di bawah sana?” tanya Zhang, sudah tak sabar untuk menanti perintah.
“Kurang lebih begitu.” Aku menjawab sedikit tak acuh. “Lebih tepatnya, aku ingin kalian membuat keributan di sana. Hanya itu saja.”
“Tidak masalah kalau ada korban, kan?” Zhang memastikan.
“Omong-omong,” Zhang teringat akan sesuatu, “aku baru sadar, tetapi kau mulai memanggilku dengan namaku, ya, Raja kecil?”
“Aku juga baru menyadarinya,” sambung Yue Jian.
Ah, aku lupa. Sudahlah, itu adalah hal sepele. “Bersyukurlah akan hal itu.” Aku diam sejenak. “Sekarang lakukan seperti yang aku katakana!”
“Baik, Guru!” kata Zhang, mendadak memanggilku guru.
Yue Jian dan Zhang segera melesat ke bawah bukit, bergerak cepat ke arah tenda-tenda musuh keluarga Ling. Tentunya mereka membuat banyak pendekar keluar dari tenda, menyerang mereka dengan perlengkapan perang seperti pedang dan yang lainnya. Namun, bagi Yue Jian dan Zhang yang sekarang, itu adalah hal kecil untuk dihadapi.
“Apa yang kau pikirkan, Luo Xiao?” Ling Tian tiba-tiba melayang di depanku dan berteriak.
“Berisik,” jawabku. “Kau seharusnya bersyukur aku mau membantu kalian!”
__ADS_1
“Tapi kau membuatku tidak bisa menarik mereka agar berpihak padaku!”
“Itu bukan urusanku.”
Aku sepenuhnya mengabaikan semua ucapan Ling Tian. Sejujurnya, aku mau memberi bantuan sedikit pada keluarga Ling karena Ling Qian. Meskipun dia sudah mati, tetapi aku yakin dia masih ingin berkontribusi pada keluarga. Aku di sini sebagai perwakilannya, membuat kontribusi ke keluarga Ling, walau tidak banyak.
“Kau benar-benar bertindak sesukamu.” Ling Tian menyerah untuk membujukku. Iya memang itu mustahil sejak awal.
“Kau lanjutkan apa yang perlu kau selesaikan,” kataku, perlahan pergi ke bawah bukit. “Aku akan melakukan apa yang perlu kulakukan.”
“Baiklah. Tapi jangan terlalu sombong.”
Aku tidak menjawab, menganggap ucapannya barusan hanya seperti suara nyamuk yang tidak sengaja lewat. Ini adalah saat yang cukup penting.
Seperti perkiraan, Yue Jian dan Zhang berhasil membuat markas musuh menjadi kacau. Mereka semua sangat kebingungan ketika dua orang saja bisa membuat mereka mendapat kesulitan.
“Kerja bagus, Yue Jian, Zhang!” Aku bergegas mencari orang yang sekiranya paling menonjol di sini. Sayangnya, sampai sekarang pun aku tidak bisa menemukannya. Apakah dia membaur dengan pasukan biasa? Kalau begitu, ini menjadi sangat menyebalkan dan merepotkan!
...*** ...
Yue Jian melesat ke depan setelah melapisi dirinya dengan kekuatan energi. Banyak musuh langsung menyerang pemuda tersebut, tetapi karena musuh hanya menggunakan kekuatan aura atau tebasan pedang saja, Yue Jian bisa menangkis semua itu dengan mudah seperti sedang menangkis serangan dari anak-anak.
“Serangan kalian sangat lemah!” ia berseru sembari meluncurkan pukulan beruntun ke depan, menerbangkan beberapa pendekar.
Tak lama kemudian, setelah berhasil menerbangkan banyak musuh, ia melihat seseorang yang ia kenal. Tanpa ragu pemuda itu menciptakan sebuah kotak tanah, mengurung orang itu, lalu ia pun masuk ke dalam kotak tanah tadi.
“Xian Ji?” kata Yue Jian.
“Yue Jian?” respon pemuda bertubuh gemuk yang dikurung oleh Yue Jian.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
__ADS_1