
Angin berembus pelan, menggoyangkan beberapa pohon rindang. Terlihat tiga orang pemuda berdiri, memandang rendah beberapa orang yang kini sudah terkapar di hadapan mereka.
“Bagaimana, Yue Jian?” kata pemuda yang berdiri di tengah, menatap ke depan, tepat pada pemuda yang kini mencoba berdiri setelah terbentur di sebatang pohon rindang. “Sekarang kau mengerti bagaimana perbedaan besar di antara kita, kan?”
“QIAN!!!” Seorang pria merangkak, perlahan mendekat pada seorang gadis yang kini terbaring berlumuran darah.
“Lihat pria menyedihkan itu.” Gadis dengan pakaian minim menunjuk Ling Tian yang kini merangkak demi bisa meraih tangan adiknya tercinta. “Dia sangat lucu! Hahahaha!”
“Tidak ada yang lucu!” Zhang berdiri tegak, mengepal erat kedua tangan. Sekali lagi pemuda itu menyelimuti dirinya menggunakan kekuatan energi berwarna biru dan berjalan perlahan. “Kau sama sekali tidak memiliki hak untuk menganggap dirimu lebih tinggi dari kami, Mu Lan!”
“Ha?” Pemuda yang berdiri di antara gadis berpakaian minim dan pemuda lainnya—Mu Lan menaikkan bahu. “Mau sekencang apa pun kau berteriak, tetap tidak akan merubah apa pun, Zhang.”
“Jaga mulutmu!” Mendadak Yue Jian bangkit, segera melesat ke depan sambil meluncurkan pukulan keras menggunakan tangan kanan.
“Merepotkan.” Pemuda murung di sebelah Mu Lan segera menangkis pukulan Yue Jian dengan tangan kiri. “Makhluk lemah seperti kalian ternyata sangatlah menyedihkan.”
Yue Jian mundur satu langkah, lalu meluncurkan sebuah tendangan keras menggunakan kaki kanan. Akan tetapi, lagi-lagi pemuda murung tadi dapat menahan serangan tersebut dengan mudah menggunakan tangan kiri. Dia sedikit tergeser, tetapi masih belum kehilangan keseimbangan.
Di sisi lain, Zhang tanpa ragu meluncurkan pukulan beruntun ke arah Mu Lan, tetapi gadis berpakaian minim langsung menangkis semua pukulan Zhang. Gadis tersebut tertawa kencang ketika berhasil menangkis semua serangan Zhang menggunakan tangan kosong.
“Kau sangat lemah!” Gadis berpakaian minim meluncurkan serangan balik menggunakan pukulan tangan kanan, tetapi Zhang berhasil menahan pukulan tersebut dengan menyilangkan kedua lengannya.
Zhang terdorong ke belakang, tetapi gadis itu tidak mengurangi serangan sedikit pun. Meski begitu, Zhang masih tak terlihat gentar. Mata pemuda itu tajam ke depan, sedangkan kakinya bertahan agar tidak terdorong ke belakang.
“Kau terlalu meremehkanku!” Zhang segera melepaskan kedua tangannya yang menyilang, membuat gadis berpakaian minim terdorong ke belakang. “Aku bukan orang yang mudah untuk ditindas.”
Mu Lan melirik gadis berpakaian minim sejenak, berkata, “Ye Fing, sepertinya kekuatan teriaknya mulai bekerja.”
__ADS_1
“Hahaha. Itu sungguh komedi yang dipaksakan,” balas Ye Fing. “Tapi aku tidak akan kalah olehnya.”
Ye Fing pun melesat ke depan, meluncurkan serangan beruntun yang jauh lebih cepat daripada sebelumnya. Akan tetapi, dengan segenap tekad di hati, dia menahan semua serangan itu dengan kedua tangan. Walaupun pada akhirnya ada beberapa serangan yang berhasil menghantam tubuhnya.
Di saat rekan-rekannya bertarung, Mu Lan berjalan perlahan ke arah Ling Tian yang tengah merangkak hendak menggapai tubuh adiknya. Pemuda itu tersenyum lebar, lalu menginjak punggung Ling Tian, membuat pria tersebut memuntahkan darah segar. Tidak hanya itu, pandangan Ling Tian pun mulai kabur, tetapi dia tetap memaksakan diri untuk bergerak.
“Qi … an ….” Dia tak peduli apakah tubuhnya sekarang remuk atau tidak.
Melihat hal tersebut, Mu Lan berkata, “Kalian manusia sungguh menyedihkan. Padahal kalian bisa berada di pihak kami, tetapi kalian membangkang.”
“Qian ….” Ling Tian sepenuhnya mengabaikan Mu Lan. Dalam pikiran pria tersebut hanya terdapat satu nama, yaitu Ling Qian—adiknya.
Sementara itu, di tempat lain, pemuda murung berhasil meluncurkan satu pukulan keras pada Yue Jian, membuat Yue Jian terhempas kuat ke tanah.
“Ugh!” Perut Zhang terkena pukulan keras Ye Fing, membuat pemuda itu hampir hilang kesadaran. Pandangannya menjadi kabur, sedangkan sekujur tubuhnya menjadi kaku.
Akan tetapi, mendadak Mu Lan, Ye Fing dan pemuda pemurung terdiam, memalingkan pandangan ke atas. Di sana terlihat sosok seorang pemuda dengan jubah hitam, melayang setelah keluar dari portal bulat berwarna hitam.
Mu Lan tersenyum lebar, berkata, “Kau ter—”
Pemuda itu tak sempat melanjutkan kalimatnya karena harus menahan serangan bola energi mendadak yang dilemparkan sosok berjubah. Tidak cukup sampai di sana saja, sosok berjubah itu segera menukik ke bawah, meluncurkan pukulan keras dengan tangan kanan.
“Tidak semudah itu!” Ye Fing dan pemuda pemurung segera bergerak untuk menahan sosok berjubah bersama-sama.
“Minggir,” ucap sosok berjubah, berhasil menjatuhkan dua musuh dalam sekali serang.
__ADS_1
“Argh!” Dalam waktu bersamaan, Ye Fing dan pemuda pemurung terhempas keras ke tanah. Pukulan sosok berjubah bahkan sanggup membuat kedua orang itu terluka dan memuntahkan darah.
“LUO XIAO!” Mu Lan mengumpulkan kekuatan energi ke lengan kanan sebanyak mungkin, lalu melepaskan pukulan keras ke atas.
Kekuatan energi berbentuk tangan raksasa berwarna biru, melesat cepat pada sosok berjubah—Luo Xiao. Bukannya panik, Luo Xiao justru sanggup menghancurkan serangan Mu Lan hanya dengan tangan kiri, dan dengan cepat dia sudah berada tepat di hadapan Mu Lan.
Mu Lan menyilangkan kedua tangan, menahan pukulan Luo Xiao. Akan tetapi, kekuatan pukulan Luo Xiao mampu melemparkan Mu Lan jauh ke belakang hingga menumbangkan beberapa pohon besar.
“Berani menyentuh murid-muridku,” Luo Xiao perlahan berjalan ke arah Ling Qian yang sudah tak bernyawa, “jangan bermimpi aku akan memaafkan kalian.”
Luo Xiao meneteskan air mata ketika menyentuh tubuh Ling Qian yang sudah pucat. Dia pun melirik ke sekitar, menemukan bahwa murid-muridnya telah terkapar tanpa daya. Mereka semua kehilangan kesadaran.
...*** ...
Setelah berjalan menyusuri jalan setapak, aku tidak mengira kalau akan tiba di tepian sebuah jurang. Maksudku, siapa yang membuat jalan setapak untuk mencapai jurang? Apakah dia seorang psikopat yang mau membunuh semua orang?
“Haah ….” Aku mengembuskan napas panjang sembari melirik ke dalam jurang. “Sepertinya jurang ini sangat dalam. Aku dalam bahaya jika jatuh ke sana.”
Sudah tak tahu harus ke mana, aku pun memutuskan untuk duduk di pinggir jurang selagi menunggu keajaiban terjadi. Namun, di dalam hutan sendirian seperti ini membuatku teringat akan murid-muridku di bumi. Apa yang dilakukan mereka sekarang, ya?
“Apa kau sangat merindukan mereka?”
Belum lama aku berharap, keajaiban segera terjadi. Aku berdiri, memalingkan pandangan ke sumber suara. “Sekali-kali aku ingin seorang dewa sepertimu dibuat menjadi lemah, Jian Lang!”
“Hahaha. Itu tidak mungkin.” Jian Lang tertawa pelan, lalu menjentikkan jari. Tidak lama berselang, sebuah portal berbentuk bulat dengan warna hitam, melayang tepat di sebelahnya. “Maaf, aku sedikit terlambat menyadari.”
“Apa maksudmu?” Aku menaikkan sebelah alis.
“Tubuh asliku sedang tak ada di sini, Luo Xiao. Cepatlah masuk ke portal. Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi.”
__ADS_1