
Dalam ruang tunggu pendekar, semua pendekar sudah keluar kecuali satu orang, yakni Yue Jian. Dapat ditebak bahwa pemuda itu mendapat giliran maju terakhir ketika matahari sebentar lagi terbenam. Dan sudah jelas, doanya terkabul, karena para penonton sudah banyak yang meninggalkan kursi mereka.
“Akhirnya kita tiba di pertarungan terakhir!” kata sang pembawa acara. “Mari kita sambut, seorang pendekar misterius yang adalah teman dari Zhang, yakni Yue Jian!”
“Akhirnya giliranku tiba,” gumam Yue Jian sembari berjalan keluar dari ruangan. “Tapi aku sedikit tidak terima dengan caranya memperkenalkan aku.”
Setelah penantian yang begitu panjang, di ujung hari, Yue Jian akhirnya berdiri di arena. Sudah sangat jelas bahwa pemuda itu tidak berniat untuk membuat pertarungannya ini berlangsung lama.
“Lalu, berikutnya mari kita sambut, seorang pendekar yang tidak terkenal di kota Angin! Mu San!” sambung pembawa acara.
“Ah ….” Yue Jian sudah tak tahu lagi harus mengatakan dirinya sedang beruntung atau sedang sial. Dia merasa dirinya sedang diejek oleh seleksi tahap pertama ini.
“Ayo pulang,” kata seorang penonton pada orang di sebelahnya. “Seleksi tahap pertama sudah selesai.”
“Ya, ayo kita pulang.”
“Ayo, ayo.”
Para penonton pun berbondong-bondong meninggalkan kursi mereka, hingga tersisa beberapa kursi saja yang terisi. Di pertarungan terakhir ini, para penonton sudah tak mengharapkan apa pun lagi.
“Maaf,” kata pemuda yang baru saja naik ke arena sembari membungkukkan badannya. “Karena aku, para penonton jadi tidak tetarik ….”
“Sebenarnya itu tidak masalah,” jawab Yue Jian, tenang. “Aku juga memang tidak mau terlihat mencolok.”
“Sungguh?!” Pemuda yang membungkuk tadi langsung ceria kembali. Tatapan matanya menunjukkan kalau dia sangat senang mendengar jawaban Yue Jian.
“Ya ….” Yue Jian tidak tahu harus menjawab apa lagi.
“Kalian berdua di sana,” kata sang pembawa acara, sudah kehilangan semangat dan minatnya. “Cepat mulai pertarungan kalian, dan akhiri dengan cepat pula!”
“Dia benar-benar tidak menunjukkan minatnya sedikit pun pada kita, ya, itu ….” Mu San sepertinya tidak tahu nama lawannya.
__ADS_1
“Aku Yue Jian.” Pemuda itu lantas mengembuskan napas panjang, lalu mengeluarkan panahnya. “Seperti katanya. Ayo kita akhiri ini secepat mungkin.”
***
Apa kalian sudah bosan? Kalau aku, ya, aku sudah sangat-sangat bosan duduk menunggu hingga akhirnya Yue Jian masuk ke arena. Ini adalah pengalaman yang paling menyebalkan dalam hidup.
Ditambah lagi, setelah lawan pemuda itu diumumkan, para penonton langsung pergi seolah tak ada yang terjadi. Kini hanya tersisa aku, Huo Lin, dan beberapa penonton lainnya yang jelas tidak banyak.
“Kau bilang kau tak tertarik, tetapi kau malah menonton seleksi ini sampai akhir. Apakah kau seorang tsundere? Hahaha,” ejek Huo Lin.
Aku juga tak mau terlalu lama melihat anak-anak bertarung! Itu sangat menyedihkan bagiku sang Raja Daratan menyaksikan pertarungan anak-anak!
“Haah ….” Ini sangat mengecewakan. Ekspektasiku terjatuh terlalu dalam hingga aku tak bisa menahan ekspresi tidak senang.
“Hm?” Huo Lin sepertinya sedang memerhatikanku. Tapi aku tidak peduli bagaimana dia melihat aku sekarang. Aku sedang sungguh sangat amat kecewa!
Sejenak aku memerhatikan arena pertarungan, terlihat Yue Jian sudah menarik keluar panahnya, bersiap menyerang. Sementara itu, lawannya masih belum melakukan apa-apa. Dan setelah kulihat lagi, lawannya itu tampak memiliki aura yang luar biasa.
“Hei, hei, Luo Xiao,” ucap Huo Lin. “Menurutmu siapa yang akan menang kali ini?”
“Aku jadi tak paham kau sebenarnya tertarik atau tidak dengan seleksi ini …,” gumam Huo Lin.
Ini memang tidak menarik, tetapi aku ingin melihat bagaimana pertarungan dua muridku. Baiklah, sekarang lebih baik aku kembali fokus melihat apa yang akan terjadi.
***
Mu San menarik keluar pedangnya, lalu mengarahkan pedang tersebut ke depan. Kuda-kudanya bisa dikatakan tak buruk, tetapi dia memang terkesan sangat biasa saja. Tidak ada yang spesial.
“Kumohon jangan terlalu keras padaku, Yue Jian ….” Mu San mengembuskan napas panjang, mulai fokus untuk bertarung.
“Aku akan menyelesaikan ini secepat mungkin,” ucap Yue Jian yang langsung melepaskan anak panahnya.
Awalnya Yue Jian pikir semuanya akan selesai dengan sekali serangan, tetapi serangannya itu malah dapat ditangkis dengan tebasan pedang yang cepat oleh Mu San. Meskipun tidak dapat menghancurkan anak panah Yue Jian, Mu San tetap dapat membuat anak panah itu terhempas ke tanah. Konsentrasi pemuda itu patut diberi acungan jempol.
“Sekarang giliranku, Yue Jian!” Mu San melesat cepat ke depan, tetapi gerakannya segera terhenti kala hujan anak panah menghujani pemuda itu.
__ADS_1
“Dapat menangkis satu anak panahku, bukan berarti kita sudah sepadan,” kata Yue Jian, santai, sembari mengembuskan napas kecewa.
Serangan Yue Jian memang terlihat begitu ganas, tetapi dia tidak menyerang organ vital Mu San. Semua anak panahnya menancap di kaki atau pun tangan Mu San, sehingga pemuda itu tak sanggup lagi bergerak.
“Sangat tidak terduga!” kata pembawa acara, entah mengapa kembali bersemangat. “Yue Jian berhasil mengalahkan Mu San dengan sangat cepat!”
Karena sudah diputuskan siapa pemenangnya, Yue Jian segera berbalik, mulai beranjak pergi dari arena. Itu sampai langkahnya terhenti karena ada yang memanggilnya.
“Yue Jian …,” ucap Mu San yang tengah menahan rasa sakit.
“Kau tidak akan bisa mengalahkanku,” jawab Yue Jian, segera pergi dari arena.
Yue Jian pun masuk ke ruang pemenang. Di sini dia langsung disambut oleh Zhang yang sudah menunggu.
“Yue Jian!” kata Zhang yang langsung menghampiri pemuda itu. “Selamat karena sudah menang! Hahaha!”
“Entah mengapa aku merasa kau sedang mengejekku.” Tampak jelas Yue Jian curiga kalau Zhang mengatakan kalimat tadi dengan tulus. “Kau pasti sedang mengejekku karena melawan petarung yang sangat lemah, kan?”
“Hahaha! Kau terlalu tidak percaya padaku.”
“Aku dapat membaca isi hatimu itu.”
Sementara itu, para pendekar lain yang ada dalam ruangan ini segera membicarakan tentang Zhang dan Yue Jian. Para pendekar itu ada yang kagum, tetapi cukup banyak juga yang iri pada kemampuan Yue Jian dan Zhang. Akan tetapi, kedua pemuda itu tak mau memedulikan apa yang dikatakan pendekar lain tentang mereka.
***
“Tadi itu, bagaimana aku mengatakannya ya ….” Huo Lin tak tahu harus berkomentar apa tentang pertarungan terakhir tadi.
“Mu San tidak berkutik melawan Yue Jian,” kataku. “Katakan saja seperti itu.”
Aku pun segera berjalan keluar dari Perguran Tanah Merah. Selama perjalanan aku terus berpikir, ternyata ada orang yang benar-benar memiliki aura yang luar biasa tak spesial. Aku pikir aku tak akan menemukan orang seperti itu. Hm … mungkin aku harus mengatakan kalau hari ini aku mendapatkan sebuah pengalaman yang tidak buruk.
Ah, aku tak paham. Mungkin harus aku iyakan, saja? Sudahlah, lupakan.
__ADS_1
Arc 2: Seleksi Perguruan Tanah Merah(done)