Reinkarnasi Pendekar Manusia

Reinkarnasi Pendekar Manusia
80


__ADS_3

Ling Tian menyaksikan dengan kedua matanya sendiri petir besar menyambar dari tanah ke awan. Tanpa mengatakan apa pun pada bawahannya, bahkan Luo Xiao, pria tersebut bergegas turun dari bukit. Ia sepenuhnya mengabaikan tentang fakta bahwa sekarang tambang berharga keluarganya sedang diserang oleh musuh.



“Ayah …,” Ling Tian bergumam pelan. “Kuharap tidak terjadi hal apa pun.



Berpegang teguh dengan keyakinan bahwa semuanya aman terkendali, Ling Tian mempercepat langkah. Gerakannya bahkan menjadi jauh lebih cepat ketika ia mengaliri sekujur tubuh dengan kekuatan elemen petir.



Angin berembus pelan kala bulan bersinar terang. Ling Tian berdiri mematung, lalu kakinya menjadi lemas dan ia pun jatuh bersujud. Aroma amis dari darah memenuhi hidung, tetapi pria ini tidak memedulikan hal tersebut sedikit pun. Perlahan air matanya mengalir, saat kata-kata hanya tertahan di tenggorokan.



Hamparan darah tampak memenuhi halaman dan bahkan lantai rumah di kediamanan keluarga Ling. Mayat berserakan ke sana-sini, membuat otak pria itu tidak bisa berfungsi normal. Perlahan ia menyetuh darah di tanah dengan kedua tangan, kemudian melirik kedua telapak tangannya itu.



“TIDAK!!!” Suaranya menggema jelas hingga di arena luar pemukiman keluarga Ling. Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan yang sudah dibasuh oleh darah. “BRENGSEK!!!”



Malam itu, satu-satunya hal yang bisa dilakukan oleh Ling Tian hanya melihat seluruh keluarganya dibantai tanpa tersisa satu orang pun. Ia sudah tahu siapa yang melakukan ini, tetapi sekarang hatinya benar-benar hancur oleh realita. Ia kehilangan adiknya tak lama ini, lalu seluruh keluarganya hilang hanya dalam satu hari.



“Aku akan membalasmu ribuan kali lebih banyak, Mu Lan!!!” Ling Tian meluapkan seluruh emosinya dalam seruan lantangnya. Ia kemudian berdiri, berjalan perlahan ke arah mayat seorang pria tua sembari bergumam, “Tidak akan kumaafkan. Takkan pernah kumaafkan sampai kapan pun!”


Ling Tian bersumpah pada dirinya sendiri bahwa dirinya akan membalas dendam. Tidak peduli apa yang terjadi, tetap akan dilakukan.


...*** ...


Aku segera pergi ke atas bukit bersama dengan Yue Jian, Zhang, dan juga Xian Ji yang baru saja bergabung dengan kami. Saat tiba di sini, tentu aku segera menanyakan ke mana Ling Tian, karena tidak biasanya pria itu menghilang. Akan tetapi, ketika aku bertanya pada beberapa orang tentang keberadaannya, jawaban janggal adalah apa yang kudapat.



“Tuan Muda tadi bergegas pergi saat melihat kilatan petir,” jawab seorang pendekar keluarga Ling yang tidak kutahu namanya. “Sepertinya Tuan Muda kembali ke kediaman Ling.”



Pasti terjadi sesuatu! Aku harus memeriksanya!


__ADS_1


“Terima kasih atas informasinya.” Aku segera berbalik dan menemui Yue Jian serta Zhang dan Xian Ji. “Kita kembali ke kediaman Ling! Sesuatu sedang terjadi di sana!”



“Baik, Guru!” Yue Jian menjawab tegas, diikuti oleh Zhang dan Xian Ji yang segera mengangguk.



Tanpa memedulikan apa pun, aku bergerak secepat mungkin. Pasti ketiga remaja tadi tertinggal, tetapi sekarang prioritasku adalah kembali ke kediaman keluarga Ling! Aku tidak boleh membiarkan sesuatu terjadi lagi pada Huo Lin!



Bergerak secepat mungkin dari sore, akhirnya aku berhasil tiba di kediaman keluarga Ling. Akan tetapi, di malam hari ketika bulan bersinar terang ini, sebuah pemandangan tak menyenangkan harus aku saksikan.



Di depan sana terlihat Ling Tian berjalan perlahan ke arah mayat seorang pria tua sembari bergumam, “Tidak akan kumaafkan. Takkan pernah kumaafkan sampai kapan pun!”



Mau bagaimana pun juga, pemandangan ini memang sangat mengerikan. Mayat ada di mana-mana, dan aroma amis darah menyebar luas di udara. Ini menyakitkan, tetapi, prioritasku saat ini adalah mencari keberadaan Huo Lin! Kuharap dia tidak terluka.




Segera aku menggelengkan kepala, menghilangkan pikiran negatif sejenak. Dia akan membayar puluhan ribu kali lipat jika berani menyentuh Huo Lin! Aku tidak akan memaafkanmu!



Mengabaikan keberadaan Ling Tian yang sekarang menyentuh mayat pria tua berambut putih yang tak lain adalah ayahnya itu, aku melayang sembari memerhatikan sekitar. Sialnya, kemungkinan terburuk itu terjadi. Aku tidak menemukan Huo Lin di sekitar sini.



Menahan emosi agar tidak meluap keluar, dengan tenang aku mendekati Ling Tian, berkata, “Maaf … aku—”



“Ini bukan salahmu!” sahut Ling Tian, tegas, memotong ucapanku. “Aku tahu mungkin memang isi kepalaku sekarang sedang tidak jernih, tetapi bukan berarti aku harus menyalahkan semua orang.”



Dari ucapannya memang Ling Tian terlihat seperti orang yang tenang, tetapi dari gerakannya sedikit berbeda. Pria ini mengepal erat kedua tangan hingga membuat luka di kedua telapak tangannya itu. Orang seperti dia tidak bisa mengelabuhiku.


__ADS_1


Diam selama beberapa saat, akhirnya Yue Jian, Zhang dan Xian Ji tiba di kediaman keluarga Ling. Mereka pun segera bingung melihat keadaan sekitar, mungkin tidak percaya akan apa yang dilihat oleh kedua mata mereka sendiri.



“Apa … ini?” Yue Jian melirik sekitar, lalu bergegas memeriksa salah satu mayat yang dipenuhi luka serta darah. “Ini ….”



Bukan hanya Yue Jian, tetapi Zhang dan Xian Ji juga segera memeriksa keadaan serta mayat-mayat keluarga Ling. Tidak ada yang tersisa lagi di sini, semuanya telah tiada. Ling Tian memang tidak menjadi satu-satunya anggota keluarga Ling yang masih hidup. Meski begitu, kematian banyak tetua serta keluarga utama di kediaman Ling pasti akan sengat berpengaruh.



“Xian Ji.” Aku segera mendekat pada Xian Ji, membuat pemuda gemuk itu menoleh. “Aku sempat menunda ini, tapi sekarang aku ingin kau mengatakan di mana markas Mu Lan dan komplotannya itu berada sekarang?”



Tanpa banyak basa-basi atau memutar topik, Xian Ji menjawab, “Itu ada di puncak gunung tertinggi.” Dia diam sejenak. “Hanya itu yang aku tahu.”



Puncak gunung tertinggi? Mu Lan, sekarang juga aku akan menghabisi kalian semua.



“Aku ikut denganmu, Luo Xiao,” kata Ling Tian, tiba-tiba berada di belakangku. “Kau pasti akan pergi ke sana sekarang juga, kan? Aku ikut denganmu!”



“Jangan tinggalkan kami!” kata Yue Jian dan Zhang, serentak. “Kemungkinan besar mereka telah menculik adik Huo Lin. Kita harus memastikan bagaimana keadaanya!”



“Aku juga ingin memukul wajah Raja Daratan sialan itu!” Xian Ji tidak mau tertinggal.



Aku harus membuat alasan agar mereka tidak ikut. Sejenak aku melirik Ling Tian, berkata, “Bukankah seharusnya kau bergabung dengan keluarga Shi dan setengah fraksi dari keluarga Fang itu?”



Ling Tian tidak melakukan gerakan apa pun. “Tidak ada gunanya lagi bagi mereka untuk beraliansi dengan keluarga besar Ling yang telah tiada.” Mata pria ini tidak berkedip sedikit pun, seperti mata ikan mati. “Kau tidak bisa tak membawaku karena alasan apa pun, Luo Xiao! Sekali pun kau tidak mau membawaku, aku akan tetap ke sana seorang diri.”



Itu adalah hal yang tidak kuinginkan.

__ADS_1


__ADS_2