
Meski cukup membuang waktu, akhirnya aku berhasil membawa Huo Lin keluar. Gua tempat Mu Lan dan komplotannya bersembunyi, kini sudah hancur. Mereka pikir jebakan tadi bisa membunuhku, tetapi faktanya tidak benar.
"Kalian terlalu meremehkanku!" kataku sambil melirik sekitar. Aku diam sejenak, lalu mengembuskan napas panjang. "Aku takkan membiarkan rencana kalian berhasil!"
Masih membawa Huo Lin, perlahan aku melayang, lalu bergerak cepat ke arah kembali. Mu Lan brengsek itu akan kuhancurkan! Kali ini aku akan membuatmu cacat!
Tekad membara bagai api di dada, serta luapan emosi kemarahan telah menyelimuti diriku. Akan tetapi, aku tidak memedulikan semua itu dan terus bergerak ke depan secepat mungkin. Kali ini aku tidak akan terlambat lagi! Bertahanlah sebentar saja, Yue Jian, Zhang!
...***...
Yue Jian melayang lebih tinggi, menghindari serangan jarak jauh dari Mu Lan dan sosok berjubah hitam. Ia lantas bergerak zig-zag ke depan, lalu meluncurkan banyak peluru energi dari mulut. Peluru-peluru tersebut dengan cepat melesat ke arah musuh.
Mu Lan tampak tenang, bergeming sembari menengadah. Sosok berjubah sontak membuat sebuah pelindung energi, kemudian menyerang balik menggunakan bola-bola energi berwarna biru.
Masih tidak mau kalah, Yue Jian bergerak cepat ke sana-sini, menghindari dengan elegan semua serangan yang terarah padanya. Akan tetapi, secara mengejutkan Mu Lan bergerak cepat hingga berada di belakang Yue Jian dalam sekejap mata.
Tanpa ragu Mu Lan meluncurkan satu tendangan keras dengan kaki kiri, tetapi Yue Jian sigap mengelak dengan bergerak ke bawah. Sayangnya, serangan tidak hanya berhenti di sana saja. Mu Lan lantas meluncurkan pukulan beruntun ke arah Yue Jian, sedangkan di bawah saja terlihat sosok berjubah menebaskan pedang sekuat tenaga.
Mengambil napas sejenak, Yue Jian menendang pedang milik sosok berjubah, lalu bergerak ke samping. Mu Lan pun refleks menghentikan serangan, malangnya Yue Jian memanfaatkan situasi dengan cemerlang. Pemuda itu menyerang Mu Lan dan sosok berjubah menggunakan pisau kecil dari kekuatan energi.
Serangan Yue Jian memang mengejutkan, tetapi Mu Lan dan sosok berjubah masih dapat menahan serangan tersebut. Tak hanya menahan, mereka bahkan sanggup menyerang balik menggunakan puluhan bola energi.
"Sial...." Yue Jian melesat tinggi, tetapi bola energi mengikutinya. Tidak ada pilihan lain, akhirnya ia bertaruh dengan membuat bola pelindung besar. "Aku takkan mati semudah ini!"
Ledakan pun terdengar, lalu terlihat Yue Jian jatuh perlahan, sudah kehilangan kesadaran. Ia kalah oleh Mu Lan dan sosok berjubah, walaupun ia tak mau menerima kekalahan ini. Sekali lagi ia merasa sudah mempermalukan gurunya dengan kalah pada orang yang sama sebanyak dua kali.
...***...
Zhang dan sosok berjubah saling beradu pukulan. Mereka sedikit pun tidak menggunakan serangan jarak jauh, seperti para petinju profesional. Tentunya ini adalah keahlian Zhang, tetapi musuhnya juga sangat hebat dalam pertarungan ini.
Mengambil satu langkah ke belakang, Zhang menggeser tubuhnya sedikit ke samping, menghindari serangan yang menusuk dari depan. Pemuda itu kemudian melepaskan tendangan ke depan, hendak menghantam titik vital lawan. Akan tetapi, lawannya refleks mundur cukup jauh.
"Itu tadi curang!" kata sosok berjubah, sedikit kesal dengan tindakan Zhang barusan.
Zhang hanya memasang wajah datar, menjawab, "Tidak ada yang tidak boleh dilakukan jika itu untuk mempertahankan nyawa!" Tanpa ragu ia melesat ke depan, meluncurkan pukulan dengan tangan kiri.
"Jika itu maumu!" Sosok berjubah mengalirkan kekuatan energi ke kaki kanan, lalu melesatkan tendangan keras untuk menangkis pukulan Zhang.
Sedikit pun tak terkejut, Zhang menghentikan langkah, merendahkan tubuh, lalu menendang kaki kiri lawan. Lawannya sedikit kehilangan keseimbangan, tetapi langsung melayang tinggi, sangat waspada terhadap serangan Zhang.
Perlahan Zhang mengalirkan kekuatan energi ke tangan kanan, lalu meluncurkan pukulan kencang ke atas. Dari tangan kanannya itu pun muncul sebuah kepalan tangan besar berwarna biru yang melesat cepat ke atas.
"Serangan murahan!" Sosok berjubah menendang kepalan tangan besar tersebut hingga hancur. Namun, dia tidak tahu rencana Zhang sesungguhnya.
Zhang mendadak sudah berada di hadapan sosok berjubah, meluncurkan pukulan keras dengan tangan kanan. Akan tetapi, pandangan pemuda itu seketika menjadi gelap kala seseorang memukulnya dari belakang. Ia pun segera jatuh tak sadarkan diri.
"Itu tadi hampir saja...," gumam sosok berjubah. "Terima kasih, Mu Lan! Kau menyelamatkanku!"
"Kaulah yang terlalu lengah," balas Mu Lan dengan nada datar. "Lain kali jangan terlalu main-main."
"Hehe, salahku."
__ADS_1
"Baguslah bila kau sadar."
Mu Lan kemudian menuju ke orang terakhir yang sedang bertarung. Tanpa dia melakukan apa pun, cukup melihat dari jauh sudah terlihat bahwa Ling Tian sudah kalah. Pria itu dipenuhi luka dan napasnya terengah-engah.
"Sialan...." Ling Tian segera melesat ke depan sekali lagi, tetapi Mu Lan segera memukul leher pria itu.
Mu Lan berhasil membuat Ling Tian kehilangan kesadaran, lalu terjatuh. Sekarang, rencana Mu Lan yang sesungguhnya sudah tercapai. Hanya perlu sedikit dorongan lagi, maka semua akan berakhir.
"Aku menantimu di sini, Luo Xiao," gumam Mu Lan saat keempat rekannya membawa Yue Jian dan yang lainnya.
Yue Jian, Zhang, Ling Tian, dan Xian Ji sudah kehilangan kesadaran dan tubuh mereka diikat. Mereka sudah tak bisa lagi menggunakan kekuatan mereka atau apa pun. Namun, bukan berarti bahwa kekuatan mereka telah hilang untuk selamanya.
...***...
Aku melesat cepat sembari membawa Huo Lin yang masih belum sadarkan diri. Mendadak, di tengah perjalanan, suara orang lain terdengar dalam kepalaku.
'Hei, bagaimana kabarmu?' tanya suara itu, terdengar sangat ceria.
Jangan ganggu aku sekarang, Jian Lang. Aku sedang dalam perjalanan!
'Ya, aku mengerti situasimu,' balas Jian Lang, mengubah suaranya menjadi lebih serius. 'Aku menghubungimu bukan untuk bercanda.'
Katakan segera apa maumu? Waktuku tidak banyak.
'Percayalah padaku, Luo Xiao.'
Ha? Apa maksudmu?
Akhirnya, setelah perjalanan yang cukup panjang, aku berhenti terbang. Di depan sana terlihat Mu Lan beserta komplotannya sedang menanti kedatanganku.
"Kalian...." Tanpa keraguan atau pun niat untuk menyembunyikan hawa membunuh, aku menatap tajam pada mereka.
Mu Lan tetap tenang, berkata, "Kau sudah berada dalam jalan buntu, Luo Xiao."
"Aku pernah mengingatkanmu, kan...."
Mendadak salah satu sosok berjubah menempelkan tangan kanannya ke leher Yue Jian. Dia memberi peringatan....
"Bagaimana kalau kita sudahi saja pertengkaran ini?" tanya Mu Lan, masih bisa bersikap tenang, seolah tak ada yang terjadi. "Bukankah ini jauh lebih baik?"
"Apa yang kau inginkan?!"
"Sederhana saja, Luo Xiao." Mu Lan tersenyum tipis. "Kau hanya perlu memilih, nyawamu atau nyawa murid-muridmu. Bagaimana? Bukankah itu cukup adil?"
Aku memejamkan mata sejenak, tetapi tidak ada cara apa pun yang muncul dalam kepala. Lagi dan lagi ... aku terlambat. Brengsek....
"Kau memang berhasil menyelamatkan salah satu muridmu, dan kami mungkin tidak akan bisa lagi mengambilnya darimu. Namun, Luo Xiao, kami adalah pasukan siap mati dan akan mati bersama murid-muridmu bila memang diperlukan."
Menjebakku dengan permainan kata dan psikologis. Orang ini....
"Aku bisa menghabisi kalian dan menyelamatkan muridku dalam waktu bersamaan!"
__ADS_1
"Itu tak lebih dari gertakan." Mu Lan benar-benar tenang. "Jika kau memang mampu melakukannya, kau akan langsung melakukannya tanpa memberi tahu."
Sial! Sial! Sial! Kenapa ... aku selalu gagal?
Kenapa ...? Kenapa ...?
"Bagaimana, Luo Xiao?" Mu Lan kembali menekanku. Dia benar-benar tidak mau memberiku ruang berpikir.
Baiklah, saatnya untuk menyudahi ini semua. Dia berhasil menjebakku, dan itu adalah faktanya.
"Apa jaminan bahwa kau akan menepati kata-katamu?" sahutku, mulai masuk dalam negosiasi.
Mu Lan menengadah sejenak, melirik bulan yang bersinar terang. "Aturan Langit."
Aku tidak langsung setuju. "Kalian adalah pasukan yang siap mati. Dan kalian juga tidak memiliki keluarga atau apa pun yang berharga. Bagaimana bisa aku percaya begitu saja?"
"Yeah, ucapanmu benar. Kami mungkin masih akan membunuh murid-muridmu walau harus melanggar aturan langit. Maka dari itu, kau bisa membuat bagaimana agar semua ini bisa adil."
Ah, pada akhirnya aku gagal. Namun, aku juga tak ingin membuat murid-muridku membereskan kegagalanku. Jadi... mari buat negosiasi yang bisa membuat mereka damai.
"Baiklah." Aku membulatkan tekad. "Kalian harus membebaskan murid-muridku saat sudah berhasil menangkapku. Jika kalian melanggar aturan, maka tuan kalian akan mati! Jika aku melanggar aturan, jiwaku takkan bisa bereinkarnasi lagi!"
"Kau...." Mu Lan mulai panik.
"Tidak masalah!" ucap suara yang mendadak datang dari langit. "Kau benar-benar sayang pada muridmu, ya, Luo Xiao."
"Tian Wang!" Aku sedikit tak bisa menahan emosi.
"Aku takkan banyak basa-basi, Luo Xiao," kata Tian Wang. "Datanglah ke aulaku, maka murid-muridmu akan bebas."
Suara petir langsung menggelegar, menandakan bahwa Aturan Langit sudah menjadi saksi atas perjanjian. Mu Lan dan yang lainnya segera mendaratkan murid-muridku serta melepaskan tali pengingat mereka.
Setelah itu, Mu Lan mengikatku dengan rantai yang terbuat dari kekuatan energi, usai aku menurunkan Huo Lin bersama dengan Yue Jian dan yang lainnya. Ini adalah saat perpisahan. Aku tak yakin bisa selamat lagi, tetapi mungkin ini juga akhir dari penderitaan kalian, Yue Jian, Zhang, Huo Lin, Ling Tian. Aku pergi.
---
Arc 8: Kegagalan yang terulang (done)
-------
TAMAT
-------
Arc 8 ini mengakhiri perjalanan kita bersama Luo Xiao. Saya selaku author mengucapkan banyak terimakasih atas semua support selama ini.
Ending novel ini termasuk dalam ending terbuka. Memang masih banyak misteri yang belum terungkap dan terpecahkan, tetapi untuk saat ini saya sendiri cukup puas dengan akhir ini.
Apakah kemudian akan ada lanjutan dari kisah ini?
Kemungkinannya ada, tetapi kita bahas di kemudian hari! Sampai jumpa di series saya yang lain.
__ADS_1